Hati Yang Terjual

Hati Yang Terjual
Tugas menjaga Nyonya.


__ADS_3

Yaya memegang kaca matanya, kemudian dia memakai benda tersebut untuk memperjelas penglihatannya, gadis itu mengikuti Theo menuju ruangan yang tidak terlalu jauh, sesampainya di depan pintu ruangan tersebut Theo mengatakan.


“Tugasmu hari ini adalah menjaga nyonya dengan baik, kabarkan kepadaku setiap perkembangan yang dokter katakan.” Ucap Theo.


Deg, jantung Yaya seakan berhenti berdetak. Siapa nyonya yang di maksud Theo, apakah itu istrinya namun Theo tidak pernah mengatakan


jika dirinya sudah puna istri, jika benar itu betapa kecewanya dia dan para penggemarnya yang lain. Namun dia menepis terlebih dahulu perasaan tersebut, dia mengikuti Theo masuk ke dalam ruangan tersebut. Setelah mereka berdua masuk theo menjelaskan apa yang perlu di perhatikan oleh Yaya, gadis itu mendengarkan


dengan baik demi kelancaran pekerjaannya.


Setelah itu Theo dan Aleen meninggalkan tempat tersebut untuk pergi rapat. Sementara yaya duduk di kursi di samping Rayana sambil mengeluarkan telepon pintar miliknya. Bayangan pikiran Yaya kemana-mana, wanita cantik yang sedang tidak sadarkan diri di depannya siapa. apakah dia adalah musuh cintanya.


Tidak-tidak saat ini bukan waktunya untuk memikirkan saingan cinta, saat ini adalah waktu bekerja dan


menyelesaikan  tugas dengan baik. Jarum jam terus berdetak, Yaya masih berada di samping Rayana tanpa bergeser tempat sedikitpun kecuali jika hendak ke kamar mandi, rasanya begitu membosankan tidak ada barisan pekerjaan yang harus dia teliti, tidak ada secangkir kopi di mejanya. Namun begitu Yaya masih bekerja dengan baik dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri dokter memeriksa tubuh Rayana kemudian membuat kesimpulan


yang bisa di laporkan kepada Theo nanti.


Jam sudah menunjukkan pukul 13.00 namun Rayana seakan masih terlelap dalam mimpi indahnya, wanita itu masih


enggan untuk terbangun. Yaya pun sudah mulai bosan untuk tetap berada di sana, sementara itu baterai ponsel nya hampir terkuras 50% dan belum ada tanda-tanda orang datang berkunjung.


“Dimana sanak keluargamu nyonya? bahkan sudah setengah hari aku di sini tidak nampak batang hidung mereka.” Ucap Yaya yang mulai keheranan karena biasanya jika dia atau orang lain sakit keluarganya akan bergantian menjaga, sementara ini tidak ada satupun orang yang datang.


Jam masih terus berdetak, Yaya pun semakin mengantuk karena di landa dengan kebosanan, andaikan saja dia

__ADS_1


membawa laptop mungkin saja saat ini dia bisa berada di sana sambil bekerja.


Samar-samar Yaya melihat jari Rayana bergerak, matanya juga mulai bergerak-gerak. Dengan sigap gadis itu


memanggil dokter untuk memeriksa Raya, dan tidak butuh waktu lama dokter-dokter terbaik berdatangan. Benar sekali Rayana menunjukkan tanda-tanda bawa dia akan segera sadarkan diri.


Dia membuka matanya dan samar-samar menatap ke sekelilingnya, dokter banyak sekali yang berkumpul membuat


dirinya langsung tahu jika berada di rumah sakit dan seketika dia juga teringat akan bibi Sui yang ikut tertimbun dengannya.


“Bi-bi Su-i.” Ucap Rayana tersengal, dokter-dokter itu tidak tahu siapa yang di maksud oleh Rayana dan mereka pun bertanya kepada Yaya. Yaya yang tidak tahu memutuskan untuk menelpon langsung ke kantor presdir untuk memastikan siapa orang yang di cari oleh Rayana tersebut.


Yaya menelpon langsung ke kantor presiden direktur, dia harus tau apa yang harus di lakukan selanjutnya karena dia sendiri hanya diberi tugas untuk menjaga, selebihnya dia bahkan tidak tahu harus apa.


“Hallo Tuan, ada berita terbaru saat ini nona Rayana sudah sadarkan diri namun dia terus menerus mencari  bibi


"Tenang kan dia aku akan segera datang ke sana." ucap Aleen dengan tenang.


Setelah itu panggilan telepon pun terputus, Yaya mengatakan kepada Rayana jika sebentar lagi Aleen dan Theo akan datang untuk menjelaskan kepadanya perihal bibi Sui sementara dia sendiri di tugaskan untuk menjaganya tanpa tahu menahu apa yang terjadi. Air mata Rayana mengalir Yaya mengelap nya dengan tisu yang baru saja dia ambil dari dalam kantung tas nya, dia merasa sedikit tidak tega dengan Rayana mungkin saja bibi Sui yang di maksud adalah keluarga atau orang penting bagi Rayana.


"Nyonya semua akan baik-baik saja, jangan menangis karena sekarang bukan saatnya untuk menangis." ucap Yaya berusaha untuk menghibur walaupun dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Rayana.


Tak lama kemudian dua orang datang memasuki ruangan itu, orang itu adalah Aleen dan Theo. Raya menatap kosong dua laki-laki di depannya kemudian dia beranjak untuk duduk.


"Bi-bi Sui..." ucap Rayana sambil menatap Aleen dengan tatapan mata kosong.

__ADS_1


Aleen mendekati Rayana kemudian dia memeluk gadis itu, dan mengatakan bahwa memang benar bibi Sui telah meninggal dunia. Namun Aleen juga berjanji untuk mengusut tuntas kasus tersebut.


Yaya menyaksikan itu dengan hati lega, ternyata wanita yang dia jaga hari ini bukanlah Nyonya Theo Adiwijaya, namun dia Adalah nyonya Aleen Abercio yang artinya nyonya pemilik JL Group.


"Tuan apakah saya sudah bisa kembali ke perusahaan sekarang?" tanya Yaya dengan tenang.


"Tidak perlu, kamu di sini saja. Sangat bagus jika Nyonya di layani oleh seorang wanita daripada laki-laki seperti saya. Oh iya Yaya, tugasmu saat ini hanya menjaga Nyonya selebihnya tidak usah di pikirkan." ucap Theo dengan tenang, lagi-lagi dia mengambil keputusan untuk Aleen, kapan laki-laki itu bertindak sesuai kata hatinya bukan justru berlawan dengan hati dan otaknya terkadang manusia bisa menjadi bo*oh hanya karena Cinta.


"Baik tuan saya akan melakukan semuanya dengan baik." balas Yaya karena tidak mungkin dia menyangkal atau menolak karena itu mungkin bisa membuat dirinya di pecat.


Aleen masih memeluk Rayana namun gadis itu masih tetap diam dengan tatapan kosong dan air mata yang mengalir, satu-satunya wanita yang mengasihinya dan satu-satunya orang yang baik kepadanya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Tuan aku tidak butuh belas kasihanmu." ucap Rayana sambil melepaskan diri dari pelukan Aleen, laki-laki itu terkejut apakah Rayana menyalahkan dirinya karena masuk ke kamar setelah dia suruh.


"Kenapa?" tanya Aleen kebingungan.


"Tuan aku tau bubuk mesiu itu, aku tau semuanya namun aku tidak menyangka demi menolak untuk menikah denganku kamu melakukan ini." ucap Rayana.


"Harusnya dari dulu anda bilang seperti ayah, bahwa anda tidak ingin di ganggu keuntungan nya." lanjut Rayana.


Bubuk Mesiu apa dan kenapa Rayana berkata seperti itu apakah dia menduga bahwa semua itu rencana Aleen untuk membatalkan pernikahan dengannya.


"Apakah kamu mencurigai aku?" tanya Aleen dengan dingin.


"Aku tidak percaya siapapun tuan, baik itu anda ataupun ayah." jawab Rayana sambil membaringkan tubuhnya di kasur.

__ADS_1


.


.


__ADS_2