Hati Yang Terjual

Hati Yang Terjual
Tatapan itu.


__ADS_3

Rayana benar-benar sudah sampai di mansion keluarga nya, tatapan kesal kakak dan ibu tirinya tidak lagi membuat wanita itu getar. Toh di sampingnya masih ada Aleen, apa yang perlu Rayana takutkan jika ada laki-laki yang di segani oleh semua orang di dekatnya.


"Tuan Aleen, kenapa tuan baik kepadanya? dia itu kotor. Dia cuma memanfaatkan anda tuan." ucap Rivana dengan nada kesal nya berharap Aleen akan menjauhi Rayana dan mendekati dirinya.


Aleen tidak menjawab dia tidak bergeming sedikitpun dari tempat dia berdiri, sementara Rayana dia menggigit bibirnya bagaimana bisa Rivana berkata seperti itu bukankah pernikahan ini memang sudah mereka rencanakan untuknya, laki-laki sempurna yang baik bukankah itu awal yang mereka katakan kepadanya.


"Rivana, setidaknya jadi orang harus sadar diri dan tahu malu. Dulu kamu pernah bilang bahwa laki-laki yang akan menikah denganku adalah laki-laki yang hanya peduli pada keuntungan semata, egois dan kasar. Kenapa? apa kamu menyesal memberikan aku kesempatan ketika kamu tahu bahwa yang menikah denganku adalah tuan Aleen?. Nona Rivana, bagaimana rasanya harus tunduk di bawah kaki orang yang anda benci? dan ingat untukmu dan ibumu agar tidak lupa jika kalian itu hanya tamu di rumahku."


Rayana dengan pedas mengatakan itu membuat ibu dan anak itu semakin tidak suka kepadanya sementara Calveen sedang berusaha untuk mendinginkan suasana agar tidak mempengaruhi keuntungannya.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? apa kamu ingin menyiram ku kembali dengan air panas Riv, atau kamu ingin memukul dan mencambuk ku hingga berlumuran darah? ayo lakukan kalau berani." lanjut Rayana dengan nada yang sangat kesal, bibir dan tangannya gemetar wanita itu benar -benar meluapkan perasaan yang sudah terpendam sekian lama di hatinya.


Aleen merangkulnya kemudian mengelus pundaknya, hal itu di saksikan semua orang yang ada di sana. Ternyata seorang Rivana bisa menaklukkan patung es yang sangat di takuti semua orang bahkan dulu ada wanita yang terpaksa di patahkan tangannya karena terlalu menempel padanya, dan sejak saat itu isute tentang Aleen yang tidak suka kepada perempuan menyebar luas tanpa ada kejelasan.


"Lakukan apa yang mau kamu lakukan, tidak ada yang bisa dan tidak ada yang boleh merendahkan atau menyakiti istri Aleen Abercio."


Aleen berucap sambil mencium ujung rambut Rayana, semua orang yang ada di sana gemetar ketakutan. Sementara itu Theo dengan deheman maju ke depan untuk menyerahkan selembar map biru kepada Calveen.


"Tuan Calveen ini adalah data-data penting tentang perjanjian hak investasi, sementara untuk mahar tuanku akan membahasnya terlebih dahulu dengan nona Rayana."


Calveen dengan senyuman lebar mengambil map itu, tanpa sadar mereka sudah berdiri terlalu lama dan tidak ada orang yang mempersilahkan mereka untuk duduk. Rayana merasakan sakit pada pergelangan kakinya mungkin karena dia terlalu lama berdiri sementara tubuhnya belum sepenuhnya pulih ditambah lagi dia harus bersitegang dengan saudari dan ibu tirinya.

__ADS_1


Aleen tidak peka tapi Theo peka, dia membisikkan sesuatu kepada Aleen hingga laki-laki itu berdehem pelan.


"Bibi Sui, apakah di kediaman ini ada ginger tea?" tanya Aleen kepada pelayan pribadi Rayana tersebut.


"Tentu saja ada tuan."


"Tolong siapkan untuk Raya, biar dia merilekskan tubuhnya. Dan untuk orang-orang yang ada di rumah ini jangan ada rencana buruk, karena jika terjadi lagi kejadian buruk aku akan mengatasinya sendiri."


lagi-lagi tatapan menghina dan merendahkan itu, tatapan tajam yang membuat siapapun yang menatapnya ketakutan setengah mati, siapa yang berani mempermainkan seorang Aleen Abercio, jika ada orang itu benar-benar mencari mati.


"Benar sekali, maaf tuan aku bahkan tidak menyuruhmu untuk duduk terlebih dahulu. Maaf atas kelalaianku."


"Maaf tuan Aleen, sebagai ibu mertua aku terlalu tidak peka. Maaf juga atas kelakuan putriku."


Sandra terus berbicara sementara Rivana terus menunjukkan tatapan tidak suka atas keakraban dan keharmonisan hubungan Rayana dan Aleen.


"Ibu mertua dan kakak ipar? apakah kalian pantas dengan sebutan itu." ucap Aleen dingin, tatapan sinis dengan pandangan jijik dan merendahkan siapapun yang melihat bisa tahu itu namun di antara orang yang berada di sana tidak ada yang berani untuk memprotes apapun yang di katakan Aleen.


"Bibi Sui, apakah kamar Raya sudah siap? jika sudah bawa dia beristirahat dan pastikan keamanannya. Hanya bibi yang bisa ku minta tolong." ucap Aleen,


bahkan seorang Aleen Abercio rela menundukkan kepalanya kepada pelayan kesayangan Raya, begitu pentingnya kah seorang Raya Calveen untuknya, ada apa ini dan kenapa ini terjadi sepantasnya orang yang di jodohkan akan bersikap kurang ajar dan juga kasar namun beda dengan Aleen dia justru memberikan kelembutan dan kenyamanan untuk Rayana.

__ADS_1


"Terima kasih untuk hari ini Aleen." ucap Rayana sebelum akhirnya dia pergi ke kamarnya bersama dengan bibi Sui.


Aleen mengangguk kemudian tersenyum, dunia seakan-akan terbalik barusan apa? barusan mereka melihat seorang Aleen tersenyum itu sangat aneh dan mengerikan. Setelah Aleen memastikan Rayana masuk ke dalam kamarnya bersama bibi Sui dia juga minta pelayan kediaman itu untuk kembali ke tugasnya masing-masing. Dan setelah itu suasana menjadi begitu hening hanya ada Aleen, Theo, Calveen, Sandra dan Rivana.


"Tuan Calveen, aku mau penjelasanmu. Bukankah di rumah sakit sudah ku bilang untuk mendisiplinkan anak dan istrimu tapi hasilnya bagaimana lagi dan lagi wanita rendahan ini menggertak calon nyonya JL Group."


Aleen mengangkat salah satu kakinya dan meletakkan di kakinya yang lain, sorot matanya sudah kembali seperti biasanya tidak ada rasa khawatir, tidak ada kelembutan yang ada hanya sorot mata menikam.


"Tuan sepertinya tidak pantas untuk mengatakan mereka itu rendahan." ucap Calveen dengan sedikit gemetar.


"Tuan aku ingin istri dengan status putri sah, namun ternyata putrimu yang ini juga menginginkan status Nyonya JL Group. Disiplinkan atau aku yang akan mengebiri dia, ingat tuan aku tidak pernah menarik kata-kataku."


Nada yang sebenarnya sangat simple namun sangat menakutkan dan tidak enak di dengar, semua orang selain Theo terlihat mengeluarkan keringat dingin. Calveen berjanji untuk mendisiplinkan anak dan istrinya agar tidak menggangu atau mempersulit Rayana, setelah pembicaraan selesai Aleen pun pergi dari mansion tersebut untuk kembali ke rumah nya sendiri.


"Apa kalian dengar apa yang di ucapkan tuan Aleen? ingat jangan mengganggu keuntunganku. Jika masih ada hari lain dimana kalian mempersulit Rayana, jangankan aku dewa sekalian mungkin tidak bisa menolong kamu dan kamu." ucap Calveen sambil meraih map berwarna biru yang di sodorkan oleh Theo kemudian pergi ke ruang kerjanya meninggalkan istri dan anak sulungnya yang terlihat sangat kesal namun tak bisa berbuat apa-apa.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2