Hati Yang Terjual

Hati Yang Terjual
Bau Bubuk Mesiu.


__ADS_3

Rayana tengah duduk di tepi ranjang kamarnya, gorden yang terpasang di jendela kamarnya melambai-lambai di tiup angin, Rayana mencoba merentangkan tangannya untuk menghirup udara segar namun nafas nya sesak dan pundaknya pun terasa nyeri.


"Nona ini adalah ginger tea untuk merilekskan tubuh." ucap bibi Sui yang meletakkan gelas di atas meja kecil samping tempat tidur Raya.


"Bibi kenapa tiba-tiba luka ini terasa nyeri, sementara waktu di rumah sakit baik-baik saja." ucap Raya sambil memegangi bahunya dengan tangan nya yang lain.


"Karena di rumah sakit penuh dengan obat nona, pasti bera rasanya." ucap bibi Sui sambil berjalan ke arah jendela untuk menutup nya, angin yang masuk seakan-akan ingin memberitahu mereka. Bibi Sui mendekati jendela kamar Rayana, bau yang tadinya tercium samar-samar kini benar-benar tercium dengan baik.


"Bau apa ini nona? kenapa baunya terasa tidak asing." ucap Bibi Sui sambil terus mengingat dimana dia mencium bau itu sebelumnya. Rayana mendekat ke arah bibi Sui yang kebingungan mencium bau yang ada di sekitar itu.


"Bibi ini bau bubuk mesiu, ada yang ingin meledakkan kamar ini. Bibi segera tinggalkan tempat ini." ucap Rayana dengan panik.


Bibi Sui menggandeng tangan Rayana, dia berharap untuk keluar bersama dengan nona nya tersebut namun naas saat mereka hendak keluar, pintu terkunci rapat dari luar.


"Celaka ada yang menargetkan kita bi, bagaimana ini!." ucap Rayana panik, wanita itu mondar mandir masih sempat berfikir siapa yang melakukan itu.


"Siapa yang melakukan ini, apakah ini ulah nyonya Salsa dan putrinya." ucap Bibi Sui sambil memeluk Rayana.


"Tidak tau rencana siapa namun bukan dia yang melakukannya, mereka pasti masih bersama dengan ayah saat ini." ucap Rayana.


Panik ya memang benar panik, tapi saat itu panik sudah tidak ada gunanya jika mereka lompat dari jendela dan turun ke bawah sudah pasti mereka akan terkena ledakan itu, jika tetap berada di kamar mereka juga tetap akan terkena ledakan lantas apa yang harus mereka lakukan, bau yang sangat tajam itu mungkin beberapa menit kemudian akan meledak.


Bibi Sui memeluk nona mudanya itu, dia selalu membisikkan 'anda harus selamat nona' sambil memeluk erat Rayana dan benar beberapa saat kemudian terjadi ledakan yang tidak di inginkan di kamar itu.

__ADS_1


Duar....Duar....Duar... ledakan terjadi selama tiga kali, hal itu cukup menghancurkan ruangan kamar Rayana, walaupun tidak terjadi kebakaran namun ledakan itu benar-benar menghancurkan ruangan tersebut.


"Bibi bibi," teriak Rayana saat wanita paruh baya yang merawatnya sejak kecil itu di banjiri darah di kepalanya. Bibi Sui akhirnya tersenyum hingga tidak sadarkan diri dan kehilangan nyawanya pada tragedi itu, sementara Rayana dia menatapi jenazah yang ada di depan matanya, tubuh setengah tua itulah yang menahan agar reruntuhan tidak menimpa kepala Rayana.


Samar-samar Rayana mendengar suara berisik di luar, orang-orang panik ada yang berusaha menggali reruntuhan dengan tenaga nya ada juga yang memanggil bantuan, ada juga yang menangis histeris.


Rayana tersenyum menatap mata yang sudah terpejam itu, tangannya gemetar andai saja dia lebih kuat mungkin dia bisa melindungi bibi sui ataupun orang orang yang dia sayangi sehingga tidak akan ada kejadian seperti hari ini.


Rayana memejamkan matanya, kakinya terasa sakit tubuh nya tidak bisa bergerak. Entah sebanyak apa tembok -tembok itu menimpa dirinya.


"Ternyata aku di bunuh di rumahku sendiri." ucap Rayana sebelum akhirnya tubuhnya benar-benar tidak berdaya. Setelah sekian lama akhirnya Rayana merasa pusing dan pandangannya menjadi kabur setelah itu rasa sakit di tubuhnya sudah tidak ada lagi.


Sementara itu Aleen dan Theo baru saja sampai di perusahaan, orang-orang menatapnya dengan tatapan bingung, ada apa ini? mungkin itu yang harus di tanyakan oleh Aleen. Namun lelaki itu memilih untuk diam saja dan langsung berjalan menuju ke ruang kerjanya.


"Tuan, ada telfon dari kediaman Calveen. Katanya terjadi ledakan." ucap orang yang tak lain adalah resepsionis perusahaan tersebut.


Deg,,,, jantung Theo seakan-akan berhenti berdetak dia dan tuannya baru saja dari rumah itu dan tidak ada tanda-tanda apapun, ingin rasanya dia bertanya ke staf tersebut secara jelas dan rinci namun Aleen yang terus berjalan membuat Theo harus mengejarnya untuk mengatakan hal itu.


"Tuan tuan tunggu." ucap Theo setengah berlari.


"Theo apakah kamu tidak bisa menjaga sedikit saja citra mu di perusahaan." ucap Aleen yang melihat Theo berlari seperti anak kecil.


"Ini bukan waktunya untuk mengatakan tentang Citra tuan, ada berita penting mendesak. Barusan orang resepsionis bilang dapat telfon dari kediaman Calveen ada ledakan di sana." ucap Theo dengan tergesa -gesa.

__ADS_1


Aleen tidak menanggapi langsung masalah itu, dia berbalik dan menatap Theo yang berada di depannya itu serta beberapa karyawan yang ketakutan melihatnya.


"Pergi dan pastikan Rayana selamat." ucap Aleen berbalik pergi, dia baru saja sampai namun kini justru berbalik untuk kembali ke kediaman Calveen memastikan bahwa calon istrinya baik-baik saja.


Sementara itu di kediaman Calveen orang-orang tidak menyangkal akan terjadi ledakan, walaupun ledakan itu tidak menyebabkan kebakaran namun ada satu sisi mansion yang hancur dan tepatnya itu adalah kamar Rayana.


"Bagaimana ini? Kita bisa mati jika terjadi sesuatu pada Rayana." ucap Calveen dengan putus asa.


Sementara itu Sandra dan putrinya tidak menyangka ledakan itu akan secepat ini, mereka merencanakan untuk meledakkan di malam pernikahan Rayana dan Aleen, namun ternyata sudah ada orang yang meledakkannya sebelum dia bertindak.


"Sial ulah siapa ini." batin Sandra sambil menggigit ujung jarinya.


Lemas sudah Rivana yang baru saja mendapatkan teguran dari Calveen dan juga Aleen, dia tidak menyangka hanya menambah banyaknya bubuk mesiu menjadikan ledakan itu terjadi secepat itu. Bagaimana dia harus bertahan hidup selanjutnya, haruskah dia mencari kambing hitam namun itu pasti sulit karena tidak ada orang yang tahu tentang rencana dia dan ibunya.


Prokk.. Prokkk.. Prokkk.. suara sepatu pantofel berpadu dengan lantai marmer kediaman itu, Aleen mendekati orang-orang itu dengan tatapan membunuh.


"Dimana Rayana?" tanya Aleen dengan gusar karena tidak melihat calon istrinya bersama dengan keluarganya.


"Raya... Raya... dibawah situ." ucap Sandra sambil menunjuk reruntuhan bangunan.


Aleen tidak lagi berkata-kata dia bisa memperhitungkan semua dengan keluarga itu nanti setelah memastikan Rayana selamat.


"Rayana kamu harus selamat, kamu tidak boleh mati dan harus selamat." ucap Aleen menggigit bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2