
["Udah bisa di jemput belum dek? Udah hampir jam 7 malam"] masuk chat dari suami ku
["Udah bang jemput lah"]
Aku sampai di rumah hampir jam setengah delapan. Anak ku tadi sudah ku mandikan di kost si serli, kami juga sudah makan disana.
Jadi sampai di rumah kami akan langsung istirahat, lelah juga rasanya karna tadi aku menangis disana sangat lama.
Mata ku perih dan kepala ku pun sedikit nyut-nyutan.
"Kalian udah makan dek ?" Tanya suami ku sambil menggendong Gabriel
"Udah tadi disana bang, makan miesoup di beli kak serli, kamu udah makan?" Tanya ku balik
"Belum, aku nungguin kalian tadi"
"Hmm makan lah dulu, sini Gabriel biar aku tidur kan di kamar. Tadi di sana dia gak mau tidur siang" ucap ku sambil menggendong anak ku dari pangkuan nya
Keesokan pagi nya saat kami berjemur pagi-pagi, ada bunyi mangga jatuh, tapi sepertinya masih nyangkut di atas genteng teras kami
"Nyangkut ya kak?" Ucap adik ipar ku sambil melihat ke atas
"Kayak nya sih nyangkut, panjat gih, bisa gak?"
"Bisa dong" ucapnya sambil naik ke atas pohon
"Wah ternyata di atas sini udah banyak yang kuning kak" teriak adik ku dari atas genteng
"Perlu plastik gak biar aku lempar ke atas" ucap ku sambil mendongak melihat ke atas
Lalu setelah adik ipar ku turun dari atas pohon, dia mengambil piring dan pisau.
Di kupas nya mangga sambil duduk di teras.
"Ma Ertos sini, makan mangga. Kita tetap bisa panen mangga walaupun kita gak punya pohon mangga " tiba-tiba ku dengar suara teriakan si inang di teras rumah nya
"Hadeuh kumat lagi deh" ucap adik ku langsung masuk ke rumah
"Kayak nya sih dia emosi dek karna kita tadi panen mangga" ucap ku sambil cengengesan
Lalu mama si Ertos keluar dari rumah, lalu pergi ke rumah si putri.
"Enak yaa kita makan-makan mangga padahal gak punya pohon mangga" ucap mama si Ertos.
"Hahahaha" aku tertawa dengan keras. Lalu mereka semua melihat ke arah ku.
Aku tidak tahu kalimat itu dia tujukan untuk menyindir ku, atau untuk memamerkan bahwa mereka juga masih bisa makan mangga tanpa harus di ambil dari teras rumah ku.
"Ada yang merasa tersindir nih" ucap si inang
"Hahahah hoek najis" ucap ku sambil tertawa
__ADS_1
"Gak ada sopan santun mu sama orang tua" ucap si inang
Aku menyeringai sambil ku tatap mata nya "lihat orang tua nya juga sih, punya otak atau nggak" ucap ku dengan tenang
"Eh kurang ajar ya kau, ku lapor sama RT kau nanti biar di usir dari kampung sini" teriak si inang sambil berdiri menghadap ke arah ku dengan tangan kanan nya menunjuk ke arah ku dan satu tangan lagi di letakkan di pinggang nya.
"Hmm lapor saja sana, gak takut tuh. Ntar pak RT tanya ada masalah apa, trus kalian jawab karna aku jual mangga yang ada di teras rumah ku? Hahahha gak malu ya? Wleee" ucap ku sambil menjulurkan lidah ku
"Dasar gak punya sopan santun" "miskin banyak gaya" dan masih banyak lagi hinaan yang di teriak kan mereka pada ku.
Hati ku tentu sangat sakit, mereka menghina ku bisa tapi sekali aku lawan mereka, mereka langsung sakit hati dan merasa paling tersakiti. Apa kabar dengan aku yang hampir setiap hari mendengar hinaan dan sindiran mereka?
Malam hari nya aku memberangkat kan suami ku bekerja, seperti biasa aku mengantarkan sampai di depan rumah.
Saat motor nya sudah meninggalkan halaman rumah, langsung aku menutup pagar dan mengunci pintu rumah.
Aku langsung masuk ke dalam rumah karna ini sudah pukul setengah dua belas malam.
Sampai di kamar, aku duduk sambil bermain ponsel sebentar.
Tiba-tiba aku teringat dengan kata-kata si inang tadi pagi
Ku kunci pintu kamar, lalu aku mulai berdoa.
Aku meminta agar selalu di beri kekuatan untuk menghadapi hari esok.
Aku meminta agar di limpahkan kesabaran supaya aku tidak lepas kendali saat berhadapan dengan mereka.
Jika aku bangun pagi tanpa mendengar suara mereka menggosip bagi ku ini adalah pagi yang sangat indah.
Mungkin induk semang mereka alias si inang dan si putri sedang bekerja.
Jadi mama si Ertos dan mama si Nowel tidak berani cari gara-gara.
Sore ini suami ku gajian, gaji nya juga sudah normal kembali.
Karna pandemi Corona sudah tidak separah dulu, sekarang tidak berlaku lagi lockdown dan tidak di harus kan juga memakai masker.
Kebetulan juga hari ini suami ku libur.
Lalu kami pergi berenang, sepulang berenang kami langsung belanja bulanan.
Kami sampai di rumah pukul delapan malam.
Aku menenteng banyak belanjaan, belanja stock ikan untuk seminggu, bumbu dapur, dan belanja aneka Snack.
Karna aku dan anak ku sama-sama suka ngemil.
Mereka melihat aku pulang menenteng banyak belanjaan, anak ku juga mengoceh bercerita tentang kegiatan kami sore tadi saat berenang
"Ma, betok kita belenang lagi yah" ucap anak ku dengan cadel khas anak kecil nya.
__ADS_1
"Iya sayang, Gabriel happy yaa tadi berenang? Ucap ku sambil membuka kunci pintu rumah
"Happy happy.. biel happy" sorak anak ku sambil melompat-lompat
Aku yakin mereka pasti mendengar obrolan ku dengan anak ku.
"Pagar nya langsung di tutup saja pa, kan libur hari ini. Tolong bawa juga sebagian belanjaan nya masuk kerumah ya" ucap ku pada suami ku. Jika di depan anak panggilan kami berubah menjadi mama dan bapak. Hehehe
Ke esoknya hari nya ku lihat si putri dan adik nya yang perempuan pergi memesan taksi online.
Mereka hanya pergi berdua, tapi di berangkat kan oleh mama si Ertos dan mama si Nowel. Tidak kulihat ada si inang di situ.
Awal nya ku pikir mereka akan pergi jalan-jalan atau kemana gitu, tapi aku merasa sedikit aneh karna mereka tidak menyindir sama sekali.
Biasanya jika mereka ingin melakukan sesuatu apalagi akan pergi jalan-jalan mereka pasti akan bicara dengan keras, agar seluruh orang di dunia ini tau mereka akan jalan-jalan.
Entah kenapa aku merasa aneh dan bertanya-tanya. Justru harus nya aku senang dong karna mereka tidak menyindir ku pagi ini.
Huh dasar aku, disindir salah gak disindir malah ngerasa aneh.
Ku buka hp, karna dari tadi ponsel ku berisik tanda notifikasi masuk.
Ternyata salah satu grup yang sedang ramai.
Ku klik dan betapa terkejut nya aku melihat foto si inang sedang tidur di ranjang rumah sakit.
Di tangan nya banyak infus.
Ku baca ternyata ibu pendeta memberitahu bahwa ibu Simangunsong alias si inang sedang membutuhkan doa. Karna hari ini dia akan menjalan kan operasi Usus Buntu .
"Ooh pantesan tadi aku ngerasa aneh" ucap ku tiba-tiba
Adik ipar ku langsung menoleh pada ku, sambil mengernyitkan dahi nya "aneh kenapa sih kak?"
Ku ceritakan tentang yang tadi pagi saat si putri dan adik nya pergi naik taksi online dan tumben tidak menyindir
"Ternyata si inang lagi di RS, hari ini mau operasi Usus Buntu katanya" ucap ku sambil menyodorkan ponsel ku pada adik ku, dan dia membaca nya
"Huhh rasain tuh, kemakan karma kan tu orang. Mudah-mudahan habis ini dia tobat ya kak" kesal adik ipar ku
"Gak boleh gitu dek, namanya juga orang sakit kita gak boleh merasa senang" ucap ku sedikit menyalahkan ucapan adik ipar ku.
Tapi aku merasa sedikit gelisah, karna aku merasa dua kali aku berdoa pada Tuhan sambil menangis.
Setelah itu pasti akan terjadi sesuatu pada mereka.
Aku jadi merasa bersalah.
"Itu hukuman dari Tuhan da, karna udah dzolim sama anak piatu" ucap adik ipar ku
Tak ku jawab lagi ucapan adik ipar ku itu, aku langsung masuk ke kamar.
__ADS_1
"Semoga lancar operasi nya, semoga setelah ini bisa berperilaku lebih baik lagi, dan jangan suka mengucapkan kata-kata yang menyakiti orang lain" ucap ku dalam hati