
Saat akan makan siang, sesuai dengan perbincanganku dengan pak Arta tadi pagi, aku menghubungi mbak Anna.
" Mbak, kata pak Arta saya disuruh minta bantuan mba Anna untuk pengurusan kontrak kerja. "
" Ah iya, kontrak mu sudah aku urus, tapi pak Arta nya keluar sekarang. "
" Oh, lama ya mbak? "
" Kurang tau sih dek, ntar agak sorean kamu kesini lagi deh. "
" Oh gitu, makasi ya mba"
Setelah itu aku kembali ke meja kerjaku hingga saatnya sore sesuai yang dikatakan mbak Anna aku kembali ke ruangan pak Arta.
" Mbak, bapak ada? "
" Em, bapak belum balik, tumbenan ini lama tanpa kabar juga, gabisa dihubungi. "
" Em, sebenarnya tadi sebelum bapak keluar mas Fandi kesini, terus agak lamaan dikit bapak keluar. " Sambungnya.
" Mas Fandi, mbak? "
" Heem, kata bapak dia mau makan gitu aja"
Mendengar nama mas Fandi aku menjadi semakin overthinking mengingat kejadian tadi pagi antara aku, mas Fandi dan pak Arta. Apakah mereka bertemu? Tapi hubungan mereka kurang baik.
Tapi bisa aja juga membicarakan hal diluar itu, nethink terus ah aku ini.
Tak berapa lama mbak Anna bilang.
" Dek, barusan ada email masuk darurat, bapak bilang, kamu jangan keluar dari kantor sampai besok, suruh stay disini" Ucap mbak Anna dengan sedikit bingung dan heran.
" Apa mbak? Stay disini? "
" Iya, sampe besok, ga biasanya pak Arta pake email darurat gini"
Feeling ku mungkin benar, ada sesuatu antara mereka.
" Boleh minta nomer pak Arta mba? Mau aku lacak. "
" Boleh dek, aku juga khawatir sama pak Arta. "
Beberapa menit aku melacak nomer, namun tak bisa karena HP nya mati, aku coba terapkan sistem hacker yang pernah aku pelajari dari temanku dulu, walau tak sepandai hacker, akhirnya aku menemukan titik terakhir keberadaan pak Arta sebelum HP nya nonaktif.
Nampak di jalan ABC dimana itu? Aku heran kenapa dia kesana?
" Mbak ini bapak dimana ya? "
Tanyaku dengan menyodorkan handphoneku padanya.
" Itu, itu markas mas Fandi dek setauku"
" Markas? Apa maksudnya? "
" Em mas Fandi punya kelompok gitu dek, kurang tau aku gimana,, yang pasti agak bahaya."
__ADS_1
Namun tiba tiba aku menemukan titik baru yang baru saja handphone dinyalakan.
" Mbak aku ketemu titik lagi, tapi ini kayaknya di… . " Ucapku tergantung dengan benar benar membaca nama lokasi tersebut.
" Bar? " Ucapku kaget membaca lokasi tersebut sambil bertukar pandang dengan mbak Anna.
" Ya ampun mbak, bar? " ucapku kaget.
" Ga biasanya pak Arta ke bar gitu" jelas mbak Anna.
" Yauda mbak aku kesana"
" Tapi dek, pesan bapak tadi kamu jangan keluar"
" Gapapa mbak, aku berangkat"
" Yauda aku ikut dek, nanti ada apa apa denganmu aku kena gorok bapak. " Ucapnya sambil mengemasi barang dan berangkat ke titik pak Arta sekarang.
Setibanya disana agak malam karena jalanan macet dan bisa dibilang agak jauh lokasinya.
Dengan takut aku dan mbak Anna memasuki bar tersebut.
Untungnya, belum terlalu malam banget, jam diskotik atau jam rawan bar belum dimulai dan masih agak sepi, aku masuk dengan hati hati takut jika ada hidung belang lewat.
Setelah lama keliling nampak pak Arta di pojokan bar.
Saat aku menghampirinya, dia masih sadar dan menatapku dengan sedikit amarah.
“ Kenapa, kenapa kau kesini, sudah kubilang stay di kantor”
“ Kau cari masalah dengan datang kesini Saila” Ucapnya dengan tegas. Aku semakin bingung dengan arah pembicaraannya. Ada apa sebenarnya mereka?
Dengan cepat dia menyeretku menuju bilik yang mungkin seperti kamar sewaan, dan mbak Anna tetap ikut dengan kami.
“ Tetap disini sampai tengah malam nanti, jangan langgar perintahku. ”
Aku hanya menjawbnya dengan anggukan karena bingung dengan maksud dibalik semua tindakannya, adapakah sebenarnya ini.
Menunggu tengah malam hanya 3 jam lagi, didalam kami hanya diam bingung dengan clue susunan puzle permasalahanku ini.
Tiba tiba, handphone ku berdering telepon dari mas Fandi. Dengan gemetar ku angkat telepon tersebut.
“ Ha.. halo, ada apa mas?”
“ Kau dimana bocah”
“ A..aku, aku dikantor” Ucapku gugup dengan saling bertukar pandang dengan mbak Anna
‘ Bocah jalang pinter ngeles, bisa sekali kau membohongiku, lihat aku akan menemukanmu, kau akan.”
tut tut tut
Sambungan telepon terputus dan handphoneku mati, aku heran, kenapa handphone ini mati padahal baterai masih banyak, dan ya tidak bisa dinyalakan lagi. Aku semakin frustasi dengan keadaan ini, kenapa ada ada saja sih, ya Tuhan,
Tengah malam tiba dan aku dengan mbak Anna memutuskan keluar dari sana, sebenarnya sejak tadi aku sangat ingin keluar dari tempat laknat ini, namun kuurungkan karena perintah pak Arta.
__ADS_1
Dengan cepat aku keluar, namun ternyata aktivitas aktif bar ini dalam mode on, sangat ramai dan sesak, aku semakin pusing berada disini, hingga akhirnya ada petugas bar menghampiriku dan mbak Anna.
“ Mbak Saila dan mbak Anna?”
“ Iya mas?”
“ Bapak pesan, jika bapak mabuk berat tolong bawa bapak pulang, dan kalian kenakan ini. ” ujarnya sambil memberikan kami masker tertutup dan seragam bar.
Aku dan mbak Anna bingung, namun tetap kami melaksanakan perintah tersebut dan segera berganti pakaian.
“ Mbak, bapak akan kami antar lewat pintu belakang,mbak ikut bersama bapak. ”
Dengan heran dan banyak pertanyaan di kepala, aku menuruti permintaan petugas bar tersebut, apasih sebenarnya dibalik semua ini.
Benar saja dibelakang sudah ada mobil yang menunggu kami, menurut mbak Anna, yang kami tumpangi bukan mobil pak Arta dan mobil pak Arta berada di belakang kami.
2 mobil ini jalan bersamaan namun berbeda arah, menurut mbak Anna lagi, mobil kami bukan menuju rumahnya dan mobil pak Arta menuju rumahnya.
Semakin pusing aku dengan semua teka teki ini, kenapa rumit sekali.
“ Mas, ada instruksi lagi, misi, atau perintah khusus dari pak Arta atau yang lainnya?” tanyaku pada supir tersebut yang merupakan petugas bar tadi.
“ Tidak mbak, bapak hanya memberi perintah sampai situ”
“ Sebenarnya ada apa sih mas?” Tanya mbak Anna kali ini dimana dari tadi dia diam mencerna apa yang terjadi denan kami.
“ Ada yang ingin membahayakan salah satu dari kalian, saya yang memantau dan mematikan ponsel kalian tadi, dan saya sebenarnya bukan pekerja disini. ”
“ Lantas, kenapa harus sembunyi begini, apakah ada yang lebih membahayakan” Tanya mbak Anna lagi.
“ Ya, pak Arta meminta kalian keluar tengah malam karena tegah malam ramai dan dengan mudah menyanar di tengah sesaknya bar, saya hanya tau sampai situ. ”
Jadi, mas ini hacker dan yang dimintai tolong oleh pak Arta?
“ Mba, ini rumah pak Arta yang satunya, saya hanya bisa membantu sampai disni, apakah kalian bisa membantuku merawat bapak? ini kunci rumhnya. "
“ Ya, bisa mas, terimakasih “ jawab mbak Anna kepada mas tadi dan kami berusaha membawa pak Arta yang tidur karena mabuknya ke dalam rumah.
Saat sudah sampai sofa ruang tengah yang agak besar, kami memndudukkannya disitu karena sudah tidak kuat denga bau alkohol dan beratnya tubuh pak Arta yang sempoyongan.
“ La, aku harus pulang, aku harus mengurus mama dirumah, terus bagaimana dengan bapak?”
Sebenarnya aku bingung dengan keadaan seperti ini ,dan aku memutuskan untuk menjaga bapak malam ini.
“ Yasudah mba, mba pulang saja, aku rawat pak Arta disini”
“ Kamu tidak papa? aku tak tega meninggalkanmu”
“ Gapapa mbak, sudah mbak pergi saja, aku baik baik saja. ”
Akhirnya mbak Anna pergi dan meninggalkan aku disini, aku melepaskan sepatu dan kaos kaki pak Arta, dan mengambil selimut di sofa sebelah, selimut yang agak tipis dari selimut kamar namun bisa menghangatkan badan.
Saat aku akan melepaskan dasinya, pak Arta mencekal tanganku, aku kaget dengan tindakan tiba tiba itu, takut, takut terjadi hal yang tidak tidak.
Dia mencekal tanganku dan menarikku hingga aku jatuh diatasnya
__ADS_1