
..."Melanjutkan hidup kembali itu mudah, yang sulit adalah meninggalkan masa lalu."...
...***...
Hazel berdiri di pinggir lapangan basket sambil menatap Gentala dan anggota tim basket sedang bermain. Ia menatap jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah menunjukkan pukul 5 sore.
Kehadiran Hazel ternyata mampu mengambil perhatian Gentala. Ia berhenti membuat semua teman-temannya ikut berhenti. Mereka semua menatap Gentala dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Kenapa Gen?" tanya Arthur mewakili yang lainnya.
Gentala melihat jam di tangan kirinya, "Udah jam 5. Kita latihan sampai sini aja dulu."
Mereka semua mengangguk dan bubar. Gentala berlari kecil ke arah Hazel yang sedang bermain ponsel.
"Lo tunggu bentar ya Zel. Gue mau ganti baju dulu," ucap Gentala.
Hazel menaikkan pandangannya dan menganggukkan kepalanya pelan. Gentala mulai pergi dari hadapannya dengan teman-temannya yang lain. Sementara Hazel duduk di pinggir lapangan basket. Memang di sana sudah tersedia tempat duduk.
Sekitar 10 menit Hazel menunggu, akhirnya Gentala datang bersama 4 sekawan nya.
"Ayo pulang!" ajak Gentala.
Hazel menganggukkan kepalanya lalu berdiri. Gentala melirik Hazel yang berjalan di sampingnya. Sepertinya Hazel sedang tidak mood. Wajah nya memang biasa saja namun hawa nya sedikit berbeda.
"Buset, keringatan gini ternyata gue masih cakep aja ya!" ucap Satria sambil berkaca. Entah cermin siapa yang di ambil olehnya.
Arthur dan Saga kompak memutar bola mata malas, "Cermin siapa yang lo ambil?" tanya Saga.
"Gak tahu. Gue tadi nemu di meja nya si Siska," jawab Satria.
Spontan Arthur memukul kepala Satria, "Goblok maneh teh! Lo entar di marah noh sama mak lampir itu!"
"Biarin. Orang dia juga gak tahu," jawab Satria sambil mengelus-elus kepalanya.
"Kok mereka diam-diam bae ya?" tanya Saga pelan sambil menatap Gentala dan Hazel yang berada di depan mereka.
"Tanya coba," ucap Satria acuh. Ia masih saja berkaca sambil membenahi rambutnya.
"WOI ZEL!"
Arthur dan Satria terlonjak kaget ketika suara bass Saga memanggil Hazel.
Hazel dan Gentala kompak berbalik badan. Mereka mengernyitkan dahi bingung ketika melihat mereka Saga menjadi korban aniaya dari Arthur dan Satria.
"Apaan?" tanya Hazel.
"Lo lagi datang bulan ya? Kok–" belum selesai Saga menyelesaikan ucapannya, dengan tidak berakhlak nya Arthur membekap mulut Saga.
Hazel berdecak kesal. Ia kemudian berjalan ke arah mereka. Dengan teganya, Hazel memukul pantat bohay aduhai mereka dengan botol minum di tangannya.
"Berhenti main-main! Malu sama umur!" kesal Hazel.
Mereka bertiga langsung berlari ke belakang tubuh Gentala sambil mengelus pantat bahenol mereka yang menjadi sasaran Hazel.
"Zel lo ah gak asik! Ntar gue tepos gimana?" kesal Satria.
"Lo emang tepos anjir!" balas Hazel geram.
"Kayak lo kan," ucap Satria sambil menaik-turunkan alisnya.
"BETUL!" jawab Arthur dan Saga kompak. Mereka bertiga terbahak karena merasa senang ketika menistakan Hazel.
Hazel membulatkan matanya lalu ia berjalan cepat ke arah mereka. Berani sekali mereka mengatakan ia tepos?! Padahal memang benar, tapi tetap saja itu memalukan.
"SINI LO BERTIGA!" teriak Hazel keras.
Sontak saja mereka bertiga menjadikan tubuh Gentala sebagai tameng untuk menghindar dari Hazel.
"MINGGIR LO GEN!" teriak Hazel.
Gentala yang merasa pusing karena di ajak berputar itupun langsung melepaskan diri dari mereka berempat.
"UDAH ANJING!"
Mereka berempat menatap Gentala diam. Seperti anak yang menurut apa kata orang tuanya.
"Kasar sekali anda!" ucap Hazel sambil bersedekap dada.
Gentala menatap sinis Hazel tapi di dalam hatinya ia senang jika Hazel seperti ini, bukan diam saja seperti tadi. Karena jika Hazel diam saja seperti itu membuat sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya.
__ADS_1
"Makany–"
"Eh bentar bro," sela Arthur membuat Gentala menghentikan ucapannya.
"Kenapa lo?" tanya Hazel.
"Itu... pembullyan?"
Sontak mereka semua mengikuti arah pandang Arthur. Tepat dimana tempat Hazel berdiri menunggu Gentala tadi terlihat seorang gadis yang terduduk di hadapan seorang gadis yang sedang bersedekap dada.
"Itu Kinar..." lirih Hazel.
Tanpa aba-aba, Gentala langsung berlari menghampiri Kinar dan si pelaku, Alora. Melihat Gentala yang menghampiri Kinar membuat mereka berempat juga berlari mengikuti Gentala.
"Kinar lo gak papa?" tanya Gentala sambil merangkul Kinar.
Kinar masih menunduk sambil menggelengkan kepalanya kecil. Gentala segera membantu Kinar untuk berdiri.
"Lo gak ada kapok-kapok nya ya Ra?!" kesal Saga.
Alora menatap mereka malas. Kenapa ia selalu gagal untuk menyakiti Kinar? Sejak tadi ia sengaja menunggu Kinar yang sedang ekskul dance. Tapi semua nya sia-sia ketika mereka datang.
"Berhenti ikut campur urusan gue!" geram Alora.
"Berhenti ganggu Kinar dan kita bakal berhenti ikut campur urusan lo," sahut Hazel dengan tenang. Saga, Arthur dan Satria menganggukkan kepala tanda setuju dengan ucapan Hazel.
Alora tertawa sinis, "Lo gak ada hak buat ngatur gue!"
"Dan lo juga gak ada hak buat ngatur kita," jawab Hazel.
Gentala yang sejak tadi diam akhirnya menatap Kinar yang masih berada di rangkulannya. Tangan Kinar sangat dingin. Gentala tahu apa yang akan terjadi pada gadis itu.
"Gentala..." lirih Kinar yang kemudian pingsan di pelukan Gentala.
"E-EH DIA PINGSAN WOI!" heboh Satria.
Alora membulatkan matanya. Padahal ia belum melakukan apa-apa hanya sedikit mendorong Kinar. Memang ia tadi sempat melihat wajah Kinar yang tampak pucat.
"Kak Kinar kenapa?!"
Mereka semua mengalihkan pandangan ke arah seorang gadis yang terlihat panik memandang Kinar. Dia Farah. Hazel hanya memandang gadis itu diam.
Dengan sigap, Gentala menggendong Kinar ala bridal style. Sebelum pergi ia mengeluarkan kunci motor dari saku jaketnya lalu menyerahkannya kepada Hazel.
"Zel lo pulang sendiri dulu gak papa kan? Bawa motor gue tapi hati-hati. Jangan sampai jatuh atau kenapa-kenapa!" tegas Gentala.
Kemudian Gentala menatap ketiga sahabatnya, "Gue titip Hazel," lanjut nya yang diangguki oleh mereka bertiga.
Hazel menerima kunci motor itu, "Lo ke rumah sakit nya gimana?"
"Gue mau cari taksi. Gue duluan," ucap Gentala yang kemudian berjalan meninggalkan mereka.
"KAK GENTALA!" panggil Farah membuat Gentala membalikkan tubuhnya. Terlihat sekali bahwa Gentala merasa cemas.
"Pakai mobil aku aja. Sopir aku udah di depan kok!" lanjut Farah.
Mendengar itu Gentala menganggukkan kepalanya. Ia kemudian melanjutkan langkahnya diikuti oleh Farah. Sedangkan Saga, Arthur, Satria, Hazel dan Alora hanya memandang mereka bertiga.
Alora mendengus kesal lalu berniat pergi tapi berhenti ketika Hazel berbicara dengannya.
"Lo gak ada ngerasa bersalah?" tanya Hazel.
Alora membalikkan tubuhnya, "Gue gak ngapa-ngapain dia! Dianya aja yang lemah!"
"Lo tahu dia lemah tapi kenapa lo masih gangguin dia?" lanjut Hazel bertanya.
Saga, Arthur dan Satria hanya diam menyaksikan. Mereka suka jika Hazel berhadapan dengan musuhnya.
Alora tersenyum miring, "Lo tahu sendiri kan apa konsekuensinya menjadi orang lemah?"
Hazel diam membuat Alora berjalan mendekat ke arah Hazel, "Sangat mudah ditindas..." setelah mengatakan itu, Alora langsung pergi dari hadapan mereka.
Hazel tidak membantah apa yang dikatakan oleh Alora. Ini yang membuat ia tidak suka dengan orang lemah. Banyak orang yang berlomba-lomba untuk menindas yang lemah agar bisa di cap hebat oleh orang lain. Padahal tindakan mereka persis seperti sampah, tidak berguna.
"Zel ayo balik," ajak Satria.
Hazel menoleh dan menganggukkan kepalanya. Ia memandang kunci motor yang ada di tangannya. Ini motor sport dan Hazel... memakai rok! Sial mana mungkin ia membawa motor besar itu menggunakan rok.
"Ada yang bawa celana?" tanya Hazel membuat mereka bertiga berhenti.
__ADS_1
"Celana? Ini kita pakai celana," jawab Saga sambil menunjuk celananya.
Hazel menghembuskan nafasnya berat, "Maksud gue celana dua? Gak mungkin kan gue naik motor pakai rok ini?"
Arthur tertawa, "Makanya jangan pakai rok kurang bahan gitu."
Hazel membulatkan matanya, "HEH! SEMBARANGAN LO NGOMONG KURANG BAHAN! INI TUH UDAH STANDAR DARI ROK CEWEK-CEWEK LAIN TAHU!"
Mereka bertiga mendesis akibat suara nyaring Hazel, "Buset Zel. Iya dah gue salah," ucap Arthur.
"Jadi ada yang bawa celana dua gak?!"
"Ada nih ada. Celana basket gue. Nih pake," ucap Satria sambil menyodorkan sebuah celana basket.
Hazel mengambil celana itu lalu berlari ke arah WC, "TUNGGUIN GUE!"
Mereka bertiga menggelengkan kepala heran melihat tingkah Hazel yang tidak ada kalem-kalemnya.
......***......
Sementara di sisi lain, Gentala dan Farah yang sedang berada di rumah sakit sedang menunggu Kinar yang sedang di periksa dokter. Tadi Gentala juga sudah sempat menghubungi ibu dari Kinar. Sepertinya Ibu Kinar sebentar lagi akan sampai.
Gentala beralih menatap Farah yang hanya diam dengan pandangan kosong. Ia menghembuskan nafasnya pelan lalu berjalan dan duduk di samping Farah.
"Lo pulang aja. Kasihan sopir lo yang kelamaan nunggunya," ucap Gentala.
"Tapi kak Kinar?"
"Dia bakalan baik-baik aja. Lo pulang aja," ucap Gentala lagi. Bukan apa, hanya saja Farah ini perempuan takutnya ia dicari oleh orang tuanya. Ya walaupun Farah bersama sopir pribadinya.
Farah kemudian menganggukkan kepalanya pelan, "Yaudah ya kak. Aku pulang dulu."
Gentala hanya menganggukkan kepalanya. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memejamkan matanya.
"Permisi nak... Gentala?"
Gentala segera membuka matanya. Terlihat wanita paruh baya yang ia yakini bahwa wanita ini adalah ibu dari Kinar. Sambil tersenyum, Gentala segera berdiri dan menyalami Ibu Kinar.
"Kinar masih di dalam Tante," ucap Gentala.
Ibu Kinar tersenyum tipis, "Nama Tante Nita. Makasih ya karena udah nolongin Kinar."
Gentala tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, "Sama-sama Tante."
"Kamu pulang aja. Ini udah terlalu sore. Takut orang tua kamu nyariin," ucap Nita.
Orang tua mana yang Tante Nita maksud? Batin Gentala.
"Yaudah Tante kalau gitu Gentala pamit dulu ya," ucap Gentala sambil menyalami tangan Nita.
"Iya nak hati-hati ya," ucap Nita.
Setelah itu Gentala langsung pergi dari hadapan Nita. Sepertinya ia harus mencari taksi untuk pulang. Sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Ternyata sudah pukul 6 sore.
"Kiw cowok."
Gentala mengerutkan keningnya aneh. Ia seketika bergidik ngeri karena menyangka bahwa yang memanggil nya adalah seorang wanita jadi-jadian yang biasa berkeliaran di jalan.
Gentala terus melanjutkan langkahnya dengan cepat. Inilah yang membuat ia malas keluar sendirian seperti ini.. Biasanya jika keluar ia akan mengajak ketiga sahabatnya atau Hazel.
"WOI GENTALA!"
Gentala akhirnya berhenti dan dengan perlahan ia membalikkan tubuhnya. Ia mendengus kesal karena ternyata yang menggodanya tadi adalah Hazel yang sedang duduk santai di atas motornya.
Gentala akhirnya balik lagi menuju Hazel. Ia harus terlihat biasa saja agar Hazel tidak mengetahui bahwa ia sedikit takut tadi, tapi....
"LO TAKUT YA AHAHAH!"
Sialan! Inilah definisi teman laknat yang sesungguhnya. Gentala memandang Hazel tajam membuat Hazel mengatupkan bibirnya sambil mengangkat kedua jarinya menunjuk tanda peace.
"Lo ngapain disini? Kan gue udah nyuruh lo balik," ucap Gentala sambil menatap Hazel yang aneh dengan pakaian basket sekolah nya.
Ya Hazel memang meminjam celana dan baju basket Satria yang sangat kebesaran di tubuhnya. Sengaja ia pakai baju basket itu juga agar tidak terlihat aneh dengan baju putih dan celana basket.
"Gue kasihan sama lo. Ntar lo di godain sama cewek jadi-jadian lagi," ucap Hazel sambil menaik-turunkan alisnya.
"Sialan!" desis Gentala membuat Hazel tertawa.
"Ayo balik. Gue cape," ajak Hazel membuat Gentala menganggukkan kepalanya.
__ADS_1