HE'S DANGEROUS!

HE'S DANGEROUS!
Bersandiwara


__ADS_3

..."Yang ku anggap amerta ternyata fana, asa telah sirna, litani tak lagi berucap dan berakhir nestapa."...


...***...


"Pesan apapun yang kalian mau. Gue traktir!"


Semua sontak menoleh ke arah Gentala yang dengan wajah songong nya menatap mereka.


"Kesambet apaan lo mau traktir kita?" tanya Arthur membuat Gentala mendengus.


"Kalau gak mau ya udah!"


"Idih ngambek! Jangan ngambek dong Mas," goda Saga sambil menaik-turunkan alisnya.


Gentala memelototi Saga. Emang dia cowok apaan pake di goda-goda segala?


Kinar tertawa kecil melihat interaksi mereka. Baru kali ini ia bergabung dengan para laki-laki. Banyak sebenarnya laki-laki yang mendekati Kinar tapi gadis itu selalu menolak dengan halus. Tapi entah kenapa jika bersama Gentala, Kinar tidak bisa menolak?


"Pesan sekarang sebelum gue berubah pikiran!" ucap Gentala membuat ketiga sahabatnya dengan cepat memanggil seorang waiters.


"Baik Kak. Mau pesan apa?" tanya seorang waiters laki-laki.


Ketiga sahabatnya Gentala serta Neisha tersenyum licik. Mereka menyebutkan satu per satu makanan yang akan mereka pesan. Mendengar pesanan mereka membuat Kinar dan Gentala tercengang.


Mereka bahkan tidak bertanya kepada Gentala dan Kinar untuk memesan apa. Kapan lagi coba morotin Gentala? Sekali di traktir jadi ya udah trobos ae.


"Baik kak. Silahkan di tunggu ya."


Waiters itu kemudian pergi dari hadapan mereka. Keempat orang laknat itu tersenyum senang.


"Rugi banget Hazel gak datang," celetuk Saga.


Gentala tidak bisa membayangkan jika Hazel ikut. Ia yakin kalau gadis itu ikut maka ia akan lebih banyak mengeluarkan banyak uang. Jika bersama Gentala mentraktir nya maka Hazel tidak akan kira-kira memesan apapun hingga dompet Gentala menipis.


"Dimana-mana kalau orang di traktir itu mesan nya di kira-kira," sindir Gentala.


"Yaelah bro, sama sahabat sendiri gak boleh perhitungan," jawab Arthur membuat Gentala memutar bola matanya malas.


Kinar tertawa kecil tapi di dalam hatinya, Kinar merasa sedikit kasihan dengan Gentala yang seperti ini.


"Pap ke Hazel dulu dong!" ajak Neisha yang sudah siap memegang kamera.


Mereka semua berpose termasuk Kinar. Setelah selesai Neisha langsung mengirimi foto itu ke Hazel agar Hazel iri. Salah siapa tidak ikut kan?


Di sisi lain, Hazel masih berada di dalam mobil dengan raut wajah kesal nya. Ia memandang Dimas yang katanya bodyguard kiriman dari Kaivan.

__ADS_1


"Pokoknya lo besok gak boleh jemput gue ke sekolah lagi!" ketus Hazel membuat Dimas melirik nya dari kaca.


"Maaf, tapi itu sudah menjadi tugas saya Nona Hazel."


Hazel berdecih sinis lalu segera membuang mukanya. Ia harus bertemu dengan Kaivan dan menanyakan soal ini dan juga soal Mamanya. Raut wajah Hazel seketika berubah. Ia merindukan Ibu angkatnya. Bagaimana keadaan Maya? Apa Mamanya itu baik-baik saja tanpanya?


Ting.


Hazel mengambil ponselnya ketika mendengar notifikasi dari ponsel itu. Pesan dari Neisha yang mengirim foto. Dengan segera Hazel membuka foto itu. Ia mengerucutkan bibirnya ketika Neisha mengirim fotonya bersama Gentala dan para sahabatnya.


Tapi mata Hazel menatap ada aneh. Kenapa ada Kinar di sana? Apa mereka tidak sengaja bertemu Kinar atau bagaimana? Tapi bukankah ekskul dance ada rapat? Dan ia minta Kinar menggantikannya, lalu kenapa Kinar malah bersama mereka? Apa rapatnya selesai secepat itu?


Baru saja ia akan mengetikkan balasan, tiba-tiba mobilnya berhenti. Ternyata ia sudah sampai di rumah.


"Oh iya Non, pesan Tuan Kaivan tadi kalau Non benar-benar ingin tahu tentang Mama Non maka Non harus bisa menjaga sikap di rumah ini. Tuan Kaivan bilang, Non harus bersikap baik dengan Nyonya Talla dan Nona Kanaya," ucap Dimas menghentikan pergerakan tangan Hazel yang ingin membuka pintu mobil.


"Kalau gue gak mau?" tanya Hazel menantang.


"Maka Non tidak akan pernah tahu dan ketemu dengan Mama Non dan Nyonya Maya. Kemungkinan besar juga Non akan pindah sekolah agar tidak bertemu dengan teman-teman Non lagi."


Sialan!


Kaivan tidak berubah. Ia akan selalu menyiksa Hazel dari kecil sampai sekarang. Hazel bahkan meragukan bahwa Kaivan itu Ayah kandungnya atau bukan? Kenapa sikapnya melebihi Ayah tiri?


Hazel membuka pintu mobil dan turun dari mobil itu. Ia bahkan menutup pintu mobil dengan keras, sehingga Dimas terperanjat kaget karenanya. Ia menggelengkan kepalanya heran melihat tingkah laku Hazel.


Hei! Apa Dimas tidak ingat jika dirinya juga masih muda? Umur 20 kok malah jadi bodyguard?


Hazel masuk ke dalam rumah dengan raut wajah masam yang di tampilkan nya.


"Kak Hazel kenapa? Kok mukanya cemberut?" tanya Kanaya yang berada di ruang keluarga sedang belajar.


Hazel menoleh. Ingin rasanya mengabaikan namun melihat raut wajah Kanaya yang selalu antusias dengannya membuat ia tidak tega. Ia juga teringat dengan kata-kata Dimas tadi. Baiklah, tidak ada salahnya kan jika ia dekat dengan Kanaya? Toh, anak itu juga tidak tahu apa-apa.


Hazel tersenyum tipis lalu mendekat ke arah Kanaya, "Gak papa. Kak Hazel cuma capek aja. Kanaya lagi ngerjain apa?"


Mendengar ucapan lembut dari Hazel membuat Kanaya tersenyum senang, "Kanaya ngerjain tugas Kak! Kak Hazel mau bantuin Kanaya ngerjain tugas gak? Kanaya gak ngerti."


Hazel tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya. Kanaya ini anak yang cantik dan lucu sekali. Mata bulatnya membuat Hazel tidak bisa menolak permintaan nya.


"Mana sini biar kak Hazel ajarin."


Kanaya memberitahu kan tugas membuat Hazel melihat tugas Kanaya. Ah, ternyata tugas Matematika. Kalau pelajaran anak SD mah gampang! Dengan telaten, Hazel mengajari Kanaya.


Tanpa mereka sadari, ada Talla yang memperhatikan mereka dengan raut wajah terharu. Ia segera memotret momen itu dan mengirimkannya ke Kaivan. Ia ingin mendekat tapi takut malah mengubah suasana hati Hazel. Jadi, ia memutuskan pergi ke dapur saja untuk membuat brownies.

__ADS_1


Sementara Kaivan yang melihat foto yang dikirim oleh istrinya itu tersenyum kecil. Ia berpikir mungkin Dimas telah menyampaikan pesannya.


...***...


"Totalnya jadi 863 ribu kak," ucap pelayan yang memberikan bill makanan.


Gentala tercengang begitu juga dengan yang lainnya, "Buset kalian makan sampai 863 rebu?" ucap Satria sambil menggeleng-gelengkan kepalanya minta di tampol.


"Gini nih ciri-ciri orang yang tingkat kesadaran dirinya di bawah rata-rata!" sahut Arthur menyindir Satria.


Satria cengengesan dengan raut wajah tak bersalah nya. Jangan tanya siapa yang paling banyak makan karena sudah jelas yang paling banyak makan seperti tidak makan selama seminggu itu Arthur, Satria, Saga dan Neisha.


Kalau Gentala dan Kinar? Mereka makan secukupnya nya saja. Sepertinya disini hanya Kinar yang tahu diri dengan tidak memakan makanan yang lebih dari apa yang Gentala makan.


Gentala tersenyum ikhlas lalu mengeluarkan kartu black card dari dompetnya. Mereka membulatkan mata melihat kartu yang di keluarkan oleh Gentala.


Sialan! Pantas saja Gentala tidak ngamuk mereka menghabiskan uangnya ternyata uangnya masih bejibun. Kalau begini kan mereka jadi enak.


"Gue bungkus buat orang rumah boleh gak, Gen?" celetuk Saga dengan tidak tahu dirinya.


"Sialan lo! Udah makan paling banyak, minta tambah lagi!" jawab Gentala membuat Saga memegang dadanya dramatis.


Buset.


"Kejam sekali kata-kata mu wahai saudaraku!" dramatis Saga membuat mereka tertawa kecuali Gentala yang memandang Saga julid.


Setelah selesai membayar, Gentala memasukkan kembali kartu sultan nya ke dalam dompet. Ia kemudian mengambil jaketnya.


"Ayo balik!" ajak Gentala.


"Lah cepet amat. Duduk dulu napa? Baru selesai makan nih Gen," ucap Arthur.


"Udah mau Maghrib. Kasihan anak orang ntar di cariin sama nyokap nya," ucap Gentala membuat mereka sontak menatap Kinar.


Kinar yang diperhatikan hanya bisa tersenyum tipis. Sementara ketiga sahabat Gentala memandang Kinar menggoda.


"Kalau udah jadi, jangan lupa traktir ya, Gen!" ucap Saga membuat Neisha memukul laki-laki itu.


"Traktir mulu lo!" ucap Neisha membuat Satria tertawa.


"Gak jelas emang! Ayo biar gue antar lo balik," ucap Gentala sambil menatap Kinar.


Kinar tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan menatap yang lain, "Aku duluan ya. Makasih buat hari ini."


"Sama-sama Neng cantik," jawab Arthur sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Mereka semua memutar bola mata malas. Dasar buaya!


Akhirnya Gentala dan Kinar pergi dari hadapan mereka. Dari belakang mereka kelihatan serasi sekali.


__ADS_2