HE'S DANGEROUS!

HE'S DANGEROUS!
Mama, Papa, Kanaya dan Hazel


__ADS_3

..."Gapapa. Hadapi aja dengan tekanan batin. Jangan tersenyum karena akan terlihat seperti joker."...


...***...


Seorang anak perempuan berkuncir kuda menundukkan kepalanya lesu. Buku gambar yang ada di hadapannya terus di perhatikan. Sebuah gambar anak SD yang pasti selalu menggambar keluarga nya. Ada Mama, Papa dan... kakak.


"Sayang, jangan ngelamun," tegur seorang wanita dengan nada halus.


Anak perempuan itu menatap sang Mama yang sedang tersenyum manis ke arahnya. Wanita itu menatap gambar yang dibuat oleh putrinya.


"Kok gambarnya ada empat orang?" tanya sang Mama dengan lembut.


Anak perempuan itu kemudian mengalihkan pandangannya menatap gambar yang baru ia buat, "Itu ada Mama, Papa, Kanaya sama Kak Hazel."


Kak Hazel...


Hazel...


"Ma, Kanaya pengen ketemu sama Kak Hazel," ucap Kanaya sambil menundukkan kepalanya sedih.


Wanita itu tersenyum lalu memegang pundak Kanaya dengan lembut, "Kok bisa Kanaya kangen Kak Hazel? Kan Kanaya gak pernah ketemu sama Kak Hazel."


Kanaya menggelengkan kepalanya kecil, "Kanaya sering mimpi sama Kak Hazel. Dalam mimpi Naya, Kak Hazel kecil selalu ngajak main Naya."


Wanita itu terdiam. Bagaimana bisa putrinya memimpikan Hazel kecil?


"Naya suka tidur karena setiap Naya tidur, Naya selalu di temenin sama Kak Hazel. Jadi Kanaya gak pernah kesepian," lanjut Kanaya.


Wanita itu tersenyum lembut, "Tapi kak Hazel gak ada sayang."


Kanaya mendongak menatap Mamanya. Ia tersenyum lebar hingga menampakkan gigi kecilnya, "Ada Ma. Kanaya tahu dimana kak Hazel!" seru Kanaya senang.


"Dimana kak Hazel?"


Kanaya dan Mamanya sontak menoleh ketika suara pria masuk ke dalam percakapan mereka. Wanita itu tertegun sejenak lalu tersenyum tipis. Ia berdiri untuk menyambut suaminya.


"Kok tumben pulangnya cepat Mas?" tanya wanita itu sambil mengambil jas dari tangan suaminya.


Pria itu tersenyum, "Kebetulan lagi gak ada yang harus aku selesaikan di kantor. Makanya aku pulang."


Kanaya tersenyum senang lalu berdiri dari duduknya. Ia berlari ke arah sang Papa dan langsung di sambut oleh Papanya.


"Papa ada donat gak?" tanya Kanaya dalam gendongan Papanya.


Pria itu tertawa kecil sambil mengusap rambut putrinya, "Ada dong. Papa udah beli satu box, khusus untuk putri Papa yang cantik ini."


"KANAYA MAU!" seru Kanaya berteriak senang.


"Boleh, tapi jawab dulu pertanyaan Papa. Kamu tahu dimana kak Hazel?" tanya sang Papa.


Kanaya menganggukkan kepalanya cepat, "Kak Zayyan yang bantu Kanaya cari Kak Hazel! Kanaya juga udah kirim surat sama Kak Hazel."


"Oh ya? Dimana kak Hazel?" tanya pria itu.


Mama Kanaya hanya diam sambil menggenggam erat jas di tangannya. Ia berharap semoga Kanaya salah orang. Tapi jika di bantu oleh Zayyan, sepertinya tidak mungkin salah orang kan?


"Kak Hazel sekolah di King High School."


Mama Kanaya membuang nafasnya. Ia berdoa semoga Kaivan—suaminya tidak menemukan Hazel.


Kaivan tersenyum lalu menurunkan putrinya, "Yaudah sekarang ayo makan donat kamu."


Kanaya menganggukkan kepalanya cepat. Ia kemudian masuk ke dalam rumahnya dengan langkah riang.


Kaivan berjalan ke arah gazebo yang di duduki oleh Kanaya dan Talla—istrinya tadi. Ia memandang gambar yang di buat oleh Kanaya lalu menatap Talla.

__ADS_1


"Kamu tahu Talla? Aku sangat merindukan putri kecil ku dulu," ucap Kaivan sambil memandangi gambar buatan Kanaya.


Ia terkekeh kecil, "Aku gak tahu bagaimana cara Maya menyembunyikan Hazel dariku. Tapi takdir tetap berpihak pada Ayahnya bukan?"


Talla menghembuskan nafasnya berat, "Mas, biarkan Hazel bersama Mbak Maya."


Kaivan mengerutkan keningnya, "Kenapa aku harus membiarkan Hazel bersama Maya? Hazel adalah putriku Talla."


"Tapi Hazel tidak mau bertemu dengan kamu Mas!" ucap Talla berani.


Kaivan terdiam. Ia terkekeh getir setelah mendengar ucapan Talla, "Aku papanya."


"Itu hanya status. Mana ada seorang Ayah yang mau menyakiti anaknya sendiri," sarkas Talla.


"Percuma aku jelaskan, kamu tidak akan mengerti Talla. Intinya setelah ini Hazel tidak boleh lepas dari pandanganku!"


Setelah mengatakan itu, Kaivan pergi meninggalkan Talla yang tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya. Semua ini terasa aneh dan mendadak.


...***...


"Eh Zel nanti malam ke pasar malam kuy!" ajak Neisha.


Saat ini kelas XII IPA 2 sedang jam kosong tapi mereka tetap di beri tugas. Tapi murid mana yang akan mengerjakan? Oh jelas murid teladan.


Hazel yang bercermin di dekat jendela itupun menoleh ke arah Neisha, "Ayo aja gue mah. Tapi besok sekolah."


"Ya gue juga tahu kali kalo besok sekolah, jadi kita pulangnya jangan terlalu malam," ucap Neisha.


"O-oh atau gak kita perginya malam minggu aja gimana? Tapi rame banget sih pasti, tapi gak papa juga gak sih? Biar puas aja gitu?" lanjut Neisha.


"Malam minggu gue gak bisa Nei. Mau pergi gue sama Aksa," ucap Hazel.


Neisha membulatkan matanya. Dengan heboh ia pergi mendekati Hazel, "Lo mau pergi sama Aksa? Kok bisa? Kok lo mau?"


"Ya gak papa. Lagian gue juga udah lama gak ke pesta ulang tahun," jawab Hazel membuat Neisha mengangguk-anggukkan kepalanya paham.


"Kalau Alora tahu, gue yakin dia pasti cari masalah lagi sama lo," ucap Neisha.


"Biarin aja. Lagian sejak kapan Alora bisa gak cari masalah?"


Neisha tertawa, "Iya juga sih."


"Yaudah ntar malam biar gue aja yang jemput lo," ucap Hazel yang di angguki oleh Neisha.


"EH KITA IKUT DONG!" teriak Satria dari belakang sana.


Hazel dan Neisha kompak menoleh ke arah Satria yang mulai berjalan ke arah mereka.


"Ikut kemana?" tanya Hazel.


"Pasar malam lah. KITA IKUT KAN BRO?" tanya Satria sambil menatap ketiga sahabatnya.


Gentala, Arthur dan Saga mengacungkan jempol tangannya tanda setuju dengan ajakan Satria.


Hazel dan Neisha saling pandang. Boleh juga mereka ikut, biar ramai juga kan?


"Yaudah ntar malam naik mobilnya Gentala aja. YA GAK GEN?" tanya Satria yang di angguki oleh Gentala.


Tatapan Hazel bertemu dengan Gentala, "APA LO LIHAT-LIHAT?!" sentak Hazel.


Gentala tersentak kaget. Lah, orang Hazel duluan yang natap Gentala kenapa malah dia yang marah?


"Gentala."


"Hazel."

__ADS_1


Seisi kelas kompak menoleh kearah pintu yang dimana terdapat Kinar dan Aksa berdiri di sana. Karena kompak memanggil nama yang berbeda, Aksa dan Kinar bertatapan. Tapi tak lama karena Aksa langsung memutuskan kontak mata dengan Kinar.


Hazel berjalan mendekati Aksa, begitu juga dengan Gentala yang berjalan mendekati Kinar. Hazel menatap Kinar sejenak begitupun dengan Kinar.


Hazel tersenyum tipis, "Udah sehat lo?" tanya Hazel.


Kinar tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan, "Iya Zel."


"Kenapa ke sini?" tanya Gentala lembut.


Mendengar nada lembut dari mulut Gentala membuat Hazel seperti ingin muntah. Memang ya kalau dengan cewek cantik aja, Gentala itu lembut nya melebihi kain kafan.


Kinar tersenyum menatap Gentala. Ia kemudian menyerahkan tote bag kepada Gentala, "Aku ada buat makanan untuk kamu. Ini sebagai ucapan terimakasih aku karena kamu udah nolongin aku."


Gentala tersenyum tipis lalu pandangan beralih ke Hazel dan Aksa yang memperhatikan mereka berdua. Gentala mengambil tote bag dari tangan Kinar.


"Kalau mau ngobrol ya ngobrol aja," ucap Gentala yang kemudian menarik tangan Kinar menjauhi kelas.


"Loh mau kemana Gen?" tanya Kinar bingung.


"Taman aja."


Hazel menatap aneh mereka berdua, "Dih."


Aksa menundukkan kepalanya menatap Hazel yang hanya setinggi dagunya. Ia kemudian menyerahkan tote bag juga kepada Hazel.


Hazel menatap tote bag itu dengan bingung, "Lo buatin gue makanan juga? Sebagai ucapan terimakasih karena gue udah mau terima ajakan lo?" tanya Hazel mengingat ucapan Kinar tadi.


Aksa tertawa, "Gabut banget gue buatin lo makanan. Ini dress buat ke birthday party nanti."


Menyebalkan.


Hazel menerima tote bag itu, "Dress nya emang udah di sediain ya?"


Aksa menggelengkan kepalanya, "Bukan. Itu dari gue buat lo."


Hazel menaikkan sebelah alisnya, "Yaudah thanks."


Aksa menganggukkan kepalanya, "Yaudah gue balik ke kelas dulu," ucapnya yang diangguki oleh Hazel.


"DUE ENAKNYA KALAU PASANGAN NGAPEL SAMBIL BAWA BINGKISAN!" sindir Saga membuat Hazel menoleh.


"Gigi lo bingkisan!" ucap Hazel membuat Saga spontan memegang mulutnya.


Neisha berjalan mendekat ke arah Hazel, "Apaan tuh Zel?"


"Dress buat acara nanti," jawab Hazel sambil meletakkan tote bag ke atas meja. Neisha ber-ohria tanda paham.


"Eh Zel, Gentala kemana?" tanya Arthur.


"Ke taman dia," jawab Hazel.


"Wah ngapain tuh Gentala ke taman berdua sama Kinar?" seru Satria.


Saga memegang dagunya seolah sedang berpikir, "Hm ngapain ya..."


"Jangan-jangan.." sambung Arthur. Tak lama mereka bertiga tertawa membuat Hazel dan Neisha mengerutkan kening bingung.


"Gini nih kalau otak udah terkontaminasi sama kotoran-kotoran di pinggir jalan. Mereka berdua cuma mau makan aja," sahut Hazel.


"Loh baru aja kita mau ngomong gitu. Ya gak bro?" ledek Saga membuat Hazel melempar laki-laki itu dengan sapu tangan miliknya.


"Anjir!" kaget Saga ketika sapu tangan itu tepat mengenai wajah tampannya.


"Mampus lo!" ledek Hazel balik.

__ADS_1


"Eh Zel, ntar lo latihan dance kan?" tanya Neisha.


Hazel menganggukkan kepalanya. Ah ia harus pulang sendiri kalau begini.


__ADS_2