Hati Yang Terjual

Hati Yang Terjual
Senja Tanpa Cahaya.


__ADS_3

Hari ini tepatnya hari ke dua setelah Rayana berada di rumah sakit, Wanita itu merasa sangat bosan karena tidak ada hal yang bisa dia lakukan, sementara Aleen tak kunjung datang menemuinya. Benarkah semua laki-laki seperti ayah nya yang tidak bisa di andalkan.


"Bibi aku cukup jenuh di sini, bisakah kita pulang?" tanya Rayana kepada bibi Sui yang tengah duduk di sampingnya.


"Nona mungkin kita harus bertanya kepada dokter yang merawat nona. Aku akan pergi untuk bertanya."


Bibi Sui bergegas bangun dari tempat dia duduk, kemudian dia bergegas keluar untuk menemui dokter. Namun baru saja dia membuka pintu, dua sosok bertubuh tegap berdiri tepat di depannya.


"Bibi mau kemana?" tanya seorang laki-laki berkacamata yang tidak lain adalah Theo.


"Itu nona Rayana bertanya kapan dia bisa pulang. Jadi saya bermaksud untuk bertanya kepada dokter kapan dia bisa pulang." ucap bibi Sui dengan tenang,


"Oh iya tuan sejak kapan di sini? kenapa tidak langsung masuk saja."


"Kami baru saja sampai dan kebetulan berpaspasan dengan bibi."


Theo menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan oleh bibi Sui dengan baik, tak peduli berapa lama mereka berada di balik pintu tersebut yang penting Theo memiliki alasan.


Bibi Sui pun pamit untuk menemui dokter sementara Aleen dan Theo masih berada di depan pintu.


"Bukankah kita sudah lama berdiri di sini kenapa kamu bilang baru datang?" ucap Aleen dengan ambigu.


"Tuan Presdir, jika aku bilang kita sudah lama di sini dan tidak masuk ke dalam jika di tanya alasannya apa, apakah aku harus jawab kamu malu untuk masuk."


Aleen mengangguk-angguk akhirnya dia paham kenapa asisten nya itu berbohong, memang sepandai-pandainya dia berbisnis tidak bisa di pungkiri dia adalah manusia yang 0 dalam urusan percintaan.'


Aleen akhirnya memutuskan masuk ke dalam kamar rawat inap tersebut, dia menatap Rayana yang tengah menadahkan pandangannya ke luar sana.

__ADS_1


"Apa yang kamu lihat di luar sana nona?" tanya Aleen yang membuat Rayana tidak juga mengalihkan pandangannya.


"Lihatlah tuan, senja tanpa cahaya, diam dan bisu. Kenapa senja pun seakan mengerti hatiku." ucap Rayana sebelum mengalihkan pandangannya menatap Aleen yang baru saja masuk bersama Theo.


"Kenapa kamu merasa senja tanpa cahaya itu sama seperti kamu?" tanya Aleen yang begitu penasaran dengan jawaban Raya.


"Bukankah itu benar tuan, ayahku saja tidak datang kemari bahkan tidak mengirim sebuah pesan singkat untuk menanyakan bagaimana keadaanku. Ironisnya aku masih berharap dia akan menanyakan itu."


"Jika kamu ingin mengepakkan sayapmu ke seluruh dunia, maka jangan biarkan dunia tahu kelemahanmu. Maaf Raya, ada banyak jadwal bisnis yang harus ku selesaikan hingga menunda kedatanganku kesini."


"Tidak apa-apa tuan, aku tau anda sangat sibuk."


Rayana duduk dengan baik, Theo meletakkan buah-buahan yang dia beli sebelum berangkat ke sini di atas nakas sementara Aleen dia memilih untuk duduk di sofa.


"Nona Rayana, untuk pernikahan kita cincin apa yang kamu mau? Apa kamu ada permintaan khusus."


Rayana tersenyum untuk pertama kalinya ada orang yang bertanya apa keinginannya, dia menatap Aleen yang tengah duduk di kursi dengan perasaan yang campur aduk.


Aleen menghela nafas, cincin dengan permata biru seperti keinginan mendiang ibunya. Tentu saja Aleen akan mengabulkan keinginan nya.


"Tuan maaf mungkin permintaan ku berlebihan." ucap Rayana sambil menggenggam erat selimut yang dia gunakan untuk menutupi sebagian tubuh nya karena memang cuaca saat itu sedang mendung dan ketika jendela di buka hawa dingin masuk begitu saja ke dalam.


“Tidak apa-apa aku justru bahagia ketika kamu mau


mengutarakan keinginanmu padaku, ini jauh lebih baik daripada aku harus memikirkan ini sendirian. Setelah ini dan seterusnya aku akan mengabulkan


keinginanmu.”

__ADS_1


Aleen mengatakan itu dengan serius, Rayana hanya terdiam saja karena tidak tahu mesti menjawab apa wajahnya merah merona, untuk pertama kalinya ada orang yang mengatakan kata kata manis selain mendiang nenek dan ibunya. sementara Theo dia hanya berdiri sambil memegang komputer tabletnya


laki-laki yang selalu mendampingi kemanapun Aleen pergi. Laki-laki itu selalu mengekor di manapun Aleen berada sudah seperti bayangan untuk Aleen sendiri.


"Tuan Theo sudah lama bekerja dengan anda? Ku Lihat dimanapun ada anda selalu ada beliau." Rayana bertanya dengan baik, tidak mustahil bagi orang besar memiliki bawahan namun sangat jarang orang multi talenta seperti Theo yang mampu menyelesaikan segala urusan.


"Ya apa boleh buat nona, aku harus terus bekerja untuk bertahan hidup. Jika aku tidak mengikuti Presdir kemanapun dia berada , sangat sulit untuk menemukan kembali pekerjaan yang sebaik ini." jawab Theo karena dia tahu atasannya itu tidak mungkin menjawab, dan bagaimana bila dia menjawab dengan jujur maka masa lalu dirinya dan juga Aleen akan terbuka begitu saja.


Rayana tersenyum mendengar itu, mereka bertiga bercerita panjang kali lebar notabenya bukan mereka bertiga hanya Rayana dan Theo saja karena Aleen adalah orang yang memiliki sifat dingin jadi sangat sulit untuk membahas hal-hal konyol dan tidak masuk akal seperti itu.


Malam yang sepi, bibi Sui telah kembali namun kini dia kembali bersama beberapa orang dokter untuk memastikan kondisi Rayana, nampak dari luar Rayana adalah gadis yang sehat namun untuk mental dan tubuhnya mungkin sangat tidak baik-baik saja.


Mereka minta izin kepada Aleen untuk melakukan pemeriksaan beberapa saat, kelambu pun di tutup untuk memastikan kondisi pasien tidak bocor. Setelah itu mereka kembali untuk memastikan kondisinya, setelah mendapat penjelasan dari dokter orang-orang yang di sana belajar untuk memahami apa yang harus mereka lakukan, apa yang akan mereka lakukan.


"Besok nona Rayana sudah bisa pulang, namun semua yang saya jelaskan harus di perhatikan baik-baik. Karena tubuh nona Rayana tidak hanya memiliki satu atau dua luka maka kemungkinan infeksinya akan lebih besar. Jika di rumah sakit dokter-dokter sudah memastikan lukanya steril namun jika di rumah harus ada orang yang memastikan lukanya baik-baik saja." dokter itu kembali mengulang kata-katanya untuk memastikan Rayana atau yang lainnya paham, karena semua yang berkaitan dengan Aleen harus di lakukan sebaik mungkin.


"Terima kasih dokter." ucap Rayana.


"Tidak masalah nona, ini adalah tugas dan kewajiban kami."


setelah menyelesaikan tugas mereka, semua dokter itu pamit undur diri untuk mengerjakan pekerjaan mereka yang lain.


.


.


.

__ADS_1


.


Hallo teman teman, mohon kritik saran dan dukungan nya ya.


__ADS_2