
..."Pada dasarnya setiap manusia adalah ujian untuk manusia lainnya."...
...***...
Kaivan menatap gelisah pada telpon yang baru beberapa menit mati itu. Kenapa, ada apa dengan Hazel? Apa yang terjadi pada anak nya? Kaivan mengepalkan tangannya kuat berharap Hazel akan baik-baik saja.
Ia kemudian mencoba menelpon Hazel lagi, namun nomor Hazel sudah tidak aktif. Walaupun suara hujan lebih dominan tapi ia bisa mendengar suara lirih Hazel yang meminta tolong kepadanya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kemana ia akan mencari Hazel kalau seperti ini.
"Mas, kamu kenapa? Hazel udah jawab telpon nya?" tanya Talla yang mendekat kearah suaminya.
Kaivan menggelengkan kepalanya pelan, "Ponselnya gak aktif. Tapi, sebelum ponsel Hazel tidak aktif ia sempat mengangkat telpon dariku. Ia minta tolong dengan suara yang pelan."
Talla membulatkan matanya, "Dia gak bilang ada dimana?"
Kaivan menggelengkan kepalanya. Ia mencoba menelpon Hazel lagi walaupun tetap saja hanya suara operator yang keluar. Ia menghembuskan nafas nya pelan. Talla yang melihat suaminya gelisah itupun segera mengelus punggung suaminya.
Tak lama, ponsel Kaivan berdering membuat Kaivan segera mengambil handphonenya karena menyangka kalau Hazel yang menelponnya. Tapi setelah melihat nama yang tertera ia kembali menatap kecewa. Ternyata bukan Hazel, melainkan Zayyan yang merupakan anak dari tetangganya.
"Hallo, ada apa Zayn?" tanya Kaivan yang membuka suara. Memang Zayyan ini sering dipanggil Zayn.
"Hazel di rumah sakit, Om."
Kaivan yang mendengar itu spontan berdiri, "Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit pelita."
"Tolong jaga dia sebentar, Zayn. Saya segera kesana."
"Baik, Om."
Kaivan memutuskan panggilan nya lalu ia segera mengambil kunci mobil di atas meja dalam kamarnya. Talla yang melihat itu langsung mengikuti Kaivan.
"Mas kamu mau kemana?" tanya Talla.
"Hazel di rumah sakit. Kamu disini aja jaga Kanaya ya," ucap Kaivan sambil menciumi kening Talla. Setelah itu, Kaivan langsung pergi dari rumahnya dengan perasaan cemas.
...***...
Hazel perlahan membuka matanya. Ia merasa kan kepalanya yang berdenyut sakit. Ia ingat kalau tadi ia hampir saja di tabrak oleh sebuah mobil. Pandangan Hazel kemudian bertemu dengan seorang laki-laki yang berdiri di samping brankar nya sambil bersedekap dada.
Hazel tercenung sesaat. Apa ia saat ini sedang berada di surga? Kenapa ada seorang pangeran disini. Apa ini suaminya di surga?
"Udah lihatin nya?"
__ADS_1
Hazel mengerjapkan matanya kaget. Loh apa ini? Kenapa suara laki-laki ini begitu bagus. Ah, Hazel jadi tersenyum sendiri.
"Hai suami," ucap Hazel sambil mengedipkan matanya genit.
Laki-laki itu yang tak lain adalah Zayyan hanya bisa memaklumi Hazel. Mungkin ini karena obat bius dari gadis itu. Zayyan kemudian berjalan menuju sofa untuk duduk disana. Hazel terus menatap Zayyan sambil tersenyum.
"Berhenti natap gue!" kesal Zayyan. Ia juga punya perasaan. Ia merasa seperti seorang gadis yang sedang di goda oleh pedofil.
Hazel mengerucutkan bibirnya lucu. Mereka berdua kemudian memandang ke arah pintu yang baru saja di buka keras oleh seorang laki-laki yang tak lain adalah Kaivan.
"Heh Fir'aun! Yang sopan sama Ratu dan Raja!" ucap Hazel membuat Kaivan melotot kan matanya tajam.
Zayyan berdehem sejenak lalu mendekati Kaivan, "Efek obat bius, Om."
Kaivan menghela nafasnya berat. Ia kemudian mendekati Hazel dan memperhatikan wajah putrinya itu. Wajah Hazel bisa di bilang tidak baik-baik saja. Pipi lebam dengan sudut bibir yang berdarah serta kening yang perban membuat Hazel terlihat menyedihkan.
Di tatap seperti itu membuat Hazel terdiam. Baiklah, sepertinya Hazel sudah sadar siapa dia. Hazel menundukkan kepalanya menatap Infus yang berada di tangannya.
"Pa," lirih Hazel.
"Siapa yang ngelakuin ini?" tanya Kaivan membuat Hazel menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak tahu. Dia pake masker hitam," ucap Hazel dengan pelan.
"Kamu berbohong. Kamu pergi ke rumah Maya kan?! Kalau memang kamu benar-benar merindukan Maya seharusnya kamu izin sama saya Hazel!" bentak Kaivan membuat Hazel menatapnya.
"Emang papa bakal izinin?" tanya Hazel.
"Mungkin."
Hazel menundukkan kepalanya lagi. Sepertinya ini memang karma untuknya.
"Kamu melanggar aturan dari saya, Hazel! Sebagai hukumannya, kamu tidak saya izinkan pergi kemana tanpa Dimas! Tidak ada bantahan kecuali kamu benar-benar ingin merasakan hukuman yang lebih berat dari ini!" tegas Kaivan yang kemudian langsung keluar dari ruang rawat Hazel.
Hazel menatap kepergian Kaivan dengan kesal, "Sialan!"
Zayyan yang tidak tahu apa-apa kemudian berniat pergi. Ia mengambil jaketnya yang terletak di atas sofa. Baru saja ia akan pergi, suara Hazel menghentikan langkahnya.
"Lo mau pergi? Lo mau lari dari tanggung jawab lo?!" ucap Hazel membuat Zayyan menoleh.
"Tanggung jawab apa? Kita belum nikah," ucap Zayyan.
Hazel mendelikkan matanya, "Yang bilang kita udah nikah siapa?!"
__ADS_1
"Tadi lo manggil gue dengan sebutan 'suami' dan lo juga senyum-senyum sendiri sambil natap gue," ucap Zayyan lagi dan lagi membuat Hazel mendelikkan matanya.
"KAPAN GUE BILANG GITU?!" kesal Hazel.
"Tadi. Lo bilang gini, 'Hai suami' gitu," jawab Zayyan sambil mengikuti suara Hazel yang memanggil nya tadi.
"Dih! Mimpi lo ya?!" todong Hazel membuat Zayyan memutar bola matanya malas.
"Serah lo deh!" pasrah Zayyan yang kemudian ingin keluar dari ruang rawat Hazel.
Hazel yang akan kembali menahan Zayyan seketika berhenti ketika laki-laki itu sudah menghilang dari balik pintu. Ia menatap sedih pintu yang baru saja tertutup itu.
"Siapa laki-laki asu itu?" gumam Hazel sambil memegang wajahnya yang lebam.
...***...
Zayyan bukan pulang melainkan pergi ke kantin rumah sakit. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang. Setelah menemukan seorang laki-laki dengan segelas kopi di hadapannya, Zayyan langsung menuju ke arah laki-laki itu.
"Om," panggil Zayyan membuat Kaivan menoleh.
Zayyan segera duduk di hadapan Kaivan, "Kenapa Om nyuruh Zayyan ke sini?"
"Saya mau minta tolong sama kamu, Zayn."
Zayyan menaikkan sebelah alisnya, "Minta tolong apa?"
"Bantu saya untuk menjaga Hazel. Walaupun saya sudah menyuruh Bodyguard untuk menjaga Hazel, tapi saya tetap tidak bisa tenang," jelas Kaivan membuat Zayyan terdiam.
"Saya tidak memaksa. Kalau kamu tid–"
"Saya mau!" sela Zayyan membuat Kaivan tersenyum.
"Terimakasih Zayyan. Saya sangat berhutang budi dengan kamu," ucap Kaivan.
Zayyan tersenyum tidak masalah, "Tidak apa-apa, Om. Saya akan melindungi Hazel."
Kaivan menghela nafasnya, "Sebelum nya saya tidak merasa secemas ini dengan Hazel karena saya tahu Hazel mempunyai satu orang sahabat laki-laki yang sangat menjaga nya, namanya Gentala. Mereka berdua sudah bersahabat sejak kecil dan yang saya tahu, Gentala sangat menjaga Hazel. Makanya saya tidak terlalu khawatir dengan Hazel tapi ternyata Gentala dekat dengan perempuan lain yang kemungkinan akan menjadi prioritas nya. Jadi saya tidak bisa membiarkan Hazel sendirian."
Zayyan mengerutkan keningnya bingung, "Darimana om tahu?"
Kaivan tersenyum tipis, "Saya harus selalu mantau Hazel. Tapi hari ini saya kecolongan karena pekerjaan kantor. Saya harap kamu bisa menjadi pelindung Hazel, Zayn."
Zayyan tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pelan. Ia menyetujui permintaan Kaivan karena laki-laki ini sudah sangat banyak membantu Kaivan dan keluarga. Jadi anggap saja ini sebagian balas budi dari Zayyan untuk Kaivan.
__ADS_1