Hati Yang Terjual

Hati Yang Terjual
Pesta Perayaan


__ADS_3

Sampai ke esokan harinya Rayana masih berada di rumah sakit saat ini, lukanya belum membaik dan rasa sakit masih dia rasakan, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang di berikan oleh ayah ibu dan saudari tirinya. Bunyi jam terus berdetak, Yaya sedang izin untuk membeli kopi di luar karena dia sepertinya tidak bisa jauh dari minuman berwarna hitam dan memiliki ampas tersebut.


"Nyonya aku hendak keluar membeli kopi, apakah ada yang mau anda pesan?" tanya Yaya kepada Rayana.


"Sudah ku bilang panggil aku nona." ucap Rayana.


Yaya mengangguk kemudian dia mengulangi pertanyaan yang sama apakah ada yang ingin di pesan oleh Rayana, namun Rayana menggelengkan kepalanya setelah itu Yaya pun pergi keluar untuk membeli segelas kopi.


Yaya berjalan dengan santai seperti biasa, kemudian dia menerima sebuah notif dari telepon genggam miliknya, ada sebuah notif pesan text jika Aleen tidak akan datang ke rumah sakit karena ada acara yang harus di hadiri malam nanti, acara tersebut merupakan acara perjanjian bisnis antara Milky White dan Jingle Leader yang di adakan di gedung utama Milky White, entah apa yang di pikirkan oleh ayah Rayana mengapa laki-laki setengah tua itu mengadakan pesta saat dia sedang sakit, apakah Calven sengaja ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa perusahaannya akan baik-baik saja tanpa putri sah nya.


"Benar-benar orang tua yang sudah gila, kenapa nyonya bisa lahir dari keluarga seperti ini. Ayah yang hanya mementingkan istri baru dan putri haram nya. Bahkan anak sah bisa memiliki takdir seperti ini." ucap Yaya sambil terus menatap benda pipih tersebut.


setelah membalas pesan tersebut Yaya melanjutkan langkah kakinya untuk membeli segelas kopi di kantin rumah sakit, dia tidak bisa berlama-lama karena dia masih harus menjaga Rayana dengan sebaik mungkin.


Setelah memesan kopi yang di inginkan dan juga mendapatkan beberapa jenis camilan, dia memutuskan untuk kembali ke kamar rawat Rayana, namun dalam perjalanan dia berpapasan dengan teman kuliahnya dulu.


"Yo bukannya ini tuan putri Kanaya, bukannya sekarang sudah jadi karyawan tetap JL. Ngapain masih keliaran di sini?" tanya wanita yang tak lain adalah teman kuliahnya tersebut.


"Aku ngapain? apakah aku perlu lapor semua yang ku lakukan kepadamu." jawab Yaya dengan ketus, Yaya bukanlah gadis lemah biarpun dia berpenampilan cupu namun dia sangat tegas dan tidak pernah membiarkan dirinya di tindas di manapun.


"Udah culun sombong lagi, kamu kira kamu sudah bekerja di JL terus bisa seenaknya. Ingat ya Kanaya, aku bisa membuatmu menangis tanpa suara." timpal gadis tersebut dengan kata-kata kasarnya.


"He... he .. ku kira ratu kampusku punya bakat apa hingga sekarang, ternyata masih sama ya berbakat dalam menghardik dan mengancam orang. Namun aku sudah bukan aku yang dulu, di sini aku tidak perlu takut kepadamu." Yaya semakin gusar melihat orang yang berbicara omong kosong di depannya itu.


"Ayahku pemegang saham di rumah sakit ini, siapa yang tinggal di sini dan di kamar mana. Biarkan orang itu cabut dari rumah sakit ini."

__ADS_1


"Heh, ku kira kamu tidak punya kemampuan jika harus berhadapan dengan siapa yang aku rawat."


Setelah mengatakan itu Yaya pun beranjak pergi, namun selayaknya perundung lainnya dia tidak melepaskan Yaya begitu saja , dia justru mendorong Yaya hingga kopi yang dia pegang tumpah dan membasahi setelannya.


"Astaga ini kopi baru saja ku beli, bahkan aku belum sempat mencicipinya." ucap Yaya sambil berusaha untuk membersihkan setelan yang dia gunakan.


Yaya menatap tajam wanita yang tersenyum puas tersebut, sementara orang mulai berbisik-bisik menyaksikan perundungan yang terjadi di depan mata mereka. Tidak ada yang maju ke depan bahkan hanya untuk sekedar melerai mereka.


"Apa kopi murah mu itu se beharga itu?" tanya gadis yang tidak lain adalah orang yang membully Yaya.


"Apakah mulut kotor mu bisa membeli kopiku. Oh tidak perlu kamu ganti, kasihan bahkan kamu membeli kopi masih menggunakan uang ayahmu. Jika ayahmu tidak ada bagaimana nasibmu? semoga tuan Xeon panjang umur ya." ucap Yaya sambil menepuk pundak gadis itu,


Yaya melangkahkan kakinya meninggalkan wanita yang kesal setengah mati itu namun memang benar dia adalah gadis manja yang berfoya-foya menggunakan harta ayahnya tanpa tahu malu dan selalu merendahkan orang lain.


setelah mengetuk pintu, Yaya masuk ke dalam di sana tidak ada siapapun kecuali Raya yang sedang membaca majalah di atas pembaringan. Raya menatap Yaya yang baru saja masuk ke dalam, pakaian yang tadinya rapi kini berantakan dan kotor .


"Nyonya darimana anda mendapatkan majalah itu?" tanya Yaya heran karena tidak ada majalah di sana.


"Aku minta suster untuk membawakan aku majalah baru, ada apa?" tanya Rayana.


"Tidak apa-apa nyonya."


"Oh iya ada apa dengan bajumu?"


"Tidak apa-apa nyonya, hanya tidak sengaja terjatuh dan tersiram kopi."

__ADS_1


Rayana merasakan ada hal aneh dari Yaya gadis yang tadinya sangat bersemangat dan ceria kini terlihat tidak baik-baik saja, namun perkataannya berbanding terbalik dengan mimik wajahnya.


Raya yang sudah merasakan perundungan selama beberapa tahun tahu jika Yaya habis di rundung, namun dia tidak ingin banyak ikut campur apalagi orang itu adalah bawahan dari Aleen. Dia meneruskan untuk membaca majalahnya dan akhirnya melihat jika keluarga besar Milky White akan mengadakan perjamuan amal nanti malam.


"Perjamuan amal saat aku sakit, benar-benar ayah yang sangat baik. Bahkan dia tidak ada waktu untuk menjengukku namun ada waktu mempersiapkan perjamuan amal. Apa sudah waktunya aku tampil." ucap Rayana.


Yaya mendengar Rayana menggerutu dia ingin bertanya kenapa dan ada apa namun sepertinya itu bukan ranah dia untuk ikut campur urusan atasannya tersebut.


"Yaya aku ingin pulang," ucap Rayana tenang.


"Nyonya tapi lukamu." jawab Yaya panik.


Rayana tidak mendengarkan ucapan Yaya, dia bersikeras minta di panggilkan dokter atau suster untuk melepas jarum infus nya. Dia harus pulang mana mungkin perjamuan sebesar itu dia tidak datang.


"Ayah yang baik, aku akan memberimu sebuah kejutan yang cukup besar." ucap Rayana yang tidak terdengar oleh Yaya karena gadis itu sudah keluar untuk menemui perawat atau dokter sesuai dengan perintah Rayana.


Walaupun sudah di hentikan berkali-kali oleh dokter dan dijelaskan sebab dan akibat dari tindakan pulang paksa, Rayana tetap kekeuh untuk pulang dia tidak mengatakan alasannya namun dirinya meminta hari ini harus pulang.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2