I'M (Not) Antagonist

I'M (Not) Antagonist
Prolog.


__ADS_3

Happy Reanding My Readers.


-Author Cantik kek, kek siapa woy! Pokoknya Cans!.


Di sebuah ruangan putih, terlihat seorang perempuan yang sedang terbaring lemah, dan pucat, tidak ada seorang pun yang menjaganya hanya kosong dan sunyi.


Perempuan yang di perkirakan berumur 17 tahun itu mengerjab ngerjabkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam retinanya yang berwarna hitam legam itu.


'Ini dimana?' Batin gadis itu bingung, dirinya mengamati sekitar dengan perasaan campur aduk. Lalu berusaha untuk duduk, setelah duduk dirinya membenarkan posisinya agar terasa nyaman. Kemudian kembali melihat kesekitar.


Gadis itu mengerjap ngerjapkan matanya untuk mencerna kejadian yang baru saja terjadi, dirinya masih mengingat dengan jelas kejadian dirinya yang di tembak tepat di jantungnya.


Tiba tiba matanya menangkap seorang! Tidak! Itu bukan orang! Kakinya saja tidak menapak ke tanah!, Gadis itu menatap sosok itu dengan bingung.


'Apa gue jadi indigo, setelah di tembak?' Batinnya bingung.


Sosok itu menggunakan gaun putih panjang, rambut panjangnya sepinggang hitam legam, wajahnya yang pucat pasi itu tersenyum ke arah gadis itu, senyum yang manis dan menenangkan.


"Ehem, boleh tau gak? Mbak kunti ini ngapain disini?" Tanya gadis itu santai dengan tatapan polosnya.


Sosok itu terkekeh kecil lalu mendekati ke arah gadis itu, gadis itu hanya memasang muka polosnya tapi tidak dengan hatinya, dirinya sedang was was takutnya hantu yang ada di depannya ini memasuki tubuhnya.


Dengan jarak satu langkah, hantu itu berhenti lalu menatap dalam gadis itu. Gadis yang di tatap hanya diam dan menatap tatapan hantu itu santai.


"Gue gatau lo siapa, tapi yang pasti tolong buat keluarga gue sadar bahwa si anjing Ana itu gak sebaik luarnya," ucap hantu itu dengan tatapan memohon kepada gadis itu.


"Heh! Emangnya lo siapanya gue? Kok minta tolong ke gue? Gue aja gak kenal sama elo, kok malah nyuruh nyuruh sih," ucap gadis itu tak santai.


Hantu itu hanya menatap malas ke arah gadis itu lalu berkata, "lo ada di tubuh gue bambang! Gue juga gak tau bisa gitu," ucap hantu itu santai.


"hah?" Tanya gadis itu bingung, apa maksud sosok di depannya ini, bahwa dia ada di raganya.


"Coba lo ngaca deh, baru lo akan paham," suruh sosok itu santai.


Dengan cepat gadis itu beranjak dari duduknya, lalu memasuki kamar mandi yang ada di ruangan itu.


Gadis itu melihat pantulan di cermin itu dengan seksama, lalu berteriak keras.


"AAAAAAAAA!!" teriaknya keras, gadis itu syock melihat pantulan dirinya di cermin.


"Itu muka siapa woyy!!" Pekiknya tertahan.


"Kan udah gue bilang, kalo lo ada di tubuh gue," ucap sosok itu tiba tiba muncul di samping gadis itu.


Gadis itu menoleh ke arah sosok itu dengan tatapan datarnya, "lo percaya transmigrasi?" Tanya sosok itu santai meskipun dalam hatinya takut kala melihat wajah datar gadis itu.

__ADS_1


"Gue gak percaya," jawab gadis itu dingin.


"Tapi sekarang gue percaya," lanjut gadis itu meringis kala melihat pantulannya di cermin.


"Lo beruntung bisa hidup lagi, gue cuman mau minta tolong ke elo," ucap sosok itu sendu.


"Minta tolong apa? Gue pasti kabulin! Ini sebagai rasa terima kasih gue ke lo karna mau ngasih tubuh lo ke gue," ucap gadis itu santai.


Sosok itu tersenyum lalu mengajak gadis itu keluar dari kamar mandi lalu mulai menceritakan kisah hidupnya kepada gadis itu.


Sosok itu bernama Alinara Queennata Wijaya, putri bungsu dari keluarga Wijaya, Alinara atau biasa di sebut Alin itu mempunyai lima abang yang bernama:


Abang yang pernama bernama Gavin Nervalo Wijaya, Gavin seorang CEO muda di perusahaan Wijaya, dirinya baru berumur 25 tahun. Kata orang Gavin itu dingin, jika bersama keluarga Gavin itu hangat.


Abang kedua bernama Geo Prasetya Wijaya, Geo seorang dokter di rumah sakit terkenal di indonesia, Geo masih berumur 24 tahun, kata orang Geo itu ramah dan baik, tapi tidak ke Alinara.


Abang ketiga bernama Naufal Orion Wijaya, Naufal masih menduduki bangku kuliah, Naufal juga masih berumur 21 tahun, sifatnya kalem dan datar.


Abang keempat dan kelima adalah twins, yang bernama Alvino Putrasyah Wijaya dan Alvano Putrasyah Wijaya, mereka masih menduduki kelas XII SMA, Alvi memiliki sikap yang dingin dan datar, sedangkan Alva sebaliknya yaitu hangat dan humoris.


Dan yang keenam adalah Alinara, Alin masih menduduki kelas XI SMA, hanya beda satu tahun dengan twins, sifat Alin yang sombong, angkuh, suka menindas dan membully yang lemah, dan kelakuan buruk lainnya. Dan itu juga yang menjadi alasan Alin di benci oleh abang abangnya.


Ana atau lebih tepatnya Ana syaputri. Ana adalah gadis sederhana, lemah, dan penyayang, Ana adalah kesayangan abang abang Alin dan sahabat abangnya, dan paling parah, Ana juga pacar dari Aksa, Aksara adalah orang yang selama 6 tahun ini Alin perjuangkan, tapi na'as. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Dan malah menyayangi Ana.


Ana adalah anak angkat dari keluarga Wijaya,  Ana di angkat saat kelas 6 sd, di luarnya polos tapi didalamnya busuk, wajah polosnya adalah tameng Ana, Alin yang sudah menyadari itu dari 1 bulan setelah Ana masuk ke keluarga Wijaya, Ana yang sering di bully oleh Alin karna mendapatkan kasih sayang lebih dari abang abang dan ortu alin, dan itu yang membuat Alin yang sangat membenci Ana, di tambah dirinya yang sering di fitnah oleh Ana.


Setelah menceritakan semuanya, Reva atau lebih tepatnya Revandra Airina adalah jiwa yang masuk kedalam tubuh Alin, Reva mati karna menyelamatkan abang Angkatnya.


Reva hanya mengangguk anggukan kepalanya bertanda mengerti, setelah itu roh Alin berkata 'kalo mau lebih jelas buka aja buku diary's gue yang sampul warna pink dengan gambar hati retak hehe' lalu setelah mengatakan itu dia pergi.


"Gue masih gak nyangka pindah ke tubuh orang lain," guman Reva hampir tak terdengar.


Satu minggu kemudian...


Satu minggu berlalu dengan cepat, Reva atau sekarang bisa di bilang Nara, Reva tidak mau menggunakan nama panggilan Alin, katanya dia ingin memulai lembaran baru jadi sekarang nama panggilannya Nara.


Sekarang Nara bersiap siap untuk pulang, dirinya baru menyadari dirinya hidup kembali setelah sebulan meninggal.


Nara berjalan di koridor rumah sakit dengan malas, dulu ketika ia sakit atau kecelakaan pasti akan di jaga ketat oleh anak buah abangnya tapi sekarang? Boro boro mau di jaga, di jenguk aja gak pernah. Miris sekali hidupmu Alin...


Nara pulang menggunakan taksi online, saat di taksi dirinya membuka galery milik Alin, matanya membulat kala melihat foto foto Alin yang seperti Jalang, baju ketat dan dandanan menor.


Nara meringis kala melihatnya, dengan cepat dirinya menghapus semua foto yang tak pantas pada galery, Instagram dan media sosial lainnya.


Saat melihat kontak telponnya, hanya ada belasan kontak, Nara menghela nafas lelah lalu menyimpan ponselnya kedalam tas kecil. Lalu melihat ke arah jendela.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Nara sampai di sebuah mansion besar, yang mewah dan megah, Nara melihat mansion itu hanya tersenyum smirk. Lalu turun dari taksinya dan mulai melangkahkan kakinya kedalam Mansion tersebut.


Saat di pintu masuk dirinya melihat bodyguard yang sedang meminum kopi dan membaca koran dengan santai, jam baru menunjukan pukul 9 pagi.


"Ehem," dehem Nara agak keras dan mengalihkan perhatiannya dari koran ke arah Nara, Bodyguard itu dengan terburu buru langsung membukakan gerbang tersebut.


"Terima kasih om botak," ucapnya santai lalu berlalu pergi tanpa melihat atau memperhatikan reaksi bodyguard yang sedang syock dengan mulut terbuka.


'Apakah nona Alin berterima kasih kepadaku?' Batin Bodyguar itu bertanya tanya.


Nara membuka pintu mansion tersebut lalu masuk dan seketika terdengar canda tawa dari ruang tengah, Nara yang mendengar itu hanya memasang wajah datar.


Saat melewati ruang tengah, Nara sama sekali tak menoleh ke arah keluarga barunya, Nara hanya berjalan malas dengan tatapan kosongnya, bukannya melamun hanya saja dirinya malas menampakan binar didalam matanya.


Langkahnya berhenti kala mendengar suara bariton yang menghentikannya.


"Berhenti Alin!" Sentak orang itu, Nara yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pria yang memanggilnya, sepertinya itu adalah Dika, ayahnya Alin. Karna hanya dia yang paling tua di antara lakilaki lain.


Nara hanya mengangkat alisnya sebelah bertanda 'ada apa?', Ayahnya memandang Nara dengan tatapan tajam tapi dengan santainya Nara membalas tatapan sang ayah dengan tatapan malasnya.


"Darimana kamu?!!" Bentak sang ayah keras.


Nara melirik ke arah sofa yang di duduki semua anggota keluarga, dirinya melihat seorang wanita parubaya yang hampir seumur dengan orang yang membentaknya tadi, lalu 5 orang laki laki yang beda generasi dan seorang gadis dengan wajah polos di tengah tengah 5 laki laki tadi.


"Nyari jodoh," jawab Nara malas.


"Palingan nyari om om bukan jodoh," sahut seseorang yang sepertinya salah satu abang Alin, Nara hanya mengeryit tak suka lalu mengabaikannya.


"Dahlah, percuma jujur paling di tuduh jugakan," ucap Nara memotong sang ayah yang ingin menceramahinya lalu melenggang pergi dari ruang keluarga.


"KAUUU!!" Bentak sang ayah keras, Nara hanya memutar bola matanya malas tapi sedetik kemudian dirinya menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang menatap semuanya dengan bosan.


"Apa lo liat liat!!" Ucap salah satu abang Alin, karna dirinya hanya tau namanya saja, dirinya tidak tahu wajahnya seperti apa jadi ya udah.


"Sewot aja lo, gue cuman mau nanya, dimana kamar gue?" Tanya Nara malas, semua orang menatap Nara dengan bingung dan aneh? Ntahlah.


"Yaelah jawab aja, susah amat sih," ucap Nara malas.


"Ck, jangan pura pura amesia lo jalang!!" Sentak laki laki tadi.


"Kan gue cuman nanya bego! Lo kok nge gas?!" Ucap Nara tak santai.


"Lo panggil gue bego jal-," Ucapan laki laki itu terputus oleh ucapan Nara yang sedang menatap laki laki itu tajam.


"Lo kalo gak mau ngasih tau jangan ngehina anjing!!" Bentak Nara keras, lalu berlenggang pergi mencari seseorang untuk menanyakan kamarnya.

__ADS_1


Semua orang membeku pendengar bentakan keras dari seorang Alin.


Sab, 22 Mei 2021:).


__ADS_2