HE'S DANGEROUS!

HE'S DANGEROUS!
Besok malam, ya?


__ADS_3

..."Jika kalian direndahkan dan diremehkan, jangan dibalas. Mungkin mereka lupa, bahwa Tuhan mampu merubah segalanya."...


...***...


"Eh, Zel. Lain kali kalau kita ajak pergi, lo ikut ye. Kasian ayang beb gue diem mulu kemaren itu," ucap Satria yang mendekat ke arah meja Hazel dan Neisha.


"Apaan sih?!" kesal Neisha sambil menukik alisnya tajam.


Hazel menatap Neisha, "Loh kenapa? Biasanya lo fine-fine aja kalau masih ada ceweknya. Kan kemaren ada Kinar."


Neisha meringis kecil, "Ya emang sih ada Kinar tapi di kalem amat, Zel. Gue jadi kaga nyaman karena ga sefrekuensi sama dia."


"Sefrekuensi ataupun kaga, lo harus tetap bisa ngehargai orang lain. Gue ajak dia kemarin karena lo biar ada temennya. Eh malah sikap lo kayak gak respect sama dia. Kinar kalau di ajak ngobrol juga asik-asik aja. Dia gak sekaku itu, Nei." Tiba-tiba saja Gentala datang dan masuk ke dalam obrolan mereka. Bukan apa, Gentala hanya merasa tidak enak hati saja dengan Kinar.


Neisha hanya diam apalagi Hazel yang tidak tahu apa-apa, jelas ia merasa bingung. Apalagi melihat Gentala yang menasehati Neisha sehingga membuat Neisha terdiam.


"Udahlah itu juga udah lewat kan. Ngapain di bahas lagi?" ucap Hazel dengan niat untuk menjadi penengah.


"Iya tapi gue bilang gini biar jadi pelajaran aja buat Neisha. Gue cuma kaga enak sama Kinar karena di jutekin sama Neisha," ucap Gentala lagi.


"Kok lo jadi nyudutin gue gitu sih, Gen?" tanya Neisha yang mulai risih dan agak kesal karena Gentala menyudutkan nya begitu saja.


"Gen, udah jangan di ledenin lagi," ucap Satria membisikan Gentala.


Gentala menghembuskan nafasnya pelan lalu berlalu keluar begitu saja.


"Gentala cuma nasehatin lo, Nei. Jadi, jangan terlalu tersinggung ya," ucap Satria yang kemudian menyusul Gentala.


Jika kalian tanya dimana Arthur dan Saga, maka jawabannya mereka ada di kantin karena ini adalah jam istirahat.


Hazel mengelus punggung Neisha untuk menenangkan sahabat nya itu. Ia tidak berada di pihak siapapun karena ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seandainya ia ikut kemarin, mungkin saja ini tidak akan terjadi bukan?


"Udah tenang belum? Ke kantin, kuy! Gue laper nih," ucap Hazel sambil mengelus perut datarnya.


Neisha tertawa, "Ya udah ayo!"


Hazel tersenyum kecil. Ia memang sengaja tidak bertanya apa yang terjadi kemarin karena takut merusak suasana hati Neisha kembali. Jadi lebih baik ia diam sampai Neisha sendiri yang akan cerita.

__ADS_1


Mereka berdua akhirnya berjalan menuju kantin. Ada banyak adik kelas yang menyapa mereka ramah. Uhh, enak banget ya jadi primadona sekolah hehe.


Sesampainya di kantin mereka segera mencari tempat duduk yang agak sedikit berjarak dari tempat duduk Gentala dan para sahabat laki-laki itu.


"Eh Hazel sama Neisha tuh!" ucap Arthur sambil menunjuk ke Hazel dan Neisha.


Arthur dan Saga sudah tahu apa yang terjadi di kelas tadi akibat mulut ember dari Satria. Bahkan Gentala rasanya ingin sekali melakban mulut laki-laki itu.


"Biarin aja. Kalau di panggil ntar Neisha sama Gentala ribut lagi," ucap Satria.


Gentala memutar bola matanya malas. Siapa yang ribut coba? Ia menasehati Neisha karena memang gadis itu bersalah dan ternyata Neisha menganggap kalau ia memojokkannya.


"Siapa juga yang mau manggil," jawab Arthur.


"Loh ngapain tuh si Aksa datang ke meja Hazel," ucap Saga.


Sontak mereka bertiga menatap Hazel dan Aksa yang sedang duduk berdua di meja. Sementara Neisha pergi memesan makanan. Gentala memperhatikan mereka dengan seksama.


"Bisa-bisanya Hazel masih mau sama Aksa yang pernah PHP-in dia," ucap Arthur.


"Bukan Aksa yang nge PHP-in Hazel anjir. Noh, si Hazel yang gak kasih Aksa kepastian," sahut Saga membenarkan.


"Btw soal Alora, dia gak gangguin Kinar lagi kan, Gen?" tanya Satria membuat Gentala menoleh.


"Sejauh ini sih, gue belum dengar kalau Alora ganggu Kinar," jawab Gentala yang kemudian kembali menatap Hazel dan Aksa.


"Wih tumben yak," ucap Satria bingung.


"Ya bagus lah. Mungkin dia udah dapet hidayah," sahut Saga membuat mereka tertawa tapi tidak dengan Gentala. Mata Gentala terus menatap Hazel dan Aksa yang sangat asik mengobrol.


Sementara itu...


"Zel, besok malam gue jemput jam tujuh ya," ucap Aksa membuat Hazel mengerutkan keningnya bingung.


"Besok malam? Kemana?" tanya Hazel bingung.


"Loh kan besok acara ulang tahun temen gue. Lo jadi kan nemenin gue?" tanya Aksa.

__ADS_1


Hazel tersentak kaget. Bagaimana ia bisa lupa kalau ada janji dengan Aksa. Sekarang ia bingung harus bagaimana. Mau bilang tidak jadi tapi tidak enak karena udah janji, mau bilang jadi juga pasti Kaivan tidak mengizinkan.


Gue harus jawab apa anjir. Batin Hazel benar-benar bingung.


"Zel," panggil Aksa ketika Hazel tidak menjawab ucapannya.


"Jadi kok jadi," jawab Hazel cepat.


Tidak mungkin ia ingkar janji bukan? Kalau ingkar ia takut di tagih nya di akhirat kan bahaya.


Aksa tersenyum lalu mengacak-acak rambut Hazel lembut. Hazel terdiam kaku. Seketika bulu kuduknya merinding ketika merasakan ada sepasang mata tajam yang memperhatikan nya.


Duh kok bulu kuduk gue merinding gini ya? Setan mana coba yang natap gue sampai empedu gue bergetar? Batin Hazel sambil tersenyum kaku ke arah Aksa.


Hazel salah. Bukan sepasang mata melainkan dua pasang mata yang memperhatikan mereka dengan tajam. Di sisi kiri Hazel ada Gentala yang menatap tajam Aksa saat mengacak-acak rambut Hazel sementara di sisi kanan Hazel ada nenek lampir alias Alora yang menatap Hazel tajam.


...***...


"Lo pulang bareng gue kan, Zel?" tanya Gentala ketika mereka berjalan beriringan menuju gerbang.


Hazel menganggukkan kepalanya pelan, "Gue tunggu di depan gerbang aja ya, Gen."


Gentala menganggukkan kepalanya lalu ia berjalan ke arah parkiran motor. Sementara Hazel langsung mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Dimas.


Hazel Vellyncia Xavellyn: Jangan jemput gue soalnya gue mau kerja kelompok dulu. Ntar kalo udah selesai gue kabarin.


Setelah Hazel mengirim pesan itu, Dimas langsung mengetikkan balasan.


"Buset gercep amat balasnya," gumam Hazel.


Bodyguard abal-abal: Non tidak bohong kan?


Hazel Vellyncia Xavellyn: Kaga elah! Ntar gue kirim alamat nya. Jangan ganggu gue kerkom ye!


Bodyguard abal-abal: Baik, Non.


"Zel ayo!"

__ADS_1


Hazel mendongak menatap Gentala yang sudah berada di hadapannya. Ia kemudian masukkan handphone nya ke dalam tas dan naik ke atas motor Gentala.


__ADS_2