
..."Kadang yang membuat kita jelek dimata orang lain bukan karena kelakuan kita sendiri, melainkan cerita karangan dari mulut-mulut pembenci."...
...***...
Tidur Gentala terusik ketika merasakan merasakan usapan lembut membelai rambutnya. Ia perlahan membuka matanya. Samar-samar Gentala lihat ada seorang perempuan yang duduk di pinggir kasur sambil tersenyum kearahnya.
"Gentala," panggil perempuan itu lembut.
Mata Gentala terbuka lebar dan seketika ia terduduk ketika mengenali siapa perempuan ini.
"MAMA?!"
"Hai jagoan kecil, Mama!" ucap perempuan yang tak lain adalah ibu dari Gentala.
Gentala terdiam ketika Mamanya memeluk ia dengan erat. Ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 2 dini hari.
"Mama kangen kamu sayang. Maafin Mama ya yang baru bisa pulang sekarang."
Gentala tersenyum tipis lalu membalas pelukan dari Mamanya.
"Gentala juga kangen Mama," ucap Gentala yang sangat merindukan pelukan dari wanita yang telah melahirkannya ini.
Ashilla-Mama Gentala melepaskan pelukannya dari anak tunggalnya. Ia memandang Gentala dengan penuh kasih sayang.
"Papa mana, Ma?" tanya Gentala yang juga sudah sangat merindukan laki-laki panutan nya itu.
"Papa kamu masih ada pekerjaan di Yogyakarta, Nak. Mama pulang ke sini cuma sama sopir kita," jelas Ashilla.
Gentala mengerutkan keningnya bingung, "Loh, terus kenapa Mama pulang duluan? Malam-malam begini juga."
"Mama tiba-tiba kepikiran kamu jadi Mama mutusin buat langsung pulang ke Jakarta. Mama kangen banget sama kamu Gentala."
Gentala tersenyum lalu kembali memeluk Ashilla. Pelukan ini sudah terjadi selama beberapa tahun yang lalu. Dan Gentala bersyukur jika Ashilla juga merindukan nya.
"Gentala, Mama sama Papa kamu udah buat keputusan kalau Mama akan disini terus sama kamu. Jadi, Mama gak akan ikut Papa kamu kerja lagi," ucap Ashilla membuat Gentala tersenyum.
"Beneran, Ma? Papa gak keberatan?" tanya Gentala dengan perasaan senang dan sedikit bingung.
"Sebenarnya Papa gak setuju sih tapi Mama gak mau kamu kesepian," jawab Ashilla.
Gentala tertawa kecil, "Yaudah Mama istirahat aja dulu."
Ashilla menganggukkan kepalanya pelan, "Yaudah kamu juga tidur lagi ya."
...***...
Gentala telah siap dengan seragam sekolah nya. Tidak seperti biasanya, pagi ini ia bangun lebih awal karena di bangun kan oleh Ashilla. Baiklah, sekarang kebiasaan Gentala yang suka menunda-nunda waktu sholat subuh harus musnah karena subuh tadi Ashilla sudah mengetok pintu kamarnya agar segera menunaikan ibadah sholat subuh tepat waktu.
Ia berjalan turun ke lantai bawah dan menuju dapur ketika mencium aroma nasi goreng yang sangat lezat. Ternyata di meja makan sudah ada nasi goreng dan susu putih. Ashilla memang selalu menyiapkan sarapan nasi goreng serta susu untuk nya sejak dulu. Kata Ashilla biar dirinya kenyang dan pintar.
"Pagi, Ma."
Ashilla yang sudah berada di meja makan langsung tersenyum ke arah Gentala.
"Pagi sayang."
__ADS_1
Gentala duduk kursi dan menatap makanan itu dengan senang. Ashilla yang melihat itu langsung merasa bersalah karena meninggalkan Gentala sendiri di rumah ini.
"Wih, Mama masih ingat kesukaan Gentala?"
"Masih dong, sayang. Masa Mama lupa sama kesukaan anak Mama sendiri."
Gentala tersenyum. Ia kemudian mengambil nasi goreng itu secukupnya.
"Oh iya nanti Mama mau main ke rumah Maya sekalian ketemu sama si cantik Hazel," ucap Ashilla.
Gentala mendongakkan kepalanya lalu menganggukkan kepalanya pelan. Memang Maya dan Ashilla itu sudah berteman baik.
"Kamu masih sahabatan kan sama Hazel?" tanya Ashilla.
Gentala menelan nasi gorengnya lalu menganggukkan kepalanya, "Iya, Ma. Masa iya kita musuhan."
Ashilla tertawa kecil, "Ya siapa tahu status kalian udah berubah. Dari sahabat jadi pacar. Kalau kamu pacaran sama Hazel, Mama dukung seratus persen!"
"Apaan sih, Ma. Kita cuma sahabatan doang."
"Iya deh. Btw kamu berangkat nya bareng Hazel kan?" tanya Ashilla yang juga memakan nasi gorengnya.
Gentala menggelengkan kepalanya pelan, "Hazel nginap di rumah saudara nya. Udah dua hari juga, Ma."
Ashilla mengerutkan keningnya, "Loh emangnya Hazel ada saudara nya disini?"
Gentala mengedikan bahunya, "Katanya sih sepupu dari tante Maya. Kalau Hazel bilang nginap di situ ya artinya saudara nya memang ada di sini."
"Mama baru tahu. Tapi nanti Hazel pulang kan, Gen?"
"Gentala gak tahu, Ma. Ntar Gentala tanyain sama dia."
"Kalau dia belum pulang hari ini, suruh pulang sebentar ya Gen. Bilangin kalau Mama kangen sama dia," ucap Ashilla.
Gentala menganggukkan kepalanya. Ia telah selesai dengan makannya. Ia kemudian berdiri dari duduknya dan menjulurkan tangannya ke arah Ashilla.
"Gentala pergi sekolah dulu ya, Ma."
"Iya. Kamu belajar yang bener."
"Iya, Ma. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ashilla tersenyum tipis lalu membereskan meja makan itu. Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Maya sebelum temannya itu pergi ke kantor.
...***...
"Ingat ya, jangan jemput gue sebelum gue suruh!" ucap Hazel yang mewanti-wanti Dimas agar tidak menjemput nya sebelum teman-temannya pulang.
"Baik, Non."
Hazel kemudian langsung turun dari mobil dan berjalan menuju gerbang. Ia tersenyum ketika melihat Gentala yang sedang memarkirkan motornya.
"GENTALA!" panggil Hazel berteriak.
__ADS_1
Ia kemudian berlari kecil menuju Gentala yang sedang menatapnya.
"Kenapa lo?" tanya Gentala ketika melihat raut wajah Hazel yang seperti mendapat menang lotre.
Hazel menggelengkan kepalanya kecil, "Gak papa. Ayo ke kelas bareng!"
Hazel segera menarik tangan Gentala membuat Gentala mengerutkan keningnya. Ada apa dengan makhluk satu ini?
Hazel melepaskan gandeng nya ketika mereka sudah berada di luar parkiran. Hazel mengutuk dirinya yang tiba-tiba berubah menjadi aktif seperti ini.
Lo kenapa sih, Zel?!
"Lo pulang ke rumah hari ini?" tanya Gentala ketika mengingat ucapannya dengan Ashilla pagi tadi.
Hazel menggigit bibir bawahnya gugup lalu menggelengkan kepalanya pelan, "Keknya belum deh. Gue masih mau disana. Kenapa emang?"
"Betah amat lo disana. Gak kangen tante Maya lo?" tuding Gentala sambil menatap Hazel.
"Kangen lah! Ya tapi mau gimana lagi?"
"Ya pulang lah ege!" kesal Gentala.
Hazel juga ingin pulang Gentala! Tapi masalahnya ia tidak akan bisa pulang lagi ke sana.
"Ntar deh. Lo kenapa nanya-nanya? Jangan lo kangen gue ya?!" tuding Hazel sambil menyipitkan matanya kearah Gentala.
"Iya–" jawab Gentala sambil tersenyum kecil.
GENTALA BAZINGAN!
"dan Mama gue juga kangen sama lo," lanjut Gentala.
Hazel mengangguk-anggukkan kepalanya pelan lalu ia langsung menoleh cepat ke arah Gentala.
"MAMA LO?! TANTE ASHILLA?!" kaget Hazel yang suaranya sedikit keras membuat orang-orang yang berada di dekat mereka menatap mereka.
"Biasa aja woi! Emang Mama gue siapa lagi selain Mama Ashilla?!" tanya Gentala.
"Bukan gitu. Jadi, tante Ashilla udah pulang?" tanya Hazel blo'on.
"Iya Hazel Vellyncia Xavellyn!" jawab Gentala sabar.
"Kok lo gak kasih tahu gue?!" kesal Hazel.
Gentala memutar bola matanya malas. Pantas saja jika Ashilla merindukan Hazel orang Hazel adalah generasi dari Ashilla. Sama-sama cerewet.
"Mama gue baru sampai tadi subuh. Jadi, lo gak pulang hari ini? Nyokap kangen banget katanya," ucap Gentala.
Hazel diam, sedikit bimbang. Ia ingin bertemu dengan Maya dan Ashilla tapi pasti Kaivan tidak akan membiarkan nya. Ah, soal izin dengan Kaivan nanti saja di pikirkan. Yang penting ia harus bisa bertemu dengan Maya dan Ashilla.
"Boleh deh, nanti gue pulang sebentar terus balik lagi ke rumah sepupu gue," ucap Hazel.
Gentala tersenyum tipis lalu mengacak-acak rambut Hazel, "Thanks."
Hazel terdiam kaku lalu ia memukul Gentala kesal, "Rambut gue jadi berantakan, sialan!"
__ADS_1
Gentala tertawa lalu berlari menghindari Hazel tanpa tahu bahwa ada dua orang yang memperhatikan mereka dari tempat yang berbeda. Kinar dan Aksa memperhatikan kedua orang yang di sebut sebagai sahabat itu dengan pandangan diam.