I'M (Not) Antagonist

I'M (Not) Antagonist
Chap.08


__ADS_3

Pagi ini VHS di gemparkan dengan kedatangan Nara yang menggunakan motor sport keluaran kemarin, helm fullpacknya yang menambah kesan kerennya.


bukannya ke kelas, Nara malah duduk santai di motor, dirinya menunggu seseorang. telinga tajamnya juga sesekali mendengarkan gosip siswa siswi yang membicarakan Renald Aliandi, most wantend boy yang terkenal dingin dan berprestasi, hari ini adalah hari kepulangannya dari olimpiade sains di LA, membawa nama besar negara untuk mengikuti lomba internasional tersebut. Renald memnadapat juara II.


beberapa menit kemudian matanya melihat motor Aksa dkk dan mobil sport berwarna putih dengan beberapa titik berwarna biru muda. Nara tersenyum manis kala melihat plat mobil tersebut.


siswa dan siswi yang ada di parkiran menyangka bahwa Nara tersenyum kepada Aksa dkk. ah ya, parkiran motor dan mobil itu bersebalahan.


Parkiran sepeda/ parkiran motor/ parkiran mobil.


sedangkan Nara berada di ujung parkiran motor, Nara tersenyum kala melihat orang yang di tunggunya tadi keluar dari mobilnya yang terhalangi oleh motor Aksa dkk.


Aksa dkk yang sudah turun dari motornya mengeryit heran kala melihat ke arah mereka sambil tersenyu.


merasa di perhatikan seseorang, orang itu membuka kaca mata hitamnya yang bertegar manis di hidung mancungnya, mata yang berwarna abu abu gelap itu menyusuri gerombolan siswa yang sedang memperhatikannya, saat menoleh ke arah kanan dirinya mendapati seseorang yang sangat di rindukannya, meskipun bukan di tubuhnya yang real tapi jiwannya sama.


Renald tersenyum tipis kala melihat senyum manis Nara, Nara yang melihat senyum tipis Renald mengedipkan matanya sebelah. Aksa dkk yang mengira itu di tunjukan kepada mereka mulai menyumpah serapahi Nara.


"ngapain lo ngedip mata kek gitu," sinis jordi.


"jiwa jalangnya kumat lagi woyy," sahut Niel ketus.


"mau di colok tuh mata?" tanya Alva sewot.


"dasar kecentilan," ujar Aksa dingin.


"jangan harap karna lo menang taruhan, lo bisa jadi pacar sahabat gue," sahut Niel sinis.


Nara yang merasa dirinya di sumpah serapahi oleh Aksa dkk mengeryit bingung, apakah dia melakukan kesalahan? sepertinya dirinya tak melakukan apapun yang membuat mereka kesal.


dirinya kembali mengarahkan pandangannya ke arah Renald, bibir Renald seakan berucap tanpa suara. 'peluk,?'.


Renald merentangkan tangannya, para siswa dan siswi kebingungan atas apa yang di lakukan oleh idola mereka. mereka tak menyadari pandangan Renald hanya terpokus kepada Alinara.


Nara yang mengerti kode itupun kembali senyum manis dan matanya mengerjap ngerjapkan matanya polos. oke! ralat, pura pura polos.


Narapun merentangkan tangannya seperti akan memeluk seseorang, Aksa dkk yang melihat itu langsung menatap sinis ke arah Nara.


Renald yang kebetulan berada di belakang Aksa, menjadikan pandangan orang orang berpikir Nara akan memeluk Aksa. padahal bukan!.


Nara berlari lurus, yang berarti menuju Aksa dkk, Aksa dkk yang melihat itu langsung menghindar dan terbelah menjadi dua bagian, Nara melewati mereka dan masih berlari ke arah Renald, Aksa dkk yang melihat Nara tak berhenti langsung melihat Nara yang berlari ke arah Renald.


para murid sudah was was apa yang akan di lakukan Nara.


brukk


tubuh Nara dan Renald menyatu dalam pekukan hangat, para siswi memekik kebaperan melihat adegan uwu di depannya, Nara mengeratkan pelukannya kepada Renald dan Renald pun sama.


para siswi masih kebaperan sendiri, ada yang menggigit jarinya sendiri, memukul teman karna kelewat baper, lompat lompat, dan memekik keras.


begitupun dengan Aksa dkk melihat itu cengo, di dalam hati mereka merasakan malu yang teramat karna mengira Nara akan menempel pada Aksa ataupun Alva dan Alvi.


*****(•♡•)*****


"jadi Renald itu abang sepupu lo?"


"hmm,"


"gak nyangka gue, ternyata abang angkat lo cogan cogan semua,"


"hooh, gue juga gak kepikiran kalo si kutub itub abang sepupu lo,"


"katanya dia menang juara II, bener Nar?" di balas anggukan oleh Nara.


setelah acara peluk pelukan tadi pagi, Nara dan Renald menjadi tranding topic ter hot, banyak yang mengira kalau Nara sudah move on dari Aksa dan beralih ke Renald.


saat sampai di kelas dirinya di sambut oleh pertanyaan pertanyaan dari sahabatnya, jadi dirinya mengatakan bahwa nanti istirahat saja dan merekapun setuju.


Back topic.


Nara hanya menganggukan kepalanya kala pertanyaan itu terlontar dari Salsa.


tiba tiba kantin di hebohkan dengan kedatangan Renald, Renald hanya mempunyai satu sahabat yang bernama putra, jeritan dan pekikan menggema di seluruh kantin, Nara hanya mengacuhkannya karna kedatangan adik sepupunya itu, ya, saat berada di tubuhnya yang real Renald adalah salah satu adik sepupunya yang masih bersekolah, sekarang saat berada di tubuh barunya Nara menyebut Renald dengan sebutan abang karna tidak mungkin bukan jika dirinya memanggilnya dengan kata adik ataupun hanya namanya saja.


Nara hanya melirik sekilas kepada Renald yang melangkah ke mejannya lalu duduk di sebelahnya tanpa izin terlebih dahulu, Nara hanya mendengus.


"hayy sayang," sapa Renald genit, para siswi yang mendengar itu langsung memekik baper.


"jyjyk di," Andi, nama panggilan khusus dari Nara untuk Renald.


"kok gitu sih yang," balas Andi memelas, pekikan semakin bertambah kala mendengar Andi yang terkenal dingin menjadi lembut di depan sang Queen Bullying.


"yang yang, palalo peyang bego," umpat Nara di akhir kalimat.


"ck, susah ya ngeluluhin hati batu lo," lalu mencomot bakso milik Nara.


"heh, itu bakso gue nying," tangan Nara menoyor kepala Andi dengan sedikit keras.


"jangan gitu Nar sama suami sendiri," celutuk Syla polos lalu mendapat toyoran dari Salsa.


"sepupu bego, suami suami palalo," katanya membenarnya ucapan Syla tadi.


"kok gue gak tau ya kalo si Renald punya sepupu modelan kayak lo Nar," celutuk putra yang baru datang dengan makananannya dan makanan Renald.

__ADS_1


"gak semua bisa lo tau, setiap orang punya privasinya sendiri," jawab Lysa yang sedari tadi menyimak sambil membaca novel.


"gue nanyanya sama Nara bukan sama lo," Putra hanya mendengus lalu duduk di samping Renald.


"dihyhem," ucap Nara dengan mulut penuhnya membuat pipinya yang lumayan chubby menggembung.


Renald yang melihat itu terkekeh, ada ada saja sepupunya ini.


mereka yang mendengar ucapan tak jelas menoleh ke arah Nara yang sedang mengunyah bakso yang memenuhi rongga mulutnya itu.


detik berikutnya meja itu di penuhi suara tawa yang keras, beberapa meja mengalihkan perhatinnya ke arah meja Nara dkk, dan mereka yang melihat raut muka Nara yang sedang mengunyah itu terkekeh dan tertawa pelan. membuat wajahnya imut dengan keringan di pelipisnya yang mengenai anak rambut.


Nara yang di tertawakan hanya mendengus kesal, lalu menelan bakso yang ada di mulutnya secara kasar lalu meminum es jeruknya.


"ck, dasar temen laknat," umpat Nara pelan tapi masih terdengar oleh mereka yang ada di meja.


"hahaha njirr, perut gue sakit," ucap Putra sambil memegangi perutnya di balas gelengan oleh Renald.


"muka lo Nar, hahaha anjirr imut bangett," Ucap Salsa yang sedang meredakan tawanya dan du balas anggukan oleh Syla.


"oh iya Nar, bukannya lo mau ikut basket?" tanya Lysa mengalihkan topic.


"gak jadi," jawab Nara santai.


Lysa mengeryitkan alisnya, bukannya tadi saat di kelas Nara bilang ingin mengikuti Basket?, "kenapa gak jadi?," tanya Syla yang tawanya sudah reda.


"mager,"


pletakk


"sakit Andi bego," umpat Nara mengusap pelipisnya yang di geplak oleh Renald.


"kebiasaan lo, mager mulu kapan mau suksesnya,"


"masa depan guekan cerah, gak kayak lo burem,"


"gapapa burem, asal gak jadi beban negara,"


"bangsat lo,"


"jangan kasar baby,"


"jyjyk Andi Bangsat,"


"jangan jyjyk nanti punya anak banyak,"


"palalo anak banyak! pacar aja gak punya,"


"bukannya Aksa pacar lo ya?" tanya Putra yang sedari tadi menyimak.


"iya dulu gue sayang sama dia, sekarang nggak deh, najis,"


pletakk!!.


"siapa dulu yang ngamok di kantin sampe ngebanting kursi, meja, piring, mangkok sama gelas karna cemburu?" tanya Lysa sinis.


"emang gue dulu gitu yah?"


"iyalah bego," jawab Salsa.


"keknya dulu gue khilaf deh, atau nggak jerasukan jin sampe segitunya cemburu sama titisan setan,"


"Lo---"


Brakkk!!.


"anying,"


"bego,"


"tolol,"


"bangsat,"


"anak setan,"


"goblok,"


latah mereka tak karuan, kaget, itu yang mereka rasakan, sedang asik asiknya mengobrol tiba tiba meja di gebrak oleh manusia gak ada akhlak.


"Diam!," bentak Aksa, ah ternyata titisan setan yang baru saja di bicarakan muncul di hadapan mereka. kantin yang tadinya riuh menjadi hening kek kuburan.


"panjang umur lo, baru juga kita ghibahin udah ada di depan kita aja," ujar Nara santai tanpa melihat raut wajah Aksa dkk.


"diem lo!!" sentak Jordi keras.


"selow dong bro," sahut putra.


tanpa menghiraukan ucapan putra yang tak berfaedah, Nara bertanya kepada gerombolan Bajj- Bajj- Bajj... Bajj apa woyy!! bajjigur!! gak! eh? maksudnya Bajing*n.


"ada apa sih?, kok pada sewot," Nara menggaruk tenguknya yang tak gatal.


"gak usah pura pura bego lo!! lokan yang ngebully Ana di toilett!!! hah!!" bentak Alva tak sabaran.

__ADS_1


"gak usah ngebentak Nara, Sialan!!!" bentak Renald balik, dirinya tak rela kakak sepupunya di bentak oleh bajing*an yang ada di depannya.


"Diem lo bangsat!! gue gak ada urusan sama lo, gak usah ikut campur!!!" bentak Niel tak kalah keras.


"Lo siapa Anj*ing!! ngebentak sahabat gue!!," putra menyahut tak terima sahabat satu satunya yang selalu ada di suka dan duka di bentak begitu saja. kata yang akan keluar dari mulut Jordì terhenti kala mendengar teriakan Nara.


"Diem!!" teriak Nara melengking di telinga para penghuni kantin.


"jangan teriak teriak a*nying, telinga gue pengang!! coba ngomong b aja, santai, selow, nyantuyy, jan ngegas kek mau War," Lanjut Nara yang sedari tadi mendengar teriakan mereka.


"LO!!!---"


"Lo, lo, lo, lo, lo aja terus, gue apa?"


"LOKAN YANG NGEBULLY ANA DI TOILETT!! JAWABB?!!!" bentak Aksa.


"JA--" teriakan Rebald terhenti kala melihat tangan menandakan untuk diem.


"selow Bego, jangan teriak teriak gue masih punya kuping,"


"orang kayak lo gak pantes di baikin jalang," sinis Jordi.


"mulut lo ya,"


"jawab ALINARA!! lokan yang ngebully Ana!! jangan coba coba ngalihin pembicaraan bangsat!" sentak Aksa muak.


"ck, kata siapa gue bully tu orang? gue gak pernah ya bully dia, dari tadi gue disini, makan bakso, ngeghibah, ketawa ketiwi, ngapain gue ngebully kesayangan lopada? gak guna,"


"jangan ngelak Alin!!" bentak Alva.


Brakk!!.


Nara berdiri dari duduknya lalu menatap Alva tajam.


"JANGAN PANGGIL GUE ALIN BANGSAT!! ALIN UDAH MATI!! LO TAU MATI?! HAH?! ALIN LO UDAH MATI!! ALIN YANG LEMAH, MURAHAN, PASRAH DAN BODOH ITU UDAH MATI!! SEKARANG HANYA ADA NARA!! HANYA NARA!! NARA YANG GAK AKAN PERNAH NGERENDAHIN HARGA DIRINYA SEBAGAI PEREMPUAN HANYA KARNA CINTA!!, YANG TIDAK AKAN MENGEJAR LAKI LAKI YANG TAK TAU DIRI!! YANG TIDAK AKAN MENGEMIS KASIH SAYANG DAN PERHATIAN LAGI!!, DAN SATU LAGI!! GUE GAK PERNAH NGEBULLY KESAYANGAN LO LAGI SEMENJAK DIA!!---" tangan putih Nara menunjuk Ana yang berada di belakang Alva dengan pakaian berantak dan beberapa lebam di wajahnya "HAMPIR NGEBUNUH GUE!!" lanjutnya keras.


suasana kantin yang tadinya mencekam menjadi lebih horor dan mencekam kala teriakan Nara menggelar di kantin, bahkan teriakan Nara terdengar sampai ke taman samping yang terhalangi beberapa kelas 10.


"MAKSUD LO APA NUDUH ANA HAMPIR NGEBUNUH LO BANGSAT!!" bentak Alva.


"GUE GAK NUDUH!! ITU FAKTA!!"


"JANGAN NGADA NGADA LO JALANG!!" Bentak Niel.


Plakk!!.


kepala Nara menoleh ke arah samping, tamparan keras Nara rasakan hingga ujung bibirnya berdarah, panas menjalar di pipinya.


"Jangan pernah fitnah Ana, jalang sialan," tekan Aksa, ya yang menamparnya juga adalah Aksa.


Nara meraba pipinya pelan, perih dan panas itu yang Nara rasakan, nafasnya memburu, matanya berkilat tajam, hawa semakin mencekam, dan menegangkan di kantin, di pintu kantin ada banyak siswa siswi yang melihat itu, mereka datang saat mendengar teriakan Nara yang menggelar keras.


Nara terkekeh pelan, kehkehan itu menyebabkan bulu meremang, aura horor, mencekam, menegangkan, dan aura membunuh memenuhi kantin, aura membunuh itu berasal dari Nara, dirinya merasa harga dirinya terinjak injak kala tangan najis Aksa menyentuh pipinya.


Nara mendongkan kepalanya menatap tajam Aksa, Aksa yang dilihat seperti itu tiba tiba merinding.


Nara memutuskan kontak mata dengan Aksa dan menatap Ana yang berada di sisi Alva dengan netra hitam legamnya itu.


kakinya melangkah maju menuju Ana, Aksa masih belum sadar dari bengongnya menatap kosong kearah meja kantin.


tak... tak... tak... takk.. takkk..


suara sepatu menggema di kantin, saat sudah di hadapan Ana, dirinya menatap tajam dan dingin ke arah Ana.


"mau apa lo?" tanya Alva sinis.


Aksa sadar kala mendengar suara Alva lalu menoleh kebelakang, netranya melihat Nara berada di hadapan Ana.


"syuttt, jangan menangis sayang..... mata lo bakal bengkak kalo nangis, nanti gak cantik dong terus nanti Aksanya-lo gak cinta lagi sama lo kalo lo jelek," ucap Nara lembut dan halus, bukannya mencairkan suasana, Nara malah menambah aura mencekam di kantin.


lalu Nara membalikan badan melihat Aksa. dan berkata.


"gue udah bilang, gue gak ngebully Ana, mau percaya gak percaya terserah, faktanya emang gue gak ngebully," ucap Nara tanpa Nada.


lalu mengalihkan pandangannya ke arah mejanya disana Nara bisa melihat Salsa dan Syla yang meminum jus mereka masing masing, Lysa yang sedang memandanginya dengan tatapan sulit di artikan, Renald dan putra yang sedang memakan popcorn, ntah dapat dari mana tuh bocah.


awalnya mereka ingin membantu Nara tapi Nara mengode untuk diam dan tak ikut campur, jadi mereka hanya bisa diam.


"Cabut," Lanjut Nara lalu berjalan melewati Ana. saat di samping Ana, Nara membisikan sesuatu yang membuat Ana takut sekaligus marah.


'Let's play the game, lo yang memulai dan gue yang mengakhirinya,' bisik Nara pelan, sangat pelan sampai sampai hanya Nara dan Ana yang mendengarnya, lalu kembali menjutkan langkahnya dan pergi dari kantin.


sedaritadi awal Ana sudah menangis palsu dalam diam, tapi di saat Nara berteriak dirinya juga langsung menciut, di tambah aura yang di kantin suram, mencekam horor dan menegangkan, jangan lupakan hawa pembunuh menguar begitu saja.


"udah nih, cuman segini?" tanya Salsa memecahkan keheningan.


"keknya udah, yo cabut susul Queen gue," jawab Renald dingin lalu pergi dari kantin di ikuti yang lainnya.


Kantin masih hening, horor dan mencekam hanya ada suara sesenggukan dari Ana. mereka tersadarkan kala mendengar suara bel masuk.


ah, ya saat pertengkaran mereka masih berlanjut ada beberapa orang yang pingsan karna tak kuat akan hawa yang ada di kantin.


mereka kembali ke kelas mereka masing masing, mereka juga masih membicarakan Alinara, biasanya jika ada pertunjukan seperti tadi Alinara selalu mengamuk ataupun mengiyakan perilakunya, dan ini pertama kalinya pertengkaran mereka menyebabkan kantin menjadi suram, horor dan mencekam.

__ADS_1


sedangkan Ana di antar ke UKS untuk istirahat, Aksa dkk pun pergi ke kelas setelah mengantar Ana.


oke, ehem ini udah hari ini aku up, mood lagi baik karna dapet jajanan gratis dari temen hehe, jangan lupaVote!!.


__ADS_2