
“ Maaf pak, saya tidak bisa berpikir jernih, sepertinya mengingat status kita dimana anda atasan dan saya adalah mahasiswa magang adalah hal yang kurang patut pak. ” Ucapku menunduk.
“ Apanya yang tidak patut Saila? saya tau kamu takut akan terjadi apa-apa dikantor karena status kita,betul begitu?.”
Kali ini aku tak menanggapi kalimat yang barusan diucapnya. Aku terdiam lidah ini kelu sementara rasanya.
“ Saila dengarkan saya, jangan hiraukan apapun diluar sana, saya tahu kamu kuat.”
“ Namun saya berat karena mama anda dan masalah keluarga saya.” Ucapku padanya, karena sebenarnya inilah alasanku ingin menolaknya. Dia sudah terseret terlalu jauh.
“ Saya sudah melangkah terlalu jauh, jangan minta saya mundur atau berbalik arah, saya akan tetap maju, tanggung.” Ucapnya yang berhasil membuaku terkejut, apa apaan ini?
“ Pak!”
“ Intinya kamu menerima saya atau tidak, saya harap kamu tidak menarik keputusanmu kemarin.”
“ Tapi pak..”
“ Jangan bicarakan yang lalu, semua bisa diatasi, jika kamu menerima saya maka hidupmu juga hidup saya, jawablah untuk yang terakhir kali jangan sampai kamu menyesal.
Jika kamu ingin saya berhenti maka saya akan berhenti dan usaha saya untukmu sia-sia, namun jika kau memberi saya lampu hijau saya akan maju dengan serius, pikirkanlah sekali lagi.”
Ucapnya tegas tanpa melepaskan pegangan tangannya pada tanganku, jarinya terpaut dengan jariku, hanya saja satu tangannya sudah lepas dari punggug tanganku dan dia duduk dikemudi dalam diam menungguku untuk berpikir.
Jujur aku sangat bingung mengenai hal ini, apakah benar dia serius denganku? hati ini terasa begitu yakin dengannya namun entah logika ini mengatakan tidak.
Kali ini aku akan mengikuti kata hatiku lagi, jikapun kedepannya akan banyak rintangan berarti itulah jalan dan ujian kami, akan ku hadapi semua karena aku ingin konsukuen dengan keputusanku.
“ Iya, lampu kuning.” Ucapku lirih.
Seketika dia kembali menatapku.
“ Biasanya lampu kuning itu hanya sebentar dan bersiap hijau,apakah artinya lampu hijau akan segera menyala?.”
“ Ya, nyalakan sendiri lampu hijaunya, karena saya sudah memberi komando untuk bersiap siap, jika bapak menyalkan hijau berarti bapak siap.” Ucapku dengan malu dan deg degan dengan menatap jendela mobil.
“ Tatap aku Saila, akan saya nyalakan sekarang lampu hijau nya.” Ujarnya sambil memegang kepalaku yang semula menatap jendela untuk menghadapnya, terdengar nada lega dan girang dari kalimatnya.
Dengan cepat dia sepertinya akan menciumku, dengan segera saat aku tau maksud hatinya ku tutup mlutnya dengan tanganku.
“ Kenapa suka sekali modus sih.”
__ADS_1
“ Biarkan saya Saila, akan saya nyalakan lampu hijaunya.”
“ Tidak jangan cium, bapak modus sekali.” Ucapku dengan cemberut.
“ Oke tidak cium, kecup saja oke.”
“ No.” Ucapku tegas.
Kemudian dia memundurkan kepalannya dan aku bisa bernafas lega kembali, namun saat aku lengah dia mencuri ciuman dengan mencium pipiku.
blushh jangan tanya pipiku sudah seperti kepiting rebus saat ini.
“ Yes, lampu hijau nyala. Ayo jalan.” Ucapnya girang dan kembali melajukan kembali mobilnya.
“ Ihhh dasar….” ucapku sebal.
Apakah ini namanya di tembak? bukan bukan, ditembak itu berarti menjadi pacar, seperti ABG ABG itu, dan pembicaraan ini terlalu serius, lantas apakah ini namanya lamaran? oh tidak juga, lamaran itu jika bertemu antara keluarga dengan kelurga, jadi ini namanya tunangan? komitmen dua anak manusia ? mungkin ini yang paling tepat.
Tapi tunggu, kita tunangan di dalam mobil dipinggir jalan setelah terjadi pertengkaran begitu? wah wah wah, antimaintream sekali caramu pak, ya ampun.
“ Maaf, dimana rumah bundamu Saila?” ucapnya dengan hati-hati dengan tetap fokus mengemudi.
“ Kenapa, kenapa tanya dimana bunda?” Jawabku lirih dan menunduk, kerena sejak mereka berpisah jika ada yang menanyakan keberadaan mereka entah mengapa aku menjadi sedih.
“ Bunda, dia di banyumas. "
“ Oke, next week kita kesana.”
“ Kesana?
“ Weekend ini ikut saya. “
“ Kemana lagi sih pak ?”
“ Ke... kemana ya? belum tau.”
“ ck, ngajak anak orang tapi tidak tau kemana pak.” omelku pelan
“ Nanti akan tau” ucapnya dengan senyuman yang tercetak melengkung di bibirnya.
setelah hari itu, keadaan kembali seperti semula, aku yang kembali ke kantor dan dia juga bekerja dengan normal seperti biasa, tidak ada perubahan yang signifikan yang menampakan ada sesuatu diantara kami, dia bersikap biasa denganku seperti sebelum sebelumnya, tidak jarang juga aku kena omelnya seperti sebelum sebelumnya yang dimana ada sedikit kelalaian, tindakan itu wajar sih seperti karyawan dan mahasiswa magang lainnya.
__ADS_1
Ku akui dia hebat menyembunyikan sesuatu jadi aku tidak takut akan terjadi yang tidak tidak yang menyangkut kami, dia benar benar profesional dalam bekerja tidak mencampur adukkan urusan pribadi apalagi hati, namun terkadang dengan sikap yang hebat menyembunyikan tersebut aku takut dia juga menyembunyikan hal besar yang entah ada apa kedepannya, namun sementara aku tidak ambil pusing karena memang kamipun belum mengenal cukup dalam, jadi aku masih biasa saja.
Namun suatu ketika entah mengapa nampak dia sangat lelah dan sedikit emosian, aku takut emosinya meledak hebat. Aku beranikan diri untuk bertanya kepada mbak Anna.
“ Nbak, bapak kenapa? terlihat dia sangat lelah dan sedikit emosi dari biasanya, keliahatannya semua karyawan hari ini terkena omelnya.”
“ Sebenarnya emosi seperti ini wajar sih La, masih di ambang normal lah, tapi kalau terlihat emosinya akan meledak bapak memilih mengurung diri di ruangan dan semua tugas serta pertemuan dia cancel.” Terang mbak Anna.
“ Memang hari ini ada kejadian apa mbak sampe begitu?”
“ Mahasiswa magang kepo banget.” Elak mbak Anna dengan senyum yang mengembang sangat manis itu.
“ Em ya nggak kepo sih, pengen belajar aja gimana cara ngadepin atasan kayak begitu saat nanti sudah terjun kerja beneran hehe.” Jawabku mencari alasan, padahal juga aku kepo karena hubungan kita.
Pasangan mana yang tidak khawatir saat pasangannya seperti itu? em sebentar apakah kita bisa disebut pasangan? maybe bukan, apa sebutan yang pas untuk kami? sepertinya seseorang yang memiliki hubungan, yah sedikit panjang sebutannya tapi itu faktanya.
“ Bapak sedang pusing mikirin tender, tender kali ini sangat besar, makanya dia uring uringan, tapi sepertinya ada masalah lain deh,”
“ Masalah kantor yang lain ?”
“ Kurang tau juga, em ya kamu disini dulu ya aku mau ke kamar mandi dulu, jika bapak manggil gantiin dulu kedalam ya. “
" Lah kok gitu sih mbak Ann…” keluh ku
“ Udahlah gapapa, kalau kena semprot diam aja dengerin dia ngomel, gatahan nih aku, gara gara seblak kemarin astaga, bantu aku okkey.”
“ Yaudah mbak, buruan ya.”
“ Makasi banyak Saila baik, nanti aku traktir makan.”
“ Yes Saila suka gratisan.” teriakku pelan namun girang.
Tak berapa lama setelah mbak Anna pergi ada panggilan dari pak Arta, aku deg degan apakah aku harus menemuinya? aku takut bertatapan denganya. Tapi yasudahlah, dibanding dia marah.
Aku melangkah menuju ruangannya dan membuka pintu ruangan itu, nampak dia berkutat dengan komputer dan berkas-berkas yang menumpuk, ku beranikan melangkah mendekatinya.
“ Anna, kenapa kamu lama sekali, cepat periksa bagian divisi kita, sepertinya ada salah data dan deadline pengerjaan yang tertunda.” jelasya tanpa memerhatikanku.
“ Iya pak, akan segera saya sampaikan.” Ucapku ditempat.
Nampak dia kaget dan seketika mengalihkan perhatiannya dari fokusnya tadi.
__ADS_1
“ Saila, kenapa kamu disini?”