
“ Anna, nanti siapkan...” perintah Pak Arta kepada sekretarisnya sambil membuka pintu dan
kata katanya tergantung saat dia melihatku dengan Mbak Anna.
“ Iya pak, ini sudah disiapkan mahasiswa magang, presentasi untuk siang ini.” ucap Mbak
Anna sambil memberikan flashdisk yang berisi PPT hasil kerjaku.
“ Ah iya, em kalau begitu, kamu, em Anna siapkan ruang meeting. Kamu Saila,makan
sianglah dulu, nanti ikut saya meeting.”ucapnya kemudian berlalu masuk kembali
ruangannya.
“ Hei, jarang jarang bapak kasi jam makan siang tambahan. Sana gih makan dulu.” Ucap mba
Anna sambil mengotak atik komputernya.
“ Ayo mbak ikut Ila makan.” Ajakku pada Mbak Anna.
“ Yang dikasih jatah tambahan jam makan siang kamu bukan aku, sana gih makan dulu.” sambungnya lagi
sambil senyum senyum sendiri.
Aku langsung menuju ke kantin hanya dengan menunjukkan id card. Ku pesan nasi goreng
dan es coklat, sebenarnya semua makanan di kantor gratis asalkan memiliki id card kantor. Maklum sekarang hidup sendiri, yang dikejar para kaum sepertiku adalah gratisan. lumayan hemat uang jajan hehe.
Namun saat selesai makan dan keluar kantin, sepertinya aku berpapasan dengan sosok yang tidak asing bagiku,
parfumnya yang selalu mengingatkanku mengenai lelaki itu, ya Mas Fandi, seperti bau
parfum Mas Fandi tadi.
Yaudahlah ya bodo amat ngapain juga mikirin laki brengsek macam
dia, ngapain juga dia kesini, ayolah move on Saila.
Namun ternyata dugaanku benar, aku sangat kenal dan familiar dengan aroma itu,ternyata
aku bertemu dia di lift. Dan yang berpapasan denganku tadi benar dia.
“ Hai Ila, mau masuk juga?” sapanya.
Ku urungkan niatku untuk menaiki lift tersebut.
“ Em tidak mas, aku masih ada urusan, mas duluan saja.” Ucapku sambil bersiap untuk
melangkah menjauh dari lift.
“ Lift masih kosong, hanya ada aku, gausah gengsi lah haha” Tawanya pecah terdengar begitu
renyah.
Apa? Gengsi? Matamu gengsi. Kau kira aku bahan tertawaan wanita gampangan. Tidak, kau salah.
Aku ingin menghindarimu asal
kamu tau bajingan, lelaki ga punya hati, setelah menyakiti dengan seenaknya tertawa renyah
dan mengatai seperti itu. Dasar buaya.
“ Maaf, apa mas? Gengsi, hei jaga bicaramu.”
Ucapku sambil maju dan melangkah memasuki lift tersebut dan ingin mengatainya habis habisan. Panas telinga ini rasanya mendengar ocehan seperti itu. Dan ternyata setelah aku masuk lift tertutup.
“ Iyalah, sok jual mahal wanita murahan.” Remehnya.
__ADS_1
“ Anda yang murahan, berani beraninya mempermainkan hati wanita, dasar buaya bangsat.”
ucapku dengan begitu sarkas.
“ Apa cantik? Hei, perkataanmu terlalu manis untuk kudengar”
Ucapnya sambil berjalan
mendekatiku dan semakin mendekat sehingga aku mundur untuk menjauh darinya namun
naas, ini lift yang pasti ga bisa kabur, aku terpojok di dinding lift dan dia semakin mendekat,
hingga tiada jarak diantara kami.
“ Menjauhlah! Mau apa kau!” Berontakku dengan berusaha menjauhkan dirinya dariku.
Namun dia semakin mempersempit jarak dan tangannya mengunciku di kedua sisi dengan
menempel telapak tangannya di dinding lift
“ Perkataanmu terlalu manis untuk kudengar, mungkin akan ku beri pelajaran pada mulut
manismu itu.”
Perkataannya berhasil membuatku merinding, aku takut, panik, wajahnya
semakin mendekat kepadaku, aku berusaha berontak sekuat tenaga, namun tangannya
berhasil menyentuh leherku dan mencengkeram keras.
“ Kau harus diberi pelajaran!”
“ Seharusnya aku, aku yang memberimu pelajaran bajingan!” Teriakku keras padanya dan berontak, sekuat tenaga aku
berusaha minta tolong.
menolongku di lift? Di lift hanya ada kami.
Berusaha ku jauhkan dan kibaskan kepalaku
supaya dia tidak menciumku, terlihat dia begitu menyeramkan, aku takut, wajahnya semakin
mendekat.
Tak terasa aku meneteskan air mata, aku takut, sangat takut, badanku sudah
bergetar, dan aku masih berusaha menghindari wajahnya yang hampir menciumku dengan
kualihkan kepalaku kekanan dan kekiri.
Sungguh, disini sangat menyeramkan, sosok ini
sangat menyeramkan, penolong manakah yang akan menolongku, aku sangat sangat takut
Tuhan.
Ternyata Tuhan Maha Baik, dia mengirimkan seorang penolong. Untungnya lift terbuka, dan tampak berdiri di sana Pak Arta. Dia Pun menoleh ke arah lift
yang terbuka tersebut.
Dengan kekuatan super entah darimana, aku berusaha melawannya
dan dia terjatuh terduduk, secepat mungkin aku berlari ke arah Pak Arta dan bersembunyi dibalik punggungnya. Inikah penyelamat yang kau kirim Tuhan?
“ kamu, berani berurusan denganku Fandi Ahmad.” Ucapnya dengan nada seperti marah.
“ Hei bung, dia siapamu? Sepertinya dia bukan siapa siapamu, dia wanita murahan,
__ADS_1
kemarikan dia, aku masih ada urusan dengannya.” Ucapnya sambil mendekat dan akan
mengambil tanganku dari belakang punggung Pak Arta.
“ Haruskah dia siapa siapa ku agar kau tak berurusan dengannya?” Tanyanya sambil
menampis dan memukul tangan Mas Fandi yang akan menarikku.
“ Arta, dia bocah tengil yang licik, lepaskanlah, hanya mahasiswa magang tidak akan
mengganggu kinerja kalian kan. Dia hanya tenaga kerja tidak penting kan disini.” Cuapnya sarkas dengan
nada meremehkan.
" Lidahmu semakin licin dan fasih, ternyata bakat mu bertambah " ujar Pak Arta pada Mas Fandi.
" Ayolah Arta, aku tidak ingin berurusan denganmu, aku hanya berurusan dengannya si wahasiswa licik. "
“ Kau benar benar berurusan denganku Fandi Ahmad.” Geram Pak Arta sambil maju
beberapa langkah mendekati Mas Fandi dengan wajah menyeramkan.
Tuhan kenapa dua
lelaki ini memiliki wajah menyeramkan seperti ini, aku takut . tak henti air mata ini turun dan
menetes mengenai lantai.
“ Pak, mohon sudah, aku memang ada urusan dengannya, bapak akan segera rapat, lebih baik
bapak tinggalkan kami.”
Ucapku tidak enak hati kepada Pak Arta, dan aku melangkah maju beberapa langkah yang semula berada di belakangnya.
Tanpa disangka dia menahan tanganku
dan menarik tanganku untuk menyembunyikannku di balik punggungnya lagi.
Jujur aku takut
melihat matanya seperti kilatan amarah.
“ Jangan ada maju selangkah pun Saila.” Ucapnya dengan menolehkan kepala ke belakang.
“ Arta, lepaskan dia, dia yang sukarela maju kepadaku, iya kan bocah kecil licik murahan.”
“ Bangsat!!” Geram Pak Arta dengan mencengkram kerah Mas Fandi.
Saat dia bertindak
begitu tangisku semakin keras, aku sangat trauma dengan teriakan dan orang bertengkar.
Melihat mereka seperti itu semakin menjadi tangisku dan semakin keras.
“ Pak Arta sudah!” Teriakku kepadanya dengan tangisan yang semakin keras sebelum dia
melayangkan kepalan tangannya untuk meninju Mas Fandi.
Dan tak terasa, pandanganku
semakin gelap dan kabur, bahkan aku sadar seperti terjatuh namun tak terasa sakit,
bayangan di depanku semakin buram dan kemudian benar benar menghilang.
“ Brengsek, kau, benar benar bajingan yang berurusan denganku.” Itulah kata kata terakhir
yang aku dengar dari mulut Pak Arta sebelum aku benar benar pingsan.
__ADS_1