Hinaan Tetangga Julid

Hinaan Tetangga Julid
perkelahian kedua


__ADS_3

Saat hendak mencuci peralatan bekas memasak, ku dengar ada suara orang marah-marah di luar rumah ku.


"Lain kali gak boleh gitu ya, harus izin dulu kalau mau jual mangga ini"


Lalu aku pergi keluar dan ku lihat si inang sedang ngomel-ngomel di jalan depan rumah ku.


Dengan wajah datar ku hampiri "ada apa inang? Kenapa marah-marah?"


"Aku bukan marah, aku cuma mau mendamaikan kalian, kan kalian sama-sama ngontrak dengan mama si Ertos gak baik bermusuhan" ucap nya


"Emang siapa yang berantem sih?" Ucap ku sambil mengernyitkan dahi, aku sungguh bingung dengan perkataan nya barusan, karna aku merasa aku tidak ada memulai permusuhan dan aku tidak pernah menganggap mama si Ertos musuh ku.


Apa hanya karna mangga lalu mama si Ertos memusuhi ku? Monolog ku dalam hati.


"Kalian kan ngontrak di sini, ya kalau mau ngelakuin sesuatu izin dulu lah, jangan asal main jual aja" ucap nya seolah-olah aku anak kecil yang saat melakukan sesuatu tanpa berpikir dulu.


Ku tarik bibir ku membentuk senyuman "pertama, aku juga gak ada niat mau jual mangga ini aku hanya kasihan sama bapak yang tadi. Ke dua aku juga sudah minta izin KE PEMILIK KONTRAKAN" Ucap ku sambil sedikit menekan kalimat ku "lalu ke tiga, pintu rumah ku terbuka lebar loh inang. Apa sih salah nya masuk ke rumah? Tanya baik-baik bukan malah marah-marah gak jelas" ucap ku sambil menunjuk pintu rumah ku dan menatap mata nya.


Ku lihat dia terdiam, ku lirik juga mama si Ertos diam sambil terus menjemur pakaian seperti anjing yang hanya berani menggonggong di kandang nya.


Ku ambil ponsel ku lalu ku tunjukkan bukti chatting ku dengan pemilik kontrakan "kalau gak percaya ini bukti aku udah minta izin" ku sodor kan hp ku ke depan wajah si inang sambil ku baca dengan lantang isi percakapan ku dengan pemilik kontrakan.


Aku menyeringai melihat muka pucat si inang. Emang enak, sok tau sih kalian. Ucap ku dalam hati.


Aku menunjukkan bukti chat ku dengan pemilik rumah sambil membaca chat tersebut di depan si inang, ku lirik wajah nya sudah pucat.


"Kalian kan disini sama-sama ngontrak, sebelum jual mangga ini konfirmasi dulu lah sama mama si Ertos, yaa kalau mau jual bagi dua karna kan kalian sama-sama menempati kontrakan ini" ucap nya lagi.


Emosi ku yang sudah di ubun-ubun sudah tak dapat ku bendung lagi "EH TAK PENTING BUAT KU BERKONFIRMASI DENGAN DIA, DAN TAK PENTING JUGA BUAT KU PERSETUJUAN DARI DIA" Ucap ku penuh penekanan di setiap kalimat. "Yang penting aku sudah minta izin dari pemilik kontrakan dan kalau dia mau uang yang 80 ribu ini nah ambil saja, tidak perlu bagi dua dengan ku, tidak langsung jadi kaya aku hanya karna uang 80 ribu ini" ucap ku sambil menyodorkan uang ke arah si inang.

__ADS_1


Ku telfon pemilik rumah langsung saat itu juga. Posisi si inang masih ada di teras rumah ku, posisi mama si Ertos di teras rumah nya, posisi mama si Nowel di pinggir jalan, dan posisi kedua anak gadis si inang di teras rumah nya.


Mereka semua menatap ku seolah aku ini manusia paling kejam dan paling hina di dunia.


Panggilan telepon ku di angkat pemilik kontrakan, lalu ku tekan speaker supaya mereka mendengar.


"Halo ma Gabriel, ada apa?" Ucap pemilik kontrakan itu


"Halo kak, gini loh perihal mangga yang ku jual ini. Aku di marah-marahi mereka ini semua, kata mereka ngapain sok-sok jual mangga padahal yang punya rumah aja gak pernah jual ini" ucap ku panjang lebar


"Siapa yang ngomong gitu? Bilang aja sama mereka kamu udah minta izin ma Gabriel. Ngapain juga mereka ikut campur hanya masalah mangga"


"Aku udah ngomong gitu loh kak, tapi kata mereka sebelum aku jual seharusnya aku konfirmasi dulu sama mama si Ertos karna kami sama-sama mengontrak disini"


"Loh kok gitu pula, itu mangga kan ada di teras kontrakan mu bahkan masih masuk ke pagar kontrakan mu mama Gabriel, jadi itu adalah hak mu. Aku bahkan gak pernah ngurusin mangga yang di situ. Lagian kan tadi kamu bilang hanya mau bantuin bapak² penjual manisan itu. Bilang aja gitu sama mereka."


"Hmm sudah lah kak, yang penting mereka udah dengar pembicaraan kita ini. Aku malas ngomong berkali-kali pada orang yang sudah mengerti kalimat. Yasudah aku tutup telfon nya ya kak, terimakasih."


"Lucu yang punya rumah ini, orang salah kok di belain" ucap si inang langsung pergi pulang ke rumah nya.


"Kalian yang lucu, yang punya rumah aja gak marah mangga nya di jual. Lah kalian yang bukan siapa-siapa malah sewot"


"Siapa yang sewot? Aku kan cuma nanya kenapa kalian jual? Itu si anak gadis yang tinggal di rumah mu bilang gak tau. Harus nya dia bilang udah izin ke pemilik kontrakan" Tiba-tiba mama si Ertos bicara pada ku sambil menunjuk adik ipar ku tapi masih di posisi nya yang tadi.


"Kak,,tadi kan udah baik-baik di bilang kak Gabriel kalau dia udah izin ke pemilik rumah harus nya sebelum bertindak kalian pikir dulu lah jangan asal main labrak aja" ucap adik ipar ku dengan nada yang lembut.


"Heh kau siapa? Jangan asal main ikut campur aja urusan orang dewasa. Kau masih anak gadis tapi berani ikut-ikut campur" teriak si inang dari teras rumah nya sambil menunjuk adik ipar ku


"Aku adek nya bang Martin, bapak Gabriel. Aku adek ipar kakak ini" ucap adik ipar ku

__ADS_1


"Kau masih anak gadis dek, gak usah sok-sok ikut campur" teriak si inang lagi.


Sumpah, rasa nya aku ingin menjambak-jambak rambut mereka semua saat ini. Dari pada aku semakin terbawa emosi lebih baik aku masuk kerumah dan mengakhiri keributan ini, aku sangat malu karna banyak orang yang menonton kami saat ini.


"Udah yuk dek masuk kerumah, gak usah di ladeni orang sirik kayak gitu. GAK MAMPU BELI MANGGA" Ucap ku sambil menarik tangan adik ipar ku ke dalam rumah lalu menutup pintu dengan cepat.


"Heh mulut mu aja mampu ku beli hari ini juga ya, sombong sekali kau"


Aku masih bisa mendengar teriakan dan hinaan mereka dari dalam rumah.


Tak ku tanggapi lagi, ku anggap saja orang gila.


Heran di zaman sekarang masih ada orang seperti mereka.


Terlalu suka meng-klaim milik orang lain dan merasa paling berkuasa.


Hingga sore hari mereka mereka masih menggosip di rumah si inang, tentu lah mereka pasti menggosipi aku. Aku berani jamin seribu persen.


Sewaktu perkelahian tadi, suami ku ada di kamar, dia tidur karna dia kerja masuk pukul empat sore.


Saat suami ku sudah bangun pukul setengah tiga sore, aku menceritakan semua pada suami ku.


Suami ku hanya tertawa terbahak-bahak.


"Huh bisa-bisa nya kau ketawa sementara istri mu harus melawan mereka semua" ucap ku sambil menekuk wajah.


Tapi suami ku tetap hanya tertawa saja.


Sore hari pukul lima, aku duduk di teras rumah sambil melihat anak ku yang sedang bermain dengan teman-teman nya.

__ADS_1


"Huh orang miskin aja belagu" ucap anak sulung si inang yang bernama Putri.


...


__ADS_2