
..."Jangan terlalu rapat menutup pintu hati mu karena tidak semua orang yang mengetuknya berniat melukaimu."...
...***...
Selesai sholat Maghrib, Gentala segera turun untuk menemui Ashilla yang sedang berada di dapur. Terlihat Ashilla sedang sibuk memasak makanan yang Gentala tebak pasti ini bukan untuknya.
"Wih, Mama masak apaan nih?" tanya Gentala sama mendekat ke arah Ashilla.
"Seblak. Hujan-hujan gini enaknya makan seblak dan kamu harus anterin seblak ini ke rumah Maya. Kasih Hazel sebelum dia pulang," oceh Ashilla.
Kan, apa Gentala tebak. Pasti ini bukan untuknya melainkan untuk Hazel. Tapi tidak masalah, selagi Mamanya senang maka ia juga akan ikut senang.
"Banyakin ceker nya, Ma. Hazel suka banget makan kaki ayam itu," ucap Gentala ketika melihat Ashilla sedang memasukkan beberapa ceker ayam.
Ashilla tertawa kecil, "Tahu kamu ya kalau Hazel doyan ceker."
Gentala memutar bola matanya malas, "Jelas tahu lah, Ma. Setiap dia ngajakin makan seblak pasti minta banyakin cekernya."
Ashilla tertawa mendengarnya. Memang Hazel sangat menyukai ceker ayam apalagi kalau di jadiin sate. Uhh mantap!
"Kamu makan aja dulu. Mama udah siapin sop ayam untuk kamu," ucap Ashilla sambil menunjuk meja makan yang sudah tersaji makanan.
Gentala mengerutkan keningnya bingung. Kapan makanan ini ada di sana? Perasaan tadi ia lewat gak ada deh.
"Jangan banyak ngelamun. Sana makan terus anterin ini," ucap Ashilla.
Gentala menganggukkan kepalanya lalu berjalan menuju meja makan. Ia kemudian memakan makanan itu dengan hikmat. Hujan di luar sangat lebat dan ia yakin kalau Hazel pasti tidak akan pergi ke rumah saudara nya. Padahal kenyataannya Hazel sudah pulang, bukan kerumah saudara nya melainkan ke rumah sakit.
Setelah menyelesaikan makannya, Gentala segera membawa piring kotornya ke wastafel lalu mencuci nya. Ia menatap Ashilla yang sedang memasukkan seblak itu ke dalam sebuah rantang.
"Selesai deh! Sana kamu anterin ini," ucap Ashilla sambil memberikan rantang berisi seblak itu kepada Gentala.
Gentala menganggukkan kepalanya lalu mengambil rantang itu, "Payung mana, Ma?"
"Ada tuh di dekat pintu. Kamu hati-hati ya bawanya," ucap Ashilla memberitahu.
Gentala akhirnya membawanya seblak itu dalam keadaan hujan yang lebat. Untung saja rumah Maya hanya berjarak tiga rumah dari rumahnya, kalau jauh sih ia pasti menolak suruhan Ashilla.
Gentala meletakkan payungnya di teras rumah Maya lalu mengetok pintu rumah itu. Setelah beberapa menit, akhirnya pintu itu terbuka oleh Maya.
"Loh, Gentala?"
__ADS_1
Gentala tersenyum tipis, "Malam Tante."
Maya membalas senyum Gentala walaupun dalam hatinya sedikit gelisah lantaran harus berbohong lagi kepada anak ini.
"Malam. Hujan-hujan gini nekat banget mau ketemu Hazel," goda Maya.
Gentala terkekeh pelan, "Ini perintah dari Kanjeng Ratu Mama Ashilla buat ngasih seblak ini untuk Hazel, Tante."
"Wah rajin banget Mama kamu ya buat ginian," ucap Maya sambil tersenyum.
"Mama ingat Hazel suka seblak makanya dibikinin, Tante. Btw Hazel nya mana?" tanya Gentala.
Maya tersenyum tidak enak, "Maaf banget ya Gentala, tapi Hazel nya udah pulang ke rumah saudara nya."
Senyum Gentala perlahan pudar, "Hujan-hujan gini? Sama siapa Tante?"
"Tadi di jemput sama sepupu nya Tante. Maaf banget ya. Mungkin besok Hazel bakal ke sini lagi," ucap Maya.
Gentala menundukkan kepalanya menatap rantang di tangannya. Ia kemudian tersenyum tipis, "Yaudah ini buat Tante aja."
Maya tersenyum lebar, "Rezeki gak boleh di tolak kan. Bilangin sama Mama kamu ya makasih dan maaf Hazel nya gak bisa cobain seblak buatan mama kamu."
Gentala terkekeh kecil, "Iya Tante. Yaudah Gentala pulang dulu ya."
Setelah itu, Maya langsung masuk ke dalam rumah sementara Gentala menoleh menatap pintu Maya yang sudah tertutup. Ia kemudian memandang langit yang begitu polos tanpa adanya bintang-bintang.
"Gak tahu kenapa, gue ngerasa lo lagi sembunyikan sesuatu dari gue, Zel." Gentala terkekeh kecil. Ia merasa semakin jauh dengan Hazel.
...***...
Pagi telah datang. Bau obat-obatan langsung masuk ke dalam indra penciuman Hazel. Mata itu terbuka perlahan hingga ia bisa menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.
Hazel tersenyum tipis ketika melihat laki-laki yang kemarin malam berada disini juga. "Lo lagi. Ngapain lo disini?"
Zayyan mendengus kesal, "Suka-suka gue."
Menyebalkan.
Hazel memperhatikan Zayyan dengan kening yang berkerut, "Lo masih sekolah?"
"Menurut lo?" tanya Zayyan nyolot.
__ADS_1
"Kirain gue, lo duda anak lima," jawab Hazel membuka Zayyan ingin sekali membuangnya ke rawa-rawa.
"Lo. Janda yang suka godain para brondong!" balas Zayyan membuat Hazel membulatkan matanya kaget.
"Dih. Enak aja lo kalau ngomong!" kesal Hazel.
Zayyan kemudian menatap jam di pergelangan tangannya. Ia sengaja datang kesini karena tadi melihat Kaivan yang seperti nya terburu-buru pergi ke kantor. Jadi, ia berpikir pasti tidak ada yang menjaga Hazel. Karena merasa kasihan, ia sengaja datang untuk memastikan Hazel masih bernafas atau tidak.
Zayyan kemudian berniat beranjak pergi ke sekolah sebelum Hazel menahan nya. Ia menatap Hazel dengan pandangan bertanya.
"Lo sekolah di mana?" tanya Hazel.
"King High School. Kenapa?" tanya Zayyan.
Hazel seperti sedang memikirkan sesuatu namun sedikit ragu. Tapi setelah melihat jam dinding di ruang ini, ia langsung berbicara.
"Gue bisa minta tolong buat bikinin gue surat izin gak?" tanya Hazel sambil tersenyum manis.
Zayyan mengangkat sebelah alisnya, "Dapet apa kalau gue nolongin lo?"
Hazel membulatkan matanya kaget, "Anjire! Lo kok pamrih gitu sama gue?!"
Zayyan berdecak kesal, "Bercanda. Nanti gue bikinin."
Hazel tersenyum lebar. Ia kemudian menatap name tag di baju sekolah Zayyan, "Makasih.... Zayyan."
Zayyan berdehem pelan, "Gue berangkat."
Setelah itu Zayyan pergi meninggalkan Hazel yang terus menatapnya, "Ganteng banget tuh cowok!"
Seperti ada yang janggal, Hazel berpikir keras. Ini hari sabtu, dan itu berarti.... ASTAGA!
"Anjir, kan gue ada janji sama Aksa. Buset, gue harus gimana coba?"
Hazel kemudian mengambil cermin yang ada di atas nakas. Ia melihat pipi nya yang masih tampak biru serta ujung bibirnya yang terluka.
"Masa iya gue pergi dengan muka kek gini?"
Hazel berpikir keras. Tidak mungkin ia membatalkan janjinya dengan Aksa apalagi ini adalah hari-H nya. Dan juga tidak mungkin Kaivan akan mengizinkan nya pergi dengan Aksa. Mungkin Kaivan akan izinkan, asalkan Dimas ikut.
"Aksa mau gak ya pergi nya bertiga bareng sama Dimas?" gumam Hazel yang terus berpikir.
__ADS_1
Hazel blo'on! Mana mau Aksa pergi bertiga bareng sama cowok lain. Yang ada nanti Hazel dikatai sedang menggandeng dua laki. Kan tidak lucu!