HE'S DANGEROUS!

HE'S DANGEROUS!
Adek?!


__ADS_3

..."Orang pintar tidak akan banyak bicara melainkan banyak bertindak."...


...***...


Hazel memutar bola matanya malas ketika Gentala terus-menerus menatap tajam Aksa. Mereka bertiga saat ini sedang berada di ruang tamu Hazel tapi sejak tadi tidak ada yang membuka suara.


"Kalian kenapa diam-diam aja?" tanya Maya yang baru saja datang dengan senampan piring berisi brownies seperti yang dimakan Gentala tadi dan segelas jus jeruk.


"Sariawan kali," celetuk Hazel sambil menyenderkan tubuhnya ke sofa.


Maya menggelengkan kepalanya heran, "Ini dimakan ya nak Aksa."


Aksa tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Iya Tante makasih."


Setelah itu Maya kembali ke dapur dan kembali meninggalkan suasana hening di ruang tamu ini.


"Jadi lo ngapain ke sini Sa?" tanya Hazel akhirnya buka suara.


Aksa melirik Gentala sekilas lalu kembali menatap Hazel, "Malam minggu nanti lo ada acara?"


"Ada."


Bukan Hazel yang menjawab, melainkan Gentala. Aksa menatap Gentala aneh.


"Gue gak nanya sama lo," dengus Aksa.


Dengan wajah songong nya Gentala menatap Aksa dan jangan lupakan tangan yang bersedekap dada, "Gue mewakili Hazel."


Aksa menghiraukan Gentala lalu kembali menatap Hazel, "Gimana Zel?"


Hazel terlihat berpikir sebentar lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Gak ada sih kalau malam minggu. Kenapa emang?"


Aksa tersenyum mendengar itu sementara Gentala menatap Hazel tak terima, "Mau temenin gue ke pesta ulang tahun temen gue gak?"


"Gak bol–"


Dengan cepat Hazel memasukkan brownies ke dalam mulut Gentala. Ia memandang Gentala tajam sementara Gentala memandang Hazel tak terima.


Hazel kembali menatap Aksa, "Kenapa harus gue?"


Gentala tersenyum mendengar pertanyaan Hazel. Ia memandang Aksa remeh.


"Karena gue maunya lo."


Gentala tersedak air liurnya sendiri ketika mendengar ucapan Aksa. Ia memandang Aksa sinis tetapi di hiraukan oleh Aksa.


"Kirini gii miinyi li," menye Gentala membuat Aksa tersenyum kecut.


Hazel tertawa membuat Aksa dan Gentala memandangnya aneh.


"Kenapa lo ketawa anjir?" tanya Gentala.


Hazel menghentikan tawanya lalu memandang Aksa, "Ya aneg yang aja sih. Sa, lo sengaja bikin Alora cemburu dan nyerang gue?"


"Gue gak maksud gitu. Lagian gue sama dia udah gak ada hubungan lagi," jelas Aksa.


"Tetap aja salah. Lo tahu kan kalau Kinar jadi korban si Alora karena lo?" sahut Gentala membuat Hazel dan Aksa menatapnya.


Aksa menghembuskan nafasnya berat, "Gue gak tahu kalau jadinya bakal kek gitu."


Gentala mendengus kesal, "Sekarang si Kinar ada di rumah sakit karena mantan lo itu."


"Gue minta maaf," ucap Aksa merasa bersalah.


"Sekalipun lo minta maaf, Alora gak ak–"


"Udah!" sela Hazel membuat Gentala tidak melanjutkan ucapannya.


"Gue bakal nemenin lo ke acara ultah temen lo," lanjut Hazel membuat Gentala memandang nya kaget.


Loh bukannya tadi Hazel menolak?!

__ADS_1


"Serius?" tanya Aksa memastikan dan dibalas anggukan oleh Hazel.


"Zel lo beneran mau?" tanya Gentala.


Hazel menghela nafasnya sejenak, "Iya, biar Alora gak nyakitin Kinar lagi."


Dan lo gak akan perlu khawatir lagi Gen. Lanjut Hazel membatin.


Gentala terdiam, begitu juga dengan Aksa. Entahlah ini hanya perasaan Gentala saja atau tidak jika Hazel menerima ajakan Aksa karenanya.


...***...


Pagi yang cerah dan tepat untuk berolahraga. Kelas Hazel saat ini sedang mengikuti pelajaran olahraga. Pengambilan nilai bola voli. Ah itu sangat tidak Hazel sukai. Ia sangat lemah dalam olahraga voli.


Ia memandang Neisha yang sedang melakukan pengambilan nilai. Satu orang hanya memiliki kesempatan lima kali untuk pengambilan nilai saat ini dan tidak ada satupun bola yang tepat sasaran. Semua melenceng jauh. Hazel menggerak-gerakkan tangannya dengan pikiran bahwa mungkin ia akan berhasil nanti. Untung saja pengambilan nilai di mulai dari absen paling bawah.


Neisha telah selesai dan berjalan ke arahnya dengan lesu, "Tangan gue sampe merah anjir tapi gak ada yang masuk."


"Lo nya aja yang lemah amat. Masa gitu doang gak bisa," sahut Arthur menyebalkan.


Neisha menoleh ke arah kanan dan memandang tajam Arthur, "Diem lo kutil kuda!"


"Sekate-kate lo ngomongin orang ganteng sejagat raya ini kutil kuda!" ucap Arthur dengan pedenya.


Mendengar itu, Neisha berpura-pura seperti ingin muntah. Ada ya manusia senarsis Arthur? Ya emang ganteng sih tapi kan gak harus narsis juga.


"Anjir Nei bentar lagi gue," ucap Hazel yang sudah panas dingin.


"Tenang Zel. Kan kekuatan lo kek lakik tuh. Nah, jadi gue yakin kalau lo bisa!" sahut Gentala yang duduk di samping Arthur.


Hazel memandang Gentala sinis, "Pengen rasanya gue sentil ginjal lo Gen!"


Enak saja di bilang kekuatan lakik.


Gentala tertawa padahal tidak ada yang lucu. Emang Gentala ini kurang separo otaknya.


"Hazel Vellyncia Xavellyn."


"Semangat Zel!" ucap Gentala, Arthur, Saga, Satria dan Neisha.


Bukannya semangat, Hazel malah semakin pias. Ia berjalan mengambil bola.


Cuma servis bawah. Itu mudah bukan?


Hazel mengambil nafasnya sejenak lalu membuang nafasnya. Tangannya sejak tadi sudah siap servis bawah tapi entah kenapa ia mereka seperti kehilangan kekuatannya.


"WOI ZEL! LO JANGAN MOLOR!" teriak Gentala dari ujung sana.


"Bismillah!"


Hazel memukul bola itu sambil memejamkan matanya.


"WOI ZEL AWAS!"


BRUKK


Hazel terjatuh dengan elitnya dengan kesadaran yang tinggal seperempat lagi. Samar-samar ia mendengar teman-teman kelasnya yang heboh. Apalagi Gentala dan ketiga sahabatnya serta Neisha yang tertawa ngakak.


Neisha sialan!


Ternyata ia memukul bola terlalu kencang dan juga ia tidak mengarahkan bola itu ke arah depan, melainkan ke arah atas sehingga bola itu jatuh tepat di atas kepalanya.


"Dimana-mana kalau orang mau olahraga gak ada yang sambil tidur Zel," ucap Pak Bani.


Ia rasanya ingin protes dengan ucapan Pak Bani. Namun kepala nya terasa sangat sakit sekali. Tak lama ia merasa tubuhnya terangkat. Samar-samar ia melihat wajah Gentala yang sangat dekat dengannya.


"Gentala, otak gue rasanya mau keluar," lirih Hazel.


"Gak papa. Ntar gue bantu pasangin lagi," ucap Gentala.


Setelah itu Hazel tidak mendengar apapun lagi. Semuanya gelap. Ia pingsan dengan rasa malu yang ia bawa di bawah kesadarannya.

__ADS_1


Mulai saat ini bola voli adalah musuh terbesar Hazel!


...***...


Sesuai dengan namanya, mata berwarna hazel itu terbuka. Ia mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


"Bangun juga lo akhirnya."


Suara pertama yang Hazel dengar ketika membuka matanya. Ia tahu suara siapa itu. Siapa lagi kalau bukan Gentala?


Ia memandang Gentala yang sedang memandang nya dengan pandangan intimidasi. Hazel yang merasa aneh kemudian berusaha duduk di atas brankar.


Sepertinya di UKS ini hanya ada dia dan Gentala. Bahkan dokter dan anak PMR yang biasanya disini saja sedang tidak ada.


"Kenapa lo natap gue kayak gitu?" tanya Hazel aneh.


"Sejak kapan lo punya adek?"


"Hah?"


Hazel mengerutkan keningnya bingung. Ini dia yang baru sadar, kenapa malah Gentala yang bicara ngelantur.


"Tante Maya kapan brojol nya?" tanya Gentala lagi.


Hazel semakin bingung, "Apaan sih? Lo kesurupan setan mana?"


Nikah saja belum pernah, bagaimana Maya bisa tiba-tiba brojol?


Gentala berdecak. Ia kemudian mengambil kotak hitam dengan tali rafia berwarna pink sebagai perekat kotak tersebut. Gentala memberikan kotak itu ke arah Hazel membuat kening Hazel semakin berkerut.


Adek?


"Buka coba," suruh Gentala membuat Hazel menatapnya curiga.


"Lo lagi gak bercandain gue kan?" selidiki Hazel.


Gentala berdecak kesal, "Ngapain gue bercanda pake ginian. Tadi satpam yang ngasih. Katanya dari orang-orang pakaian formal. Karena rasa penasaran gue meronta-ronta, makanya gue buka," jelas Gentala.


Hazel menganggukkan kepalanya sekilas. Ia memandang kotak itu sejenak lalu membukanya. Terlihat sebuah foto masa kecilnya dengan sebuah kertas kecil dan tulisan tangan khas anak-anak.



-Kakak ayo pulang ke rumah. Aku pengen banget ketemu sama kakak. Aku pengen lihat wajah kakak. Kak Hazel ayo pulang.-


Detak jantung Hazel bertambah kencang ketika membaca surat itu. Ia meneguk air ludahnya kasar. Siapa ini? Apa ini ulah Papanya?


Gentala mengerutkan keningnya ketika melihat ekspresi wajah Hazel yang seperti gelisah.


"Zel," panggil Gentala.


Hazel tersadar lalu tersenyum tipis ke arah Gentala, "Oh iya mungkin ini adik sepupu gue."


Meskipun ragu, Gentala tetap menganggukkan kepalanya. Tapi ia tidak pernah melihat saudara Hazel datang ke rumah. Tidak pernah sekali pun.


Mungkin karena tidak pernah bertemu, makanya kangen.


"Lo mau pulang aja?" tanya Gentala.


Hazel menggelengkan kepalanya pelan, "Gue gak papa. Cuma gue mau istirahat aja. Lo pergi ke kelas aja Gen."


"Itumah lo maunya bolos!" sungut Gentala membuat Hazel tertawa.


"Udah sana pergi!" usir Hazel.


Gentala mendelikkan matanya, tapi tidak urung ia pergi.


"Kalau ada apa-apa, hubungi gue!" ucap Gentala yang kemudian benar-benar hilang dari pandangan nya.


Keadaan sunyi. Hazel kembali mengambil foto dan surat tadi. Foto ini adalah fotonya yang diambil oleh Papanya langsung tapi itu sebelum Papanya berubah menjadi monster. Hazel yakin jika ini pasti ada sangkut pautnya dengan Papanya, sebab semua foto kecil Hazel berada di rumahnya dulu.


"Apa ini anak Papa sama perempuan lain? Atau Mama udah kembali?" gumam Hazel yang tanpa sadar mengeluarkan air matanya ketika mengucapkan kata Mama.

__ADS_1


"Hazel rindu Papa tapi Hazel belum siap ketemu sama Papa," lirih Hazel.


__ADS_2