
..."Kita memang saling mencintai, tapi kita adalah dua orang yang gagal. Kamu gagal memahami caraku mencintai dan aku gagal mengerti caramu ingin di cintai."...
...***...
"Eh udah mau Maghrib ternyata. Gentala ayo pulang dulu nanti kita ke sini lagi," ucap Ashilla ketika sudah mendekati suara orang mengaji.
Gentala menganggukkan kepalanya pelan, "Lo pulangnya malam kan, Zel?"
Hazel yang sedang mengunyah biskuit itupun langsung menoleh. Ia menganggukkan kepalanya kecil. Terpaksa ia berbohong. Mana bisa ia pulang malam sedangkan ini saja Dimas terus menelponnya dan sengaja tidak ia jawab hingga Kaivan sendiri yang turun tangan menelponnya tapi tetap tidak ia jawab juga.
"Yaudah, gue pulang dulu ya. Nanti ke sini lagi," ucap Ashilla kepada Maya.
Maya menganggukkan kepalanya kecil. Setelah Gentala dan Maya keluar dari rumahnya, Hazel dengan cepat berlari mengambil tas sekolah nya di ruang keluarga.
"Loh kamu kenapa, Zel?" tanya Maya ketika melihat Hazel yang kocar-kacir seperti sedang dikejar setan.
Hazel menatap Maya gusar, "Ma, Hazel pulang dulu ya. Papa udah nelpon tadi."
Maya mengerutkan keningnya, "Loh emang nya kamu gak bilang sama papa kamu kalau kamu mau main ke sini?"
Hazel menggelengkan kepalanya pelan, "Gak, Ma. Hazel bilangnya mau kerja kelompok."
Maya membulatkan matanya, "KAMU BOHONG?!"
"Hazel gak ada cara lain, Ma!" ucap Hazel gusar.
Maya menghembuskan nafasnya pelan, "Ya udah ayo Mama anter pulang."
"Eh jangan, Ma!" cegah Hazel dengan cepat.
"Loh kenapa?" tanya Maya bingung.
"Aku kan bilangnya kerja kelompok. Kalau Mama yang antar pulang nanti Papa tahu kalau aku bohong, Ma. Hazel jalan aja ke halte buat naik bus ke rumah temen Hazel. Nanti biar orang suruhan Papa yang jemput aku ke sana biar gak ketahuan bohongnya," jelas Hazel.
Maya mengerutkan keningnya bingung, "Orang suruhan?"
__ADS_1
"Bodyguard, Ma."
Hazel kemudian memakai sepatunya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul 6 sore. Ia yakin kalau Kaivan akan curiga dengannya.
"Yaudah, Mama antar sampai Halte aja ya sayang. Mau hujan ini soalnya," ucap Maya yang masih kekeh ingin mengantar Hazel.
Hazel menggelengkan kepalanya cepat, "Halte dekat kok, Ma. Yaudah Hazel pergi dulu ya. Assalamualaikum!"
Hazel dengan cepat berlari keluar perkarangan rumah Maya setelah menyalami tangan Maya.
"Waalaikumsalam," jawab Maya sedikit tercengang dengan tindakan Hazel.
Hazel berlari kecil hingga keluar kompleks. Jalanan sudah sedikit sepi. Ia kemudian berlari menuju halte untuk menunggu bis datang.
"Astaga ini giliran di tungguin kok bisa nya gak ada yang datang sih?" gumam Hazel resah.
Perlahan rintik-rintik hujan sudah mulai turun. Ia menengadahkan kepalanya ketika air hujan menetes ke atas kepalanya. Ternyata halte ini bocor. Hazel segera menyingkir ke tempat yang tidak bocor. Ia memperhatikan sekeliling nya. Sangat sepi disini. Apalagi rintik hujan yang tadinya gerimis sekarang sudah turun dengan sangat lebat. Bahkan suara orang yang mengaji di Masjid saja tidak dapat Hazel dengar lagi akibat suara hujan yang turun.
Hazel membuka ponsel yang ternyata baterai ponselnya tersisa dua persen lagi. Ia meneguk ludahnya kasar ketika melihat 12 panggilan tak terjawab dari Kaivan. Bahkan Papanya itu telah mengirim belasan pesan kepadanya.
Papa: Hazel pulang!
Papa: Hazel jangan coba-coba bohongin papa.
Papa: Sudah mau Maghrib.
Papa: Kerja kelompok apa sampai jam segini?
Papa: Angkat telpon papa!
Papa: Hazel!
Papa: Hujannya lebat.
Papa: Dimana kamu?
__ADS_1
Dan masih banyak lagi pesan yang Kaivan kirim untuknya. Sedikit ada rasa senang hinggap di hati Hazel karena merasa Kaivan peduli dengannya.
Baru saja Hazel akan mengetikkan balasannya tiba-tiba telinga nya mendengar suara sepatu yang mendekat ke arahnya. Hazel tidak menoleh tapi dapat Hazel lihat dari ujung matanya, ada seorang laki-laki yang duduk di sebelah. Laki-laki itu berpakaian serba hitam dengan topi hitam. Hazel tidak dapat melihat jelas siapa laki-laki ini.
Entah kenapa nafas Hazel menjadi tersengal-sengal ketika laki-laki itu menoleh kearahnya. Hazel mengeratkan genggaman pada ponselnya. Tidak, Hazel tidak tahan ketika laki-laki itu terus menatap. Jalanan sedang sepi dan hanya ada lampu jalan disini. Rumah orang-orang juga jauh dari halte ini.
Hazel kemudian juga menoleh ke arah laki-laki, tapi tiba-tiba saja laki-laki itu memukul keras wajahnya membuat Hazel terjatuh dengan ponsel yang terlepas dari genggamannya. Hazel meringis lalu menatap laki-laki itu.
"LO SIAPA?!" teriak Hazel yang beradu dengan air hujan.
Laki-laki itu berdiri menjulang tinggi di hadapan Hazel. Ternyata laki-laki itu memakai masker berwarna hitam. Tanpa mengatakan apapun, laki-laki itu menarik rambut Hazel kuat sehingga kepala Hazel mendongak sepenuhnya kearahnya.
Tanpa belas kasihan, laki-laki itu segera membentur kan kepalanya Hazel ke tempat duduk di halte yang terbuat dari besi. Hidung Hazel mengeluarkan darah, kepalanya terasa sakit sekali. Siapa laki-laki ini. Kenapa dia menyakiti Hazel? Ponsel Hazel berdering, panggilan dari Kaivan.
Tidak sampai di situ, laki-laki itu juga akan menginjak Hazel tapi Hazel dengan cepat menahan kaki itu hingga tidak jadi mengenai perut Hazel. Dengan sisa tenaganya, Hazel menendang kelamin laki-laki itu sehingga laki-laki itu meringis kesakitan. Melihat ada kesempatan, Hazel segera mengambil ponsel dan tasnya yang tergeletak.
Hazel dengan cepat berlari menjauh. Ia menoleh menatap laki-laki itu yang hanya menatap nya diam. Hazel menangis, ia kemudian mengangkat panggilan dari Kaivan.
"HAZEL DIMANA KAMU?!" bentak Kaivan dari seberang sana.
Hazel menangis sesenggukan sambil terus berlari untuk mencari tempat yang aman untuknya berlindung.
"Papa tolongin Hazel," lirih Hazel dengan nafas tersengal-sengal.
Darah dari hidung Hazel terus mengalir dan bersatu dengan air hujan.
"Kamu kenapa? Dima–"
Panggilan terputus karena ponsel Hazel yang mati. Hazel semakin frustasi karena tidak bisa mengabari siapapun lagi. Ia kemudian berencana untuk balik kerumah Maya. Baru saja ia akan menyebrang tiba-tiba sebuah lampu mobil menembus matanya. Hazel terjatuh ketika mobil itu hampir menabraknya.
Hazel semakin mengeluarkan air matanya. Kepala dan hidungnya yang mengeluarkan darah serta pipinya yang lebam membuat Hazel tidak bisa menyembunyikan rasa pusing nya.
Pemilik mobil itu keluar dari dalam mobil. Ia mendekati Hazel dengan sebuah payung, "Hei, lo gak papa?"
Hazel tidak menjawab apapun. Pandangan nya seketika menggelap hingga ia kehilangan kesadarannya. Ia tidak pernah tahu kalau hari ini ada di kalender. Apa ini karma karena ia membohongiku Kaivan?
__ADS_1