HE'S DANGEROUS!

HE'S DANGEROUS!
Pasar malam (1)


__ADS_3

..."Kamu adalah pemeran utama dalam cerita kamu sendiri."...


...***...


Malam pun tiba. Gentala berdiri di teras rumah Hazel untuk menunggu gadis itu. Sembari menunggu, Gentala menatap bunga-bunga indah milik Maya.


"Loh Gentala, kenapa gak masuk aja?"


Gentala membalikkan tubuhnya dan tersenyum menatap Maya, "Gak papa Tante. Gentala pengen sekali-kali ngelihat bunga yang tante rawat kek anak sendiri."


Maya tertawa mendengar ucapan random dari Gentala, "Malika dong."


"Mamalia juga boleh," ucap Gentala sambil tertawa kecil.


Maya tertawa sambil menggelengkan kepalanya pelan. Gentala ini kadang sengklek kadang juga cool.


Tak lama Hazel keluar dari dalam rumah, "Loh gue kira lo belum sampai."


Gentala mendengus, "Emang lo kira rumah gue sejauh mana?"


Hazel tak menjawab lagi ucapan Gentala. Ia menoleh ke arah Maya, "Ma Hazel pergi dulu ya."


"Iya hati-hati. Pulangnya jangan kemaleman kan besok sekolah," ucap Maya.


Hazel menganggukkan kepalanya. Gentala juga ikut menyalami Maya.


"Yaudah Tan, kita pergi dulu ya. Assalamualaikum," ucap Gentala.


"Waalaikumsalam."


Hazel dan Gentala mulai pergi dari perkarangan rumah Hazel. Hazel membuka handphonenya untuk memberitahukan kepada yang lain kalau mereka sedang dalam perjalanan.


"Oh iya Zel, soal adek lo itu gimana?" tanya Gentala membuka percakapan.


Hazel yang sedang bermain ponsel itu seketika tersentak. Tapi tak lama karena ia segera menormalkan ekspresi agar Gentala tidak curiga.


"Gimana apanya?" tanya Hazel.


"Ya lo gak ada hubungin dia gitu? Atau niat untuk berkunjung ke rumahnya?"


Hazel menggelengkan kepalanya pelan, "Gue belum ngomong sama Mama soal itu. Kalau ingat nanti gue omongin sama Mama."


Gentala menganggukkan kepalanya pelan. Sebenarnya ia tadi sempat melihat tubuh Hazel yang menegang ketika ia bertanya tapi ia tidak mau bertanya lebih untuk menghargai privasi Hazel.


"Tadi Aksa ngapain ke kelas?" tanya Gentala lagi dan lagi membuat pembicaraan.


"Cuma ngasih baju buat ke acara ulang tahun temen nya nanti."


"Lah buset, enak bener tamu di kasih baju sama yang punya acara."


Hazel menggelengkan kepalanya pelan, "Bukan dari yang punya acara. Tapi dari Aksa sendiri."


Gentala mengerutkan keningnya bingung, "Kenapa dia yang ngasih lo baju?"


Hazel mengedikan bahunya, "Gak tahu gue."

__ADS_1


"Hati-hati lo ntar di mainin lagi sama dia," peringat Gentala.


"Mainin apaan?" tanya Hazel bingung.


"Ya perasaan lo lah. Kayak dulu waktu lo dekat sama dia eh gak lama dia jadian sama si nenek lampir itu."


Hah?


"Apaan dah! Gue sama dia sama kayak lo sama gue Gen. Gak ada pake perasaan apapun," jelas Hazel sambil memutar bola matanya malas.


Gentala melirik Hazel sekilas lalu mendengus kesal, "Serah lo deh."


Aneh.


Akhirnya mereka sampai di rumah Franda. Ternyata disana sudah ada Arthur, Saga dan Satria.


"Loh kok kalian udah di sini aja?" tanya Hazel ketika turun dari mobil.


"Biar bensin Gentala irit aja. Kan sayang kalau harus jemput kita satu-satu," jawab Arthur.


"Tahu diri juga ternyata," ucap Hazel membuat Arthur membulatkan matanya.


"Ye lo mah kalau ngomong suka bener," sahut Saga sambil terkekeh.


"Kalau gitu ayok langsung berangkat aja," ajak Franda yang di angguki oleh yang lainnya.


...***...


"Ini kamar gadis tapi kayak kamar anak bujang," ucap Maya ketika masuk ke dalam kamar Hazel.


Niatnya tadi ke sini untuk meminjam charger milik Hazel karena miliki nya tertinggal di kantor. Eh tapi yang ia lihat adalah kamar berantakan milik putri semata wayangnya itu.


Tanpa sengaja mata Maya menangkap sebuah kotak hitam di atas meja belajar Hazel. Maya mengedikan bahunya berusaha abai, tapi entah kenapa hatinya seperti berteriak agar membuat kotak itu.


Karena penasaran, Maya akhirnya membuka kotak hitam itu. Ia tersenyum karena berpikir itu mungkin hadiah dari seseorang untuk Hazel.


Senyum Maya luntur ketika membuka kotak itu. Isinya foto kecil Hazel beserta surat dengan tulisan khas anak-anak. Ya itu adalah kotak yang di berikan Gentala pada Hazel waktu itu.


Maya membaca surat itu sambil mengerutkan keningnya, "Kakak?"


Kaivan.


Maya yakin jika ini ada sangkut pautnya dengan Kaivan, "Jadi kamu sudah mulai bergerak ya Kai?"


Maya menatap datar surat itu, "Hazel adalah anak tunggal. Tidak akan ada kakak maupun adek!"


...***...


"Eh ayo naik kora-kora!" ajak Neisha ketika mereka telah tiba di pasar malam. Sedikit ramai tapi tidak masalah.


"Anjir ini langsung mau main?" kaget Saga.


"Iya kan masih segar tuh," jawab Neisha semangat 45.


"Ayo aja gue mah," sahut Hazel.

__ADS_1


"Eh tap–"


"Udah ayo Thur!" sela Gentala sambil menarik tangan Arthur. Ia tahu kalau Arthur pasti akan membuat alasan sehingga laki-laki itu tidak naik wahana itu. Arthur menghela nafasnya pasrah.


"Kita di tengah aja ya Gen," melas Arthur membuat yang lainnya menoleh.


"Dih cemen! Masa cowok duduknya di tengah?" ejek Satria menyebalkan.


Gentala menggelengkan kepalanya cepat, "Gak gak! Kita paling ujung aja Thur. Biar seru gitu."


Arthur membulatkan matanya kaget, "Gak mau gue paling ujung!"


"Yaelah Thur lakik dikit napa?" ucap Hazel sambil tertawa kecil.


"Kalau lo takut, lo peluk Gentala aja Thur," sahut Neisha membuat mereka tertawa.


"Nih tiket nya," ucap Saga sambil menyerahkan satu tiket kepada mereka.


"Bertiga-bertiga aja duduknya. Biar gak masuk orang lain," ucap Saga.


"Yaudah deh. Yang mau sama gue dan Neisha siapa?" tanya Hazel kepada para kamu Adam.


"Gue aja," ucap Gentala.


Arthur tersenyum ketika Gentala memilih untuk bersama Hazel dan Neisha. Itu artinya ia tidak harus duduk paling ujung kan?


"Eh kita du–"


"Ayo Thur kita ke ujung sana!" ajak Satria sengaja.


Arthur menghela nafasnya. Mereka terkekeh melihat wajah tertekan Arthur. Sepertinya ini akan asik?


Mereka sudah duduk di tempat masing. Arthur, Satria dan Saga duduk di ujung, begitu juga dengan Gentala, Hazel dan Neisha. Jadi posisinya mereka berhadapan tapi terpisah jauh.


Hazel mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen ini. Ia berada di tengah-tengah Gentala dan Neisha jadi ia tidak terlalu merasa takut jika begini hehe.


"Zel rekam si Arthur noh!" ucap Gentala yang langsung di turuti oleh Hazel.


Arthur berada di tengah-tengah Satria dan Saga, tapi tetap saja ia merasa takut. Perlahan kora-kora itu mulai bergerak. Awalnya semua penumpang hanya biasa saja tapi lama-kelamaan kora-kora itu semakin tinggi.


"Nah loh. Nah loh!" ucap Arthur ketika posisi mereka berada di atas.


Kora-kora itu mulai berayun dan...


"WOI MAK TOLONG! GUE GAK MAU NAIK! BERHENTI! BERHENTI! GUE MAU TURUN!" teriak Arthur dengan raut wajah yang sulit sekali di deskripsi kan.


Satria dan Saga tertawa ngik-ngik karena tingkah Arthur. Begitupun dengan Gentala, Hazel dan Neisha yang paling kencang tertawa karena raut wajah Arthur.


"ANJING GUE GAK MAU MATI! TOLONGIN GUE AAAAA!"


"AHAHAHA!"


Hazel segera menyimpan ponselnya karena takut ponsel itu akan terjatuh karena sejak tadi ia menertawakan Arthur.


Perlahan kora-kora itu mulai berhenti. Semua penumpang mulai turun. Arthur dengan buru-buru langsung turun dan terduduk lemas di kursi salah satu pedagang.

__ADS_1


"Keren lo Thur!" ucap Gentala.


"Keren mata lo! Gue gak mau naik itu lagi!" ucap Arthur dengan wajah pias.


__ADS_2