
Waktu berlalu, tiba lah malam hari.
Biasanya saat berdoa tengah malam, doa kita selalu di dengarkan Tuhan. Berhubung suami ku belum pulang kerja dan anak ku juga sudah tidur aku akan mengadu ke Tuhan ku.
Lebih baik aku curhat kepada Tuhan daripada harus curhat dengan manusia. Aku lebih suka membalas lawan ku lewat jalur langit.
Aku tak ingin mengotori tangan atau mulut ku untuk melawan orang egois seperti mereka.
Ku ambil Alkitab lalu aku mulai berbicara pada Tuhan ku, ku ceritakan semua beban yang tertanam di hati ku. Aku menangis terisak-isak.
Ku rendahkan hati ku serendah-rendah nya.
"Tuhan di mata mereka aku ini orang miskin, aku orang tak punya uang, bahkan sekali pun mereka menganggap ku manusia paling hina aku tak perduli. Karna aku yakin di mata Tuhan aku sangat berharga. Berikan mereka kesadaran dan pertobatan Tuhan." Air mata ku terus mengalir bersama doa doa dan seluruh kesedihan yang keluar dari mulut ku.
"Aku tidak ingin membalas mereka, aku hanya ingin mereka menyadari bahwa perbuatan mereka ini telah menyakiti hati ku ya Tuhan.
Jangan kehendak ku Bapa, kehendak Mu jadi lah" AMIN
Pagi hari menyapa, cahaya matahari mulai masuk melalui celah-celah gorden kamar ku.
Pagi ini tak ku dengar suara mereka, mungkin mereka sedang kerja.
Karna selama aku tinggal di sini, si inang masih bekerja di salah satu pabrik.
Padahal umur si inang itu sudah kepala lima. Juga dia memiliki tiga anak yang sudah bekerja.
Seharus nya umur segitu sih gak usah bekerja lagi, juga ku lihat si inang itu sudah sering mengalami sakit kaki. Yang mana jika berdiri atau duduk terlalu lama kaki nya akan sakit dan dia juga sedikit pincang saat berjalan.
Ku lihat mama si Ertos hanya berdua saja dengan mama si Nowel.
Fix sih pasti si inang dan anak gadis nya yang tukang gosip itu sedang bekerja .
"Bagus lah jadi nya kan gak ada yang ribut-ribut" ucap ku dalam hati.
Seperti biasa, aku melakukan pekerjaan rumah dan memasak.
Selesai memberi sarapan anak ku, aku akan membawa anak ku berjemur mumpung matahari masih tidak terlalu tinggi.
Saat aku sedang duduk di depan rumah, ku lihat tetangga baru ku juga sedang berjemur.
Akhirnya kami ngobrol-ngobrol.
__ADS_1
Ternyata asik juga ngobrol dengan dia. Arah obrolan kami tidak menceritakan orang lain, melainkan tentang ilmu parenting.
Karna tetangga ku ini sedang hamil muda.
"Kalau kalian mau jalan-jalan pagi ajak aku yaa mama biel" ucap nya
Tak terasa sudah hampir satu jam kami ngobrol, aku pun pulang karna aku akan memandikan anak ku dulu.
Hari ini jadwal aku mengepel rumah, saat akan mengepel teras ku geser sedikit rak yang ada di teras kontrakan ku.
Sebenarnya rak ini sudah lama ada disini, sejak kami pindah ke sini.
Rak ini adalah tempat penyimpanan sapu dan kain pel mama si Ertos. Tak jarang juga dia menggantung beberapa kain lap nya yang busuk di rak ini. Sebenarnya rak ini juga berfungsi sebagai pembatas antara kontrakan ku dan mama si Ertos, hanya saja seharusnya di letak kan di tengah-tengah bukan malah di teras ku.
Ku geser sedikit rak tersebut aku ingin membersih kan bagian bawah nya yang banyak terdapat lumut dan serpihan kayu, serpihan kayu itu berasal dari kaki rak yang sudah mulai lapuk.
Selesai ku bersih kan, tak langsung ku geser kembali ke tempat semula karna lantai masih basah.
Sebentar aku masuk ke rumah untuk menyimpan ember dan kain pel ku. Saat aku kembali ke teras ku lihat rak sudah berada di posisi semula.
Ku geser lagi rak tersebut karna lantai masih sangat basah.
Aku sedikit kaget, berarti dari tadi dia mengintip saat aku menggeser tak tersebut.
"Mau di bersihkan dulu, udah banyak lumut nya" ucap ku cuek, sambil menggeser tak tersebut
Di tarik nya rak tersebut, lalu di geser nya ke tempat semula "gak ada hak mu menggeser-geser ini. Bukan punya mu ini" ucap nya dengan lantang.
"Justru karna ini bukan punya ku, kau lihat gak ini barang-barang siapa yang ada di sini? Barang mu kan? Trus kenapa kau letak di teras ku? Kalau kau mau, angkat masukkan ke teras mu sana" ucap ku dengan tegas
"Suka-suka ku lah, pergi kau dari sini cari kontrakan mu sana" ucap nya lagi sambil meremehkan ku.
"Gak tau malu. Ngontrak tapi kok bisa-bisa nya ngusir. Cuih" aku meludah di depan nya.
"Kau lihat ini kain lap mu yang busuk-busuk ini??? Ku kasih waktu sebulan ini kau cabut ini yaa, jangan sampai ku hancur kan itu" ucap ku hendak masuk kerumah.
"Ehee gak makan kau, sama ku nya kau minta makan" ucap nya dengan keras.
Aku sedikit emosi mendengar perkataan nya tersebut, najis rasanya minta makan pada nya.
Seumur hidup ku tak pernah aku minta makan sama dia.
__ADS_1
Tak ku balas lagi, karna sudah banyak orang berkumpul.
Aku yakin dia mengatakan itu agar terkesan dia orang yang baik di mata tetangga yang lain, bodo amat lah.
Yang penting kenyataan nya aku tidak pernah meminta makan pada nya.
Bahkan dia yang sering meminjam barang-barang ku, apalagi saat ulang tahun anak nya beberapa bulan yang lalu saat kami belum bertengkar.
Dia tidak punya tikar, minjam tikar ku. Bahkan kue ulang tahun anak nya saja dia minta tolong aku yang membuat kan, hanya saja aku menolak saat itu. Akhirnya ku bantu dia memesan kue dari toko kue langganan ku.
Orang lain tidak perlu tau kebaikan apa yang pernah kamu tanam, siapa saja orang yang pernah kamu bantu.
Yang penting hati mu tulus membantu, dan Tuhan tau itu. Begitu lah prinsip hidup ku.
Aku tidak butuh pujian dari orang-orang dengan mengatakan aku baik, karna aku yakin kebaikan yang pernah ku lakukan akan kembali ke diri ku sendiri atau pada keturunan ku kelak.
Aku yakin kebaikan yang ku tanam suatu saat akan menyelamatkan ku.
Hidup di dunia ini jangan terlalu sombong, bisa jadi orang yang kita hina hari ini adalah orang yang membantu kita suatu hari nanti.
Manusia di ciptakan dari tanah, dan akan kembali ke tanah, lantas mengapa masih bersikap langit?
"Kenapa itu kak? Kok ada suara ribut-ribut" ucap adik ipar ku saat aku masuk ke rumah.
Ku ceritakan apa yang terjadi tadi.
Lalu aku mengambil ponsel ku, ku buka kontak pemilik kontrakan
["Kak tolong lah bilangin sama mama si Ertos di angkat tempat kain lap busuk nya yang ada di teras ku ini"] lalu ku kirim
["Emang di mana di buat ma gabriel?"]
["Di teras rumah ku kak, sedikit pun barang kami gak ada di situ. Semak di lihat kak.
Teras kami udah sempit karna pohon mangga di sebelah kanan, jangan di tambah lagi tempat kain lap busuk nya di sebelah kiri teras kami"] balas ku lagi sambil mengirim foto rak tersebut.
["Ya sudah nanti aku bilangin dulu sama mama si Ertos"] balas pemilik kontrakan itu.
Tak ku balas lagi, ku tunggu sampai satu bulan ini, kalau tidak di pindah kan juga biar aku yang membongkar langsung. Tekad ku dalam hati.
***
__ADS_1