Hati Untuk Saila

Hati Untuk Saila
SAILA. eps 16


__ADS_3

“ kenapa tidak diangkat, itu sepertinya dari tadi sudah bergetar.” Tegurku padanya. Dan setelah itu pintu lift terbuka kemudian dia memasuki lift lebih dulu. Aku yang merasa dia tidak menjawab pertanyaanku sedikit heran dengannya, kenapa moodnya suka berubah sih akhir akhir ini.


Kemudian segera aku memasuki lift tersebut dan tak lama lift tersebut tertutup dan hanya kami di dalam lift. Kemudian dia berucap.


“ Jika ini adalah mantanku apakah kau mau mendengar pembicaraan kita?” tanyanya dengan pandangan yang tetap lurus ke arah pintu lift tanpa menatapku.


“ Apa hubungannya dengan saya? Angkat saja siapa tahu itu penting.’ Ucapku dengan santai, padahal juga memang aku santai tidak merasakan apapun.


“ Benarkah kamu sesantai ini?” Tanyanya padaku.


“ Lantas saya harus apa? Melarang seseorang mengangkat telepon? Jika telepon itu penting dan saya larang karena urusan hati jika ada apa apa dengannya maka aku yang merasa bersalah seumur hidup.” Jawabku santai tanpa menatapnya pula.


“ Jika kami ada apa apa karena sikap santaimu apakah kau juga menyesal?” tanyanya lagi yang kali ini dia menatap.


“ Pak, saya tidak melarang apapun, saya hargai privasi dan kepentingan orang lain walaupun orang itu dekat dengan saya. Itu urusannya yang penting dia bisa tetap menjaga kepercayaan. Toxic namanya kalau apa apa dilarang, jika dia takdirku maka dia tidak akan kemana.” Jelasku kepadanya dengan menatapnya pula kali ini.


Tunggu, apa yang kukatakan tadi? Sepertinya aku seperti tidak sadar mengatakan hal itu barusan, kenapa spontan terucap itu sih? Dan seperti sepasang kekasih saja.


 Kemudian lift terbuka dan sudah berada di lantai tempat parkir mobil tunggu berarti ini di lantai dasar, kenapa dia mencet tombol lantai dasar sih, kan jadinya aku harus kembali ke atas.


Dia keluar lift terlebih dahulu dan meninggalkanku disana, aku berniat ingin kembali ke atas namun ternyata dia berbalik arah menjemputku sebelum pintu lift tertutup, dia segera menarikku keluar dan menggandengku menuju mobilnya.


“ Kenapa sih pak ditarik, saya mau ke atas lagi, kenapa saya di lantai parkiran kan saya nggak bawa mobil.” Omelku padanya.

__ADS_1


“ Cerewet banget sih adiknya Aqil.” Balasnya dengan tetap berjalan menuju mobilnya dan membukakan pintu untukku. Kemudian aku masuk dan duduk di kursi samping kemudi dan dia nampak memutari mobilnya untuk duduk di kursi kemudi dan bersiap melajukan mobilnya keluar baseman parkiran ini.


“ O ya, saya mau jemput adek saya dulu di stasiun, kesana dulu ya baru kita dinner.” Ujarnya sambil menyalakan mobil dan bersiap meninggalkan parkiran mobil ini.


“ Hmm iya, tapi, jika dia bertanya..”


“ Akan aku jawab kamu calon istriku.” Ucapnya dengan senyum mengembang.


Seketika aku menoleh kepadanya dan menatapnya tajam


“ Kenapa harus itu sih, jangan main-main pak.” Ucapku dengan nada sedikit penekanan.


“ Memang kenapa? Memang benar kan. Sudah jangan membuat berdebat ya, jangan marah gitu manisnya ilang nanti.” Ucapnya dengan senyum mengembang dan satu tangan yang mengelus rambutku halus.


Sesampainya di stasiun nampak dia keluar mobil dan menyuruhku untuk stay di dalam mobil, aku mengiyakan perintah tersebut dan melakukan sesuai dengan perintahnya tadi, tiba-tiba nampak seseorang yang sangat aku kenal sedang berdiri disana dengan tas ransel ala backpackeran dan sedang menelepon seseorang, seketika aku mengarahkan pandanganku kepada pak Arta yang juga sedang mengangkat telepon dan dia kemudian melambaikan tangannya ke suatu arah, dan aku mengikuti arah lambaian tangan tersebut, tidak salah lagi sepertinya dia melambaikan tangan pada sosok yang aku kenal tersebut. Ya benar dia Zara, apakah adeknya pak Arta adalah Zara? tapi mamanya minggu lalu bilang namanya adalah Avia.


Dan setelah aku ingat kembali benar saja nama Zara belakangnya adalah Danuarta sama seperti pak Arta. Nama depan Zara adalah Aviana Zarani, ternyata benar dia adeknya pak Arta setelah melihat pak Arta mendekat padanya dan sikap mereka seperti tom jerry yang bertemu, sangat menggambarkan dan terlihat itu adalah adek kakak bukan sepasang pasangan.


Ya ampun sudah lama aku tidak berkomunikasi dengan zara setelah dia memutuskan DO dari kampus dan memilih kampus lain, dan saat itu juga hubungan kami sedang tidak baik, dan kini kita bertemu, aku masih ingat kemarahan dia kepadaku lantas bagaimana aku menghadapinya, ya ampun aku tidak ingin saat kita bertemu dan nampak kemarahan salah satu dari kami, aku tidak mau merusak suasana tentram antara adek kakak di dalam mobil, apakah sebaiknya aku keluar saja dari mobil dan pulang, apakah lebih baik diantara mereka tidak ada aku disitu, nampaknya itu lebih baik, mungkin nanti ada saatnya yang tepat saat aku berkenalan lagi dengannya tidak hari ini.


Dengan segera aku keluar mobil dan segera berada di kerumunan lain supaya dia tidak mencariku dan aku melihat mereka menuju mobil dari kerumunan ini. Sebenarnya aku tidak enak dengan pak Arta pergi tanpa pemberitahuan, mungkin lebih baik aku mengabarinya dengan pesan singkat. Aku segera mengeluarkan handphone ku dari tas dan mengetikkan sesuatu


Pak, mohon maaf saya pergi dulu ya, maaf pergi tiba tiba, karena saya ada janji, maaf pak.

__ADS_1


Saat nampak dia sudah didepan pintu mobil dia segera membuka handphonenya saat merasakan ada pesan masuk dan dia nampak kaget serta bingung, sepertinya aku bisa mengartikan percakapan mereka dari gerak gerik mereka. Sepertinya pak Arta sedang panik namun tenang dan Zara yang juga tak kalah bingung melihat perubahan suasana hati kakaknya.


“ Woy, kenapa kak” Ucapnya sambil memukul pundak kakaknya gaya khas adek kakak.


“ Engga, ini tadi gue kesini sama orang, tapi dia pergi.kemana coba dia pasti belum jauh.” Ucapnya sambil celingukan menoleh kekanan kekiri seperti mencariku.


“ Kenapa katanya?” tanya Zara


“ Katanya dia pergi ada janji, padahal juga dia ada janji sama gue doang, lo bawa ini mobil gue mau cari dia dulu.” Ucapnya sambil memberikan kunci mobil kepada Zara.


“ Yah okelah gue tau ini masalah wanita, gih pergi gue mau bersenang senang sama mobil bagus lo ini.” Ucapnya girang dan sedikit berlari memutari mobil.


Aku yang melihat itu entah senang atau bingung untuk persiapan kabur karena melihat dia mencariku, namun nyatanya entah mengapa seneng banget rasanya.


“ Hoi, jangan buat lecet mobil gue, awas lo” ucapnya mengancam kepada adeknya.


“ Iya ih bawel, sana cepet cari, keburu ilang.”


kira kira seperti itulah percakapan mereka yang kulihat dari jauh.


Dan nampak terlihat dia celingukan melihat ke segala arah untuk mencariku dan nampak mobil pak Arta yang dibawa Zara sudah berlalu pergi. Aku menjadi lega dan duduk di kursi tunggu dengan tenang, aku yakin sebentar lagi juga dia akan menemukanku, tidak susah untuk menemukan orang yang duduk di kursi tunggu, aku duduk dengan tenang dan memainkan ponselku dengan tenang.


Benar saja tidak butuh waktu lama ada seseorang duduk di sebelahku. Aku tersenyum sedikit girang dan menolehkan kepalaku ke arah orang tersebut namun dugaanku salah, seseorang yang duduk disebelahku adalah orang yang sangat kubenci dan ku hindari akhir-akhir ini. Benar dia mas Fandi, kenapa juga dia disini.

__ADS_1


__ADS_2