Hati Untuk Saila

Hati Untuk Saila
SAILA. eps 9


__ADS_3

Setelah pak Arta berlalu dan terlihat memasuki salah satu ruangan, tiba tiba handphoneku berbunyi, ada panggilan whatsapp disana, tidak ada nama namun ada nampak foto mbak Anna sepertinya.


Dengan segera aku menggeser tombol hijau itu untuk mengangkat teleponnya.


“ Halo La”


“ Iya mbak ada apa?”


“ Bapak dirumah?”


“ Iya, bapak barusan masuk rumah, ada apa mbak?”


“ Jangan biarkan bapak hari ini keluar la”


“ Apa? Kenapa mbak?”


“ Panjang ceritanya, jika bapak hari ini keluar dia dan kamu dalam bahaya”


“ Bentar mbak, aku tidak paham sebenarnya ada apa ini?”


“ Bapak taruhan dengan mas Fandi, em bukan taruhan, lelang lebih tepatnya. Bapak menang dan mas Fandi ingin mencelakai bapak hari ini, aku akan bicara dengan bapak nanti malam untuk membicarakan hal ini, aku sudah memberitahu dan menghubungi mas Kara hacker itu untuk mematikan semua akses kalian.”


Deg


“ Sudah aku tutup teleponnya, jangan hubungi kantor, aku atau siapapun dari rumah kalian, mengaktifkan apapun akan bisa melacak keberadaan kalian.”


“ I.. iya mbak,”


“ Jangan beritahu ini pada bapak, dia bisa bertindak lebih jika dia tahu sebelum aku menghubunginya.”


“ I iya mbak terimakasih”


Deg


Apalagi ini, kenapa harus berurusan dengan mas Fandi lagi, apa sih yang mas Fandi inginkan sebenarnya, aku merasa tidak enak selalu merepotkan pak Arta dan dia sudah terlalu jauh terlibat dalam urusanku dan keluargaku.


Apa yang harus aku katakan untuk membujuk pak Arta supaya tetap dirumah? pusing aku memikirkan hal ini.


Saat aku mondar mandir di ruang tengah karena pusing memikirkan bagaimana caranya, tiba tiba dia keluar dari ruangan dan melihatku sedang gelisah.


“ Kenapa kamu? Ada yang tagih utang?” tanyanya yang mengagetkanku.


Aku bingung aku harus menjawab apa, jawabanku harus bisa menahannya disini.


“ Em, i.. iya pak, tapi aku juga bingung laporan magangku selama seminggu kan aku dirumah pak.” Ucapku gugup sambil memegang dahiku karena bingung.

__ADS_1


“ Kenapa pegang dahi, pusing?”


“ Ah iya ini pak, pusing banget.” rintihku 


“ Mbak Asih, obat pusing untuk Saila ya!” teriaknya memanggil Mbak Asih.


“ Eh tidak tidak pak, saya tidak perlu obat, saya tidak begitu suka minum obat.”


“ Ya sudah istirahat saja.”


“Em, pak, bisa temenin saya dirumah, kalau saya sakit biasanya mas Aqil yang temenin.” ucapku dengan sedikit takut, pasalnya hal itu aku berbohong untuk menahannya dirumah.


“ Oke saya temeni, duduk sini” ucapnya sambil berjalan menuju sofa dan akan duduk disana, aku pun ikut duduk disana.


Saat aku sudah duduk disana tiba tiba dia mendekatiku dengan menggeser duduknya.


“ Kau berbohong, dasar modus.” dengan memicingkan matanya


“ Tidak , mana ada.” Elakku.


“ Ada yang kau sembunyikan , apa itu.?” Tanyanya dengan menatap manik mataku dalam, aku yang ditatap seperti itu takut sendiri melihat tatapannya.


“ Tidak” jawabku singkat.


Dia kemudian mengecek suhu tubuhku dan mengecek nadiku juga dengan menempelkan tangannya dan menghitung berapa kali nadi berdenyut dalam beberapa detik.


“ Yasudah, saya pergi dulu, minta temani Mbak Asih kalau takut.” Terangnya sambil berdiri, dan aku menahan pergelangan tangannya.


Aku bingung, alasan apa yang harus aku gunakan, masalah laporan? oh tidak dia pasti akan menghubungi mbak Anna.


skripsi? Itu akan membutuhkan akses internet juga.


nonton? Tidak ada bahan tontonan disini, smart tv harus terkoneksi internet, dan apa yang harus aku lakukan ya ampun.


Lama aku menahan pergelangan tangannya yang dimana dia nampak bingung menunggu apa yang akan aku katakan.


“ Temani saya sampai malam ini saja pak. ” mohonku memelas padanya.


“ Hei, adiknya Aqil, saya ada urusan, nanti saya kesini lagi.”


Entah kerasukan apa aku, hanya ide ini yang terlintas di kepalaku, gila memang gila. Aku seperti omong kosong yang tidak mau dianggap murahan namun melakukan hal murahan, aku akan mengingkari prinsipku sendiri kali ini, habis bagaimana lagi, tidak ada cara untuk menahannya, entah hanya ide ini yang ada di kepalaku.


Setelah beberapa saat berpikir, aku memberanikan diri untuk berdiri dan mengecupnya sekilas.


Dia nampak kaget dengan tindakan tiba tibaku, dan aku pun, merasa seperti jalang dengan melakukan tindakan seperti itu, aku merutuki diriku sendiri setelah melakukannya.

__ADS_1


Dia mendekat perlahan kepadaku.


“ Apa? Kau kini menggodaku Saila?” ucapnya lembut dan terdengar seperti lelaki yang menginginkan , sangat membuatku merinding.


Namun aku hanya bisa diam, aku bingung harus berkata apa.


“ Ternyata, kau  benar benar ingin ditemani.” ucapnya sambil mendekat dan meraih pinggangku.


Aku, jangan tanya, aku sangat merinding ketika dia meraih pinggangku, takut, dan entah mulut ini tidak bisa memberi jawaban seperti biasa yang dimana aku banyak bacot.


“ Sepertinya itu tadi lampu hijau untukku, benar?” ucapnya di telingaku yang terdengar seperti hasrat dan hembusan nafasnya yang hangat membuatku semakin merinding.


Kemudian dia meraih tengkukku dan mendekatkan bibirnya, bibirku sudah menyatu dengan  bibirnya, ******* yang terasa memabukkan, dia menciumku dengan lembut, lidahnya berhasil mengekspor rongga mulutku, bibirnya yang terasa manis, lembut dan memabukkan.


Namun aku hanya diam, aku tidak ada niatan untuk membalasnya, semakin lama ******* itu semakin menggairahkan dan dia memperdalam ciuman itu.. Aku ingin menangis, namun apalah daya hanya ini cara untuk menahannya dirumah.


Tanpa melepaskan tangannya di pinggang dan tengkukku dia melepaskan ciumannya.


“ Saya punya banyak lampu hijau untuk memilikimu. Namun aku tidak ingin menjebak, aku berikan tawaran untukmu.”


“ Apa itu?” ucapku takut.


“ Satu, aku mendapat ijin kakakmu untuk memilikimu, dua, aku telah membebaskanmu dari urusanmu dengan ayahmu, tiga, aku telah membuktikan kau mahal, kau telah kumiliki dengan harga sangat mahal pada Fandi.”


Apa? Apa itu? Pikiranku belum jernih , pikiranku mengatakan bahwa itu sama saja dengan menjebakku.


“ Lantas.”


“ Kau akan tetap bersamaku atau saya lepas, saya tidak memaksamu, saya tidak mau menjalin hubungan karena salah satu pihak terpaksa, jika kau terpaksa kau bisa lepas dariku, tapi saya hanya bisa membantumu sampai sini, dan kartu as dari kakakmu akan lenyap. “


“ Tunggu, saya belum bisa mencerna apa maksud bapak.”


“ Ingat lagi tawaranku seminggu yang lalu. Kau menunggu usahaku bukan?”


“ Saya tidak ingin main main dengan hubungan, jika kau menerima tawaranku berarti kau milikku, jika kau tidak ingin berarti kita cukup disini.” Sambungnya


Aku bingung, harus aku jawab apa , aku tidak ingin berurusan dengan pak Arta lebih jauh lagi, namun aku juga tidak punya siapa siapa disini, hanya dia penolongku, yang mungkin bisa jadi harapan hidupku.


Apa yang harus aku pilih Tuhan, aku bingung.


“ Akan saya pikirkan dulu.” Ucapku sambil menjauh darinya dan duduk di sofa seberang.


Aku bingung apa yang harus aku lakukan, dia telah membantuku banyak sekali,


Tak terhitung besar bantuanya padaku, namun aku belum bisa menerima tawarannya.

__ADS_1


“ Em, saya terima tawarannya pak, tapi, maaf saya belum bisa menerima hati bapak.” Ucapku gugup dan takut. Dia mendekat kepadaku dan duduk disampingku.


“ Its okay, anggap saja aku kakakmu, dia mengijinkanku  menjagamu, aku tidak memaksamu menerima hatiku. tapi nampaknya kau punya lampu hijau untukku tadi.”ucapnya dengan semakin mendekat kepadaku.


__ADS_2