Hati Yang Terjual

Hati Yang Terjual
Itu Milikku


__ADS_3

Bukan perjanjian yang sempurna, tentu saja ada hal lain yang mencoreng harga dirinya dia di jual demi sejumlah besar investasi, harusnya semua itu miliknya namun dia bahkan sama sekali tidak di biarkan untuk menyentuh sedikitpun bagian dari perusahaannya. Rayana terdiam dalam kamar rumah sakit, hatinya kacau. Awalnya dia hendak percaya kepada Aleen namun bau bubuk mesiu itu membuat dirinya tidak bisa lagi percaya pada siapapun dia harus berdiri sendiri demi keselamatannya.


“Jika bukan tuanmu pelakunya lantas siapa? Sandra kah? Namun wanita itu sangat menyukai mansion keluarga kami bagaimana bisa dia menghancurkannya. Aku tidak akan membiarkan pelakunya lolos walau tanpa bantuan kalian." ucap Rayana.


Aleen terdiam tanpa kata, dia tidak pernah mendengar Rayana mengatakan hal-hal dengan tidak masuk akal seperti itu, namun sangat bagus jika kejadian-kejadian yang dia alami membuat dia sadar akan bahaya yang mengintai mereka setiap harinya.


"Tuan Theo, kamu bisa membawa bawahanmu ini pergi. Aku tidak butuh bantuan daru JL, setidaknya tidak untuk ditukar dengan harga diriku." ucap Raya.


Entah bagaimana wanita itu bisa berubah drastis dalam sekejap, dia yang riang dan selalu menutup luka kini berubah menjadi dingin seorang tidak berperasaan. Akankah luka itu begitu menyakitkan hingga dia tidak lagi bisa bersabar seperti dahulu kala.


"Aku menghargai keputusanmu tapi tidak untuk yaya pergi, gadis ini pandai karate dia bisa menjadi body guard yang baik untukmu." ucap Aleen.


"Tuan, apakah kamu menaruh mata-mata dengan menyamar sebagai bodyguard di sebelahku. Aku tidak butuh untuk kamu lindungi."


"Sudahlah, istirahatlah aku akan pergi."


Aleen keluar dari ruangan itu dim ikuti oleh Theo, sementara Yaya tidak ikut dia tetap berada di sana bersama dengan Rayana.


"Nyonya setidaknya makanlah terlebih dahulu." ucap Yaya sambil meraih mangkuk bubur di atas nakas.


"Tidak perlu kamu sok perhatian, pergilah bersama tuanmu." ucap Rayana.

__ADS_1


"Maaf nyonya, aku masih butuh pekerjaan ini adikku masih sekolah dan butuh biaya. Aku tidak bisa pergi karena aku takut untuk di pecat." ucap Yaya.


Rayana menghela nafas, gadis di sampingnya itu bukan tertarik untuk melayaninya namun dia tidak ingin kehilangan pekerjaan nya sehingga tetap harus berada di samping Rayana.


"Siapa namamu?" tanya Rayana.


"Kanaya nyonya, kamu bisa memanggilku Yaya." ucap Yaya dengan serius.


"Tolong atur kan jadwal untukku keluar rumah sakit. Aku akan merebut semuanya baik perusahaan atau Mansion. Calven dan anak istrinya sudah tidak pantas untuk tinggal di sana."


"Tapi Nyonya, anda barus saja sadar dan luka anda bahkan belum pulih." ucap Yaya yang mengkhawatirkan kondisi Raya, namun sebenarnya dia khawatir akan kemarahan dari tuannya.


"Kanaya atau Yaya, panggil Aku nona Rayana. Aku akan merebut semuanya yang mereka ambil, mereka sudah terlalu lama menduduki kursi milikku." ucap Rayana.


"Maksudmu aku tidak pantas memimpin perusahaan milik ibuku, Milky White adalah perusahaan milik ibuku. Tidak ada yang lebih pantas untuk duduk di sana kecuali aku." ucap Rayana.


Yaya kaget bukan kepalang, Milky White adalah perusahaan yang baru saja mendapat investasi ratusan juta dolar dari Jingle Leader adalah perusahaan milik Rayana, awalnya dia selalu mengira gadis luar biasa mana Rayana itu namun kekaguman nya bertambah.


"Jingle bukan sebuah nada, namun itu perusahaan besar. Aku tau kamu tidak mungkin akan membuat tuanmu menderita kerugian ratusan juta dolar namun kamu perlu ingat, Milky White itu milikku bukan milik Calven apalagi Sandra."


Yaya mengangguk dia akan membantu Rayana melakukan semuanya, jika di pikir-pikir Rayana kini justru mirip dengan Aleen dia memiliki ambisi khusus untuk mengambil semua yang dia miliki. Bagaimana bisa orang seperti ini justru dibiarkan sia-sia dan menderita.

__ADS_1


"Nyonya makan dulu sekarang, aku akan berbicara dengan dokter. Untuk memulai hal besar perlu di mulai dari hal kecil, tambah tenagamu karena kita akan pergi berperang."


Yaya meletakkan bubur tersebut di depan Rayana, ada meja kecil di sana yang bisa menopang makanan-makanan itu sementara Yaya pergi keluar untuk menemu dokter, namun sebelum dia menemui dokter terlebih dahulu dia akan mengirim kan pesan kepada Theo. Ini pertama kalinya Yaya mengirimkan pesan ke nomor Pribadi Theo namun dia tetap melakukan itu demi pekerjaannya.


Setelah selesai mengirimkan pesan, dia langsung bergegas menemui dokter kepala yang bertanggung jawab secara langsung merawat Rayana, dia mangatakan apa yang ingin di lakukan oleh Rayana.


"Dia harus mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut, setidaknya untuk saat ini tetap tinggal di rumah sakit adalah pilihan terbaik." ucap dokter tersebut kemudian dijawab dengan anggukan oleh Yaya.


Baru saja dua hari di rumah sakit, mana mungkin lukanya bisa sembuh begitu saja. Tidakkah sangat egois jika dia keluar begitu saja dari rumah sakit, hal itu akan membuat semuanya susah baik untuk dirinya sendiri ataupun untuk dokter-dokter itu. Setelah itu Yaya kembali ke kamar rawat Rayana, saat di depan pintu dia mendengar dengan kerjas seorang wanita berteriak.


"Kenapa kamu tidak mati saja? kenapa kamu masih hidup sampai saat ini. Jika kamu mati aku yang akan menikahi Aleen, aku yang akan menjadi istrinya dan aku akan memiliki status yang baik." teriak wanita itu di kamar rawat Rayana, untung saja Yaya adalah orang yang sigap dia merekam semua itu dengan ponselnya hingga jika di butuhkan suatu saat bisa di gunakan.


"Aku memang tidak perduli dengan Aleen, namun untuk membunuhku kamu belum ada kemampuan untuk itu Rivana. Aku bisa menendangmu dan ibumu hanya dengan satu jentikan jari, kamu tidak percaya kan? maka tunggu saja." jawab Rayana dengan dingin, Rivana yang berada di sana mendadak gemetar bagaimana bisa ada orang yang berbeda di sosok yang sama. Hingga akhirnya dia memilih untuk pergi begitu saja.


Setelah Rivana keluar, Yaya masuk ke dalam kemudian dia menutup pintu dengan perlahan.


"Kamu dengar semuanya?" tanya Rayana.


"Iya noyonya maaf." ucap Yaya.


"Tidak perlu minta maaf, wanita itu adalag Rivana Calven dia adalah kakak tiri ku. mustahil kamu tidak pernah mendengar siapa dia. Kamu harus berhati-hati karena dia pasti menyingkirkan siapapun orang yang berada di dekatku." ucap Rayana.

__ADS_1


Deg, jantung Yaya seakan berhenti berdetak kenapa ada wanita sebaik Rayana di dunia ini, dia hanyalah seorang karyawan kecil namun Rayana yang seorang darah biru masih saja menghawatirkan keselamatan nya.


__ADS_2