I'M (Not) Antagonist

I'M (Not) Antagonist
Chap.10


__ADS_3

Brakkk


Motor sport hitam itu menabrak pohon mangga besar yang sada di sisi jalan, motor sport hitam itu hancur lebur menjadi bagian bagian kecil yang tak berguna, asap mengepul dari motor itu.


mobil hitam sport itu juga berhenti mendadak, orang yang ada di dalam mobilpun keluar bersama temannya.


pintu kemudi terbuka dan terlihat seorang pria tampan dengan wajah tanpa ekspresi, rambut hitam legamnya yang gondrong menjadikan dirinya semakin terlihat tampan, alis yang tebal dan bulu mata yang lentik menjadikannya semakin membuat para kaum hawa meleleh, hidung mancung dan rahang kokohnya menambah nilai plus untuk dirinya, jangan lupakan netra biru gelap yang indah dan sedingin kutub utara itu menatap sekelilingnya tajam, lalu bibir yang sedikit tebal dan merah menggoda itu menambah kesan sexy pada pandangan pertama.


pintu di samping kemudi juga terbuka dan keluar seorang pria tampan, tapi masih kalah jauh dengan pria tadi, rambut coklat tuanya dan netra hazelnya membuat dirinya imut dan tegas secara bersamaan, hidung yang mancung dan rahang agak chubby, membuat dirinya semakin terlihat imut, mata yang sedikit sipit dan bibir tipis pinknya menjadikannya semakin imut.


mereka berdua menghampiri motor sport hitam yang sudah hancur lembur, jalanan itu sepi karna memang jalan yang cukup jarang di lewati oleh pengendara.


mereka menatap motor itu dengan bingung dan datar, lalu si pria berambut coklat berkata "kok gak ada orangnya? perasaan tadi gue liat nih motor ada orangnya,"


Pria berambut hitam itu hanya mengendikan bahunya acuh, lalu pria berambut coklat tadi pun berkata lagi, "ck, lo sih... main ngegas aja," decaknya.


"AWASSSS!!!" teriak seseorang dari atas pohon, mereka berdua secara bersamaan mendongakan kepalanya, netra mereka menangkap seorang gadis SMA jatuh dari langit, eh maksudnya jatuh dari pohon.


na'as, mereka tak sempat menghindar karna tak ada waktu lagi untuk menghindar.


brukkkkk


mungkin karna tidak siap pria berambut hitam itu terhuyung kebelakang dan gadis SMA itu ambruk bersama pria berambut hitam itu, ah lebih tepatnya menindih. karna posisi mereka sekarang adalah gadis SMA itu berada di atas si pria berambut hitam legam itu, dengan kedua tangannya berada di antara sisi kanan dan kiri kepala si pria berambut hitam tadi agar wajah mereka tak bersentuhan, wajah mereka hanya berjarak setengah jengkal, bahkan deru nafas mereka bertabrakan.


netra hitam legam dan netra briu gelap itu saling bertubrukan, seakan tenggelam kedalam tatapan tersebut, pria berambut coklat yang notabenya sahabatnya dari orok menatap kejadian itu terkejut dan cengo.


hening, hanya semilir angin dan dedaunan yang bergoyang karena semilir angin tersebut yang mengisi suara jalan tersebut.


*satu detik...


dua detik...


tiga detik...


empat detik...


lima detik...


sepuluh detik....


lima belas det*---


"Ehemmm," deheman keras itu berasal dari pria bersurai coklat tadi yang sedari tadi berdiri di belakang mereka berdua.


keduanya linglung, pria bersurai hitam yang pertama kali kembali pada kesadarannya, dan berkata "Minggir," katanya dingin.


"hah?"


"minggir," tekannya lagi.


gadis berseragam SMA itu akhirnya tersadar dan langsung menyingkir dari atas pria bersurai hitam itu.


gadis berseragam SMA itu hanya cengengesan lalu berdiri di samping pria bersurai tadi, sedangkan pria bersurai hitam tadi mulai membersihkan jas dan celananya yang terkena debu.


pria bersurai coklat dan gadis berseragam SMA itu hanya diam dan mengamati pria bersurai hitam yang sudah berdiri di hadapan mereka.


"ehem," deheman gadis berseragam SMA itu memecahkan keheningan, kedua pasang mata itu menatapnya bingung dan datar ke arahnya.


"hehe, sorry, tadi gue gak sengaja," lanjutnya.


"emang lo lagi ngapain di atas pohon?" tanya pria bersurai coklat penasaran.


"nyelamatin nyawa dari kematian," jawab Nara seadanya, eh? bentar bentar, Nara? Yap! gadis berseragam SMA itu Alinara, saat akan menabrak pohon, Nara melakukan salto dan loncatan ke atas pohon mangga untuk menyelamatkan nyawa keduanya ini.


"maksud lo?" bingung, pria bersurai coklat kebingungan dengan ucapan Nara.


"ck, bego," ucap Nara tanpa suara.


"maksudnya, gue lagi nyelamatin nyawa gue dari kematian dengan cara naik ke atas pohon," jelas Nara ogah ogahan, pria bersurai coklat mengangguk anggukan kepalanya seakan mengerti.


"ohh jadi---, bentar bentar... jadi lo yang punya motor itu?" tanya Pria bersurai coklat yang baru ngeh pada ucapan Nara dan di balas anggukan oleh Nara.


"kok bisa naik ke atas?" tanyanya lagi setelah pulih dari keterkejutannya.


"loncatlah! kalo gak loncat ke atas yang ada gue udah di surga sama para bidadara," jawab Nara sekenanya.


"Bidadara? Biadadara apaan?"


"Bidadara itu cowok ganteng yang ada di surga,"


"kok namanya bidadara?"


"kalo bidadari itu buat cewek cantik yang ada di surga,"


"lah, iya juga ya,"


"berarti bidadara sama bidadari couple goals dong kali nikah," lanjutnya.

__ADS_1


"emang di surga bisa nikah?"


hening, baiklah pria bersurai coklat tak bisa menjawab pertanyaan dari Nara.


"ehem," deheman itu mengalihkan perhatian Nara dan pria bersurai coklat tadi kepada pria bersurai hitam yang ada di depan mereka yang menatap mereka berdua dengan tajam.


"kenapa om?" pertanyaan itu lolos dari mulut kecil Nara.


"pffftttt--- hahaha," suara terdengar dari pria bersurai coklat tadi, jalanan yang sepi terisi dengan suara tawanya.


"pfttt, hahaha, om? hahaha om hahaha, anjirr lo di sebut om hahaha," ucapnya di sela sela tawanya, sedangkan yang sedang di tertawakan hanya menatap datar pria bersurai coklat tadi.


"emang ada yang salah?" tanya Nara lagi.


"ehem," dehem pria bersurai hitam lagi, dan tawa pria bersurai coklat tadi berangsur angsur mereda.


"keselek janda kembang om?" tanya Nara seenaknya. di balas tatapan tajam pria bersurai hitam itu.


"jadi lo yang punya motor itu?" tanya pria bersurai coklat.


"iya, jadi om om sekalian harus tanggung jawab, ntu motor baru nyampe tadi pagi dan langsung gue pake, itu motor keluaran kemarìn loh!" protes Nara kesal.


"berapa?" pertanyaan dingin itu terlontar dari pria bersurai hitam itu.


"berapa apanya?"


"harga,"


"harga apa sih?"


"motor,"


"om! kalo ngomong jan setengah setengah! Nara gak ngerti," protes Nara tak santai.


"ck, harga motor berapa?" jelasnya.


"gatau, itu motor dari abang, jadi Nara gatau,"


Pria bersurai hitam itu langsung mengeluarkan dompetnya, mata Nara bersinar kala melihat deretan kartu hitam di dalam dompetnya.


"kalo gak salah motor sport keluaran kemarin 354 jt," sahut pria berambut coklat itu yang sedang melihat lihat ke arah motor yang hancur lembur.


"gue gatau, yang pasti itu mahal," sahut Nara acuh.


"gada cash," ucap pria bersurai hitam itu.


"pake yang hitam aja, gue gapapa, gue ridho," sahut Nara santai.


"lo mau ngerampok sahabat gue?!" tanya pria berambut coklat tak santai.


"sahabat lo punya banyak! di bagi satu ke orang yang gak mampu gak bakal bikin dia jadi gelandangan," sahut Nara acuh tak acuh.


"lo ngedo'ain sahabat gue jatuh miskin gitu?!"


"bukan gitu maksud gue Udin!"


"Nama gue Riky bukan Udin, Aaemunah!"


"Nama gue juga bukan Aaemunah, Asep!"


"Asep saha any*ing!"


"tukang cilok keliling yang ada di kompleks gue,"


"ck, lo lama lama nyebelin ya,"


"gue tau gue cantik,"


"nyebelin ogeb bukan cantik!"


"iya tau, gue cantik,"


"lo!--"


ucapan pria bersurai coklat terhenti kala melihat kartu hitam ada di depan matanya.


"buat gue?" tanya Nara tak percaya. di balas anggukan singkat pria bersurai hitam.


"woahhh! akhirnya gue gak usah kerja lagi!" seru Nara heboh, lalu mengambil BlackCard yang ada di depannya.


"lo beneran ngasih dia BlackCard?" tanya pria bersurai coklat menatap sahabatnya tak percaya. yang di balas angkatan bahu acuh tak acuh.


"yes! akhirnya gue gak usah kerja lagi yuhuu, btw makasih ya," seru Nara bahagia, iyalah bahagia, dengan BlackCard yang ada di genggamannya, jadi dirinya tak perlu repot repot buat kerja hanya untuk uang jajan.


"lo kerja?" tanya pria bersurai coklat itu kala mendengar penuturan Nara.


"hah?, eh, iya gue kerja," jawab Nara seadanya.

__ADS_1


"kenapa lo kerja? bukannya lo punya motor sport keluaran kemarin? berarti lo kaya dong," tanyanya heran.


"uang jajan gue di potong, tabungan gue habis, jadi gue kerja,"


"oh ya! gue numpang buat pulang ya! handphone gue lowbat, lagian susah nyari kendaraan umum," lanjutnya. tanpa basa basi dirinya masuk kedalam mobil yang berada beberapa meter di belakangnya dan dengan cepat masuk ke kursi bagian belakang.


"Heh! gue belum setuju ya lo bisa numpang!!" teriak pria berambut coklat keras, tapi tak di dengar oleh Nara yang sudah berada di mobil.


"woyy tungguin!" teriaknya lagi kala melihat sahabatnya berjalan menuju mobil.


"Berisik," pria berambut coklat langsung diam dan hanya bisa kenyusul.


Di dalam mobil hanya ada suara musik yang di putar. Riky Andrean. nama pemuda bersurai coklat tadi, dia adalah tangan kanan Arkana Rafka Kingzio Leonnardo, dia adalah pria bersurai hitam tanpa ekspresi tadi.


Nara hanya acuh tak acuh dan hanya membaca novel yang di bawanya dari rumah, dirinya tak mempedulikan kedua orang tadi terus meliriknya."


setelah sampai dirinya langsung keluar kala melihat mobil box yang ada di depannya, saat sudah keluar dirinya mengucapkan terimakasih dan langsung pergi untuk melihat apa yang terjadi tanpa menghiraukan mobil hitam yang memberikan tumpangan kepadanya.


di depan gerbang, ada bodyguard dan beberapa kurir sedang berdebat. karena kepo, dirinya langsung menghampiri mereka.


"permisi, ini ada apa ya?"


mereka serentak menoleh ke arah Nara.


"eh? Ini non, mereka memaksa untuk bertemu dengan nona, katanya pengiriman bonus atas motor yang nona terima tadi pagi, tapi saat saya ingin menerima bonus itu, kurir ini bersikeras ingin langsung sampai ke tangan nona," jelas salah satu bodyguard.


"hadiah bonus motor?" tanyanya berbinar, sekarang dirinya ingat dirinya menerima kunci perak tadi pagi.


"ini dengan nona Alinara?" tanya salah satu kurir.


"iya, saya Alinara,"


"saya mengantarkan bonus motor sport yang tadi pagi di kirim," ucapnya sopan.


"mana bonusnya?" dirinya tak sabar bertemu dengan bonusnya.


"ini ikat lehernya, dan silahkan anda sendiri yang membukanya," ucap kurir tersebut di akhiri nada ketakutan, lalu menyerahkan pengikat leher untuk binatang.


kurir itu menunjukan dimana letak bonusnya yang berada di dalam mobil box, dengan semangat Nara mengeluarkan kunci perak yang tadi pagi ia terima lalu masuk kedalam gerbong mobil tersebut.


disana terdapat kandang yang di tutupi oleh kain hitam, dengan semangat dirinya membuka kain hitam itu, saat sudah terbuka matanya memiliki kilatan kebahagian, dengan cepat Nara membuka kandang itu dengan kunci perak tadi.


terlihatlah seekor harimau putih yang besar dan perkasa sedang menatap Nara tajam, matanya yang berwarna biru itu menatap Nara seakan santapannya, tapi detik berikutnya harimau tersebut menatap Nara berbinar dan langsung melompat ke arah Nara dan mendusel dusel kepalanya yang penuh dengan bulu itu ke ceruk leher Nara.


Nara hanya menerimanya dengan senang. Whitelio, harimau peliharaan Nara dulu, Whitelio atau biasa di panggil Lio itu harimau yang ia adopsi dengan resmi.


Lio memiliki taring yang tajam yang biasanya mengoyak tubuh musuh Nara dulu, Lio juga sering di bawa ke meda pertempuran, Lio selalu di tempatkan di kamar Reva dulu, niat Reva setelah semuanya selesai dirinya akan mengangkut Lio kedalam kediamannya yang sekarang, tapi abang kesayangannya itu malah mengirim Lio sebagai bonus motor sport keluaran terbaru yang sekarang sudah hancur.


dengan santai dirinya mengaitkan ikat binatang ke kalung perak Lio yang berbandul diamond dengan sayap di kanan kirinya, bandul tersebut bisa di buka dan ada foto dirinya dan Lio saat berada di tubuh aslinya. dan alamat rumahnya yang dulu.


lalu Nara membawa Lio keluar dari gerbong mobil box tadi, kehadiran Lio membuat semua bodyguard takut, kurir yang disana juga ketakutan.


Lio turun dengan wajah yang bengis, mata birunya menatap semua yang ada disana tajam dan seakan akan ingin menerkam mereka, tinggi Lio sebatas pinggang Nara, tubuh besarnya juga bisa di tunggangi.


setelah mengucapkan terimakasih kepada kurir yang mengantar, Nara membawa Lio kedalam rumah, dan itu juga menggemparkan para maid dan bodyguard, tapi Nara menangkan mereka dan meminta mereka menutup mulut tentang keberadaan Lio, mereka hanya bisa mematuhi majikan mereka dengan patuh.


Nara membawa Lio ke kamarnya yang sudah di renovasi, disana sudah ada kandang di sudut ruangan yang lumayan besar, kandang tersebut seperti rumah rumahan dan beberapa bagian di tutupi dengan kain hitam putih menjadikan rumah rumahan itu Aestatic. di dalam kandang yang seperti rumah itu di dalamnya terdapat kasur yang empuk dan nyaman.


di luar rumah rumahan itu ada beberapa pot kecil yang berisi tumbuhan hijau, menjadikan kamar Nara elegan dan Aestatic secara bersamaan.


setelah sampai di kamarnya Nara mengunci pintu dan melepaskan ikatan di leher Lio.


"Ini kamar baru Lio, dan itu tempat tidur Lio," setelah mengucapkan itu harimau itu menuju ke kemar barunya dan menjelajahinya, seakan ingin melihat tahu tempat tinggal barunya, Nara terkekeh kala melihat Lio berguling di atas ranjangnya yang berada di rumah rumahan itu.


setelah melihat Lio yang menggemaskan, Nara langsung memebersihkan dirinya, dan meminta maid untuk membawakan makanannya dan makanan Lio.


setelah makan merekapun bermain dengan perasaan bahagia, Lio juga seakan mengerti jika Jiwa pemiliknya ada di tubuh Nara, mereka bermain sampai malam dan makan malampun di antarkan ke kamar, maid yang akan mengantarkan makanan Nara dan Lio hanya menahan rasa takutnya.


setelah makan malam dan melakukan permàian kecil, Nara dan Lio memasuki kealam mimpi.


keluarga Wijaya juga tidak peduli jika Nara makan di kamar, mereka bercanda ria tanpa menganggap Nara ada.


tapi Nara? dirinya tak peduli yang penting Lio dan abang abangnya (bukan kelima abang yang ada di keluarag Wijaya) berada di sisinya, itu sudah cukup untuk menemaninya.


Lio, peliharaan Reva sejak memasuki smp, mereka telah melewati suka duka bersama, Lio juga seakan mengerti apa yang terjadi dan apa yang di rasakan Nara.


Cast Whitelio.



Whitelio saat baru di adopsi oleh Reva.



Full body Whitelio


__ADS_1


***makasih udah nunggu up!


jan lupa vote and komen***!


__ADS_2