
..."Jangan terlalu ambil hati dengan ucapan seseorang, kadang manusia punya mulut tapi belum tentu punya otak."...
...***...
Akhirnya mereka sampai di rumah Maya. Hazel menatap rumah itu penuh rindu sehingga membuat Gentala menatapnya aneh.
"Lo kayak gak pernah ke sini lagi aja," ucap Gentala membuat Hazel mendelikkan matanya sinis.
"Ye gue emang kangen banget sama nih rumah apalagi sama kamar gue," ucap Hazel yang kemudian langsung menyelonong masuk ke dalam rumah meninggalkan Gentala.
Gentala hanya mendengus kesal lalu ia menjalankan motornya menuju rumahnya sendiri. Ia ingin memberitahukan Mamanya kalau Hazel sudah berada di rumah.
"ASSALAMUALAIKUM MAMA!" ucap Hazel sambil berteriak.
Tepat setelah Hazel mengucapkan salam, seorang wanita berlari tergopoh-gopoh menuju ke arahnya. Siapa lagi wanita itu kalau bukan Maya. Mamanya itu langsung berlari turun dari lantai dua untuk menemui putri.
"YA AMPUN ANAK MAMA BALIK?!" teriak Maya yang langsung memeluk Hazel erat.
Hazel tersenyum kecil lalu membalas pelukan Maya. Ia sangat merindukan Mamanya ini.
"Ya ampun Hazel, Mama kangen banget sama kamu sayang," ucap Maya sambil menciumi Hazel bertubi-tubi.
Hazel tersenyum karena sikap Maya. Walaupun tidak sedarah tapi hubungan mereka begitu erat.
"Hazel juga kangen banget sama Mama. Maaf ya karena Hazel baru bisa pulang hari ini," ucap Hazel.
Maya menganggukkan kepalanya tak masalah. Selagi Hazel baik-baik saja maka hatinya bisa sedikit tenang walaupun ia merasakan kesepian yang sangat luar biasa ketika Hazel pergi darinya.
"Kamu udah makan? Ayo kita makan dulu," ucap Maya yang diangguki oleh Hazel.
Mereka akhirnya berjalan menuju dapur dengan Hazel yang tidak melepaskan gandengannya dari Maya.
"HAZEL YUHUUUU! KAMU DIMANA SAYANG?!"
Teriakan seorang wanita menghentikan langkah mereka. Maya dan Hazel sontak menoleh ketika mendengar suara sandal jepit seseorang berlari. Terlihat seorang wanita seumuran dengan Maya berlari ke arah Hazel.
Hazel tersenyum sumringah, "TANTE ASHILLA?!"
Mereka berdua berpelukan layaknya Teletubbies yang sudah lama berpisah. Melihat itu Maya berdecih kecil. Tadi ketika ia berlari menghampiri Hazel, kenapa anaknya itu tidak merespon seperti ia merespon Ashilla. Ini tidak adil!
Sementara Gentala hanya menggelengkan kepalanya kecil. Tadi ketika ia memberitahu Ashilla bahwa Hazel sudah pulang, Mamanya itu langsung berlari keluar rumah dengan raut wajah senang. Sepertinya disini yang menjadi anak Ashilla itu Hazel bukan Gentala.
"Hazel kamu makin cantik aja, sayang!" ucap Ashilla mengagumi kecantikan Hazel.
__ADS_1
Hazel tersenyum bangga, "Oh iya dong, tante!"
Mereka berdua tertawa membuat Maya langsung berdehem pelan. Akhirnya tawa mereka berhenti dan langsung menatap Maya.
"Ayo Gentala kita makan aja," ucap Maya sengaja mengajak Gentala.
Gentala yang tahu maksud Maya itupun langsung menganggukkan kepalanya cepat. Mereka berdua pergi menuju dapur meninggalkan Hazel dan Ashilla yang bertatapan lalu tertawa kecil. Mereka akhirnya mengikuti Maya dan Gentala menuju dapur.
"Gue boleh makan disini kan, May?" tanya Ashilla.
Memang Maya dan Ashilla ini ibu-ibu gaul. Sudah berumur tapi tetap memanggil dengan panggilan Lo-Gue. Tapi ya sudahlah, itu urusan mereka.
Maya memang sengaja masak banyak karena tahu bahwa Hazel akan pulang dari Ashilla dan tentu saja ia juga tahu bahwa Ashilla pasti akan kerumahnya jika ada Hazel.
Mereka akhirnya menikmati makanan dari Maya. Sangat enak tapi tidak seenak Ashilla karena kalau soal masakan Ashilla itu jagonya. Dulu juga Ashilla lah yang mengajari Maya memasak.
"Oh iya Hazel, kamu nanti tidur di sini kan? Gak ke rumah saudara kamu lagi? Soalnya tante ada rencana mau ngajakin kalian barbeque-an," ucap Ashilla membuat Hazel bingung.
"Loh kok lo gak bilang sama gue dulu sih?" tanya Maya karena ia tahu posisi Hazel saat ini.
"Ya gue maunya bahas pas ada Hazel aja," jawab Ashilla.
"Boleh juga. Nanti Gentala siapin alatnya," ucap Gentala menyetujui ucapan Ashilla.
Maya mengerti ketakutan Hazel dan ia juga tidak akan membiarkan Hazel untuk berbohong kepada Kaivan. Kalau sampai Kaivan tahu Hazel berbohong, pasti Kaivan akan marah besar dengan Hazel.
"Hazel belum bisa pulang hari ini. Saudara gue masih mau Hazel nginep di rumahnya," ucap Maya mewakili Hazel.
"Dih siapa sih saudara lo? Egois amat. Emang kamu disana ada temannya, Zel?" tanya Ashilla menatap Hazel.
Hazel tersenyum kecil, "Ada Kanaya, tan. Anaknya tante Hazel."
"Masih kecil?" tanya Ashilla lagi.
Hazel menganggukkan kepalanya pelan. Ia melirik Gentala yang juga meliriknya.
"Gimana kalau malam besok aja?" usul Gentala karena ia tahu besok Hazel ada janji dengan Aksa. Siapa tahu Hazel mau membatalkan janjinya.
"Besok gue juga gak bisa. Udah ada janji sama temen," ucap Hazel membuat Ashilla mendesah kecewa.
"Yah, Zel. Padahal tante pengen banget barbeque bareng kalian," ucap Ashilla.
Hazel tersenyum tidak enak, "Maaf ya tante."
__ADS_1
Ashilla tersenyum maklum, "Gak papa. Lain kali juga bisa sih sebenernya. Soalnya tante juga tinggal disini terus bareng Gentala."
Hazel mengerutkan keningnya bingung, "Loh om Bram gimana, tan?"
"Biarin aja Om Bram. Tante mau nemenin Gentala aja biar gak keluyuran terus," ucap Ashilla membuat Hazel dan Maya terkekeh kecil.
Gentala mendengus kesal, "Gentala gak pernah keluyuran ya, Ma."
"Mang eak?" ejek Hazel membuat Gentala melotot matanya ke arah Hazel.
Hazel menjulurkan lidahnya mengejek Gentala. Tiba-tiba handphonenya berbunyi tanda notifikasi masuk.
Bodyguard abal-abal: Non, masih lama? Tuan udah nanyain.
Hazel menggeram kesal. Belum ada dua jam ia pergi tapi Kaivan sudah bertanya-tanya. Ini sebenarnya Kaivan memperdulikan nya atau menyiksanya?
"Kamu kenapa, Zel?" tanya Ashilla yang memperhatikan raut wajah Hazel yang berubah.
Hazel tersenyum sekilas, "Gak papa kok tante."
"Yaudah kamu ngobrol aja sama Gentala. Biar Mama sama tante Ashilla yang beresin ini," ucap Maya yang diangguki oleh Hazel dan Gentala.
Mereka berdua akhirnya pergi ke ruang tamu sambil membawa beberapa cemilan. Hazel menghidupkan televisi dan mencari kartun si kembar botak yang ia sukai.
"Eh lo gak ada tontonan lain apa selain dua botak ini?" tanya Gentala.
Hazel meletakkan remote TV nya di atas meja, lalu duduk di samping Gentala. "Ada drakor. Mau?"
Gentala membuang mukanya, "Ogah."
Hazel tertawa kecil. Memang Gentala ini sangat anti yang nama nya drakor apalagi yang romansa. Gentala itu sukanya yang thriller.
"Btw, lo besok jadi bareng Aksa?" tanya Gentala.
Hazel menganggukkan kepalanya, "Jadi. Kenapa?"
"Gak papa. Nanya doang."
Hazel mendelikkan matanya, "Nanti lo jangan antar gue ke rumah saudara gue ya."
Gentala sontak menoleh, "Kenapa?"
"Gak papa. Nanti adek gue takut lagi sama lo."
__ADS_1
Sialan!