Hati Untuk Saila

Hati Untuk Saila
SAILA. eps 3


__ADS_3

Mataku seperti berat untuk kubuka dan tenagaku seperti habis, sangat lemas rasanya, namun


aku tetap berusaha membuka mata.


Ku buka sedikit kelopak mata, dan terlihat laki laki yang


duduk di sofa yang sama dengan sofa yang aku tiduri ini sambil membuka berkas dan


mengetikkan serta fokus pada pekerjaannya. Mata ini belum sepenuhnya terbuka dan masih


ku usahakan untuk kukumpulkan nyawaku supaya bisa cepat sadar dan berpikir mengenai apa


yang terjadi dengan keadaan sekitarku dan aku tentunya.


Aku teringat terakhir kali aku


pingsan, dan laki laki di depan ku ini ternyata adalah Pak Arta.


Setelah sadar aku segera bangkit dan mengubah posisi tidurku menjadi duduk.


“ Saila, sudah baikan?” tanyanya padaku sambil menyerahkan gelas berisi air putih dan


terlihat dia meninggalkan apa yang sebelumnya dia kerjakan untuk memedulikanku.


‘ Sudah pak, sudah baikan, maaf merepotkan” Ucapku segan padanya dan ku raih gelas


tersebut dari tangannya kemudian kuminum. Kucari sepatuku dan kupakai secepatnya untuk


segera keluar dari sini, namun tanganku dicekalnya dan aku terduduk kembali.


“ Duduklah dulu istirahatlah, saya tidak akan mengurangi fee mahasiswa magang karena


tidak bekerja setengah hari” ucapnya dengan tangan masih berada di pergelangan tanganku.


Aku seperti orang bodoh yang linglung dengan memperhatikan keadaan sekeliling, tanpa


kusadari aku tiba tiba tersadar saat melihat jendela besar di ruangan ini yang ternyata hari


sudah gelap. Berarti aku pingsan dan tertidur lama sekali ya ampun, semakin malu rasanya.


“ Maaf pak, saya tidur terlalu lama. Sepertinya sudah jam pulang kantor, saya izin pulang


pak, maaf sekali sudah merepotkan bapak.”


ucapku sambil berdiri dan membungkukkan


badan. Tampak Pak Arta menutup laptopnya dengan segera dan ikut berdiri.


“ Pulang dengan saya” ujarnya.


“ Ah tidak usah pak, saya bisa sendiri” sanggahku. Kulihat dia menuju mejanya dan menekan


tombol yang mungkin itu tombol untuk memanggil sekretarisnya.


“ Ann, apa kau sudah pulang?”


“ Belum pak”


“ Pulang dengan saya sekarang”


“ Baik pak”


Nampak dia kembali menghampiriku dan berkata


“ Tidak hanya saya dan kamu, ada Anna di dalam mobilku, tidak perlu khawatir. Barangmu


sudah ada dengan Anna” ucapnya sambil mengemasi dan mengambil jasnya yang tergantung.


Aku mengekor di belakangnya seperti anak ayam yang mengikuti induknya. Setelah keluar


dari ruangannya terlihat Mbak Anna yang sudah bersiap untuk pulang.

__ADS_1


Saat berjalan di


samping Mbak Ana aku berbisik kepadanya.


“ Mbak, maafkan aku ya, gara gara aku mbak juga pulang malam’ Bisikku dengan


mengambil uluran berupa tasku dari Mbak Anna.


“ Selow ajalah, aku bahagia” ucapnya dengan senyum manisnya tanpa menoleh kepadaku.


Dan Pak Arta sedikit lebih jauh dari kami.


“ Mbak bahagia pulang telat gini?” tanyaku heran.


“ Tidak, aku bahagia, akhirnya ada seseorang untuk Pak Arta” senyumnya semakin


mengembang.


“ Maksud mbak apa?” tanyaku semakin heran dengan arah pembicaraan mbak Anna.


“ Ingat yang aku bicarakan denganmu tadi siang? Kalau ingat cobalah cari clue sendiri, aku


yakin kamu pintar dan cerdas, tidak susah membaca semua clue”


ucapnya sambil tetap


berjalan dengan anggun bak model yang berbanding terbalik sekali denganku yang


berpenampilan apa adanya ini.


“ Pak Arta tidak pernah mengantar wanita siapapun kecuali mamanya dan neneknya,


termasuk mantannya dulu”


bisiknya sangat pelan padaku yang masih dapat kudengar.


Menurutku mungkin itu hanya sepintas yang sekretarisnya tau, bisa saja entah kapan tanpa


memang sekertaris usil ini. Tapi asik sih mbak Anna orangnya hehe.


Saat aku akan duduk dengan mbak Ana di belakang, Pak Arta membuka suara.


‘ Ehm, saya bukan supir kalian” katanya yang diawali dengan dhaman. Aku reflek


menyenggol mbak Ana dimana biasanya sekretaris dong yang duduk di depan.


“ Saila, pindah” titahnya.


Mendengar perintahnya aku segera pindah duduk di samping kemudi yaitu di samping Pak


Arta, kulirik mbak Anna senyum senyum sendiri tidak jelas, semakin heran dan malu aku


karena mbak Anna.


Saat mobil Pak Arta sudah membelah jalanan kota, dia memulai pembicaraan.


“ Anna, tutup telinga” perintahnya


“ Baik pak” jawabnya yang nampak dia paham dengan hal seperti, mungkin di sudah berkali


kali menghadapi atasannya yang memberi perintah seperti ini sebagai kode, namun apa


maksudnya menyuruh mbak Anna tutup telinga?


“ Ternyata benar kamu punya masalah dengan Fandi” ucapnya sambil tetap fokus


mengendarai mobilnya.


“ Em maaf, bapak tau darimana? Dan ya, bapak siapanya Mas Fandi?” tanyaku dengan


sedikit takut.

__ADS_1


“ Tidak bisa dijelaskan hubunganku dengannya bagaimana, yang pasti tidak begitu baik. Dia


suami Adena temanku.” Jawabnya yang berhasil membuatku terkejut.


Jadi, dia mengajakku


menikah karena ada sesuatu karena memiliki hubungan kurang baik dengannya.


Aku? Hanya


sebagai alat? Bisa saja kalau aku menyetujui permintaannya mungkin saat tujuannya tercapai


aku akan dibuang?


Tidak.


Seberapa besar benciku dengan Mas Fandi aku tidak rela aku hanya


dijadikan sebagai alat. Aku masih memiliki harga diri. Dan apakah ada hubungannya dengan


Mbak Adena?


“ Jadi, ternyata alasan anda tadi siang karena anda memiliki masalah pribadi dengan Mas


Fandi? Dan saya hanya menjadi alat bapak?” tanyaku dengan sedikit bergetar


“ Bukan, kamu terlalu pintar sehingga mendefinisikan sesuatu sejauh itu. Terlalu jauh. Saya


tidak begitu rendah dengan memanfaatkan wanita hanya karena sebuah masalah seperti itu, banyak cara


lebih kuat untuk memberinya pelajaran” Jawabnya sambil sedikit tertawa sambil


membelokkan mobilnya, sepertinya dia sudah tau rumahku, ini jalan menuju rumahku.


“ Lantas?” tanyaku semakin heran padanya.


“ Terlalu bahaya untuk saat ini kamu tidak memiliki pelindung, dan berurusan kembali dengannya, kamu tau begitu


berbahayanya Fandi. Pertimbangkanlah tawaranku tadi siang” tegasnya.


Sebenarnya aku paham dengan arah pembicaraannya, sangat paham, namun yang membuatku


bingung, kenapa juga dia mengajakku menikah, alasan yang kuat apa coba. Aku masih semester 7, belum lulus kuliah


juga.


Firasatku mengatakan pasti ada apa apa dengan atasanku ini, ada hal yang kurang beres. Bagaimana juga memilih jodoh seperti memilih baju saja asal pilih, kalau bosen dibuang gitu?


Astaga,, lagi lagi otakku travelling terlalu jauh lagi. Ampunn deh..


Sebenarnya benar juga yang dikatakan Pak Arta, saat ini aku tidak memiliki siapapun,


seorang pun hanya untuk mendengarkanku tidak pernah, namun aku tidak begitu murahan


untuk menerima tawaran Pak Arta tadi, aku tidak mau begitu gampangnya menerimanya


yang akhirnya aku akan terjatuh lagi seperti kejadian lalu.


Bagaimana ini akankah aku terima


tawarannya? Mungkin aku akan melihat usahanya dahulu.


“ Ehm, mungkin saya akan melihat usaha bapak, mohon maaf, saya begini karena saya


berjaga jaga, takut terjadi sesuatu seperti yang lalu”


“ its okay, i know, tunggu ya” jawabnya singkat.


What? Apa ini? Jawabannya seolah dia serius, ada apa sebenarnya, tidak ada hujan tidak ada


petir tiba tiba dilamar? Wahh benar benar memusingkan.

__ADS_1


__ADS_2