HE'S DANGEROUS!

HE'S DANGEROUS!
Peraturan dari Kaivan


__ADS_3

..."Jangan pernah menjadikan berat badan, kondisi wajah, penyakit, kondisi keuangan, nilai akademis, penampilan, atau kekurangan seseorang sebagai candaan. Kita tidak pernah tahu kalau mereka berusaha mati-matian untuk tidak insecure tapi kalian dengan seenak jidat berbicara soal kekurangan mereka. Belajarlah untuk menjaga lisan kalian, jika mereka merasa sakit hati dengan ucapan itu dan hanya diam mengadu pada pemiliknya maka saat itu juga hidup kalian kelar."...


...***...


"KAK HAZEL! KAK HAZEL! AYO MAKAN MALAM!" teriak Kanaya dari balik pintu kamar Hazel. Anak itu terus mengetok pintu kamar Hazel hingga si pemiliknya keluar.


"Nanti kak Hazel ya, Nay. Kakak mau ngerjain tugas, dikit lagi selesai kok," ucap Hazel sambil tersenyum kepada Kanaya.


Kanaya menganggukkan kepalanya lucu, "Yaudah tapi jangan lama-lama ya kak."


Hazel menganggukkan kepalanya. Setelah Kanaya pergi, Hazel kembali masuk ke dalam kamarnya. Sebenarnya ia tidak sedang mengerjakan tugas melainkan sedang telponan dengan Gentala. Laki-laki itu sejak tadi terus menerornya dengan pertanyaan kapan ia pulang. Hazel sengaja mengabaikan pertanyaan itu dengan menonton drakor, tapi ternyata usaha Gentala tidak sampai di situ. Ia menelpon Hazel hingga kepala Hazel sakit mendengar nya.


"Itu suara adek sepupu lo ya?" tanya Gentala dari seberang sana.


"Hm. Dia ngajak gue buat makan malam."


"Lo kapan pulangnya, Zel?"


Hazel tersenyum kecut. Ia sejak tadi terus mengalihkan pembicaraan agar Gentala tidak bertanya lagi tapi entah kenapa laki-laki itu malah semakin gencar bertanya?


"Gue juga belum tahu Gen. Gue kek nya udah betah di sini deh," jawab Hazel sambil terkekeh pelan.


Terdengar decakan dari seberang sana. Hazel yakin bukan jawaban tidak pasti ini yang Gentala inginkan.


"*Pulang, Zel. Gue kangen sepedaan sama lo. Gue kangen maling jambu bareng sama lo."


SIALAN! MAKSUD LO APA YE GENTALA*?


Hazel memejamkan matanya erat. Tidak, ia tidak boleh baper dengan ucapan Gentala. Mereka adalah sahabat dan selamanya harus begitu. Tapi entah kenapa jantung Hazel saat ini sangat lemah. Ia sudah sering mendengar gombalan dari Gentala yang jelas hanya bercanda. Tapi kenapa saat ini ia merasakan hal yang tidak biasa?


Hazel menggelengkan kepalanya. Ia tidak mungkin dan tidak boleh menyukai Gentala. Ia yakin jika ini adalah perasaan wajar kalau ia juga merindukan hal yang sering mereka lakukan bersama seperti yang diucapkan Gentala.


"Zel."

__ADS_1


"Gentala, sorry gue harus ke bawah dulu. Mereka udah nungguin gue. Bye!"


Hazel langsung memutuskan sambungan itu sepihak. Ia kemudian memegang dadanya yang masih berdesir hebat.


Menarik nafasnya sejenak, ia kemudian beranjak pergi ke lantai bawah.


Ingat Hazel, jangan baper!


Di meja makan, ternyata sudah ada Kaivan, Talla dan Kanaya. Mereka langsung menoleh ke arah Hazel. Sepertinya mereka belum menyentuh makanan apapun.


"Jangan biasain buat orang nunggu," sindir Kaivan yang menyambut kedatangan Hazel.


"Hazel gak nyuruh kalian nunggu!" balas Hazel kesal.


Kenapa Kaivan sangat suka memojokkannya seperti ini? Ia tidak pernah menyuruh mereka untuk menunggu dirinya datang. Kalau mau makan ya makan saja, tidak usah menunggunya.


"Udah. Gak baik ribut di depan makanan," ucap Talla menjadi penengah antara anak dan ayah itu.


Hazel mendekat dan duduk di sebelah Kanaya. Ia membalas senyum Kanaya dengan tulus. Sepertinya gadis kecil ini benar-benar sangat menyukainya. Setidaknya Hazel bisa merasa sedikit nyaman jika ada Kanaya di rumah ini.


Mereka memakan makanan tanpa suara. Hening tercipta, hanya ada dentingan sendok yang ada. Hazel memikirkan Maya. Apa Maya tidak kesepian jika ia tidak ada di sana?


Kaivan lebih dulu menyelesaikan makannya. Ia kemudian mengelap mulutnya lalu berdiri.


"Hazel, selesai makan nanti langsung ke ruangan saya."


Setelah mengatakan itu, Kaivan langsung pergi tanpa mendengar jawaban dari Hazel.


"Jangan takut, Hazel. Papa kamu tidak sejahat itu," ucap Talla seakan-akan tahu apa yang di pikirkan oleh Hazel.


"Papa kan emang gak jahat, Ma!" sahut Kanaya yang sepertinya sedikit kesal ketika Talla mengatai Kaivan jahat.


"Iya sayang. Maksud Mama itu Kak Hazel jangan takut karena Papa itu orang baik," jelas Talla agar Kanaya tidak salah paham.

__ADS_1


Hazel hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ia kemudian menyelesaikan makannya lalu menyusul Kaivan ke ruang kerja papa nya itu.


Sebelum masuk ke dalam ruangan itu, Hazel mengetok pintu itu terlebih dahulu.


"Masuk," ucap Kaivan dari dalam sana.


Hazel segera masuk dan berdiri di hadapan Kaivan yang sibuk dengan laptop nya.


"To the point!" ucap Hazel membuat Kaivan berusaha sabar. Anaknya ini tidak ada sopan-sopannya dengannya.


"Dimas sudah menyampaikan pesan saya?" tanya Kaivan.


Hazel menganggukkan kepalanya, "Kapan Papa akan ngasih tahu Hazel dimana Mama?"


"Tunggu waktu yang tepat. Turuti apa kata saya. Jangan membantah dan melanggar kalau kamu benar-benar ingin tahu di mana Mama kamu."


Jawaban yang mengesalkan di telinga Hazel. Sungguh Kaivan benar-benar menyebalkan.


"Apa alasan Papa nyuruh bodyguard buat jagain Hazel?" tanya Hazel yang penasaran.


Kaivan yang sedang mengetik sesuatu di laptop akhirnya menatap Hazel. Putri nya ini benar-benar mirip dengan mantan istrinya yaitu ibu kandung Hazel.


"Hanya mengawasi," jawab Kaivan membuat Hazel memutar bola matanya malas.


"Hazel gak mau ada bodyguard. Hazel jadi gak bebas tahu gak?" protes Hazel yang merasa dongkol karena tidak bisa ikut bersama teman-temannya tadi.


"Peraturan pertama jangan membantah. Silahkan keluar dari ruangan saya."


Hazel menatap Kaivan kesal, "Pa?!"


"Silahkan keluar, Hazel!"


Hazel mengerutkan keningnya marah. Ia kemudian keluar dari ruangan Kaivan dengan perasaan yang sangat kesal. Sementara Kaivan hanya memandang kepergian Hazel dengan datar.

__ADS_1


__ADS_2