
..."Menjadi budeg itu perlu untuk menyikapi mereka yang tidak punya kapasitas untuk mendengar."...
...***...
Hazel memandangi dirinya di cermin. Ini terasa asing dengan Hazel. Biasanya ketika pagi seperti ini, akan ada suara Maya yang berteriak untuk membangunkan nya. Tapi sekarang ia hanya bangun sendiri tanpa suara Maya. Ini rumahnya tapi Hazel lebih nyaman di rumah Maya. Mungkin karena ia sudah bertahun-tahun hidup dengan Maya?
Hazel menghembuskan nafasnya. Ia kemudian mengambil tasnya dan keluar dari kamar. Hazel mulai berjalan untuk turun ke lantai bawah. Baru sampai di tangga, suara anak kecil yang sedang tertawa terdengar oleh telinga.
Hazel tersenyum kecil, itu pasti anak kecil yang sama yang memberikan nya surat. Ia kembali melanjutkan langkahnya.
"Selamat pagi, Hazel!" sapa Talla dengan riang ketika melihat Hazel mendekat ke arah meja makan.
Kaivan dan Kanaya yang sedang bergurau pun langsung menoleh ke belakang.
"Pagi," balas Hazel datar.
Tidak, bukan ini yang diinginkan oleh nya. Hazel tidak berniat untuk bersikap kurang ajar dengan Talla. Tapi ia masih tidak bisa menerima ini semua. Bahkan senyum yang ia tampilkan di tangga tadi tidak bisa ia lakukan disini. Ia merasa kaku dan ada sedikit rasa tidak suka.
Senyum di bibir Talla perlahan luntur ketika melihat raut wajah Hazel yang tidak mengenakkan. Tapi tak lama ia tersenyum lagi. Mungkin Hazel masih belum menerima bukan?
"KAK HAZEL?!" teriak Kanaya dengan senang.
Ia segera turun dari pangkuan Kaivan dan berjalan mendekati Hazel yang masih berdiri. Ia tersenyum lalu memeluk Hazel. Mendapat termundur beberapa langkah karena tindakan Kanaya yang tiba-tiba.
Hazel tidak membalas pelukan Kanaya, melainkan ia melepaskan pelukan itu sedikit kuat sehingga Kanaya mundur beberapa langkah. Ia memandang Hazel sedih. Talla yang melihat itu langsung mendekati Kanaya.
"Hazel?!" tegur Kaivan ketika melihat tingkah Hazel kepada Kanaya.
"Papa jangan marahin kak Hazel!" ucap Kanaya keras.
"Kanaya jangan ngomongin gitu sama Papa." Kali ini Talla yang menegur Kanaya.
"Tapi Papa gak boleh marahin kak Hazel, Ma."
Talla tersenyum hangat, "Iya sayang. Papa kamu gak marahin kak Hazel."
Hazel hanya memandang diam. Ia bingung kenapa Kanaya sangat membela nya? Padahal Hazel tadi sudah mendorong anak itu.
"Sekarang ayo kita makan," ucap Talla.
Kanaya menganggukkan kepalanya senang. Ia kemudian menghampiri Hazel dan manarik tangan Hazel menuju meja makan. Hazel sedikitpun terkejut tapi ia hanya diam ketika Kaivan menatap nya tajam. Ia tahu kalau itu adalah tatapan peringatan dari Kaivan agar tidak menolak Kanaya.
Mereka akhirnya duduk bersama di meja makan. Kanaya sengaja duduk di sebelah Hazel. Sepertinya anak itu benar-benar langsung lengket dengan Hazel.
"Biar Mama siapin roti nya ya," ucap Talla sambil mengambil beberapa roti.
"Naya mau pake selai strawberry ya Ma!" ucap Kanaya membuat Talla terkekeh pelan dan menganggukkan kepalanya.
"Kalau Hazel mau pakai selai apa?" tanya Talla sambil mengolesi roti Kanaya dengan selai strawberry.
"Terserah," ucap Hazel datar.
Talla tersenyum kecil seakan tidak mempersalahkan sikap dingin Hazel, "Yaudah pakai selai kacang aja ya."
Hazel hanya diam sementara Kaivan langsung menoleh ke arah Hazel. Melihat Hazel yang diam akhirnya Kaivan angkat bicara.
__ADS_1
"Aku suka selai kacang. Berikan aku selai kacang dan Hazel selai coklat Talla," ucap Kaivan membuat Talla menoleh dan Hazel melirik Papanya.
Talla mengerutkan keningnya bingung, "Loh yaudah aku bisa buatin dua pakai selai kacang."
Kaivan menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak usah. Aku tidak mau berbagi selai kacang itu dengannya."
Mendadak Talla berhenti mengolesi roti ketika mendengar ucapan Kaivan. Ia memandang Kaivan kesal karena ucapannya.
"Papa gak boleh pelit tahu! Nanti kuburan nya sempit," ucap Kanaya dengan polosnya.
Hazel menghembuskan nafasnya lalu melihat jam yang melingkar di tangannya, "Aku berangkat.
Hazel berdiri dari duduknya dan berjalan menjauhi meja makan.
"Hazel biar Mama buatin sarapan aja ya," ucap Talla spontan mengucapkan kata Mama.
Hazel berhenti lalu membalikkan tubuhnya menatap Talla, "Tidak usah. Terima kasih Tante!"
"Kok kak Hazel manggil Mama dengan sebutan Tante?" tanya Kanaya membuat Hazel menatapnya.
"Karena dia bukan Mama aku Kanaya," ucap Hazel santai.
Kaivan mengepalkan tangannya. Ia berjalan menghampiri Hazel tapi tidak jadi karena Talla menahan tangannya dan menggelengkan kepalanya pertanda menyuruh Kaivan untuk membiarkan Hazel.
"Maksud kak–"
"Kanaya, udah. Nanti dia telat pergi sekolah," sela Kaivan.
Kanaya akhirnya diam tapi ia kembali berbicara ketika melihat Hazel yang akan melanjutkan langkahnya.
Astaga.
Hazel benar-benar mengelus dadanya sabar. Ia mengabaikan ucapan Kanaya dan akhirnya pergi keluar tanpa berpamitan terlebih dahulu.
"KAK HAZEL!" panggil Kanaya.
"Kanaya udah sayang. Kak Hazel mungkin buru-buru karena udah mau masuk sekolah," ucap Talla membuat Kanaya cemberut.
"Kanaya juga sarapan terus berangkat sekolah ya," ucap Kaivan membuat Kanaya menganggukkan kepalanya.
Kanaya berjalan menuju meja makan. Talla kemudian menatap Kaivan yang juga menatapnya santai.
"Apa?" tanya Kaivan membuat Talla ingin sekali mencakar wajah tampan itu.
"Kata-kata kamu keterlaluan tahu gak? Apa salahnya coba cuma berbagi selai aja sama anak sendiri? Lihat kan sekarang Hazel malah gak mau sarapan!" kesal Talla.
Kaivan mendengus kesal, "Dia alergi kacang, Talla."
Raut wajah Talla langsung berubah, "Aku gak tahu. Tapi kenapa tadi dia diam aja ya Mas?"
Kaivan hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu, "Dia juga alergi udang. Jadi jangan masak yang ada udang sama kacangnya ya."
Setelah mengatakan itu, Kaivan juga ikut menyusul Kanaya untuk makan. Talla memandang suaminya dalam diam. Meskipun sudah bertahun-tahun berpisah dengan Hazel tapi itu tidak membuatnya lupa apa yang membahayakan Hazel.
Talla tidak bisa membedakan apakah Kaivan benar-benar menyayangi Hazel atau tidak?
__ADS_1
...***...
"Eh Siska, ngemil-ngemil apa yang enak?"
Suara Saga pagi-pagi ini seperti suara katak yang berkicau pagi-pagi. Bikin kesal!
Siska–bendahara kelas XII IPA 2 itu berpikir sebelum menjawab, "Ngemilikin kamu selamanya."
"ANJAY."
'SATU VIRUS MENGGUNCANG DUNIA."
"VIRUS DARI KOTA WUHAN CINA."
"VIRUS YANG SANGATLAH BERBAHAYA."
"NAMA VIRUS ADALAH, CORONA."
"Berisik anjir!" ucap Neisha ketika Gentala, Arthur, Saga dan Satria menyanyikan lagu wabah pada tahun 2020 itu.
"Yaelah Nei, masih pagi udah marah-marah aja," ucap Satria.
"Ya makanya jangan bikin emosi anjir!"
Saga memutar bola matanya malas. Ia meneliti satu persatu makhluk kelas. Seperti ada yang kurang, ia langsung menoleh ke arah Gentala.
"Woi Gen! Hazel mana?" tanya Saga.
Neisha langsung menoleh cepat, "Loh iya, Gen. Hazel mana?"
Gentala yang sedang bermain ponsel itupun langsung mendongak, "Kata Tante Maya, Hazel nginap di rumah saudara nya. Jadi gue gak bareng dia."
"Loh Hazel ada saudara di sini toh?" tanya Saga.
"Ada lah. Orang dia nginap di rumah saudara nya!" jawab Arthur.
"Tapi kok belum datang ya?" tanya Neisha.
"Siapa yang belum datang?"
Mereka berlima sontak menoleh. Ada Hazel yang sedang sedang berdiri sambil memakan cilor.
"Nah. Datang juga lo!" ucap Gentala membuat Hazel mengerutkan keningnya bingung.
"Kenapa emang?" tanya Hazel.
"Lo gabut apa gimana? Pulang dari pasar malam, lo langsung ke rumah saudara lo? Kenapa gak waktu dalam perjalanan pulang aja lo minta antar ke gue?" tanya Gentala.
Hazel menaikkan sebelah alisnya, "Ke rumah saudara?"
"Iya anjir! Lo nginap di rumah saudara lo kan?" tanya Gentala lagi.
Ah, sepertinya Hazel paham. Pasti Maya memberitahu Gentala bahwa ia menginap di rumah saudara.
"Iya soalnya adek gue udah kangen banget katanya," ucap Hazel.
__ADS_1
Gentala dan yang lainnya menganggukkan kepala tanda paham. Sepertinya Hazel harus menjalani hari dengan penuh kebohongan untuk saat ini.