Hati Yang Terjual

Hati Yang Terjual
Tanda Tanya?


__ADS_3

Masih menjadi sebuah tanda tanya, dimana orang-orang itu kenapa mereka bahkan tidak menelfon untuk menanyakan sebuah kabar, apakah ada yang lebih penting dari kesehatan anggota keluarga.


"Tuan mohon maaf, waktunya nona Rayana mendapatkan suntikan obat." suara lembut seorang dokter wanita memecah lamunan Aleen, dia memikirkan apa yang telah di lalui wanita itu sejak kecil.


Malam telah hilang, mentari kembali muncul dari ufuk timur, Aleen memeriksa jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah pukul 06.00. Hari ini harusnya ada sebuah rapat penting namun Theo bahkan belum muncul di rumah sakit tersebut, kemana laki - laki itu tidak biasanya dia akan terlambat.


Aleen menelfon Theo untuk mengetahui keberadaannya sekaligus dia meminta staf yang paling bisa dia percaya untuk datang ke rumah sakit demi merawat Rayana.


Ponsel berdering, Theo yang baru saja mandi melihat nama Aleen di layar benda pipih tersebut, padahal masih jam enam namun laki-laki itu sudah menelfonnya.


"Hallo tuan ada apa?" tanya Theo tanpa basa-basi.


"Kamu dimana? kenapa tidak menjemputku?" tanya Aleen dengan gusar.


"Aleen Abercio kenapa kamu manja sekali, kenapa kamu tidak bawa mobil sendiri." ucap Theo gusar, memang sudah biasa dia memanggil seperti itu saat tidak ada orang.


"Kamu habis terbentur dimana? bukannya kamu tau aku di rumah sakit. Mobil siapa yang akan ku bawa!" ucap Aleen keras, laki-laki itu benar-benar kesal saat ini.


"Astaga aku lupa. Terlalu fokus memperbaiki memori hingga lupa." jawab Theo asal-asalan.

__ADS_1


"Sudahlah, cepat datang kemari sekalian panggil Yaya untuk merawat Rayana." ucap Aleen kesal.


Tutt telpon langsung terputus begitu saja, Theo segera mengganti pakaiannya, dia melupakan hal yang penting yakni Aleen yang merawat Rayana semalaman. Theo segera memanggil orang yang di kehendaki Aleen, namun kenapa harus Yaya, wanita yang selalu ingin menempel padanya seperti perangko tersebut. Menyebut nya saja sudah membuat bulu kuduknya merinding. namun demi tuan dan demi pekerjaannya dia harus menahan semua itu.


Theo yang tidak memiliki nomor kontak wanita bernama Yaya itu memilih untuk menghubungi perusahaan, dia meminta untuk menyambung kan ke departemen Yaya.


"Hallo tuan ini saya Yaya di sini ada yang bisa saya bantu?" tanya Yaya formal walaupun wanita itu sebenarnya girang setengah mati namun dia tidak bisa menunjukkan hal itu di depan rekan-rekan kerjanya.


“Yaya, bisakah kamu datang ke rumah sakit kita secepatnya. Ada tugas penting yang harus kamu tangani di sini.” Ucap Theo dengan sedikit gusar, Yaya mengiyakan begitu saja tanpa banyak bertanya apa yang perlu dia lakukan di rumah sakit soalnya rumah sakit adalah tempat yang paling tidak dia tahu karena dia belajar di jurusan administrasi perkantoran bukan kedokteran, namun begitu Yaya tetap akan datang dia izin kepada atasannya bahwa dia ada tugas langsung dari Theo, walaupun awalnya ketua departemen nya ragu namun dia tetap mengizinkan bagaimanapun itu adalah perintah atasannya.


Yaya bergegas pergi menuju rumah sakit yang di sebutkan oleh Theo menggunakan taksi yang di pesan melalui sebuah aplikasi  taksi online, setelah taksi tersebut datang mereka langsung bergegas menuju rumah sakit tersebut. Sementara itu Theo kini sudah berada di rumah sakit tempat dimana Rayana di rawat, saat itu sudah menunjukkan pukul 06.30 artinya 30 menit setelah Aleen menelpon Theo, itu termasuk waktu yang cepat.


"Maaf nona, saya ingin bertanya keberadaan tuan Theo Adiwijaya dari JL Group, saya dipanggil untuk kemari dari perusahaan."


Wanita yang menjaga meja itu menatap Yaya dengan perasaan tidak percaya, gadis lusuh di depannya dengan kacamata bulat dan rambut kepang dua merupakan orang yang di panggil langsung oleh Theo, kepercayaan diri dari mana itu semua.


Resepsionis itu tersenyum sinis, dia seakan-akan menghina Yaya tanpa berbicara hal itu sudah di pastikan dari tatapan mata yang menghina dan merendahkan.


“Maafkan saya nona, tuan Theo tidak memberikan pesan apapun. Jika anda penggemarnya anda harus menunggu waktu luang, tidak baik mengganggu ketenangan di rumah sakit.” Ucap wanita itu dengan sombongnya.

__ADS_1


Biarpun Yaya seperti tidak di anggap namun dia bersikeras mengatakan jika dia di panggil oleh Theo ke rumah sakit tersebut namun lagi dan lagi dia di sepelekan oleh wanita itu, biarpun wanita satunya sudah mengingatkan untuk menanyakan ke ruangan tempat Rayana di rawat namun wanita itu tetep kekeuh bahwa Yaya hanya orang yang berambisi mendekati Theo tanpa sadar diri.


Sudah tiga puluh menit Yaya berada di depan meja resepsionis yang artinya dia sudah membuang-buang waktunya selama itu untuk berdebat dengan wanita itu. Theo sendiri sudah mulai gusar karena Yaya tak kunjung datang sementara rapat akan segera di mulai.


“Tuan sebaiknya kita turun terlebih dahulu.” Ucap Theo.


“Tidak, pastikan wanita itu datang dan menjaga rayana baru aku akan pergi.” jawab Aleen yang membuat Theo menghela nafas, Theo keluar dari ruangan itu bermaksud untuk menghubungi kembali departemen tempat Yaya bekerja namun belum saja dia menghubungi departemen tersebut, dia melihat seorang wanita yang tidak asing sedang bersitegang di depan dan menjadi tontonan orang-orang.


Theo segera menghampiri tempat tersebut, dia melihat Yaya sedang dipermalukan oleh wanita penjaga resepsionis tersebut.


"Yaya, kenapa kamu tidak segera masuk." panggil Theo kesal.


"Apa kamu tahu kamu membuatku dan tuan Aleen ketinggalan rapat." lanjut Theo gusar.


"Maaf tuan, wanita ini tidak memberitahu kemana saya harus mencari anda. Dia juga merendahkan saya, Tuan saya bekerja di Jingga Leader Group untuk mencari uang, lantas kenapa saya harus memperhatikan penampilan toh saya tidak bertemu klien, saya hanya bekerja di balik layar." ucap Yaya kesal, ternyata begitu ganas ketika wanita itu sedang kesal.


"Tuan, jika di perusahaan saya bisa menghabiskan waktu 30 menit untuk menyelesaikan satu berkas tapi di sini saya justru berdebat dengan wanita bo*oh yang tidak tahu tugas dan pekerjaan nya." lanjut Yaya dengan kasar.


"Sudah kamu di pecat, kamu tau dia ini karyawan pilihan JL." ucap Theo memecat wanita yang bekerja sebagai resepsionis itu. Walaupun wanita itu meminta maaf dan mengakui kesalahan Theo tetap saja tidak tergugah hatinya.

__ADS_1


"Kami tidak mempekerjakan orang berdasarkan penampilan nona, yang penting adalah bagaimana hasil dari pekerjaan mereka tidak merugikan perusahaan. Jadi ambil gaji dan pesangon lalu pulanglah." ucap Theo sambil beranjak pergi di ikuti oleh Yaya di belakang nya.


__ADS_2