Hati Yang Terjual

Hati Yang Terjual
Surat Gugatan


__ADS_3

Nada yang merendah, "kamu bukan tandinganku dalam segala hal." Rivana dengan sengaja membisikkan kata-kata itu di telinga Rayana. Rivana yang sedang berpura-pura menjadi saudari yang baik itu begitu terlihat memuakkan, jangankan Rayana bahkan Yaya pun tahu jika wanita itu tidak tulus datang untuk mengunjungi Rayana.


"Nona Rivana, anda sudah terlalu lama di sini. Silahkan pergi, nyonyaku harus beristirahat itu kata dokter." ucap Yaya sambil mendekati Rivana, sebenarnya itu bukan kata dokter namun kata Yaya sendiri.


"Kamu gadis dekil, untuk apa bertindak sok. Masih belum tentu siapa yang akan menjadi nyonyamu kan?" Rivana menjawab kata-kata Kanaya/ Yaya dengan ketus wanita itu memang arogan dimanapun dia berada.


"Tapi tuanku tahu dia tidak akan menikahi anak yang lahir tidak sah."


Kata-kata Yaya yang begitu menusuk tapi memang benar semua itu adalah kenyataan. Rivana dengan gusar mengambil tas tangannya kemudian melengos pergi meninggalkan ruangan tempat Rayana di rawat. Suasana mendadak menjadi hening, Rayana menghela nafas sementara Yaya hanya memperhatikan semua itu.


"Nyonya, apakah saya keterlaluan? Saya menegur saudari anda dengan begitu keras."

__ADS_1


Yaya berucap sambil melipat tangannya di dada.


"Tidak, dia memang memuakkan dan mengesalkan. Namun aku tidak habis pikir dia benar-benar menginginkan kekayaan mendiang ibu dan nenekku, menurutmu apa yang harus di lakukan olehku?"


Rayana bertanya secara berbelit-belit namun Yaya adalah gadis yang cerdas, tanpa di jelaskan dia langsung paham kata-kata dari Rayana.


"Turunkan surat Gugatan nyonya." jawab Yaya dengan santai.


Rayana kembali menghela nafas, sementara Yaya dia memberikan waktu dan ruang untuk Rayana berfikir sambil dia memberikan informasi kepada bos nya tentang situasi dan kondisi fisik Rayana.


Suasana di rumah sakit sedikit hening, Rayana terus menghela nafas dia sudah lelah berada di ruangan itu. Walaupun ruangan itu sangat besar namun ruangan itu melihat dirinya yang lemah tidak berdaya, darah di tubuhnya menjadi saksi bagaimana perjuangannya untuk hari-hari lalu.

__ADS_1


"Yaya, bisakah kamu mencarikan aku pengacara. Aku ingin mengakuisisi mansion itu, Ibuku memberiku tempat tinggal yang nyaman namun kenapa aku tidak memiliki rumah." ucap Rayana sambil menatap langit-langit rumah.


"Tentu saja nyonya saya akan mencarikan kamu pengacara terbaik sehingga kamu bisa memenangkan gugatan itu. Usiamu sekarang sudah lebih dari cukup hanya untuk memiliki sebuah rumah, bukan hanya rumah namun perusahaan jika anda mau." jawab Yaya sambil menatap Rayana.


"Tapi aku tidak ingin berhutang pada bosmu." ucap Rayana dengan kesal, kesal ketika membayangkan laki-laki yang menggunakan dirinya sebagai tender dalam sebuah barter keuntungan.


"Untuk itu saya tidak berani untuk ikut campur nyonya, bagaimanapun dia adalah bosku. Untuk urusan itu anda bisa menyelesaikannya sendiri sementara untuk hal lain saya bisa membantu anda. Hanya membantu." ucap Yaya meyakinkan jika dirinya tidak ada niat buruk terhadap Rayana.


"Kenapa kamu sangat baik kepadaku?"


"Itu adalah bagian dari pekerjaanku, nyonya aku tidak pernah mengkhianati siapapun. apalagi adalah uang."

__ADS_1


Rayana tersenyum dia tau gadis di sampingnya bekerja bukan hanya sebatas untuk uang, 24 jam menemaninya setiap hari pasti membosankan namun Yaya masih dengan santai dan senyuman menemani Rayana.


__ADS_2