
Setelah Putri tanda tangan,Kepala HRD langsung pamit keluar ruangan meninggalkan Putri dan bosnya berdua.
"Mulai hari ini ruangan kamu pindah menjadi didepan pintu masuk ruangan ku. karena kamu sebagai sekretaris, jadi kamu harus tau semua kegiatanku. terutama saat ada resepsionis yang menelfon bahwa Sisilia datang, kamu harus langsung masuk ke ruangan ku. " sambil berjalan menghampiri Putri dan memutar kursi Putri hingga wajah mereka saling tatap. "ingat, tadi malam kamu sudah janji kalau mulai sekarang kamu jadi kekasihku." kata Elvano.
"tapi bagaimana aku harus akting pak?" kata Putri pura-pura bingung. padahal dia begitu kangen dengan suaminya itu. kangen bermesraan.
"aku contohin. begini cara kamu akting. cup..." Elvano mengecup sekilas bibir Putri. Putri kaget namun dia harus menguasai diri agar tak terbawa suasana.
"kamu harus akting manja didepannya. agar dia percaya kalau kamu memang kekasihku." katanya sambil berdiri kembali. "percuma kalau aku yang akting doang, tapi kamu gak. pasti dia akan curiga." lanjut Elvano.
"baik pak. kalau begitu saya akan mulai kerja sekarang. permisi." kata Putri pamit.
Ini baru permulaan Sisilia. dulu kamu mau merebut suamiku, sekarang aku akan balik merebut suamiku. akan aku dapatkan kembali. permainan baru saja dimulai. batin Putri.
Beberapa menit sebelum makan siang.
__ADS_1
Kriiiiiiiinnngggg....
"halo, ada apa mbak Tiwi?" kata Putri kepada resepsionis.
"bu, ada mbak Sisil datang. tolong sampaikan kepada pak bos."
"ohh ya. oke"
Putri langsung masuk keruangan Elvano setelah dikira-kira Sisilia segera sampai. benar saja saat dia masuk dan menutup pintu ruangan, sekelebat dia melihat bayangan Sisilia. Elvano awalnya bingung saat tiba-tiba Putri masuk dan langsung duduk di pangkuannya dan memeluk seraya berbisik.
"maaf Pak, saya harus kurang ajar, didepan sudah ada non Sisilia, gak ada waktu buat berpikir mau akting bagaimana." kata Putri dibuat - buat seolah dia merasa terpaksa. padahal dalam hati dia begitu menikmati suasana seperti ini dengan suaminya.
"APA-APAAN INI!" teriak Sisilia.
"kamu yang apaan. punya sopan santun gak masuk ruangan orang lain tanpa ketuk pintu dulu." kata Putri. "lagi pula dia siapa sih yang kok bisa dapat akses keluar masuk di ruangan kamu?" kata Putri bersikap manja yang membuat hati Elvano berbunga seperti merasakan istrinya hadir kembali.
__ADS_1
"dia bukan siapa-siapa kok sayang." katanya sambil mengecup singkat bibir Putri yang kini masih duduk di pangkuannya.
Muka Sisilia sudah merah panas menahan amarah.
"kakak apa-apaan sih kenapa kakak mesra - mesraan sama dia? kita kan mau menikah kak." kata Sisilia.
"apa telinga kamu rusak? kemarin malam kan aku sudah ngomong kalau aku gak akan pernah mau menikah dengan siapapun. dan kalaupun aku akan menikah, itu bukan denganmu tapi dengan dia. Putri, kekasihku. calon ibu dari anak-anakku kelak. jadi ya wajar aja kalau aku bertingkah mesra dengannya. jadi buat kamu, pergi aja. urus perusahaanmu jangan sering kesini. aku sudah punya pasangan." kata Elvano dengan semakin mengeratkan pelukannya pada pinggang Putri.
"kamu sudah dengar kan? jadi silahkan tutup pintu itu dari luar." kata Putri.
"huh.awas aja ya kamu." kata Sisilia mengancam.
Namun Putri tak mempan ancamannya. dia justru tersenyum lebar. setelah melihat Sisilia keluar, Putri hendak bangkit dari duduknya. namun tangan Elvano menahannya.
"ada apa pak? aktingnya sudah selesai, saya mau lanjut kerja. dan juga saya belum makan siang." kata Putri mencoba berakting yang sebenarnya. karena saat berada didepan Sisilia tadi dia bukan berakting, justru saat bersama Elvano inilah dia baru berakting.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Elvano malah mencium bibir Putri. Dia mel*m*t bibir itu dengan penuh cinta. tangannya mulai menelusup dibalik kemeja Putri. Putri pura-pura berontak. namun sebenarnya dia menikmatinya. dia begitu merindukan suaminya itu.
"emmm... Pak maaf, ini sudah kelewatan." kilah Putri. Elvano segera menghentikan kegiatan itu. namun dia merasakan ada yang hilang saat pagutan bibir yang bertaut itu lepas seperti jiwa Elvano yang ikut lepas.