
" Belum, namun aku butuh sesuatu. "
" Apa pak? Mungkin bisa saya bantu?" Tanyaku padanya
" Bantu saya menghilangkan beban ini. " Ucapnya sambil mendekat dan memelukku. Aku kaget dengan tindakannya yang tiba-tiba ini, ini di kantor, astaga modus sekali si dia ini.
" Pakkk, ini kantor, " Berontakku seraya berusaha melepaskan pelukannya namun dia semakin mempererat pelukan itu dan menyandarkan kepalanya di curuk leherku.
Aku geli dengan tindakannya seperti ini seketika aku menahan nafas karena sesak dan hembusan hangat nafasnya mengenai leherku membuatku semakin merinding.
" Jika tidak dikantor boleh? " Tanyanya nakal.
" Pak apaan sih lepass, modus sekali Hiss. " berontakku lagi.
" Sama calon istri sendiri ga modus lah namanya. " elaknya
Whatt apa? Calon istri? Omaigatt. Aku semakin dag dig dug mendengar sebutan itu. Tolongglah pak, kau tak tau, jika kau sepeti ini bisa bisa jantungku sudah tidak ada di tempatnya, sangat deg degan tau ga sih, ya ampunnn.
" Biarkan aku seperti ini dulu, aku lelah. " Ucapnya dengan mata yang sepertinya terpejam.
Aku yang memang sedari tadi kepo ingin menanyakan ada apa dia hari ini, akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutku.
" Em pak? Hari ini anda kenapa? " tanyaku takut.
" Saya lelah. Biarkan saya melepas lelah saya sepeti ini. " Jelasnya sambil mengelus punggungku.
Ya ampunnn sungguh jantung ini berdentak begitu kencang mungkin dia merasakan jantungku seperti drum yang ditabuh, sangat kencang.
" Iya tapi kenapa? Karyawan bapak hari ini kena omel semua. "
" Saya lelah, tender besar diambang kegagalan, perusahaan ini harus menang tender." Ucapnya dengan nada seperti mengantuk.
" Jika lelah jangan dipaksakan pak, istirahat saja. "
" Dengan seperti ini sudah istirahat, karena kesibukan saya, saya jarang menemuimu. " Ucapnya sambil memundurkan kepalanya untuk melihat wajahku namun tangannya masih melingkat erat di pingganggku, astaga sesak tau pak rasanya.
" Jangan dibawa stres pak, jangan emosi juga, kasian karyawannya, jika lelah istirahat. " Jelasku padanya di depan wajahnya. Entahlah dengan sepeti ini dia malah semakin mempererat pelukannya astaga sesak tau pak.
" Em begini ya rasanya diperhatikan, aku jadi pengen cepat cepat Halalin adeknya mas Aqil ini. "
__ADS_1
Astagaaa diperhatiin seperti ini sepertinya salah, niat hati ingin menyemangatinya tapi malah aku jadi korban ya nasib.
Tiba tiba suara pintu terbuka dan muncul mbak Anna disana.
" Em ma ma maaf Pak, saya tidak tau, saya permisi. " Ucap mbak Anna gugup saat melihat apa sedang kami lakukan yaitu berpelukan, dan dengan cepat dia menutup pintu dan segera keluar.
Aku semakin malu disini ke gep oleh sekerrtatisnya, matilah akuuuu.
Karena malu aku mendorongnya untuk menjauh dan menutup wajahku dengan kedua tanganku.
" Kannn saya bilang ini dikantor pakkk, , bapak buat saya malu saja. " Ucapmu dengan tangan menutupi wajahku.
" Sudahlah Anna sudah pergi. " Ucapnya sambil mendekat kepadaku untuk memelukku lagi. Namun aku mundur dan ingin keluar dari ruangan itu.
" Jangan mendekat, berpelukan lah saja dengan tiang jas bapak saja. " Ucapku sambil mundur dan berbalik badan ingin segera keluar.
" Saila, ingat ya nanti kita ada dinner." Ucapnya saat aku sudah akan mendorong pintu ruangan ini. Aku berbalik badan dan menunjukkan wajah sebalku padanya.
" Bodo amat. " Ucapku ketus.
Benar saja, saat keluar ruangan mbak Anna sudah bersiap menghadangku di depan pintu.
Fiks aku disini malu tapi kenapa dia malah tersenyum.
" Tolong jangan tersenyum begitu mbak. " Ucapku malu sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tangan.
" Hei, super heronya divisi kita, sepertinya aku benar benar akan mentraktirmu makan 2 kali lipat karena kau bapak emosinya mereda. " Ucapnya santai sambil berjalan menuju kursinya.
" Sudah mbak jangan jahili aku seperti itu aku malu. " Ucapku sambil berjalan menuju mejanya untuk mengambil ponselku.
" Eh inget, Kalo romantisan jangan di kantor ya, aku tunggu undangan kalian. " Bisiknya padaku.
Aku semakin dengan canggung dengan candaannya itu, dengan segera aku ngibrit supaya dia tidak mengusiliku.
Akhirnya aroma hubungan diantara kita terciun juga disini
Memang benar pepatah, sepintar pintarnya tulai melompat pasti akan terjatuh juga,
Akan kutaruh mana muka ku ini jika bertemu dengan mbak Anna lagi astagaa, kenapa juga dia memelukku di kantor seperti ini dasar modus.
__ADS_1
Saat sudah sampai di mejaku aku melihat notif masuk terlihat dari pak Arta
" Nanti kita dinner ya, pulang dengan saya "
" Jangan lupa nanti dinner ya Saila"
saat pulang benar saja dia sudah berdiri di depan pintu lift seperti satpam, kenapa coba dia berjaga disitu kan jadi banyak yang tanya
seperti
" mari pak pulang "
" sedang menunggu siapa pak ?"
" adakah doi disini ?"
yah macam itu lah kurang lebih pertanyaan yang terlontar kepadanya saat dia sedang cosplay jadi satpam, yang benar saja sikapnya ABG banget sih.
niat hati ingin menghindar dan akan lewat pintu darurat saja, namun nasib baik tidak berpihak kepadaku kali ini, saat aku berusaha kabur aku menabrak kakak cantik yang membuat jadi sedikit gaduh dan bersuara proses kabur ku ini.
“ Maaf mbak, tadi ee tadi ga lihat.” Ucapku terbata sambil membantunya memunguti isi tasnya yang sedikit berserakan karena tadi posisinya sedang membuka tas dan tiba tiba berhenti.
“ Tidak apa apa , kamu baik baik saja kan.” Ucapnya lembut padaku.
“ Tidak apa apa mbak, maaf ya.” Ucapku lagi. Kemudian kita saling berterima kasih dan dia segera memasuki lift yang sedang terbuka tersebut.
Aku memang masih berdiri di tempat tadi belum bergerak sama sekali dan dia juga masih menungguku seperti satpam didepan lift itu dengan senyuman dan ramahnya dia saat disapa oleh para karyawannya, dari sini nampak mereka para karyawan masih keheranan dengan sikapnya sore ini, dimana sore ini dia tersenyum dengan lebarnya berbeda sekali dengan yang tadi pagi hingga siang hari ini.
Aku yang memutuskan untuk mematung disinipun dia juga masih menungguku, karena aku kesal seperti ini yang bertingkah seperti anak anak akhirnya aku melangkahkan kaki untuk mendekat padanya saat lift sudah tertutup kembali.
“ Pak, kenapa sih anda disitu seperti satpam saja. “ protesku padanya dengan bibir yang sedikit manyun.
“ sedang bejaga jaga jika yang saya ajak dinner kabur.” Ucapnya santai sambil mengecek handphonenya.
Sepertinya handphonenya bergetar terus daritadi namun tak diangkat olehnya.
Karena aku merasa panggilan itu sudah berkali kali kupersilhkan dia mengangkat panggilan tersebut.
__ADS_1