
Pagi yang cerah, sinar matahari telah menunjukkan semburat nya di ufuk timur.
Seperti biasa, suara-suara yang tidak ingin ku dengar sudah berkicauan di samping rumah ku. Iya suara siapa lagi kalau bukan suara mereka.
Daripada pusing mendengar yang tidak perlu di dengar, aku lebih memilih mengambil ponsel lalu memutar musik sambil melakukan rutinitas pagi ku sebagai ibu.
Setelah semua selesai, aku membawa anak ku bermain sebentar keluar rumah.
Karna dia juga perlu beradaptasi dengan lingkungan luar dan bergaul dengan teman sebaya dia. Sekalian juga dia berjemur di bawah matahari pagi. Biasanya tidak lama. Satu atau paling lama dua jam, setelah itu kami akan masuk kerumah dan mandi pagi.
Saat sedang mengawasi anak ku bermain dengan teman-temannya, ku dengar kasak kusuk mereka membicarakan ku.
Biarlah, toh selama ini aku sudah di cap buruk oleh mereka. Segala yang ku lakukan tidak akan pernah luput dari gosipan mereka.
Bahkan jujur sebenarnya aku pun sudah tidak nyaman tinggal disini.
Bahkan hanya untuk membuka pintu pun aku sangat malas rasanya.
Bukan tanpa alasan, jika mereka melihat pintu rumah ku terbuka pasti aku akan mendengar sindiran-sindiran pedas yang aku tau itu ditujukan untuk ku. Begitu juga sebaliknya jika aku dirumah saja dan pintu rumah tertutup mereka juga akan menyindir kalau aku hanya di kandang saja dan tidak punya teman.
Saking setiap hari aku mendengar kata-kata mereka itu, aku bahkan sudah sangat hafal di luar kepala setiap kata-kata jahat yang mereka lontarkan pada ku.
Ku diamkan tetapi mereka malah semakin menjadi-jadi.
Baiklah jika kalian jual, maka akan ku beli.
Kalian pancing, maka akan ku beri ikan.
Entah keberuntungan atau bagaimana, pagi ini datang lagi bapak tua yang membeli mangga waktu itu.
Tentu tanpa basa basi ku izinkan saja di beli mangga tersebut.
Bukan kekurangan uang, hanya saja aku memang ingin membuat mereka semakin kesal pada ku. Ku lirik mereka, ternyata mereka sedang melihat ke arah rumah ku lebih tepatnya ke arah atas pohon.
Sudah pasti mereka akan semakin menggosipi ku.
Kali ini mereka tidak melabrak ku lagi, tumben sekali. Rasanya ada yang aneh.
Tiba-tiba aku merasakan ada yang mengganjal.
Dan benar saja, tidak lama lagi masuk chat pemilik kontrakan.
__ADS_1
["Ma Gabriel kenapa mangga nya di jual lagi?"]
["Jangan di jual terus lah, nanti mangga nya rusak"]
["Bagi-bagi juga sama tetangga"]
Ku baca chat nya yang beruntun tersebut.
Ku tarik bibir ku, rasanya lucu saja.
Baiklah ku reply satu persatu chat pemilik kontrakan tersebut.
["Gak papa dong kak, kan kakak pernah bilang kalau mangga ini hak ku karna aku yang nempatin kontrakan ini"]
Ku kirim juga bukti hasil screenshot percakapan kami yang dulu saat dia mengatakan mangga ini hak ku karna aku yang saat ini menempati kontrakan ini.
["Kakak bilang juga waktu itu gak mau ngurusin mangga yang disini, lalu kenapa sekarang ikut campur?"]
["Apa beda nya di jual dengan di ambil tetangga saat masih mentah? Kalau di jual rusak, tapi kalau diambil tetangga saat masih mentah jadi gak rusak yaa kak? Kan sama-sama manusia juga yang ngambil"]
["Ku bagi-bagi kok ke tetangga, kalau gak percaya bisa tanya ini semua tetangga yang ada disini"]
Emang nya enak? Rasanya seperti menjilat muntah sendiri kan? Ucap ku dalam hati.
"Pak, waktu itu bapak juga kan yang beli mangga ini?" Ucap ku pada bapak pembeli mangga itu saat dia sudah turun dari pohon
"Iya kak, saya juga yang waktu itu beli"
Aku tertawa "tau gak pak, waktu itu saya berantem sama tetangga yang itu tuh mereka yang duduk disana karna saya jual mangga ini" ucap ku sambil melirik para tetangga ku.
"Apa hak mereka kak? Toh posisi mangga ini aja ada di teras rumah kakak, bahkan masih masuk ke dalam pagar loh" ucap bapak itu mengerutkan dahi nya.
"Ya itu makanya pak hahahaha" aku benar-benar tidak bisa menahan tawa ku
"Udah lah kak gak usah di ladeni, kebanyakan tetangga memang seperti itu. Suka iri sama tetangga yang lain, gak suka lihat orang lain bahagia" ucap si bapak sambil merapikan karung-karung nya.
Lalu si bapak pamit pulang, kali ini lumayan banyak yang di dapat si bapak tersebut. Lalu dia memberi uang seratus ribu pada ku.
Saat si bapak tersebut pulang, aku hendak menjemput anak ku yang dari tadi bermain dengan teman nya, aku akan memandikan dia.
"Emang enak dimarahin yang punya rumah" tiba-tiba mama si Ertos bicara pada ku
__ADS_1
Ku lirik lalu aku menyunggingkan sebelah senyum ku. Tanda aku sedang mengejek.
"Makanya jangan sok berkuasa"ucap nya lagi
"Dasar manusia bermulut sampah! Pasti kau kan yang ngadu-ngadu?" Tekan ku
"Kenapa emang? Suka suka ku lah." Ucap nya lagi
"Suka-suka ku juga lah mau ngapain. Mau aku jual, mau aku tebang ya itu hak ku. Saat ini aku yang nempatin Kontrakan ini. Lagian kok yang punya kontrakan sibuk ngurusin ini. Waktu itu dia bilang gak mau ngurusin masalah mangga ini, karna ini hak ku. Kenapa jadi menelan ludah sendiri?" Ucap ku sambil menyunggingkan senyum mengejek
Mereka terdiam, mungkin sudah kalah telak oleh ucapan ku barusan.
Tiba-tiba keluar kedua anak gadis si inang, mama si Nowel, suami si inang dan bapak si Ertos.
Mereka melabrak ku.
"Biasalah Orang miskin aja banyak gaya pak, gak mampu beli AC" ucap si putri pada bapak nya. Aku tau itu adalah sindiran pada ku karna aku tidak punya AC.
Mereka tertawa, ku lihat juga mama si Ertos tertawa dengan suami nya
"Alah banyak bacot kau, AC mu aja ku bayari tau kau" ucap ku dengan lantang.
Karna memang kenyataan nya seperti itu.
Kami satu meteran air dan listrik. Mereka pakai AC dan mesin cuci sementara aku tidak punya.
Tetapi pembayaran kami sama rata. Berarti ucapan ku mengatakan bahwa AC mereka ku bayari itu tidak lah salah.
"Bisa yaa ada manusia seperti kau" ucap suami si inang
"Baru ini ku jumpa manusia seperti kau, MUKA TEMBOK" sambung bapak si Ertos lagi.
Saat berkelahi dengan perempuan aku tidak sesakit hati ini, tapi ini suami mereka bahkan ikut campur.
Seketika emosi ku meluap, tidak mampu ku bendung lagi.
"Aku juga baru ini ketemu laki-laki seperti kalian dua" tunjuk ku pada mereka berdua secara bergantian "laki-laki kok berani nya lawan perempuan, dasar BENCONG" ucap ku penuh penekanan "bisa ya ada laki-laki mulut nya lemes seperti kalian berdua. Bersyukur nya aku punya suami yang bisa menghargai perempuan, gak mau melawan perempuan, dan tentunya tidak bermulut lemes kayak kalian" ucap ku sambil menunjuk mereka
"Giliran kalian sendiri berani kalian lawan aku haa??? Kalau kalian sendiri-sendiri, kalian itu seperti ayam sioto (ayam bodoh) gak berani berkutik. Berani nya main keroyokan. Berapa kalian? Tujuh orang? Lawan aku sendiri apa gak malu? Laki-laki pula tuh!!! CUIHHH" ucap ku panjang lebar lalu tidak lupa aku meludah.
Jijik sekali melihat mereka.
__ADS_1