
..."Jangan memaksa dirimu untuk sempurna, carilah tempat dimana kamu di terima bukan di hina."...
...***...
Hazel memegang tangan Maya erat seolah tidak ingin berpisah dari Maya. Kaivan terus melihat tautan tangan putrinya dan Maya. Bisa ia lihat bahwa Hazel begitu menyayangi Maya.
"Saya tidak mau berlama-lama disini. Jadi, seperti yang saya bilang kepada kamu tadi Maya bahwa saya akan membawa Hazel pulang bersama saya," ucap Kaivan membuat Hazel dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"Aku gak mau! Aku mau disini sama Mama!" tolak Hazel dengan cepat.
Maya mengusap lembut tangan Hazel. Ia kemudian memandang Kaivan, "Bisa kamu dengar kan kalau Hazel tidak mau? Jadi lebih baik kalian pulang kerumah kalian."
Kaivan membuang nafasnya berat. Ia berusaha menahan emosi yang sepertinya akan meledak. Melihat raut wajah suaminya, Talla segera memegang tangan Kaivan untuk menenangkannya. Maya yang melihat itu hanya berdecih di dalam hatinya.
"Ikut Papa pulang Hazel!" tegas Kaivan yang lagi-lagi mendapat gelengan oleh Hazel.
"Aku gak mau Pa! Aku mau tinggal disini sama Mama!" tolak Hazel lagi.
"Dimana urat malu kamu Hazel?! Kamu tinggal disini dan menjadi beban buat orang lain! Orang yang kamu sebut Mama ini bukan keluarga kita, tapi dia harus membiayai kamu sampai sebesar ini! Apa kata keluarga nya nanti?!" sarkas Kaivan membuat Hazel terdiam.
Maya memandang Kaivan dengan raut wajah marah, "Saya tidak keberatan sama sekali! Jangan mengotori pikiran putri saya dengan ucapan tidak berguna kamu itu Kaivan!"
Kaivan berdecak kesal lalu ia memandang Hazel yang terdiam, "Terserah kalau kamu tidak mau ikut saya. Tapi jangan harap kamu bisa tahu dimana Mama kandung kamu sekarang!"
Setelah mengatakan itu, Kaivan segera pergi dari sana. Talla yang melihat itu langsung berdiri, "Saya permisi. Hazel pikirkan lagi ucapan Papamu."
Tubuh Hazel menegang ketika Kaivan mengatakan soal Mamanya. Maya mengerutkan keningnya menelaah ucapan Kaivan. Ia kemudian memandang Hazel yang sepertinya bimbang.
Dengan lembut ia memegang bahu Hazel, "Sayang, semua keputusan ada di tangan kamu. Mama gak marah kalau kamu mau pulang sama Papamu. Mama tahu kalau kamu pasti merindukan Papa kamu kan?"
Air mata Hazel turun begitu saja. Ia langsung memeluk Maya dengan erat, "Maafin Hazel, Ma."
Maya tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca, "Jangan minta maaf. Mama beruntung karena di pertemukan oleh anak seperti kamu."
Hazel melepaskan pelukannya, "Ma..."
__ADS_1
Maya tersenyum lembut, "Kita bisa bertemu lagi, sayang."
Maya tahu bahwa Hazel memilih pulang bersama Kaivan karena Kaivan mengatakan soal Mama kandung Hazel. Maya tidak ada pilihan lain untuk membiarkan Hazel pulang bersama Kaivan karena itu pilihan Hazel sendiri.
Sementara Kaivan dan Talla masih berada di dalam mobil dan masih di perkarangan rumah Maya. Talla mengerutkan keningnya bingung ketika Kaivan tidak juga menjalankan mobilnya.
"Mas, kenapa gak jalan?" tanya Talla.
Kaivan menoleh ke arah Talla sebentar lalu kembali menatap ke arah depan, "Saya tahu pasti Hazel akan ikut kita."
"Tapi tadi di bilang gak mau ikut, Mas."
Kaivan melirik spion mobilnya dan tersenyum kecil, "Dia ikut kita Talla."
Talla menoleh ke arah belakang. Ternyata ada Hazel yang sudah memegang koper dan di sebelahnya ada Maya yang juga membantu Hazel. Kaivan turun dari mobil diikuti Talla.
Kaivan tersenyum, "Saya tahu kalau kamu pasti akan pulang ke rumah kamu yang sebenarnya Hazel."
Tidak ada senyum di wajah Hazel. Ia kemudian memandang Maya dengan sendu. Sebagai seorang ibu, ia harus bisa mengontrol ekspresi wajahnya agar Hazel tidak bertambah sedih.
Hazel menundukkan kepalanya lalu mengangguk. Ia sebenarnya berat meninggalkan Maya sendirian disini tapi ia juga ingin sekali bertemu dengan orang yang telah melahirkannya.
"Ma, Hazel pergi ya," pamit Hazel yang diangguki oleh Maya.
Maya mencium kening Hazel sebelum Hazel masuk ke dalam mobil. Hazel meninggalkan kopernya di luar membuat Talla inisiatif memasukkan koper itu kedalam bagasi mobil.
Kaivan tersenyum dan memandang Maya, "Terima kasih karena kamu telah merawat putri saya selama ini Maya. Meski saya sedikit jengkel karena kamu menyembunyikannya dari saya."
Maya hanya memandang Kaivan datar, "Saya tidak tahu apa rencana kamu sehingga kamu membawa Hazel kembali bersama monster seperti kamu, tapi jika saya mendengar Hazel terluka karena kamu, maka saya tidak akan segan-segan membawa Hazel kembali bersama saya."
Kaivan mengangguk-anggukkan kepalanya paham, "Saya tahu. Terima kasih juga karena telah menyayangi Hazel. Tapi, saya juga tidak akan membiarkan Hazel lepas dari tangan saya lagi. Tidak akan pernah Maya!"
Maya menahan emosi nya yang sudah di ujung tanduk. Kaivan masuk kedalam mobilnya yang diikuti Talla. Mobil Kaivan mulai pergi dari perkarangan rumah Maya. Seketika suasana di sekitar Maya menjadi lenyap. Sekarang ia hanya tinggal sendiri. Tidak ada lagi Hazel yang susah di atur. Tidak ada lagi suara teriakan Maya untuk membangunkan Hazel, dan tidak akan ada lagi suasana ramai dari Hazel dan Gentala.
Ah, mengingat Gentala, Maya menjadi bingung harus mengatakan apa kepada sahabat putrinya itu.
__ADS_1
...***...
Mobil Kaivan telah sampai di rumahnya. Hazel memandang rumah yang pernah ia tempati dulu. Rumah yang awalnya damai seketika diterjang badai membuat Hazel kecil seperti hidup di neraka.
"Selamat datang kembali di rumah Kalangga, Hazel."
Ya Kalangga. Marga yang tidak pernah Hazel letakkan di ujung namanya. Hazel Vellyncia Xavellyn Kalangga adalah nama asli Hazel. Tapi ia tidak mau memberitahu kan marga yang hampir setiap orang ketahui. Ia tidak ingin orang-orang yang tahu bahwa ia adalah putri dari Kaivan Xavier Kalangga.
"Ayo turun dan temui kamar kamu yang sudah lama kamu tinggalkan," ucap Kaivan.
Talla sejak tadi hanya diam karena ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk beradaptasi dengan Hazel.
Tanpa mengucapkan apapun, Hazel segera turun dari mobil dan berjalan ke arah bagasi mobil. Dengan mandiri nya ia mengeluarkan koper nya dan langsung masuk ke dalam rumah mewah itu.
Para pekerja disana menatap Hazel bingung. Siapa gadis ini? Pikir mereka.
Hazel berhenti ketika semua pekerja yang kurang lebih, ada 3 orang menatap nya bingung.
"Dia Hazel. Putri saya yang selama ini hilang," jelas Kaivan dari arah belakang Hazel.
Hazel berdecih dalam hati. Hilang? Ia tidak hilang melainkan menyembunyikan diri dari Kaivan. Semua para pekerja Kaivan langsung membungkukkan diri membuat Hazel tersenyum miring.
Tidak mau berlama-lama disini, Hazel segera berjalan ke lantai dua. Meskipun sudah bertahun-tahun tidak tinggal disini, ia masih ingat dimana letak kamarnya.
"Biarkan dia istirahat dulu ya, Mas," ucap Talla.
Kaivan menganggukkan kepalanya pelan. Ia juga tidak ingin menambah suasana buruk di hati Hazel. Ia kemudian memandang pengasuh Kanaya, "Kanaya sudah tidur?"
Pengasuh Kanaya membungkukkan badannya lalu menganggukkan kepalanya, "Sudah Tuan."
Kaivan menganggukkan kepalanya, "Ayo kita istirahat juga," ajaknya kepada Talla yang diangguki oleh Talla.
Sementara Hazel berdiri di depan kamarnya. Di pintu itu ada tulisan "Milik Hazel" yang sejak dulu memang ada. Ia sendiri yang meminta Kaivan memberikan nama itu di pintu kamarnya.
Ia membuka pintu kamar itu. Ia sedikit tertegun karena kamarnya tidak berubah sedikit pun. Bahkan letak-letak boneka, dan spring bed nya juga tidak berbeda. Masih berwarna cream. Hazel itu pencinta warna cream.
__ADS_1
Kamarnya juga sangat bersih dan harum. Sepertinya kamar ini di bersihkan setiap hari oleh para pekerja. Kenapa mereka membersihkan ruangan tak berpenghuni? Apa itu inisiatif mereka sendiri atau suruhan Kaivan atau Talla? Entahlah Hazel tidak bisa berpikir positif jika disini.