I'M (Not) Antagonist

I'M (Not) Antagonist
Chap.11


__ADS_3

Dua hari berlalu begitu saja, Nara sudah memundurkan diri dari pekerjaannya, dirinya masih di scors, selama dua hari ini kegiatannya hanya mandi, makan, baca novel, ngedrachin, ngedrakor, ngedraland (drama thailand), baca komik ataupun bermain dengan Lio.


kehidupannya damai dan tentram, hari ini adalah hari ketiga dirinya di scors, setelah selesai sarapan yang di antarkan ke kamar dirinya memandikan Lio dengan air hangat di kamar mandi.


setelah selesai memandikan Lio, Nara mengambil pengering rambut untuk mengeringkan bulu lebat Lio, Nara melakukan itu di balkon sembari melihat langit biru yang terbentang di cakrawala.


drettt kring kring drettt


suara dering handphone menggema di kamar kedap suara itu, Nara yang sedang mengeringkan bulu harimau terpaksa berhenti.


"tunggu disini dulu oke," ucapnya lalu mengelus kepala Lio dengan lembut, setelah itu Nara ke kamar dan melihat siapa yang menelpon pagi pagi, saat melihat nama abang angkatnya Bang-ke, dirinya langsung mengangkat telponnya dan berjalan ke arah balkon, dirinya mengLoudeSpic telponnya dan di simpan di meja, llau melanjutkan mengeringkan bulu bulu Lio.


"halo dek,"


"iya bang, ada apa?"


"katanya si Renald lo si scors gara gara ngebuat konser di lapangan outdoor?"


"ya gitulah,"


"gak dulu, gak sekarang lo masih aja nakal,"


"gapapa nakal, yang penting pernah masuk lomba international,"


"ck, oh ya, abang nelpon soalnya ada misi tingkat As3 di LA, ini penangkapan besar besaran, lo bisa bantu gak? soalnya abang ada urusan di jerman, lo sama anggota inti yang kesana,"


"eh? emang penangkapan apa?"


"Penculikan anak kecil dan penjualan ilegal organ tubuh,"


"buju busett, kejam amat ya,"


"makannya, bisa gak? paling dua sampe tiga hari kalo lo turun tangan,"


"gue kesananya naik apa?"


"lo ke kantor Satria, di rooftop ada helikopter buat kesana, lo minta aja kuncinya ke abang lo, dan sekalian bawa Lio, udah lama sejak lo meninggal dia gak pernah ikut misi,"


"okelah, gue berangkat sekarang, terus anggota inti udah di LA?"


"mereka udah disana sama 500 pasukan tingkat B,"


"okelah, yaudah gue siap siap dulu,"


"*oke, kalo gitu abang tutup dulu ya, Bye,"


tut*...


setelah manggilan terputus, Nara bergegas mengemasi barang barang yang di perlukan untuk misi, dirinya memakai pakaian serba hitam, rambut hitamnya di gerai dengan indah, jangan lupakan Lio juga memakai pakaian hitam khusus hewan, setelah siap Nara langsung otw ke kantor Satria, tidak lupa mengatakan ke salah satu maid menitipkan pesan, jika keluarga wijaya menanyakannya, jawab saja sedang berlibur.


dirinya di jemput oleh bawahan Kenan, saat di perjalanan Nara hanya mengelus kepala Lio, sedangkan si supir hanya bergidik ngeri kala melihatnya.


Sesampainya di depan perusahaan, Nara keluar dengan Lio, jangan lupakan ikat leher Lio agar tidak membuat keributan.


saat akan masuk dirinya di hentikan oleh penjaga.


"Maaf nona, hewan tidak di perbolehkan masuk,"


Nara mengankat satu alisnya, lalu berkata "ini permintaan pak Satria," katanya sopan. oke, itu suati kebohongan.


"ehem, apakah ada bukti?" tanyanya takut takut saat melihat harimau dewasa di depannya ini.


"sebentar," jawab Nara. ĺalu mengambil handphone dan memencet salah satu kontak di handphonenya.


setelah di angkat dirinya langsung berkata "gue di depan kantor, cepet jemput," setelah itu langsung mematikannya, dan menatap Lio yang tengah duduk tenang di sisinya tapi matanya menatap penjaga di depan dengan mata seakan akan ingin menerkam.


3 menit kemudian, seseorang datang dari dalam kantor dan menghampiri Nara.


"Woyy Nar!!" teriak orang itu, Nara menoleh dan melihat asisten abangnya ada disini.


"berisik bang," di balas cengiran manisnya, semua karyawan yang berada disana memusatkan perhatian ke arah Nara.


para karyawan memandang takut ke arah harimau putih besar yang ada di samping Nara.


*itu harimau?


gue gak salah liatkan?


itu harimau beneran?


serem ih


apa gue masih mimpi?


beneran harimau*?


bisik bisik terus terdengar, tapi Nara hanya acuh.


"pak Keno ada keperluan apa ya?" tanya satpam itu sopan.


"saya ingin menjemput perempuan ini," jawab asisten abangnya yang bernama Keno.

__ADS_1


dengan cepat tangan Nara di tarik oleh Keno dan langsung masuk kedalam perusahaan, Nara dan keno menjadi pusat perhatian, Lio mengikuti majikannya di samping tanpa menghiraukan bisik bisik syaiton yang sedari tadi mengosipkan Lio dan Nara.


"oh ya dek, lo bawa senjata apa?" tanya Keno.


"AR-15 Custom Assault Rifle Builder,"


"lumayanlah,"


"dimana BangSat?"


"di ruang rapat, ada rapat sama beberapa perusahaan,"


Nara menyerigai, koper kecilnya berada di tangan kiri dan ikat leher Lio di kaitkan di pinggangnya, jadi tangan kiri Nara bebas.


"bentar," ucap Nara menghentikan langkahnya.


"ada apa?" tanya Keno.


Nara membuka kopernya dan mengambil senapan AR-15. lalu Nara menatap Keno dengan penuh arti.


"kenapa lo natap gue kayak gitu Nar, bikin berinding aja," sewot Keno.


"hehe, tolong bawa koper ini ke helikopter, gue sama Lio mau ngebuat kejutan buat BangSat,"


"jangan aneh aneh lo,"


"iya iya, yaudah sana pergi,"


Keno hanya mendengus lalu pergi meninggalkan Nara dan Lio. dengan senjata di tangannya tak ada yang berani mendekatinya apalagi dengan Lio di sampingnya.


sesampainya di depan ruang rapat dirinya menatap pintu rapat itu dengan penuh arti. Nara menatap Lio yang juga menatapnya.


Brakkk


tendangan itu mengagetkan orang yang ada di dalam, Nara masuk bersama Lio dengan santai tanpa melihat siapa yang menjadi rekan rapat abangnya.


Satria yang berada di depan whiteboard dan menjelaskan kerja sama antar perusahaan terlonjak kaget, saat melihat Nara yang berjalan ke arahnya dengan harimaunya Satria hanya menghela nafas kasar.


Nara menyodorkan tangannya ke arah Satria bermaksud meminta kunci helikopternya.


"apa?" tanya Satria bingung.


"kunci,"


"kunci apa?"


"helikopter, cepet BangSat," ketus Nara.


"mau sekarang berangkatnya?"


"lo di scors seminggukan?" di balas anggukan oleh Nara.


"kapan mau pulang?"


"Minggu depan,"


"bukannya cuman sisa 5 hari lagi?"


"lokan ada, ya tinggal izinin aja sih,"


"lama kelamaan lo makin bandel ya,"


"bodo amat, cepet elah mana kuncinya tangan gue pegel nih,"


"ada di rumah,"


"HEH!! terus kenapa Bang-Ke bilang harus ke elo mintanya!" sewotnya.


"jangan teriak bego! gak malu apa di liatin klien,"


"eh?"


Nara menoleh ke samping, matanya membulat sempurna kala melihat apa yang ada di depannya, Aksa dkk berada disini, di tambah lagi orang yang hampir menabraknya ada disini.


"lah? kok pada disini?"


"lo kenal?" tanya Satria bingung.


"Jelas kenalah, orang abang abang gue yang di ceritain ke lo itu loh bang,"


"terus kenapa lo liat Arka kek liat setan?"


"nahh inini yang nabrak gue,"


"Nabrak?!" teriak Satria keras, Aksa dkk, Arkana dan Riky menutup telinganya rapat rapat.


"berisik BangSat!"


"Lo bener nabrak adek gue Ar?" tanya Satria serius.


"ehem, sebenernya bukan nabrak cuman hampir ketabrak," jawab Riky cepat, ia tahu bosnya ini tidak akan menjawab hal hal yang tidak penting.

__ADS_1


"bener dek?" tanya Satria menatap ke arah Nara.


"ck, iya hampir nabrak, tapikan bang motor yang Nara minta malam itu hancur lembur!"


"heh, tapikan udah tanggung jawab! apalagi lo meres bos gue," sahut Riky.


"cuman BlackCard doang kok heboh banget sih, lagian ya kalo gue gak loncat tuh ke atas pohon gue udah ada di surga ya!,"


"mulutnya," tekan Satria.


"lo bilang cuman BlackCard doang?" tanya Riky tak santai.


"iyalah, lagian temen lo hampir ngilangin nyawa gue, di tambah kalo gue minta satu BlackCard doang gak bakalan bikin sahabat lo miskin,"


"dek, omongannya," tegur Satria. dan di balas hanya decakan kesal.


"lo--!" ucapan Riky terhenti kala mendengar deheman dari sampinya.


"ehem," ruang rapat hening. Nara hanya berdiri dengan santai di samping satria.


"jadi gimana? mana kuncinya, kalo gak pake helikopter pake jet pribadi abang ajalah biar cepet,"


"lo juga punya sendiri jet pribadi pe'a,"


"lo ke adek kok pelit amat sih,"


"lagian ya, gue kapok minjemin jet ke elo di tambah sama Lio, bisa ancur jet gue,"


"Grrr," geraman itu terdengar dari Lio yang berada di samping Nara, Nara yang mendengar itu hanya mengelus kepalanya santai.


"terrus gimana?! gue harus berangkat sekarang, kalo besok gue gak bakal bisa main dulu,"


"huff, ini ada helikopter yang warna putih pake aja," ucap Satria menyodorkan kunci helikopter,"


"LO!!" teriak Nara keras.


"KENAPA GAK DARI TADI BANGSAT SIALAN!!" teriak Nara kesal.


"shh, jangan teriak teriak ogeb,"


"serah bang serah!" ketus Nara lalu membalikan badannya dan keluar dari ruang rapat.


"ehemm, maaf atas kejadian yang tak terduga tadi, sekali lagi mohon maaf," ucap Satria tak enak hati terutama kepada Arkana dan Riky.


"iya gapapa pak, mari kita lanjutkan saja," ucap Muel sopan.


"baiklah, sekali lagi saya minta maaf," ucapnya dingin.


"Baiklah kita akan lanjutkan lagi tentang--" ucapan Satria terhenti kala suara melengking dari Nara kembali terdengar.


Nara kembali lagi ke ruang rapat bersama Lio. di tangannya ada apel seukur kepalan tangan.


"apa sih dek, teriak teriak mulu," sahut Satria tak enak hati kepada kliennya.


"lo harus di hukum!" ucap Nara kesal. Satria yang mendengar itu menegang dan menatap takut takut dan was was keoada Nara.


"jangan aneh aneh lo dek," ucap was was.


"gak aneh aneh kok, taro nih di atas kepala," ucap Nara menyodorkan buah apel yang di pegangnya. Satria hanya meneguk salivanya kasar dan hanya bisa menuruti perkataan sang adik tercinta.


"oh ya, kalo gue gak sengaja mungkin kepala lo bakal bolong," ucap Nara santai lalu mengambil Senapan AR-15 yang ada di punggunya lalu mengarahkannya kepala apel yang berada di atas kepala Satria.


"LO MAU BUNUH PAK SATRIA?!!" teriak Niel keras.


"diem lo, gue gak ada urusan sama lo,"


"dasar psychopat!!" umpat Jordi keras.


"masalah buat lo?!!" tanya Nara Ketus.


"Lo--" ucapan Alva terhenti kala melihat mendengar bentakan Nara.


"DIAM!!"


Dor


apel yang berada di atas kepala Satria hancur menjadi potongan potongan kecil, semua terbelalak kaget melihat itu.


Satria membuka matanya perlahan, jantungnya seperti habis lari marathon, ingatkan dirinya jangan pernah membuat sang Queen marah ataupun kesal, taruhannya adalah nyawa!.


"oke, udah segitu hukuman lo, kalo lo ulangin sekali lagi! lo bakal mandiin Lio selama seminggu!" Ancam Nara ketus, Satria hanya mengangguk kikuk, meskipun sudah beberapa kali menjadi kelinci percobaan Nara, Satria masih saja syock.


Nara menengok ke arah Aksa dkk lalu berkata "oh ya, tolong izinin gue nanti kalo gak masuk sekolah, Bye," ucapnya lalu mengecup pipi satria santai lalu melenggang pergi dengan Lio dan..


BRAKKK


pintu ruang rapat di banting oleh Nara, Sedangkan Satria kikuk, dirinya bisa saja menjadi ganas dan kejam kala berada di hadapan musuh, tapi jika di hadapan Nara bakal jadi kuncing penurut.


"ehemm, maaf atas kekacauannya, sebaiknya kita lanjutkan lagi, sekali lagi saya minta maaf atas kekacauannya." ucapnya dingin. di balas anggukan semua orang kecuali Arkana si manusia kutub.


"baiklah jadi bla bala bala bla bla bala abala....."

__ADS_1


sedangkan di roftoop Nara langsung bergegas menuju LA, besok dirinya harus menyiapkan rencana yang bagus untuk penyerangan.


Pena Infit 023


__ADS_2