I'M (Not) Antagonist

I'M (Not) Antagonist
Chap.07


__ADS_3

kini di markas utama Antrax sangat ramai, karna sedang mengadakan party atas kemenangan mereka tadi, waktu sudah menunjukan pukul 20:34, luka mereka sudah mereka obati beberapa saat yang lalu.


Nara dan dimas dkk sedang mengobrol di kursi yang ada di sana, hal itu tak luput dari pandangan Aksa dkk.


musik menggema di ruangan itu, macam macam minuman dan cemilan tersaji di mana mana, asap rokok dan vape mengepul di ruangan itu, tapi itu tak menghalangi mereka untuk melakukan aktivitas sesuai keinginan mereka masing masing.


sesekali Alva dan Alvi melirik ke arah Nara yang sedang tertawa bersama Dimas dkk. ntah setan apa yang merasuki Aksa dkk, mereka menghampiri kumpulan Dimas dkk + Nara.


"weyy bang, lagi apa lo?" tanya Niel so' akrab kepada salah satu anggota inti yang sering di panggil Al.


"lagi duduklah bego," jawab Al santai.


Aksa dkk pun duduk di hadapan Dimas dkk.


"Ada apa nih tiba tiba kesini?" tanya Nara santai saat melihat Aksa dkk duduk di hadapannya.


"emang gak boleh? inikan markas Antrax," jawab Niel.


"ya ya nggak sih, cuman aneh aja gitu daritadi duduk disana tiba tiba pindah kesini, hehe," ucap Nara santai di akhiri kehkehan yang manis, lalu tangannya mengambil minuman soda yang ada meja.


"Makasih bang, udah bantuin geng Antrax buat ngalahin Blue Sanca dan Black Snack," ujar Aksa, lalu berjabat dengan Dimas dkk satu persatu, begitupun dengan Alvi, Alva, muel dan Niel.


"gapapa, santai aja," jawab Dimas dingin.


"lo gak pantes bang dingin dingin gitu," celutuk Nara tiba tiba, lalu menegak kembali minuman bersoda yang ada di tangannya.


"dasar adek laknat lo," balas Dimas santai lalu duduk kembali.


"hehe, kapan lo mau pulang?" tanya Nara santai.


"emang mau ngapain nanya dimas kapan pulang? mau minta bensin lo?" celutuk El, sang wakil ketua Black Silver.


"nahh, tuh tau hehe, lo taukan bang gue hari ini izin gak kerja? otomatis gue gapunya uang buat beli kebutuhan," jawab Nara santai lalu mengambil salah satu bungkus keripik singkong yang ada di atas meja.


"bukannya lo suka malak ya Nar?" pertanyaan itu meluncur dari mulut sexy Andre, salah satu anggota inti Black Silver yang menjabat sebagai Sekertaris.


"anj- astagfirllah, kamu ini berdosa banget, gue udah tobat," jawab Nara yang mengelus dadanya sabar.


"heleh tobat tobat, tapi masih meres duit abang abang lo," sahut Ano, salah satu anggota inti Black Silver yang menjabat sebagai Bendahara.


Nara yang mendengar itu langsung melemparkan keripik singkong yang ada di tangannya ke arah wajah Ano dan Yap! kena tepat di tengah tengah alis Ano.


"bangsat lo! abang abang guekan kaya raya, udah ada yang jadi CEO, tentara, jendral, pilot, nahkoda, dokter kanker, dokter anak, dokter bedah, dokter operasi plastik, dokter kosmetik dan masih banyak lagi, sedangkan gue? mau jajan juga harus kerja dulu, gue juga ngebantuin abang abang gue," jelas Nara panjang lebar dengan sesekali memakan keripik kentangnya.


"ngebantuin apa lo? ngehabisin uangnya?" tanya Al tepat sasaran.


"nahh!! betul bang Al! gue ngebantuin ngehabisin uangnya! kasiankan kalo uangnya cuman ñumpuk di BlackCard, lagian nih ya, kalo gue mau minta mansion atau apartemen ke abang gue, beuhh di jamin!! detik itu juga gue dapet tuh mansion sama apartemen," seru Nara heboh.


Pletak!


jitakan itu mendapar mulus di jidat Nara, dan pelaku utamanya adalah Dimas.


"adohh, apa apaan sih bang, main jitak aja, sakit tau," ringis Nara lalu mengusap jidatnya yang kena dampar.


"pamer teross," sinis Dimas.


"gapapa, yang penting yang gue katain itu fakta," sahut Nara santai, lalu mengambil Minuman soda tadi yang tersisa setengahnya.


"gue ga percaya," sahut Niel tiba tiba, hal itu sukses membuat semua pasang mata menoleh ke arahnya.


"terus kenapa lo malah kerja, kalo ada abang abang lo yang bisa lo porotin?" tanya Jordi santai dan menghisap vapenya.


"gue juga mikirlah bego, abang abang gue punya tanggung jawabnya masing masing, yakali gue harus peres tiap kali mau jajan," balas Nara sinis lalu menegak kembali minuman sodanya.


"kek kemarin, kalo ada yang bener bener terdesak gue minta ke abang gue," lanjut Nara.


"emang berapa abang lo?" tanya jordi kepo.


"gatau, gue lupa lagi, tapi yang paling deket sama gue mungkin ada 35 lebihanlah, iya gak bangdim?" Ucap Nara santai di akhiri pertanyaan. yang di angguki oleh Dimas.


"gimana lo bisa dapet abang angkat sebanyak itu, lo ngejual tubuh lo?" tanya Niel sinis, Dimas dkk yang mendengar itu langsung menatap tajam Niel dengan tatapan yang setajam silet itu. Niel yang di tatap seperti itu oleh lima orang itu bergidik ngeri.


"heh!! enak aja lo bilang gue ngejual tubuh gue!! gue masih tersegel dengan aman!! kalo gak percaya tanya aja sama suami gue nanti pas gue nikah, dan kalo soal abang gue dapet dari beberapa kejadian yang tidak di sengaja, kek bang Dimas nih, gue ketemu di 2018, gue gak sengaja nyelamatin adiknya yang hampir di culik, nah dari sana kita ketemu hampir tiap hari dan ngobrol ngobrol, pada akhirnya dia ngangkat gue jadi adiknya, iya gak bang?" tanya Nara di akhir kalimatnya, sembari menaik naikan kedia alisnya, dan di angguki oleh Dimas karna memang yang di katakan oleh Nara faktanya begitu.


"jadi lo ngemanfaatin abang abang lo?" pertanyaan tak bermoral itu meluncur dari mulut si bangsat Alva.


"enak aja lo!! gue bukan ngemanfaatin ya! lagiankan sesama adik kakak harus saling tolong menolong, lagian nih ya, gue gak pernah tuh minta yang aneh aneh, paling cuman minta traktiran ataupun minta uang cuman buat jajan, yang ada abang abang gue ngasih barang barang brand, motor, ataupun tiket liburan, ya karna gue baik jadi gue terima," jelas Nara panjang lebar, enak saja dirinya di fitnah cuman ngemanfaatin duit abangnya doang.


"terus kemana barang barang yang di kasih abang abang lo? kok gue gak pernah liat lo pake," tanya Alva curiga.


Deg


'Astagfirllah, kenapa gue lupa kalo sekarang gue ada di tubuh adiknya si bajingan Alva sih' rutuk Nara dalam hati.


"ya gue juallah, buat jajan, bùat uang saku bulanan yang sering di potong," sahut Nara cepat dan santai.


"gue masih gak percaya, masa cuman dengan sekali minta langsung terwujud," ucap Jordi santai.


"gue juga, gue mau bukti semua omongan lo bukan omong kosong," sahut Niel yang mendukung ucapan Jordi.


"oke, karna gue lagi dalam mood baik, jadi gue harus ngebuktiinnya gimana?" tanya Nara santai.


Dimas dkk hanya mampu menghela nafas dan menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang adik tersayang mereka ingin pamer ke abang tak tau dirinya.


"coba lo telpon salah satu abang lo, terus lo minta motor sport keluaran terbaru yang baru di keluarin kemarin," sahut Aksa santai. meskipun tampilannya yang dingin dan datar, tapi di dalam hatinya juga terselip rasa kepo.


"oke," sahut Nara lalu mengeluarkan handphonenya yang berlogo apel di gigit berwarna hitam.


"sejak kapan lo ganti handphone?" tanya Alvi dingin. dan Alva dan yang lainpun kini melihat handphone Nara.

__ADS_1


"eh? minggu lalu," jawab Nara santai lalu menyalakan ponselnya.


"bukannya uang jajan lo masih di potong yà sama papah? lagian dengan gaji lo cuman sejuta dua juta, mana mungkin bisa beli handphone gituan, lo pasti morotin abang abang lo kan?" ucap Alva sinis.


"heh!! enak aja, nih handphone bukan dari abang abang gue ya! gue menang give eway(author lupa cara nulisnya hehe) ya!" sewot Nara.


"udahlah, gak usah di bahas cuman hp doang, kek ngebahas berlian aja lopada," sahut Al santai. dan di balas dengusan kesal dari Nara.


Merekapun diam, melihat apa yang di lakukan oleh Nara, Narapun membuka aplikasi Whatshap di ponselnya lalu mengetikan nama kontak aalah satu abangnya.


dirinya menghubungi bang Satria, abang kandungnya saat berada di tubuh Reva.


dirinya mulai memencet tombol telpon dan meng loude spicker telponnya. lalu menyimpan handphonenya di tengah tengah meja, yang sudah di bersihkan oleh El dari minuman dan cemilan.


Dimas dkk menegang kala melihat nama kontak yabg berada di layar handphone Nara, nama yang sangat mereka segani dan sekarang malah menjadi bahan taruhan Nara dan abang tak tahu dirinya itu.


"eh bentar bentar, kalo gue emang bener bener bisa minta motor itu, gue dapet apa?" tanya Nara.


Niel, Aksa, Alva dan Jordi saling pandang. "emang lo mau apa?" tanya Alva.


"eummm, BlackCard?" tawar Nara, Keempat pemuda itu tersenyum smirk lalu mengelurkan BlackCard mereka masing masing, dengan total 2,5 M per kartu.


emang ya, sultanmah bebas!


"nih, kalo lo emang bener bener bisa minta motor itu ke abang lo detik itu juga BlackCard kota lo pegang selama dua bulan," sahut Alva menyeringgai, dirinya berfikir jika Nara hanya membual, mana mungkin ada orang yang tak ada hubungan darah bisa mengabulkan permintaan yang besar dalam detik itu juga.


"Tapi! kalo lo kalah lo jadi babu kita dua bulan," lanjut Alva.


Nara yang mendengar itu menyeringgai tipis, tapi seringgaian itu tak luput dari mata Alvi yang tajam.


"Oke, Deal!!" ucap Nara berjabat tangan dengan Alva.


detik berikutnya panggilan kepada BangSat terangkat.


'Hello, ada apa princess yang cantik nelpon abang'. terdengar suara lembut dari sebrang sana.


Dimas dkk mendengar itu saling pandang, apakah benar yang du telpon Nara itu adalah Satria? wakil ketua Drak Diamond's yang terkenal akan kekejaman dan kedinginanya. sedangkan Aksa dkk hanya mendengarkan.


"hehe, bang, gue mau minta sesuatu nih--" ucapan Nara terpotong oleh suara abangnya yang berada di sebrang sana.


'Princess nau apa hmm? apartemen? tiket konser BTS, EXO atau NCT? Tiket liburan? mobil atau jet pribadi hemmm?' tanya Satria beruntun.


Aksa dkk yang mendengar itu menegang, oh ayolah! mereka bahkan tidak pernah di tawarkan seperti itu oleh orang tua mereka!.


Dimas dkk yang mendengar itu meneguk salivanya kasar.


"gue mau motor sport keluaran terbaru yang baru di keluarin kemarin," pinta Nara to the poin, lalu melirik ke arah Aksa dkk yang masih menegang.


'bahkan kalo Princess abang mau motor sport yang di keluarin bulan depan, abang bakal kabulin!!'


Semuanya yang mendengar itu mengerjab ngerjabkan matanya bengong.


"gue cuman mau itu, bisa gak bang?" tanya Nara menyadarkan Dimas dkk dan Aksa dkk yang bengong.


hati Jordi dan Niel yang mendengar itu deg deg degan tak karuan.


"warna hitam, kalo bisa sih paling lambat besok pagi, ya di anterin ke rumah guelah, emang mau kerumah siapa lagi," Sahut Nara santai.


'okelah, kalo gitu besok pagi sampe, yaudah abang pesenin dulu ya!! bye bye cantik,'


setelah itu panggilanpun terputus, dan dengan itu Aksa dkk sadar dari acara bengongnya. Nara yang melihat itu menyerigai sekilas llau mengambil kembali handphonenya.


"Gimana?" tanya Nara santai.


Alva yang mendengar itu menetralkan wajahnya.


"gue masih agak ragu, gimana kalo malam ini kita nginep di rumah Alvi? biar besok pagi kita tau, itu beneran atau cuman omongan doang," usul jordi.


"dan kalo emang itu beneran, besok pagi setelah motor itu ada di depan kita, baru kita kasih nih BlackCard," lanjut Jordi.


"okelah! gue setuju," ucap Nara lalu mengambil batang rokok yang ada di atas meja yang sudah berisikan minuman dan cemilan tadi.


saat ingin menyalakan rokok itu, rokok tersebut di rebut oleh Alvi yang sedang meresmas rokok iyu sampai tak layak pakai.


"heh!! apa apaan lo?!!" Tanya Nara tak santai. tapi tak ada jawaban dari Alvi yang ada hanya pandangan datarnya.


"Nar, lo jangan kebanyakan nyentuh barang itu, tadi lo udah minum wine hampir sebotol," celutuk Al tiba tiba.


Aksa dkk yang mendengar itu membelalakan matanya, lalu pandangan Alvi mengarah keoada Nara tajam. setajam omongan tetangga, eh?.


"bener?" tanya Muel, yang sedari tadi menyimak, dan di angguki oleh Dimas dkk, Nara yang melihat itu hanya mendengus.


"lo berubah," kata Alvi yang menatap tajam Nara.


"heh, semua manusia juga pasti ada perubahan ya! yang tadinya lemah jadi kuat, yang tadinya bodoh jadi pintar, yang tadinya miskin jadi kaya, yang tadinya cinta jadi benci, yang tadinya nangis jadi ketawa, hidup itu berputar man! kadang di atas, kadang di bawah," Jelas Nara.


"Dahlah percuma ngejelasinnya juga, BangDim yok lah kita balik, udah jam setengah satu nih," ajak Nara yang melihat jam tangannya.


"hmm, gue balik," pamit dimas lalu melakukan tos ala ala pria. yang lain pun sama kecuali Nara yang sedang mencek barang barangnya, setelah mengecek tak ada barang yang tertinggal dirinya langsung bersiap siap pergi.


"gue balik, siap siap besok kehilangan uang saku," ucap Nara kepada Aksa, Niel, Jordi, dan Alva. lalu melenggang pergi dari sana meninggalkan markas utama Antrax.


********


Matahari mulai menampakan sinarnya, langit malam yang berwarna hitam kini tergantikan dengan warna biru muda yang cerah. burung burung berkicau menyambut pagi ini, embun pagi membasahi bumi dan semilir angin pagi yang menyejukan menjadi pelengkap di pagi hari ini.


Nara sudah memakai seragam lengkap, Baju putih yang longgar yang di keluarkan, rok abu abu setengah CM di atas lutut yang sedikit longgar agar mudah berlari, jam tangan rolex pemberian ****** saat Rapat kemarin, sepatu Sneakers berwarna putih polos, kaos kaki yang semata kaki, rambut yang di cepol asal dengan karet yang selalu ada di saku baju seragamnya, dasi yang di lilitkan di tangan kiri seperti sarung tinju, dan tas hitam polosnya yang tergantung di pundak kanan yang berisikan satu buku, satu bolpoin, satu Novel, Canger, PowerBank, Earphone dan Handphone.


Nara melihat dirinya di cermin Fullbody, ah dirinya sangat mirip anak nakal yang selalu menjadi buronan guru BK. Nara terkehkeh sendiri melihat dirinya di pantulan cermin.

__ADS_1


setelah puas dirinya keluar dari kamarnya lalu menuruni tangga untuk mengambil sarapan yang sudah di siapkan oleh bi isah.


saat di tangga terakhir, dirinya melihat di ruang makan semuanya sudah berkumpul untuk sarapan dan bahkan sudah memulainya.


waktu masih menunjukan pukul 06:15, jadi masih banyak waktu untuk kesekolahnya.


Nara berjalan santai kedapur untuk mengambil sarapannya dari bi isah, dirinya berbincang bincang ringan dengan kepala Maid tersebut.


setelah melihat jam yang sudah menunjukan pukul 06:30 dirinya pamit untuk pergi kesekolah kepada kepala maid tersebut.


saat melewati ruang makan, suara seseorang yang sangat di hindarinya memanggil dirinya, bukannya takut pada dia, hanya saja Nara takut membunuhnya jarna wajah so'k polosnya itu.


"Kak Alin, kenapa tidak ikut sarapan?" tanya Ana lembut dengan wajah yang sayu dan polos. pertanyaan itu berhasil menyita semua pandangan keluarga wijaya.


Nara membalikan badannya dan mekihat Ana yang sedang duduk di kursi meja makan dengan wajah polosnya.


"gue sibuk," balas Nara singkat padat dan jelas.


Dengan perasaan dongkol Nara membalikan tubuhnya agar bisa keluar dari ruang makan ini.


"Dasar tidak tahu sopan santun!!" bentak Dika, sang kepala keluarga Wijaya.


"Dasar anak tidak tahu di untung!! dasar anak sialan!!" sentak Nita, nyonya keluarga Wijaya.


Nara yang mendengar itu hanya mengendikab bahu lalu berjalan keluar dari ruang makan.


di ruang makan, Ana memulai dramanya.


"Kak Gevan, apa kak Alin benci sama Ana hiks?" tanya Ana dengan isakan kecil.


"ssttt, kak Alin cuman lagi sibuk, lagian kenapa sih kamu selalu mikirin Alin, bukannya dia selalu jahat sama Ana?" ucap Gevan lembut lalu mengelus rambut Ana yang di gerai dengan halus.


"ta-tapikan kak Alin, tetep aja so-sodara Ana," jawab Ana sesenggukan.


"suttt, udah ya, Ana jangan nangis, nanti kak Geo bicara sama kak Alin," ucap Geo lalu memberi minum agar Ana tidak sesenggukan.


"Ana jangan nangis ya, nanti papah beliin boneka buat Ana," bujuk Dika lembut.


"iya Ana sayang, nanti mamah juga kasih Ana gaun yang bagus," sahut Nita lembut.


merekapun membujuk Ana dengan segala upaya, tanpa mereka sadari, salah satu dari mereka menatap Ana intens.


'Apakah drama ini tak akan pernah selesai?' batin orang itu.


beberapa menit kemudian, mereka pergi ke masing masing tujuan mereka, seperti Dika akan ke perusahaan, Nita ke butik, Gevan ke perusahaan, Geo ke rumah sakit, Naufal ke kampus, dan Ana yang kesekolah.


sedangkan Aksa dkk masih di teras mansion, saat ingin melangkahkan kakinya, tiba tiba datang seorang bodyguard yang tergesa gesa menuju ke arah mereka.


setelah di hadapan Aksa dkk, bodyguard itu mengatur nafasnya yang tersenggal senggal.


"hosh hosh, i-itu den, di-di depan hosh," ucap Bodyguard itu


"tarik nafas, buang. tarik nafas, buang. tarik nafas buang," ucap Niel mengintrupsi, dan itu juga yang di lakukan oleh bodyguard itu.


"ada apa?" tanya Alva santai.


"itu den, di depan ada yang mau ngirim motor atas nama nona Alin," Ucap bodyguard itu setelah nafasnya teratur.


Aksa dkk menegang, apakah apa yang di ucapkan Nara tadi malam adalah kebenaran?.


Bughh


terdengar suara sesuatu terjatuh dari arah samping dan itu berhasil mengalihkan atensi Aksa dkk dan bodyguard.


disana terlihat Nara yang sepertinya terjatuh dari atas pohon mangga yang ada di samping mansionnya itu.


Nara, Yap! sekeluarnya Nara dari ruang makan, dirinya langsung memanjat pohon mangga yang ada di samping mansionnya, tadi sebelum dirinya melakukan ritual mandi, Nara mendapat pesan jika motor yang di jadikan taruhan oleh mereka semalam sedang di perjalanan kira kira pukul 07 pagi akan sampai. dan yap! sekarang masih lima belas menit lagi ke pukul tujuh pagi tepat.


saat mendengar motornya sudah di depan gerbang, dirinya sangat senang, Nara akan mendapatkan motor keluaran terbaru dan mendapatkan uang 10 M dalam satu waktu, heyy!! siapa yang tidak mau keberuntungan itu? tentu saja semua orang mau, termasuk Nara, saat ingin turun dirinya terpeleset dahan yang licin yang berakhir terjatuh dari ketinggian dua meter setengah.


meskipun jarak antara Nara dan Aksa dkk 30 meteran tapi karna telinganya sudah terlatih sebagai Queen Drak Diamond's, jadi masih bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, terlebih suasana halaman sepi.


dengan cepat Nara berdiri dan mengambil tasnya lalu berjalan ke arah Aksa dkk. setelah ada di depan Aksa dkk dirinya berkata, "ayo kedepan, kita liat motor baru gue," lalu Nara mekenggang begitu saja di ikuti Aksa dkk. jangan lupakan bodyguardnya tadi.


setemah sampai dirinya melihat seseorang tengah menurunkan motor sport keluaran terbaru yang baru di keluarkan kemarin. Niel, Jordi dan Alva yang melihat itu melongo. sedangkan tiga lainnya menatap datar motor itu.


Nara yang melihat ekspresi mereka hanya menueringgai tipis.


setelah motor itu ada di depannya dirinya berterimakasih kepada kurir yang mengantarkan motor ini.


"oh ya, ini adalah bonus hadiah dari kakak anda," ucap salah satu dari mereka lalu menuerahkan kunci perak yang berbandul QW.


Nara yang melihat itu langsung antusias lalu mengambil kunci itu dengan cepat.


"kapan datangnya?" tanyanya antusias kepada kurir itu.


"kata kakak nona, akan sampai saat tengah hari," jawab kurir itu jujur, dan itu membuat Nara kesenangan sampai melupakan Aksa dkk ada di belakangnya.


"ehem, saya akan pulang, terimakasih telah berbelanja di xxxxxxxxxxxx kami," ucap kurir itu lalu pergi dengan mobil yang mengantarkan motornya.


saat melihat motor itu, Nara langsung sadar ada Aksa dkk di belakangnya, dengan cepat dirinya memasukan kunci perak tapi kedalam tasnya. lalu berbalik menghadap Aksa dkk.


"gimana? gue menang, mana BlackCard kalian?" tanya Nara santai sambil memutar kunci motor sport barunya.


tapi sebelum memberikan kartunya, mereka memeriksa keaslian motor sport tersebut, dan hasilnya adalag Asli!. dengan setengah mati tak rela, Aksa, Niel, Jordi dan Alva menuerahkan kartu BlackCard mereka.


"oke! dua bulan lagi kartu kalian bakal balik lagi, tapi gue gak yakin isinya bakal ada atau nggak,"


setelah mengucapkan itu, Nara pergi begitu saja ke sekolah. tanpa menghiraukan wajah memelas empat orang yang BlackCardnya di ambil oleh Nara.

__ADS_1


***Makasih buat kalian yang selalu nunggu up!! ini aku lagi mood banget ngetik, jadi aku bikin part ini 3000 lebih kata!.


PenaInfit🕊***.


__ADS_2