
Malam itu cuaca sedang hujan deras, Aleen dengan sengaja tetap di tempat itu dia hendak menemani Rayana hingga gadis itu pulang ke rumahnya. Aleen sepertinya tahu jika gadis itu sangatlah kesepian di sana.
“Tidurlah Rayana, aku akan menemanimu di sini.” Ucap Aleen melihat Rayana yang sepertinya enggan untuk menutup matanya entah apa yang
mengganjal pikirannya. Bahkan matanya seakan-akan tidak ingin untuk di pejamkan.
Aleen menatap Raya yang susah untuk memejamkan mata tersebut berkali-kali gadis itu mencoba untuk memejamkan mata namun tetap saja akhirnya sama sekali tidak bisa tidur, Aleen dia juga tidak bisa berbuat apa-apa dia bahkan tidak pandaiuntuk menghibur orang. Aleen mendekati Rayana masih nampak dalam pikirannya, lukanya sudah tidak sakit lagi namun serasa ada yang lebih sakit daripada luka itu sendiri.
"Rayana ada apa apakah ada yang mengganggu untuk kamu bermimpi indah malam ini?" tanya Aleen sambil mendekati Rayana, Theo yang sejak tadi berkutat dengan komputer tablet nya ikut menoleh.
"Tidak apa-apa tuan, hanya sedikit nyeri di punggung." jawab Rayana sambil menarik selimut nya ke atas.
Aleen duduk di samping Rayana, Laki-laki itu sangat fokus dengan laptop nya sampai dia tidak menyadari Rayana tertidur setelah terus-menerus menatap wajahnya.
Ke esokan harinya tanpa di sangka Aleen tertidur di samping Rayana, laki-laki itu tertidur dengan posisi sambil duduk dan saat dia membuka matanya dia melihat sosok tampan itu masih tertidur di sana. Lucunya orang-orang di sekitar mereka terus beraktifitas seperti biasanya. Apakah tidak ada yang merasa canggung dengan adegan di depan mata mereka itu.
“Baru kali ini melihat tuan tertidur hingga se lelap ini, padahal dengan posisi duduk.” Ucap Theo sambil menikmati secangkir kopi pagi, entah dari mana orang itu mendapatkan kopi itu di hari yang masih pagi.
Theo melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, seenak apapun tuannya tidur dia harus membangunkannya karena ada rapat di siang hari dan paginya Aleen berencana untuk mengantarkan rayana kembali ke mansion keluarganya.
"Nona apa tidak sebaiknya kami memberikan apartemen untuk anda agar menjamin keamanan anda, jika anda di rumah itu mustahil bagi kami untuk tahu kondisi anda 24 jam." ucap Theo sambil berjalan mendekat ke ranjang yang ada di sana.
"Tidak masalah tuan, aku sudah tinggal di sana selama dua puluh lima tahun, mustahil bagi saya untuk kalah dengan tamu-tamuku." ucap Rayana.
Theo mengangguk ia mendekat untuk membangunkan tuannya, dan tak butuh waktu lama Aleen pun terbangun dari mimpinya indahnya. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 waktu setempat, bibi Sui menyiapkan sarapan untuk Aleen dan rayana tentu saja sarapan itu di beli menggunakan uang Theo barengan dengan Theo membeli secangkir kopi panas.
__ADS_1
“Anda tidak ingin sarapan tuan Theo?” tanya Rayana yang menyaksikan Theo hanya berdiri di belakang Aleen.
“Maaf nona, saya hanya terbiasa minum secangkir kopi di pagi hari.” Jawab Theo dengan halus.
“Oh sayang sekali, padahal itu tidak baik untuk lambung.” Ucap Rayana.
Rayana tidak bisa membaca situasi atau tidak bisa memahami situasi, walaupun itu adalah di rumah sakit namun itu adalah kali pertamanya Rayana makan bersama dengan Aleen, mana mungkin Theo mau bergabung dan menyaksikan sorot mata tajam sang Presiden Direktur yang pastinya akan membuat bulu kuduk nya berdiri.
"Bibi Sui, sudah siap kan semua barang-barang nona Rayana, jika sudah mari kita masukkan mobil dan membayar biaya rumah sakit." ucap Theo.
walaupun sudah tua bibi Sui bisa sekali membaca suasana, dia berfikir jika maksud dari Theo adalah menciptakan kesempatan untuk mereka berdua menikmati hidangan itu.
"Apakah lukamu masih sakit?" tanya Aleen sambil memotong daging di piringnya.
Rayana kini tengah menikmati santapan paginya bersama dengan Aleen, tanpa dia sadari sudah selama itu bibi Sui bahkan tidak kembali masuk ke dalam ruang rawatnya. Raya yang sudah selesai menghabiskan sarapannya begitu juga dengan Aleen, laki-laki itu nampak membersihkan mulutnya dengan tisu.
"Tuan mari kita keluar menemui bibi sui dan tuan Theo." ucap Rayana sambil beranjak berdiri dari tempat duduknya.
"Hati-hati dan pelan-pelan saja, tidak sakit bukan berati lukamu sudah benar-benar sembuh." ucap Aleen.
"Dan belajarlah untuk memanggilku Aleen, bukan tuan Aleen karena sebentar lagi aku adalah suamimu Rayana Calveen." lanjut Aleen mengingatkan Rayana bahwa mereka adalah calon suami istri.
Rayana tersenyum pipinya merah merona, benar sekali harusnya dia memanggil Aleen supaya lebih akrab namun bagaimanapun mereka belum sepenuhnya kenal dan akrab, Rayana selalu takut di kira tidak sopan untuk memanggil hanya dengan namanya.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil Aleen mereka hendak kembali ke kediaman Rayana, benar sekali mansion besar yang berisi banyak serigala berbulu domba itu membuat siapapun tidak tega membiarkan orang terkasih mereka tinggal di sana, namun Rayana sangat keras hati dan menolak untuk tinggal di apartemen yang sudah di siapkan oleh Aleen, sebenarnya Theo lah yang membeli tempat itu ketika dia di suruh oleh Aleen yang artinya Theo melakukan segala perintah dari Aleen.
__ADS_1
Mobil melesat dengan kecepatan sedang menembus dinginnya hawa kota itu, Rayana duduk di belakang dengan Aleen sementara bibi sui duduk di samping Theo, hingga kini mereka sudah tiba di kediaman atau mansion keluarga Rayana.
Tempat itu sangat indah dan megah, seperti bangunan-bangunan di eropa walaupun mansion itu sudah berumur namun masih terawat dan tertata dengan bagus.
"Selamat datang di rumah Rayana." ucap Calveen sambil merentangkan tangan hendak memeluk Rayana namun Rayana hanya diam saja, laki-laki paruh baya yang dia anggap menyayangi nya itu ternyata hanya peduli pada keuntungan semata.
Di belakang ayahnya nampak dua orang wata yang memancarkan mata Iri dan dengki melihat Rayana pulang di antar menggunakan mobil mewah Aleen, dan juga pengasuh kesayangannya. Betapa membuat irinya kisah mereka demi menghargai Rayana bahkan seorang pengasuh bisa keluar masuk mobil Aleen.
"Oh my god, apakah ini benar? Sui keluar dari mobil tuan Aleen." ucap Rivana dengan mata terbelalak.
"Tentu saja dia ikut bersamaku naik mobil Aleen." ucap Rayana.
Mendengar hal itu Rivana semakin iri, bagaimana bisa tuan Aleen bersikap biasa saja saat Rayana hanya memanggil namanya bukan dengan panggilan tuan atau tuan muda.
"Tuan bagaimana bisa anda membiarkan wanita yang menghabiskan uang anda bersikap lancang?" tanya Rivana dengan emosi.
"Nona maaf, yang anda maksud adalah nyonya kami Rayana Calveen. Tolong turunkan jari anda, kelak dia adalah orang yang harus anda hormati." ucap Theo.
.
.
.
.
__ADS_1