
Flashback off
Saat di tempat nongkrong kami berbincang-bincang sebentar dengan kak serli, lalu kami pulang.
Sesampai nya di rumah pun kami melihat mereka sedang ngerumpi lagi di teras rumah si inang tadi.
"Sana dek kamu ikutan ngumpul sama orang itu" suruh suami ku
"Ahh capek lah bang, aku mau istirahat"
"Padahal kita cuma makan di luar loh, tapi kamu capek. Ntah capek ngapain" gerutu suami ku lagi
Aku memutar bola malas, karena malas menjelaskan ke suami ku, berkali-kali sudah ku katakan saat berada di tempat keramaian energi ku cepat habis dan obat nya hanya tidur saja.
Lalu aku membaringkan anak ku di tempat tidur karna saat di perjalanan dia sudah tertidur.
Berseluncur sebentar di sosial media, bunyi notifikasi dari sosial media yang berlogo huruf F berwarna biru. Ku klik ternyata mama si Nowel tetangga ku yang tinggal di rumah no 20 meminta pertemanan dengan ku.
Ku stalking sebentar aku nya, ku lihat dia sering memposting-posting bahkan saat di dalam rumah pun dia sering siaran langsung.
"Hadeuhhh ternyata emak-emak alay juga ni" ucap ku dalam hati sambil aku ketawa-ketawa sendiri.
Tidak langsung ku konfirmasi, malas saja rasanya, Biarin saja hehehehe
Keesokan hari nya saat aku hendak belanja ke warung, ku lihat mama si Nowel sedang menyirami bunga di depan rumah nya, sedikit ku senyumi saja sebagai tanda ramah tamah.
Sepulang dari warung dia membahas soal pertemanan yang di sosial media, langsung ku iyakan saja biar cepat selesai.
Semakin lama tinggal disini membuat ku sudah kebal dengan tingkah laku dan kebiasaan mereka.
Baru-baru ini ku tau kalau ternyata si inang itu punya anak tiga, anak pertama nya perempuan yang bernama Putri, anak ke dua nya bernama putra, dan anak ke tiga nya bernama Ima.
Anak nya sudah besar- besar dan sudah kerja.
Bahkan anak ke tiga nya seumuran dengan ku.
Tapi satu pun anak nya belum ada yang menikah.
Yang membuat ku heran, anak-anak nya pun memang hobby menggosip dan ngerumpi dengan ibu-ibu padahal mereka masih anak gadis.
Lalu hari ini aku membawa anak ku bermain di luar rumah, ku lihat mereka juga sedang ngumpul seperti biasa nya.
Aku ikut saja duduk bersama mereka sambil memantau anak ku yang sedang bermain dengan mereka.
Aku hanya mendengar -dengar mereka bicara tanpa ikut masuk ke obrolan mereka. Ku dengar mereka sedang membicarakan mama si Nowel yang pada saat itu sedang tidak ikut ngumpul bersama mereka.
Bahkan pernah juga aku mendengar mereka membicarakan si inang saat inang itu bekerja.
Sedikit info, bahwa walaupun sudah berumur 40 tahunan si inang itu masih bekerja, padahal anak nya semua juga bekerja.
Makanya sejak ku lihat mereka saling membicarakan satu sama lain, aku mulai berpikir jika mereka yang sudah kompak saja masih suka membicarakan teman nya uang lain apalagi lah aku yang jarang-jarang ngumpul dengan mereka.
__ADS_1
Aku pun semakin malas untuk sekedar duduk bersama mereka.
Sudah sekitar tiga bulan kami tinggal disini, ku lihat pohon mangga yang waktu itu masih berbunga kini buah nya sudah besar-besar.
Saat masih pagi jam 7 ku dengar ada suara ribut-ribut di atas atap kontrakan kami, karna penasaran aku pun melihat ke luar ternyata mereka sudah pada berkumpul di bawah pohon mangga yang ada di dalam pagar kontrakan ku.
Mereka memanen buah mangga tersebut, saat mereka melihat ku keluar mama si Nowel langsung menyapa ku "ehh mama gabriel, kami ambil mangga nya yaa soalnya ipar ku lagi ngidam mangga muda" ucap nya.
Sebenarnya aku kesal, karna walaupun aku hanya mengontrak disini tapi kan pohon mangga ini masih hak ku.
Setidak nya mereka sebelum mengambil ya izin dulu dong, jangan asal main panen sendiri.
"Tapi ya sudah lah nama nya juga bertetangga" ucap ku dalam hati.
Lalu aku masuk lagi kerumah. Melanjutkan kegiatan ku sebagai ibu rumah tangga.
2 Minggu berlalu begitu cepat.
Aku juga sesekali masih mau ikut ngumpul bersama mereka walaupun hanya sekedar duduk.
Karna aku hanya tidak ingin ada omongan yang lain-lain lagi tentang diriku.
Seperti biasa, mereka sering mengambil mangga tanpa izin dulu dari ku.
Ku lihat mereka merujak di pinggir jalan itu sambil menggelar karpet.
Sudah seperti jalan bapak nya saja batin ku.
Buah mangga ini memang sangat banyak, karena pohon nya juga cukup besar.
Dan sering juga ada mangga yang sudah matang lalu jatuh ke teras rumah ku, mereka pasti berlari duluan untuk mengambil mangga nya.
Bahkan jujur saja sudah hampir empat bulan aku tinggal disini belum pernah ku rasakan buah mangga ini.
Aku pun mulai sedikit kesal, "bang kayak nya diatas banyak mangga yang sudah matang, kamu panjat gih. Aku lagi pengen makan mangga" ucap ku sambil merengek ke suami ku.
Lalu suami ku mulai memanjat , lumayan juga buah nya yang matang dapat satu plastik cukup besar.
Lalu ku bagi-bagi ke tetangga dekat rumah ku masing-masih 4 buah.
Hari-hari begitu cepat berlalu, bahkan tak jarang mereka membicarakan aku atau lebih tepat nya menyindir ku, karna aku jarang ikut mengumpul bersama mereka.
Aku lebih sering keluar bersama teman-teman ku yang masih gadis dan sering juga teman-teman ku yang datang ke rumah dan masak-masak di rumah ku.
Pernah satu waktu, aku sedang duduk ber dua dengan mama si Ertos.
Cukup banyak hal yang kami bicarakan, lebih tepat nya sih dia yang bercerita dan aku hanya sebagai pendengar yang baik.
Banyak hal yang dia bicarakan, salah satu nya dia yang sudah hampir setahun tidak berkomunikasi dengan mama nya di kampung.
Padahal hanya karna masalah mama nya minta uang tapi dia tidak bisa memberikan uang lalu mama nya mendiami dia dan dia pun ikut mendiami mama nya di kampung.
__ADS_1
"Gak habis pikir aku dengan mama ku itu, hanya karna masalah uang dia sampai mendiami aku" Terlihat jelas kekesalan di wajah mama si Ertos.
"Mungkin mama nya kakak bukan mendiami tapi lebih ke kecewa aja sih apalagi seperti cerita kakak tadi kalau mama kakak udah tinggal sendiri, bapak nya kakak udah lama meninggal. Karna faktor kesepian juga mungkin mama kakak itu" ucap ku sedikit membela mama nya.
Itu sebenarnya hanya kode dari ku, kode agar dia berhenti membicarakan mama nya ke orang lain apalagi orang yang baru di kenal nya seperti aku.
Tapi seperti nya dia tidak mau berhenti membicarakan kesalahan mama nya, bahkan semakin banyak hal yang dia ucapkan kepada ku.
"Kalau mama mu mata duitan juga gak seperti mama ku?" Tanya mama si Ertos.
"Hmm yaa kayak nya semua orang mata duitan deh kak "ucap ku sambil tertawa. " Tapi mama ku gak pernah minta uang lagi sejak aku menikah, malahan sejak pandemi Corona ini mama ku sudah banyak membantu kami dalam keuangan. Bahkan sudah 3 juta uang mama ku dikirim untuk bantu-bantu perekonomian kami kak" sambung ku lagi.
"Oh yaa? Baik banget mama mu yaa" puji mama si Ertos
"Iya kak bahkan aku ngomong kalau belum punya uang buat ganti uang mama, pasti mama ku ngomong gak usah di pikirin nanti saja kalau sudah ada uang baru kembalikan, yang penting cucu ku tercukupi kebutuhan nya" ucap ku .
Semakin lama mengobrol, semakin banyak lagi keburukan mama nya yang di ceritakan kepada ku.
Ya sudah lah, aku gak bisa berbuat apa-apa lagi selain mendengar kan ceritanya.
Karna menurut ku, seperti apa pun kesalahan orang tua, kita tidak boleh sampai membenci mereka apalagi sampai menjelek-jelek an orang tua ke orang lain.
Bukan hanya itu saja sih, kami juga bercerita tentang pengalaman kami semasa hamil dan melahirkan. Dia juga menceritakan sifat-sifat mertua nya saat merawat dia waktu melahirkan.
"Mertua ku itu pelit nya minta ampun" ucap nya sedikit berbisik karna takut mungkin di dengar suami nya kebetulan suami nya ada di rumah mungkin sedang libur kerja.
Aku menahan agar tidak memutar bola mata malas "oh yaa kak? Pelit gimana sih? Kalau mertua ku sih baik banget walaupun agak sedikit cerewet tapi cerewet nya demi kebaikan kok. Contoh nya kalau aku lupa pakai kaos kaki atau lupa pakai korset saat baru melahirkan, atau saat aku membantu nya menyapu rumah pasti mertua ku ngomelin aku" ucap ku sambil tertawa membayangkan saat aku di omeli ibu mertua ku.
"enak lah dirimu ma Gabriel, aku mana ada di urusi. Palingan cuma anak ku aja yang di gendong-gendong" ucap nya tapi masih dengan suara yang sedikit berbisik "mertua ku kalau ngelihat ada banyak makanan di rumah pasti dia ngomel "sayang kali lah uang itu kalian belikan makanan banyak-banyak gini, mendingan uang nya di tabung" sambil menirukan gaya mertua nya mengomel
Aku tertawa melihat ekspresi Julid nya "padahal mertua Ku kalau keluar jalan-jalan pas pulang pasti dia bawain makanan di bungkus untuk ku di rumah loh kak" ucap ku terus membanggakan mertua ku yang memang baik asli nya.
"Bahkan mertua ku yang nyuciin pakaian kami,beresin rumah, nyetrika, memasak, bahkan jagain anak ku supaya aku bisa tidur siang" tambah ku lagi sambil terus tersenyum mengingat kebaikan mertua ku.
"Beruntung banget kamu ma Gabriel, aku iri lah sama kehidupan mu. Mama mu baik mertua mu juga baik, beruntung nya jadi kamu" ucap mama si Ertos
Aku tertawa "hehehe gak usah iri kak, setiap orang kan punya rezeki masing-masing. Mertua baik itu rezeki dari Tuhan, kesehatan juga rezeki dari Tuhan. Walaupun kakak gak dapat mertua yang baik setidak nya kakak masih di beri rezeki kesehatan dari Tuhan" ucapku agar dia tidak berkecil hati.
Tapi seandainya Pun mertua ku tidak baik, tentu aku tidak akan membicarakan keburukan mertua ku ke orang.
Karna keburukan mertua adalah aib menantu, dan begitu juga sebalik nya keburukan menantu adalah aib mertua.
Betul gak nih temen-temen?
Oh iya ada satu hal lagi nih yang dia ceritain ke aku, tapi dia bilang supaya aku rahasiakan hal ini ke orang-orang.
Karna aku sudah berjanji ke mama si Ertos, maka kalian juga harus berjanji pada ku jangan sampai kalian beritahu ke orang yaa ??? Apalagi kalau berita ini jangan sampai ke telinga mama si Ertos hehehe... Nanti dia bisa ngamuk ke aku lho.
Jangan ketawa kalian, sini aku bisikin biar gak banyak yang dengar.
Mama si Ertos cerita kalau nama asli suami nya itu di KTP,KK, dan ijazah nya adalah TERNODA .
__ADS_1
Hahaha cukup para reader's ku aja yang tau ini yaa... Aku sayang kalian muachhh hehehehe