HE'S DANGEROUS!

HE'S DANGEROUS!
Memory's


__ADS_3

..."Jatuh cinta itu mudah, bagian tersulit nya adalah menemukan orang yang tepat untuk di cintai."...


...***...


K-drama yang berjudul 20th Century Girl mengisahkan tentang seorang perempuan yang merasa dicampakkan oleh orang yang ia cintai dan lost kontak selama 15 tahun. Selama itu juga ia hidup sendiri tanpa pendamping. Bagaimana bisa ia melupakan cintanya yang hilang begitu saja? Lalu bagaimana perasaannya ketika ia tahu bahwa orang yang ditunggu nya telah meninggal 15 tahun yang lalu? Itu menyakitkan. Hidup dengan bayang-bayang orang yang ternyata sudah meninggal dunia ini.


Hazel menghapus air matanya. Ia terisak ketika mengetahui ending dari drama yang ia tonton selama 2 jam itu.


"Ending nya membagongkan banget asu!" ucap Hazel yang masih menghapus sisa-sisa air matanya.


Ia kemudian menutup laptop nya dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Ia menatap jam dinding di kamarnya. Sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Ia kemudian keluar dari kamarnya berniat untuk menemui sang Mama yang mungkin berada di ruang tengah.


Sesampainya di lantai bawah, terlihat Maya yang sedang fokus menonton TV. Hazel mendekat dan duduk di sebelah Maya.


Maya melirik Hazel sebentar lalu kembali menonton TV, "Kamu gak belajar?"


Hazel menggelengkan kepalanya pelan, "Di sekolah udah belajar jadi di rumah waktunya istirahat."


Maya mendelikkan matanya lalu tersenyum tipis. Ia tidak akan mengekang Hazel untuk terus belajar. Ia tidak mau merebut kebebasan Hazel.


"Mama gak ada niatan mau nikah gitu?" celetuk Hazel secara tiba-tiba.


Maya menoleh cepat, "Kenapa kamu nanya gitu? Kamu mau Mama nikah?"


Hazel menyengir sambil menatap Maya, "Ya Mama gak kesepian apa sendiri mulu?"


Maya menggelengkan kepalanya, "Kan ada kamu."


Hazel terdiam sejenak, "Kalau aku pergi nanti gimana?"


"Pergi kemana?" tanya Maya bingung.


"Papa," lirih Hazel membuat tubuh Maya menegang.


"Mama gak akan biarin kamu pergi dari mama," gumam Maya pelan tapi masih terdengar oleh Hazel.


"Tapi aku bukan a–"


"Mama akan jagain kamu. Kamu gak boleh pergi dari mama kecuali kalau kamu udah nikah nanti," sela Maya dengan cepat.


Hazel tersenyum tipis, "Aku janji gak akan ninggalin Mama," ucap Hazel sambil memeluk Maya.


Begitupun Maya, ia memeluk Hazel dengan lembut. Terasa sekali bahwa Maya sangat menyayangi Hazel.


Maya melepaskan pelukannya dari Hazel. Ia kemudian berdiri menuju dapur membuat Hazel mengerutkan keningnya bingung. Tak lama kemudian Maya kembar dengan sebuah kotak makan di tangannya.

__ADS_1


"Mama tadi buat brownies. Tolong kasih sama Gentala ya sayang," ucap Maya sambil menyerahkan kotak makan itu ke arah Hazel.


Hazel berdiri dan mengambil kotak makan itu. Ia tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya pelan. Dengan semangat ia keluar dari rumahnya dan menuju rumah Gentala.


"GENTALA!" panggil Hazel keras.


Merasa tidak ada sahutan, Hazel kemudian membuka gerbang rumah Gentala. Ia memandang rumah besar yang tampak sepi itu. Di rumah sebesar ini hanya ada Gentala bersama pengasuh nya yang sejak kecil memang bersama Gentala.


Hazel mengetok pintu itu lalu tak lama seorang wanita paruh baya membuka pintu berwarna cokelat itu.


"Eh Non Hazel. Cari Den Gentala ya?" tanya Bi Surti.


Hazel tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan, "Iya Bi. Gentala nya ada kan?"


"Ada di kamarnya. Non masuk aja," ucap Bi Surti mempersilahkan Hazel untuk masuk.


Hazel kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah Gentala. Baru saja ia akan duduk di ruang tamu tiba-tiba Bi Surti menarik tangannya untuk menuju ke lantai dua.


"Loh Bi, kenapa?" tanya Hazel bingung.


"Non panggil sendiri aja. Non gak dengar ada suara orang bermain piano? Non tahu sendiri kan?" ujar Bi Surti yang masih menarik tangan Hazel.


Hazel tertegun sejenak. Suara piano itu pasti berasal dari ruangan musik yang ada di rumah ini. Hazel tahu yang memainkan nya pasti Gentala. Sejak kecil ketika Gentala merindukan Mamanya, ia pasti akan bermain piano sedangkan kalau ia merindukan Papanya, ia akan bermain gitar. Hazel sudah hapal kebiasaan Gentala yang satu itu.


Sesampainya di pintu ruangan alat musik itu, Bi Surti langsung melepaskan genggamannya dari tangan Hazel.


Hazel tersenyum lalu menganggukkan kepalanya pelan. Setelah kepergian Bi Surti, ia membuka pintu itu perlahan. Terlihat jelas Gentala sedang bermain piano. Nada yang Gentala mainkan membuat hati Hazel sedikit teriris. Nada itu terdengar memilukan.


Hazel perlahan beranjak masuk ke dalam. Ia duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Ia memandang Gentala sendu. Dari sini bisa Hazel lihat bahwa punggung tegap yang biasa Gentala tunjukkan kepada orang-orang sekarang terlihat rapuh.


Gentala berhenti bermain membuat Hazel mengerjapkan matanya pelan. Gentala langsung membalikkan tubuhnya menatap Hazel.


Hazel tersenyum, "Hebat! Lo udah bisa main piano ternyata."


Gentala menghembuskan nafasnya pelan, "Berkat lo. Thanks."


Ya berkat Hazel. Hazel sangat suka bermain piano. Waktu kecil ketika Hazel bermain piano, Gentala dengan antusias meminta Hazel untuk mengajarinya. Awalnya Hazel tidak mau, tapi setelah Gentala mengatakan bahwa Mamanya juga suka bermain piano maka Hazel langsung dengan senang hati mengajari Gentala.


"Oh iya ini nyokap buat brownies kesukaan lo," ucap Hazel sambil meletakkan kotak bekal berisi brownies ke atas meja.


Gentala mendekat dan duduk di sebelah Hazel, "Widih! Udah lama nih gak makan brownies buatan tante Maya. Bilangin makasih ya."


Hazel memutar bola matanya malas tetapi tetap menganggukkan kepalanya. Ia mengalihkan pandangan dari Gentala yang asik memakan brownies. Ia kemudian berdiri menuju piano yang baru saja Gentala mainkan.


"Mainin Zel. Gue udah lama gak dengerin lo main piano," ucap Gentala yang memang memperhatikan Hazel.

__ADS_1


Hazel menoleh ke arah Gentala sejenak. Di pikir-pikir memang Hazel sudah lama sekali tidak memainkan piano. Terakhir itu ketika kelas dua SMP dan sekarang ia sudah kelas dua SMA.


Hazel mulai duduk dengan jari-jari lentiknya menyentuh tuts piano itu. Perlahan Hazel menekan tuts piano dengan santai. Gentala terhenyak ketika mendengar nada yang dimainkan oleh Hazel.


Nada Lose you yang dimainkan Hazel persis seperti yang di mimpi Gentala kala itu. Beberapa bulan lalu Gentala pernah memimpikan yang entah Gentala sendiri tidak ingat tapi ia ingat persis bahwa di mimpinya itu ada seorang wanita bergaun putih sedang memainkan piano dengan nada Lose you.


"Lo kenapa?"


Gentala tersentak. Ia kemudian memandang Hazel yang juga memandangnya bingung. Hazel memang berhenti bermain piano.


"Gak papa," jawab Gentala berusaha santai.


Menurutnya mungkin ini hanya kebetulan saja. Ia kembali memakan brownies untuk menenangkan pikiran nya. Hazel mengerutkan keningnya bingung lalu mengangkat kedua bahunya acuh. Mereka berdua diam. Gentala sibuk dengan pikirannya sedang Hazel sibuk memperhatikan alat-alat musik yang ada di ruangan ini.


"Non Hazel!"


"Astaga!"


Uhuk uhuk.


Hazel terlonjak kaget ketika Bi Surti yang tiba-tiba datang tanpa permisi. Bagaimana tidak kaget kalau yang awalnya hening tiba-tiba ada yang berbicara dengan keras.


Gentala segera meminum air putih yang memang ada disini sejak tadi. Ia menghembuskan nafasnya ketika brownies itu berhasil melewati kerongkongan nya.


"Aduh maaf Non, Den, bibi gak sengaja," ucap Bi Surti merasa bersalah.


"Gak papa Bi," ucap Hazel sambil tersenyum.


Gentala masih diam sambil memegang lehernya. Lagi enak-enak nya makan malah di kagetin, kan tidak berperikemanusiaan namanya.


"Non tadi Mama Non telpon katanya ada temennya Non dateng ke rumah," jelas Bi Surti.


Hazel mengerutkan keningnya bingung, "Cewek Bi?"


"Gak Non, cowok. Katanya namanya Aksara," jawab Bi Surti.


Gentala spontan menoleh ketika mendengar nama Aksa, "Ngapain dia ke rumah lo?"


Hazel mengangkat kedua bahunya, "Mana gue tahu. Gue balik dulu deh kalo gitu."


"Gue ikut," ucap Gentala yang kemudian berdiri.


Hazel menoleh bingung, "Ngapain anjir?"


"Suka-suka gue lah!" ucap Gentala yang kemudian mendahului Hazel.

__ADS_1


"Dasar aneh!" umpat Hazel yang kemudian berjalan mengikuti Gentala.


__ADS_2