Hinaan Tetangga Julid

Hinaan Tetangga Julid
di sindir setiap hari


__ADS_3

Aku mendengar tapi hanya ku cueki saja, aku tak merasa kalimat itu untuk ku. Jadi aku tak perlu marah.


"Selain miskin budeg juga yaa" ucap nya lagi.


Ku lirik dia tapi dia tak melihat ku, dia hanya melihat ponsel nya dan sambil duduk di kursi teras nya.


Bodo amat lah ku keluarkan ponsel dari kantong ku, lalu ku putar musik dengan volume yang cukup besar.


Daripada mendengarkan kalimat hinaan, hanya akan membuat ku sakit hati lebih baik aku dengarin musik, batin ku.


Tapi dugaan ku salah, dia tetap tidak berhenti menghina. Malah si inang ikut-ikutan menghina ku dengan kata-kata jahat.


"Biel udah main nya yuk, ikut gak? Kita shoping-shoping" ucap ku sedikit menguat kan suara agar mereka mendengar.


Btw biel itu adalah nama panggilan untuk anak ku. Nama nya Gabriel jadi aku memanggil nya biel.


"Huh mau shopping hasil jual mangga yaa" ucap si putri


Hahahaha aku tertawa dalam hati, 80 ribu emang nya dapat apa sih? Ucap ku dalam hati.


Bahkan mereka pun tau kalau uang jual mangga itu hanya 80 ribu, lantas mengapa mereka terus menghina ku seolah-olah aku ini manusia paling miskin ?


Sudah lah dari pada pusing mendengar ocehan mereka, bergegas aku pergi tak lupa ku ajak anak ku dan adik ipar ku.


Rencana nya kami akan makan bakso saja, tempat nya pun tidak terlalu jauh. Jadi kami putuskan untuk berjalan kaki saja.


Sengaja kami pulang agak larut malam, karna malas saja jika melihat wajah mereka lagi.


Pukul setengah delapan kami pulang, tapi kami tidak berjalan kaki. Kami memesan taxi online agar anak ku tidak kedinginan.


Saat sudah tiba di depan rumah, ku lihat mereka masih berkumpul di rumah si inang.


Astaga apa gak capek yaa mulut mereka menggosip terus ucap ku dalam hati


Ku lirik mereka langsung berdiri karna kepo siapa yang turun dari mobil


"Ehemm" ku dengar suara mereka berdehem melihat aku yang turun dari mobil. Usai membayar ongkos bergegas aku masuk ke dalam rumah dan menyalakan lampu teras.

__ADS_1


Selesai bersih-bersih kami masuk ke kamar dan tidur karena sudah pukul setengah sembilan malam, ku dengar suara mereka masih berkumpul sambil tertawa. Ku ambil ponsel ku lalu ku putar musik sambil ku tidur kan anak ku.


"Dek... Dek bangun, mau mie goreng gak?" Ku rasakan tangan ku seperti ada yang mencolek. Ku buka mata ku sedikit, ternyata suami ku.


"Apa sih bang? Ini jam berapa kok udah pulang?" Ucap ku sambil melihat ponsel ku yang masih memutar lagu.


Ternyata sudah pukul setengah dua dini hari.


Ku matikan musik, lalu aku duduk.


Aku merasa seperti baru tidur, ternyata aku sudah tidur kurang lebih lima jam.


"Nih ada mie goreng, tadi Abang masakin. Makan dulu ini nah" ucap suami ku sambil menyodorkan piring berisi mie goreng


"Kapan abang masak ini? Makasih yaa" sambil memasukkan mie ke dalam mulut ku.


Selesai menyantap mie aku lanjut tidur lagi, suami ku masih lanjut merokok di ruang tamu sambil bermain game .


Tak terasa malam sudah berlalu, aku melakukan aktivitas seperti biasa.


Memasak dan membersih kan rumah.


Setelah selesai pekerjaan rumah, aku keluar menemani adik ipar ku yang sedang menjaga anak ku bermain dengan teman-teman nya.


Lalu seperti biasa yaa gaes ya mereka mulai berkumpul lagi. Aku sudah punya feeling tak enak tapi aku tetap diam saja sambil bermain ponsel.


"Tumben nih keluar rumah, biasanya di kandang-kandang aja" ucap si putri, anak gadis si inang.


Aku tau kalau itu adalah sindiran untuk ku, tapi aku tetap tak menggubris.


Ku lirik adik ipar ku, ternyata dia sedang cengingisan. Mungkin dia juga menyadari kalau kata - kata itu di tujukan untuk ku.


Matahari sudah mulai semakin panas, sepanas hati ku saat ini. Tapi aku berusaha menahan emosi ku, jangan sampai aku terpancing dengan sindiran mereka.


Bergegas ku jemput anak ku dari teras rumah tetangga ku yang lain, ku ajak anak ku mandi pagi.  Ku lihat sudah jam sembilan.


Aku tak mau anak ku sama seperti anak mereka yang mandi pagi jam 12 siang.

__ADS_1


Saat hendak pulang kerumah, aku berusaha untuk tidak menoleh ke arah mereka, jijik saja rasanya melihat muka mereka.


Tapi tiba-tiba aku mendengar suara si inang "gak ada sopan mu sama orang tua, nanti susah minta tolong sama ku"


Tapi aku tetap diam saja, tak ku tanggapi sedikit pun ocehan nya.


"Gak ada uang sok-sok an belanja online, giliran paket nya datang minjam uang ke aku" ucap si inang lagi.


Memang pernah aku meminjam uang nya, itu pun hanya lima puluh ribu. Karna saat itu suami ku sedang bekerja.


Uang cash yang ku pegang sudah habis karna belanja ikan dan sayuran di warung. Tak mungkin ku suruh kurir nya menunggu sementara aku pergi ke ATM mengambil cash.


Ku telfon suami ku supaya dia transfer ke kurir nya tapi tak di angkat juga, mungkin suami ku sedang banyak pekerjaan.


Aku pun tidak punya M-banking saat itu.


Jalan satu-satu nya ya aku pinjam uang ke si inang.


Tapi sore hari saat suami ku pulang kerja langsung ku kembalikan uang lima puluh ribu yang ku pinjam tersebut.


Bahkan hanya hitungan jam saja ku pakai uang nya tapi dia merasa sok paling kaya.


Huhh ternyata umur saja yang tua, tapi pola pikir tidak ada kedewasaan sama sekali.


Ku cueki saja mereka mungkin si inang merasa kesal karna dia hanya ku cueki


"Ehee pogos ho, dang adong hepeng mu Ale ginjang roham" ucap si inang itu lagi.


Artinya "ehee orang miskin gak punya uang kau, tapi sombong dan tinggi hati mu" itu adalah bahasa Batak.


Ku tarik bibir ku membentuk senyuman, ku tatap mata si inang lalu aku bernyanyi "jangan jangan iri jangan iri dengki, jangan iri dengki" lagu itu ku ganti lirik dari lagu asli yang viral di aplikasi tok tok. Lagu asli nya kira-kira seperti ini "kanan kanan kiri, kanan kanan kiri, putar putar jari"


Hahaha ku lihat muka nya sudah merah padam, lalu mereka semua menyoraki ku, semua sumpah serapah keluar dari mulut mereka. Tapi tak ada satu kata pun yang ingin ku dengar, selain agar menjaga emosi ku, aku pun tak ingin membuat hati ku sakit jika aku mendengarkan sumpah mereka.


Ku tutup pintu rumah ku, langsung ku mandikan anak ku.


"Aku hanya nyanyi loh padahal kok mereka langsung emosi, apa kabar aku yang sedari tadi mereka sindir-sindir?" Ucapku

__ADS_1


"Seperti itu lah orang egois kak, menyakiti orang bisa. Giliran di balas merasa paling tersakiti" ucap adik ipar ku


*** Hinaan ini belum seberapa, masih banyak lagi hinaan dari mereka yang akan muncul di bab berikutnya, jadi ikutin terus cerita ku ini yaa teman-teman. Terimakasih...


__ADS_2