
Hari berlalu begitu cepat, ternyata sudah 8 bulan kami tinggal di sini, tetapi karena pandemi Corona yang tak kunjung usai, aku memutus kan untuk mencari pekerjaan membantu suami ku.
Rencana nya aku akan meminta bantuan adik ipar ku yang ada di kampung untuk menjaga anak ku, toh usia anak ku sudah hampir 2 tahun. Sudah tidak terlalu cengeng jika harus di tinggal saat bekerja.
Ternyata semua sistem melamar kerja harus melalui online, baik itu lewat email atau melalui link. Ini juga salah satu dampak virus Corona . Kata nya supaya mencegah penularan virus tersebut.
Rencana nya tiga hari lagi adik ipar ku akan datang ke sini, hari ini aku harus membersihkan kamar tamu karna selama ini kamar tamu sudah ku jadi kan gudang untuk menyimpan barang-barang yang jarang di gunakan .
3 hari kemudian
Suami hari ini akan menjemput adik ipar ku ke bandara.
Tepat seperti dugaan ku, saat adik ipar ku sudah sampai di rumah, semua tetangga ku langsung kepo bertanya ini itu.
Mereka seperti nya tidak bahagia jika sehari saja tidak mengurusi urusan orang lain.
Hari demi hari berlalu, ternyata sangat sulit mencari pekerjaan di masa sekarang.
Sudah banyak aku mengisi link lowongan pekerjaan, sudah banyak juga aku mengirim email ke perusahaan dan pabrik yang ada di Batam ini, tapi tidak ada satu pun panggilan walaupun hanya sekedar mengikuti test.
Kalau begini terus aku jadi merasa tak enak dengan ipar ku, karna sudah hampir sebulan dia di rumah ku ini tapi aku belum kunjung mendapatkan pekerjaan.
Perekonomian kami semakin sulit, tabungan juga sudah habis untuk menutupi biaya hidup.
Saat kami sedang tiduran di kamar, kulihat suami ku sedang bermain ponsel "Bang, kalau gini terus bisa-bisa kita terlilit hutang. Gaji mu cuma 2 jt loh mana cukup biaya hidup kita 2 jt sebulan, tabungan juga sudah habis untuk menutupi biaya hidup kita selama pandemi ini" keluh ku ke suami ku
"Yaa mau gimana lagi dek, di hotel juga tamu sepi yaa gimana hotel mau bayar gaji full" suami ku meletakkan ponsel nya dan mulai fokus bicara pada ku.
"Aku juga sudah coba masukin lamaran kemana-mana, tapi tetap belum ada panggilan. Apa aku coba kerja serabutan aja yaa? Daripada gak ada kerjaan sama sekali"
"Emang kamu mau kerja serabutan apa? Kerja nya di mana?" tanya suami ku
__ADS_1
"Ini tadi aku ada lihat postingan di sosmed sedang butuh part time untuk nyetrika di laundry, gak jauh kok dari sini" ucap ku sambil menunjukkan postingan salah satu akun yang sudah ku screenshot tadi pagi
"Iya ini yakin kerjaan nya cuma nyetrika saja? Trus gaji nya gimana?"
"Katanya sistem kiloan gitu bang, satu kg harga nya 1500, kata nya ada sekitar 100 kg yang harus di setrika. Kan lumayan dapat 150 ribu" ucap ku penuh semangat agar suami ku mengizinkan aku kerja di laundry tersebut.
"Yakin kamu 100 kg? Itu banyak banget loh dek."
"Yakin lah bang, lagian kan di rumah aku juga hampir setiap hari nyetrika jadi mungkin gak terlalu susah kerjaan nya itu"
"Yaa sudah terserah kamu lah, tapi gak usah di paksa kalau sekiranya gak sanggup langsung pulang aja" ucap suami ku sambil menyelipkan rambut ke belakang telinga ku
"Makasih yaa bang" ucap ku.
Suami ku memang tidak pernah memaksa bekerja, bahkan jika aku sedang sakit pun dia yang akan menggantikan ku memasak dan memandikan anak kami. Bersyukur nya aku punya suami seperti dia. Hehehhe agak lebay gak papa lah yaa...
Pagi hari nya
"Kak itu suara apa sih? Kayak ada orang di atas genteng" tanya adik ipar ku .
Nama nya Desi, usia nya sebenarnya lebih tua satu tahun dari ku.
Tapi karna aku menikahi Abang nya, dia jadi adik ipar ku.
"Gak tau, coba kamu lihat lah ke luar ada apa, paling juga tetangga ambil mangga" ucap ku sambil menyuci piring bekas aku masak pagi ini, aku sudah cuek saja karna sudah terbiasa dengan sikap tetangga ku yang seenak nya itu.
"Iyaa loh kak, tapi mereka gak ada izin loh tadi. Kok tau tau Uda ada di atas sih?" Dia memasang wajah heran dan bingung.
Aku memutar bola malas "Udah biasa itu sih, mereka bilang itu mangga serikat padahal aku juga yang nyapu sampah daun mangga itu setiap hari"
"Ihh kok kampungan banget yaa kak, kayak gak punya adab gitu. Bahkan di kampung saja gak ada loh orang kayak gitu. Harus nya kan permisi dulu" ucap ipar ku lagi
__ADS_1
"Biarkan saja lah dek, aku malas ribut-ribut apalagi bertetangga. Terserah mereka saja lah. Oh iya nanti kakak mau keluar bentar yaa, mau coba ada kerjaan di laundry. Mudah-mudahan kerja nya gak berat banget. Kamu jagain gabriel bentar yaa" ucap ku
"Ok kak, jam berapa kakak pergi nya nanti?"
"Sekitar jam setengah 1 lah, habis makan"
"Okee deh kak"
Setelah selesai mengambil mangga, tetangga ku langsung pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih, bahkan memberi sebiji mangga untuk ku pun tak ada.
"Huhh dasar tetangga gak punya hati" ucap ku dalam hati.
Ku lirik jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, setelah selesai makan siang aku pun bersiap-siap untuk pergi ke laundry .
Sesampai nya di laundry ternyata pemilik laundry nya sedang makan di luar. Terpaksa aku menunggu di minimarket sebelah laundry nya.
Sekitar dua puluh menit menunggu, akhirnya ku lihat ada dua orang yang membuka laundry nya "ah sepertinya mereka pemilik laundry ini" ucap ku dalam hati
"Permisi kak, aku yang ngechat kakak semalam, yang mau kerja part time"
"Oh iya kak, siapa nama kakak? Senja ya?" Ucap pemilik laundry tersebut "sebelum nya udah pernah kerja di laundry belum kak?"
Aku menggeleng "belum pernah kak, ini pertama kali tapi di rumah saya sering nyetrika pakaian kak" ucap ku
"Ngerti pakai setrika uap gak kak? Kalau belum ngerti biar aku ajarin dulu Kakak nya " tanya si pemilik laundry itu lagi
"Gak ngerti kak, belum pernah pakai setrika uap" ucap ku.
Lalu mereka berdua mengajari ku cara menggunakan setrika uap, lalu mengajari ku cara menyetrika.
Dan ternyata cara menyetrika di laundry sangat berbeda dengan cara menyetrika sehari-hari.
__ADS_1
Cara melipat nya pun berbeda, masing-masing pakaian saat sudah di lipat pun ukuran nya harus sejengkal tangan, katanya agar semua ukuran pakaian ukuran nya sama. Dan saat di packing nanti bisa rapi.
Hadeuhhh ternyata sulit juga kerja di laundry bestiii