
jam sudah menunjukan waktu istirahat pertama, beberapa menit yang lalu. para human, eh? maksudnya manusia.
para manusia yang ada di gedung itu mulai membubarkan diri dari kelasnya, ada yang ke perpus, ke taman, ke kantin, dan kemana mana hati Author senang.
dahlah skip.
Syla, Lysa dan Salsa sedang berada di kantin, dan tanpa Nara, ntah kemana tuh bocah.
"Nara kemana?" tanya Lysa, karna sehabis dirinya dan yang lain gagal membolos dirinya sudah tak melihat Nara.
"gatau, daritadi gak masuk kelas," jawab Salsa seadanya.
"paling bolos kek kemaren, kemarin kemarin juga dia gak masuk satu jam pelajaranpun," lanjutnya.
"iya, katanya sih mau ngambil uang tabungan buat bertahan hidup," Syla menyahut dengan bakso di mulutnya.
"emang dia kekurangan uang? setau gue keluarga Wijaya kaya raya," ucap Salsa bingung.
"lo lupa? kalo uang jajan Nara cuman ¼ dari uang jajan si Anjing, apalagi kemarin dia di fitnah sama tuh jalang, jadi uang jajannya di potong jadi setengahnya," jelas Syla.
"anjirr, gue gak bisa ngebayangin gimana hidupnya, secara dia udah gamau berurusan lagi sama keluarganya," balas Salsa bergidik ngeri, kala mendengar penuturan dari sahabatnya.
"gue pikir--" ucapan Lysa terpotong karna deringan dari ponselnya.
kringg kringg drettt
dengan cepat dirinya mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon. Lysa mendongak melihat sahabatnya yang menatap dirinya dengan tatapan bertanya.
"Nara nelpon," jawab Lysa saat mengerti tatapan sahabatnya itu.
"ya terus kenapa lo liatin aja bego, angkat cepet," Syla bingung dengan Lysa, terkadang bijak dan tenang tapi juga rada bego.
"loude spiker," salsa menyahut dan di balas anggukan oleh Lysa, dengan cepat Lysa mengangkat telpon itu dan di letakan di tengah tengah meja.
"lemot amat ngangkat nying," terdengar suara dari sebrang sana.
"sorry, lagi makan soalnya," jawab Lysa santai. kedua sahabatnya yang mendengar jawaban Lysa memutar bola matanya malas.
"bego, oh ya gue mintol nih, boleh gak?,"
"boleh, emang mau mintol apa?" Syla mnyahut.
"eh, di Ls ya? yaudahlah serah, gue mintol izinin gue sampe pelajaran terakhir,"
"lah, lo gak balik ke school?," tanya Salsa.
"nggak, gue ada urusan,"
"emang lo mau kemana?" tanya Lysa.
"gue mau nyari kerja, uang tabungan gue udah nipis, jadi gue mau nyari kerja yang part time, biar bisa sambil sekolah,"
"emang lo sekarang dimana?" tanya Lysa.
"gue di pinggir jalan, lagi istirahat,"
"lo udah makan?" tanya Salsa cemas.
"udah, tadi beli Nasi uduk,"
"syukur deh kalo gitu," Syla menyahut dengan santai.
"yaudah, gue lanjut nyari kerjaan dulu, lopada jangan bolos, byeee,"
tut tut tut...
"gue kasian sama si Nara, kita kita disini enak enak, sedangkan dia? lagi panas panasan nyari kerja," ucap Salsa lemas.
"iya, tapi mau gimana lagi? setiap kali kita mau bantuin dia, dia malah nolak," lanjut Syla.
"hah, Nara emang gitu, gue juga sering mau bantuin dia saat uang jajannya di potong, tapi dia bilang masih ada uang tabungan, keknya uang tabungannya udah nipis jadi dia nyari kerja," ucap Lysa mengehela nafas lelah, setelah itu mereka melanjutkan makannya dengan hening. bergelut dengan pemikiran masing masing.
tanpa disadari oleh mereka, meja sebelah kiri yang berisikan Muel, Niel, dan dua A, mendengar semua percakapan mereka, dari awal hingga akhir.
mereka juga bergelut dengan pikiran masing masing kala mendengar semuanya dari awal.
****
di Lain tempat, tepatnya di pinggir jalan, Nara sedang berjalan kaki di terotoan jalan, motornya ada di Cafe, sebelum mencari kerja dirinya ke Cafe terlebih dahulu, untuk menyesaikan berkas berkas pengeluaran Cafe.
dirinya sekarang hanya membawa Ktp, dan izajah Smp untuk melamar kerja.
__ADS_1
dirinya tidak mau terus terusan mengambil uang Cafe, uang Cafe hanya akan di gunakan saat darurat saja, jadi ya begitulah.
dirinya sudah beberapa kali keluar masuk dari toko roti, bunga, kue, sepatu, Cafe, dan beberapa toko lainnya, sampai sampai ke Wartegpun dirinya datangi untuk mencari pekerjaan.
dirinya mulai mencari kerja sehabis bertengkar dengan abangnya Alvi di rooftop.
matanya tak sengaja melihat area Proyek pembangunan, disana terulis dengan jelas 'MEMBUKA LOWONGAN KERJA'.
tanpa banyak kata dirinya masuk kelahan pembangunan itu, dirinya melihat belasan orang sibuk berlalu lalang membawa bahan bahan untuk membuat bangunan tersebut.
dirinya mengedarkan pandangan kesegala arah, matanya tertuju kepada satu orang yang memakai baju kemeja dengan dokumen di tangannya. sepertinya itu penanggung jawab dari proyek ini? mybe.
dengan cepat dirinya berjalan ke arah laki laki tersebut.
"permisi," ucap Nara saat tepat berada di belakang pria itu.
Pria tadi menoleh kebelakang kala mendengar suara perempuan memanggilnya.
"iya dek, ada perlu apa ya?" tanya laki laki itu ramah.
"disini buka lowongan pekerjaan ya om?" tanya Nara santai, matanya mengerjab ngerjab polos.
"iya dek, disini membuka lowongan pejerjaan," jawab laki laki itu ramah, di dalam hatinya ingin sekali mengigit pipi chubby Nara.
"umm, bisa gak kalo Nara kerja disini?"
"eh? kenapa ade mau kerja?"
"mau nyari uanglah lah om, buat makan,"
"emang kemana irang tua ade?"
"ada kok om, cuman akhlaknya aja yang gak ada,"
"ehem, jangan panggil saya om, panggil Bang Bagas aja, gimana kalo jadi Asisten om aja?"
"wihh boleh tuh bang, emang kerjanya gimana?"
"emm, gimana kalo kita diskusiin di Cafe?,soalnya akan lama," di balas anggukan oleh Nara.
"yaudah bang, gimana kalo di Al'Cafe?"
merekapun menuju Al'Cafe, untuk membahas pekerjaan Nara dengan mobil Bagas, sesampainya di Cafe, mereka menuju lantai dua untuk membahas pekerjaan di ruang privat.
tiga jam kemudiann.....
jam sudah menunjukan pukul setengah empat sore, lima belas menit yang lalu, Bagas sudah pergi karna ada beberapa pekerjaan lagi, Nara bisa mulai kerja pada pukul tiga sore sampai sembilan malam, dirinya juga di gaji sesuai jam kerja, satu jamnya seratus lima puluh ribu rupiah.
sekarang Nara sedang menunggu BangSat, ****** dkk, dirinya masih menggunakan celana panjang hitam dan baju seragam sekolah, Nara sedang duduk di kursi dekat tangga yang menuju lantak dua. dengan di temani teh Macha.
Nara tidak menyadari jika dirinya sedang diperhatikan oleh Niel, Alvi dan Muel di kursi pojok dekat pintu masuk, Nara hanya fokus pada Novel pemberian bang Ares tadi.
"ngapain si jalang disini?" tanya Niel tak suka.
Alvi dan Muel yang sedari tadi pokus pada gamenya langsung mendongak dan melihat ke arah pandang Naufal.
"baru sadar?" tanya balik Muel, di hadiahi keryitan dahi oleh dua manusia itu.
"Ck, lo baru sadar kalo si Nara ada disini? dia udah disini daritadi,"
"dari kapan?" Alvi menyahut.
"gatau, keknya daritadi soalnya tadi gue liat dia dari atas,"
"bukannya dia lagi nyari kerja?" Alvi menatap intens Nara.
"keknya dia udah dapet kerja, jadi dia istirahat di lantai atas,"
"maksud lo nyari kerja apaan?" tanya Niel bingung, saat istirahat tadi Nirl datang telat karna di panggil oleh guru.
"Ck, si Nara nyari kerja gara gara uang jajannya di potong selama 3 bulan," jawab Muel pada intinya langsung.
Niel yang sudah mengerti hanya mengangguk lalu memperhatikan Nara dengan intens.
tring
bel Cafe berbunyi, berarti ada yang masuk kedalam Cafe itu, semua pandangan menuju ke arah 7 orang yang memakai serba hitam dengan topi dan masker hitam.
Nara yang melihat itu tersenyum tipis kala melihat orang orang berbaju hitam itu, dengan semangat 45 dirinya mendekati gerombolan laki laki serba hitam itu, dan itu tak lepas dari tiga manusia yang ada di pojok.
Nara menatap berbinar ke arah para laki laki tadi, kini mereka menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"ikut gue," Perintah Nara, gerombolan laki laki itu saling pandang dan salah satu menganggukan kepala, merekapun mengikuti Nara menuju lantai atas.
tiga laki laki yang berada di pojok Cafe mengeryit heran dan bergelut dengan pikiran masing masing.
sedangkan Nara sudah duduk di depan tujuh laki laki tadi. mereka menatap tajam Nara yang juga sedang menatap mereka juga, bedanya Nara menatap mereka serius.
"ehem, jadi gini, gue Revandra Airina, gue masih hidup sehat wal'afiat, bisa di bilang gue bertrasnmigrasi, mau percaya atau nggak, kalian harus percaya," jelas Nara santai.
"apa buktinya kalo lo adik gue?" tanya salah satu dari mereka yang di ketahui bernama Satria Xandrario, abang kandung Reva yang sering di panggil BangSat.
"lopada mau bukti apa?" tanya balik Nara.
"coba lo sebutin silsilah hidup Adik gue Reva," jawab laki laki di sebelah BangSat yang di ketahui bernama Kenan Praditya, Abang angkat Reva yang sering di sebut ******.
tanpa pikir panjang Nara menjelaskan asal usul Revandra dari mulai dirinya dan sekeluarga kecelakaan mobil yang hanya Reva dan BangSat yang selamat, lalu di buang oleh tante dan omnya, karna mereka ingin harta keluarga Ardijaya, kemudian di angkat menjadi anak dari keluarga Praditya setelah 4 bulan luntang lantung di jalanan dan 8 bulan di panti asuhan, dan saat Reva kelas 12, Reva dan Abangnya Satria membalaskan dendam keluarga mereka, kecelakaan keluarga Ardijaya itu juga ulah om dan tantenya, Nara juga menceritakan bagaimana dirinya dan Abangnya masuk kedalam Gengster Drak Diamond's , saar Reva menjalin hubungan dengan beberapa orang, pada akhirnya selalu kandas oleh orang ketiga. dan pada akhirnya Reva mati saat menyelamatkan ****** dari peluru musuh tepat di jantungnya, peluru itu juga sudah di beri racun mematikan, dirinya juga menceritakan bagaimana dirinya bisa di tubuh Nara, lalu di ceritakannya juga tentang pembalasan dendam Alin kepada Ananjing, keluarganýa dan Aksa dkk.
"gitu ceritanya Bang, anjirr gue seret," jelas Nara panjang lebar, lalu meminum air yang ada di atas meja.
"lo beneran adik guekan Revandra?" tanya BangSat lirih.
"Iyalah bego, emang gue adik siapa? Adik roy kiyosi gitu," sinis Nara.
"lo beneran Revandra Airina kan? lo inget guekan?" tanya Arkana Arivanio, salah satu anggota inti Drak Diamond's yang memiliki sifat bobrok dan jahil, jikalau disatukan dengan Nara, beuhhh! satu markas gempar.
"ingetlah, masa lupa sama Abang Faucekboy, hahaha," Jawab Nara di akhiri suara tawa yang menggelar dan di ikuti tawa anggota inti yang lain.
Anggota inti ada 5 orang yaitu.
Antario Kusuma. si kalem dan nyantuy.
Erik Bagaskar. si datar dan mulut cabe.
Arkana Arivanio. si bobrok dan jahil. jangan lupakan pucekboynya yang katanya Setia (setiap tikungan ada).
Dimas Fadilah, sebelas duabelas duabelis sama Arkan.
Kevalio Triano, polos dan cuek.
ketua dan wakil ketua adalah Kenan dan Satria.
merekapun mengobrol sampai hampir gelap, abang abangnya itupun pamit, Nara mengantarkan mereka sampai depan Cafe.
saat masuk kembali tangannya di cekal oleh seseorang, saat melihat pelaku dirinya memutar bola matanya malas.
"duduk," suruh orang itu dingin, yang hanya di balas anggukan malas oleh Nara, Narapun duduk disana, di hadapannya ada Aksa dkk, tanpa Ananjing oke?.
orang yang mencekal lengannya adalah Aksa.
"apa?" tanya Nara malas.
"lo bully Ana lagiakan tadi?" tanya Aksa dingin.
"hah?" Nara mengeryit kala mendapati pertanyaan itu.
"jangan pura pura polos deh lo! lokan yang ngebully Ana tadi?!!" sentak Aksa dingin.
"kapan?" tanya Nara santai, kala mengerti kemana arah pembicaraan ini berlanjut.
"tadi jam empat sorean, dia dateng kerumah dengan babak belur, pasti lokan yang ngebully dia, hah?!! jawab!!" bentak Aksa keras, untung Cafe hanya ada beberapa orang saja, jadi tidak menganggu pengunjung.
"dimana gue ngebully dia?" tanya Nara lagi.
"di mall! gara gara dia gak mau ngasih uang elo jadi lo ngebully dia di toilet!!" bentak Aksa lagi.
"gue gak ngebully dia, gue dari siang ada di Cafe ini bareng bos gue ngediskusiin sesuatu, dan pas jam empat sore gue sama abang gue di lantai dua tadi, kalo mau ngefitnah gue, jangan cuman mandang sebelah mata doang, gue emang sering ngebully si Ana, tapi itu dulu!! sekarang gue gamau berurusan sama keluarga Wijaya, atau pun Ana, dan lo lopada, gue udah nyerah, lo tau nyerah? gue mau hidup tenang, damai, gue mau tobat, lagian gue juga sadar, kalo harga diri cewek itu di kejar bukan mengejar! jadi ya gue mau ngejalanin hidup gue dengan damai dan tentram, jadi lo! kalo si Ana ngomong gue ngebully dia lagi! cari bukti dulu bego! jangan asal nuduh, ganteng ganteng kok bego, eh? maksudnya tolol," jelas Nara panjang lebar lalu meninggalkan meja tadi dengan perasaan dongkol.
Aksa dkk, mematung mendengar perkataan Nara.
"keknya bener, kita harus nyari bukti deh," sahut Niell.
"maksud lo, Ana bohong gitu?" tanya jordi tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Niell.
"bukan gitu, gue, Alvi sama Niel daritadi ada di Cafe, dari jam 3 sore, dan emang bener apa yang Alin omongin, pas jam 3 sore ada laki laki umurnya mungkin 23 tahunan lah, dia jabatan tangan sama Nara, keknya habis kerja sama gitu, terus jam empat sore, gue liat Alin sama 7 laki laki tadi ke lantai atas, dan baru keluar sekarang," jelas Muel santai.
"jadi lo ngebela Si Alin?" tanya Alva tak percaya.
"gue gak ngebela siapa siapa, gue cuman ngomong apa adanya," jawab Muel santai.
"tanya aja sama Alvi dan Niel," dan di balas anggukan oleh mereka berdua, meja itupun hening, mereka bergelut dengan pemikiran mereka masing masing.
Pena Infit.
__ADS_1