HE'S DANGEROUS!

HE'S DANGEROUS!
Pasar malam (2)


__ADS_3

..."Berusaha menutupi kekurangan bukanlah kejahatan, tak apa mengupayakan segala cara selama itu tidak merugikan orang lain." – Lim Ju-Kyung...


...***...


Setelah merasa Arthur sudah tenang, mereka memutuskan untuk keliling pasar malam itu saja. Mata Hazel berbinar ketika menemukan penjual arum manis. Dari kecil memang Hazel sangat menyukai makanan manis itu.


"Eh bentar, gue mau beli itu!" ucap Hazel sambil berlari kecil ke arah penjual arum jeram itu.


"Guys naik bianglala yuk!" ajak Neisha lagi.


Memang sepertinya Neisha ini sangat aktif dalam wahana di pasar malam.


"Kalo ini sih gue mau," ucap Arthur.


"Ini duduknya berdua-berdua kan ya?" tanya Satria yang diangguki oleh Neisha.


"Iya. Gue sama Hazel," ujar Neisha.


"Hazel gak akan mau naik ini," sahut Gentala membuat mereka semua menoleh.


"Kenapa?" tanya mereka kompak.


Gentala mengangkat kedua bahunya, "Gue juga gak tahu. Kalian aja yang naik, gue disini nungguin Hazel."


Neisha menghela nafasnya lesu, "Yah, gak asik dong."


"Udah gak papa. Lo sama gue aja Nei," ucap Satria.


"Dih lo mah modus!" sahut Saga sambil menoyor kepala Satria.


"Yee kapan lagi kan Neisha duduk sama cowok tampan kek gue," ucap Satria narsis sambil menaik-turunkan alisnya.


Neisha memutar bola matanya malas, "Yaudah ayo. Keburu rame ntar."


Mereka akhirnya hanya naik berempat saja. Sementara Gentala duduk di salah satu bangku di dekat penjual arum manis. Ia memandang keempat temannya yang sangat heboh ketika di atas.


"WOI GENTALA!" teriak Saga heboh.


Refleks Arthur memukul Saga, "Diem anjir!"


Gentala tersenyum tipis. Tanpa sengaja matanya menatap dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan juga ingin naik bianglala dan didampingi oleh orang tua mereka.


Tanpa di undang, tiba-tiba ingatan beberapa tahun lalu masuk ke dalam pandangan Gentala.


"Hazel ayo naik bianglala ini," ajak Gentala kecil antusias


Hazel menggelengkan kepalanya lucu, "Gak mau. Hazel gak mau naik bianglala ini Gentala."


Gentala memiringkan kepalanya menatap Hazel, "Kenapa Hazel?"


Hazel kecil hanya menggelengkan kepalanya, "Hazel gak mau. Naik yang lain aja Gentala."


Meskipun Gentala sangat ingin naik bianglala ini, tapi ia tidak mau jika Hazel tidak ikut. Maka ia mengajak Hazel bermain di rumah balon.


"Gentala."


Gentala menoleh ketika Hazel memanggilnya. Di tangan gadis itu ada arum manis yang berwarna pink. Hazel duduk di sebelah Gentala sambil memperhatikan teman-temannya yang masih berada di dalam bianglala. Sepertinya mereka menambah putaran lagi.


"Lo kok gak ikut naik?" tanya Hazel sambil mengambil arum manis sedikit demi sedikit.


"Males gue gak ada pasangannya," ucap Gentala yang jelas hanya bercanda.

__ADS_1


Hazel memutar bola matanya malas. Ia melirik Gentala sekilas, "Mau gak?" tawarnya.


Gentala menoleh dan tersenyum menyebabkan, "Mau!" Tanpa basa basi Gentala langsung melahap arum manis itu.


Hazel berdecak kesal, "Ambil nya kek tangan aja kenapa sih?"


Gentala menggelengkan kepalanya, "Gak mau. Lengket."


Hazel memandang Gentala bombastic side eye. Laki-laki spesies apaan nih?


"WOI RUGI LO BERDUA KAGA NAIK!" heboh Satria yang baru turun dari bianglala.


"Suara lo bisa di kecilin ga sih nyet?" sahut Saga dari arah belakang.


Dari belakang Arthur langsung menonjok bahu Saga, "Lo kaga sadat diri ye? Tadi siapa yang teriak-teriak kek anak kecil baru naik bianglala?"


Saga cengengesan. Ia yang ingin merangkul Arthur langsung di tolak mentah-mentah oleh Arthur. Dengan cepat Arthur langsung berlari ke arah belakang Gentala seperti anak kecil yang meminta perlindungan kepada Ayah nya.


"Eh foto dulu yuk!" ajak Neisha.


"Ayo!" sahut Hazel semangat.


"Sini gue fotoin kalian berdua," ucap Gentala menawarkan diri untuk memfoto Hazel dan Neisha.


Hazel dan Neisha mengangguk kecil. Mereka berdua akhirnya mencari tempat yang bagus untuk foto. Dirasa pas, mereka mulai berpose untuk di foto.



Perlu di akui bahwa Gentala sangat hebat dalam mengambil gambar. Hazel dan Neisha tersenyum melihat hasil foto itu. Neisha mengambil handphone Hazel dari tangan Gentala.


"Sekarang biar gue fotoin kalian berdua," ucap Neisha kepada Hazel dan Gentala.


Hazel dan Gentala menganggukkan setuju. Mereka berdua bersiap-siap untuk di potret. Hazel duduk di pembatas wahana begitupun dengan Gentala yang hanya menyender disana menyesuaikan pose Hazel.



"Ayo biar gue foto lo berempat," ucap Hazel.


"Hayu gas!" ucap Arthur semangat 45. Memang si Arthur ini suka sekali berfoto.


"Gaya cool woi gaya cool!" ucap Arthur memberi instruksi.


Mereka mengikuti ucapan Arthur. Dengan kedua tangan di masukkan ke dalam kantong celana mereka memandang datar ke arah kamera.


Dingin euy.



*Anggap aja mereka ga pake masker ya guys;)*


"GUE GUE MAU FOTO BARENG AYANG NEISHA DONG!" ucap Satria sangat heboh.


Neisha memutar bola matanya malas. Lalu ia menggandeng tangan Hazel, "Bareng Hazel!"


Hazel membulatkan matanya, "Loh masa bareng gue?"


"Bareng Gentala juga!" jawab Neisha.


Satria memandang Neisha seolah-olah ia Neisha menyakiti nya, "Hati kecil gue terluka loh Nei."


"Bodo amat! Ayo kita foto!" ajak Neisha yang terus menarik tangan Hazel.

__ADS_1


"Gentala ayo!" lanjut Neisha sambil menatap Gentala


Gentala hanya menghembuskan nafasnya sabar, tapi tetap berjalan mendekati mereka. Satria yang melihat Gentala mendekat itupun mendengus kesal.


Ini Gentala sama Hazel gak ada kepekaan sama sekali apa ya?


"Ayo Thur fotoin kita," ucap Neisha semangat, malah sekarang Satria yang lesu. Niatnya kan ingin foto berdua dengan Neisha, kenapa sekarang malah berempat?


"Lain kali, gue bakal ajak cewek gue," ucap Arthur yang bersiap memotret mereka berempat.


Saga menoleh dengan tatapan tersakiti, "Jangan lah Thur. Masa ntar gue sendiri yang jomblo."


"Itu sih derita lo. Makanya cari pacar sana," ucap Arthur acuh.



"MANA, LIAT DONG!" heboh Neisha.


Senyum yang tadinya melebar sekarang lenyap diganti raut kesal, "Arthur lo niat gak sih fotoin kita?!"


Arthur mengerutkan keningnya bingung. Ia mendekat dan melihat hasil foto yang ia ambil, "Anjir! Bukan salah gue! Salah si Saga noh, ngajakin gue ngomong mulu!"


"Lah kok gue?!" tanya Saga tak terima.


Hazel tertawa melihat hasil foto itu, "Udah lah Nei. Yang penting kan udah di fotoin."


"Nah dengar tuh kata Hazel!" sahut Arthur.


Neisha mencebikkan bibirnya kesal. Rasanya Neisha ingin sekali mencabik-cabik mulut Arthur.


"Pulang gak? Udah malam juga," ucap Gentala.


"Ayo dah pulang aja," ucap Satria yang sepertinya sedang badmood lantaran gagal berfoto dengan Neisha.


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah setelah bermain wahana. Lagipula besok sekolah, jadi mereka tidak bisa pulang larut malam juga.


...***...


"Thanks udah nganterin," ucap Hazel sambil membungkukkan kepalanya seperti di kerajaan.


Dari dalam mobil, Gentala memutar bola matanya malas, "Sama-sama Nona," balasnya membuat Hazel tertawa.


Gentala mendongakkan kepalanya sedikit, "Di rumah lo lagi ada tamu?"


Hazel spontan menoleh ke belakang, "Tamu Mama mungkin."


"Jam segini?"


Iya juga ya. Jam segini, tamu mana yang datang kerumahnya. Ia kemudian mengedikan bahunya tanda tidak tahu.


"Temen Mama kali ya," ucap Hazel sedikit ragu.


Gentala mengangguk-anggukkan kepalanya, "Yaudah kalau gitu gue pulang dulu."


Hazel menganggukkan kepalanya. Ia kemudian membuka gerbang dan masuk ke dalam rumahnya. Ia memperhatikan mobil hitam di rumah nya. Ia tidak pernah melihat mobil ini datang ke rumahnya sebelumnya.


Hazel berjalan masuk ke dalam. Di ruang tamu ada Mamanya dan seorang laki-laki dan perempuan. Sepertinya mereka sepasang suami-istri.


"Assalamualaikum,"


Mereka semua menoleh, "Wassalamu'alaikum," jawab wanita yang bertamu ke rumahnya.

__ADS_1


Tubuh Hazel menegang ketika mereka menoleh. Ia melihat ke arah Maya yang menatapnya dengan pandangan sendu. Lalu beralih ke sepasang suami-istri yang dimana istrinya tersenyum tipis ke arahnya. Lalu pandangan Hazel jatuh kepada seorang pria yang memandang nya datar.


"Papa," lirih Hazel.


__ADS_2