Hati Yang Terjual

Hati Yang Terjual
Ruang.


__ADS_3

Benar-benar di luar nalar, surat gugatan resmi di layangkan oleh Rayana. Benar, dengan bantuan Yaya dan pastinya juga si CEO tampan Aleen Abercio semuanya menjadi lebih mudah, namun beberapa drama orang kaya kembali terjadi.


Calven yang tak lain ayah dari Rayana justru mengatakan jika tidak ada bukti tentang ibunya memberikan Mansion tersebut kepada Rayana, bagaimana bisa itu terjadi bukankah dulu sudah ada surat wasiat.tentang harta yang di tinggalkan oleh mendiang ibu nya.


Mendengar hal itu Rayana semakin geram dia benar-benar tidak habis pikir orang-orang itu benar-benar menganggap dirinya bodoh sehingga bisa di bodohi terus menerus


“Yaya, sekarang aku berubah pikiran. Aku tidak hanya menginginkan mansion itu namun dia juga menginginkan untuk ibu dan anak itu


angkat kaki dari mansion keluarga ibunya.”


“Baik nyonya.”

__ADS_1


Setelah mendengar perintah itu Yaya bergegas menghubungi asisten pribadi tuan Aleen dia hendak mengatakan maksud dari Rayana mendapatkan kembali hak dan kekuasaan atas mansion tersebut. bagaimana bisa kekuasaan terbesar justru ada pada ibu tirinya dan juga kakak tirinya.


15 tahun bukan waktu yang sebentar untuk terus bersabar, beberapa kali mansion itu di renovasi namun semua bergantung pada selera ibu tirinya.


"Nyonya ku kira mansion tuan presdir jauh lebih bagus daripada ini." ucap Yaya sambil menatap ke arah rumah besar tempat tinggal dari Rayana tersebut.


"Yaya mansion tua ini sudah menemani hidup nenek, kakek dan ibuku. Bagaimana bisa aku membiarkan mereka seenaknya saja."


Rayana kini sudah berada di depan pintu mansion tersebut, dia bersama yaya sudah kembali dari rumah sakit namun anehnya saat memasuki;rumah besar tersebut suasana sangat sepi, renovasi juga sudah tidak dilanjutkan lagi. Kelihatannya mereka memprotes gugatan Rayana dengan cara ini.


Yaya yang mendengar itu bergegas untuk memberitahu Theo. Mungkin saja pemikiran Theo bahwa Rayana adalah gadis yang merepotkan semuanya mengandalkan Aleen untuk mengambil alih mansion dan perusahaan.

__ADS_1


"Tapi Yaya, kamu bisa melakukan semuanya mengandalkan siapa?" tanya Rayana karena Yaya memang nyaris tidak pernah menolak keinginannya.


"Tentu saja mengandalkan tuan presdir nyonya."


Seketika itu dia teringat wajah tampan yang agung, wajah yang selalu menatap siapapun dengan tatapan merendahkan. Rayana membenci tatapan itu, namun dia tidak bisa menolak bantuannya karena tanpa dia dia tidak bisa berbuat apa-apa khususnya untuk saat ini.


"Yaya apa aku bisa merenovasi mansion tua ini menjadi lebih indah. Aku tidak suka dekorasi yang ibu tiriku buat." ucap Rayana sambil menatap seluruh interior rumah, Masih banyak hal yang sama namun sudah hampir sebagian di ganti oleh ibu tirinya.


"Setelah kita memenangkan ini di pengadilan semua bisa anda lakukan nona. Walaupun anda menjual mansion ini sudah tidak akan ada yang menghalangi lagi." ucap Yaya.


Rayana mengamati semuanya, kenangan masa kecil bersama ibunya walaupun hanya sesaat namun masih ada beberapa titik yang membuatnya merasakan hangatnya kasih sayang ibunya, namun sejak wanita itu dan putrinya masuk sekian banyak kenangan di rumah ini di rubah menurut apa yang mereka sukai.

__ADS_1


"Oh kamu sudah pulang?" tanya seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu tirinya.


"Pulang? anda lupa ini adalah milikku. Akulah tuan rumah disini." ucap Rayana ketus.


__ADS_2