
Wajah Eiza seketika memerah ketika Arion memanggilnya dengan sebutan "Sayang". Entah apa sebabnya pria gila itu tiba-tiba berakting demikian di depan semua orang. Mungkinkah ia sengaja ingin mempermalukan dia atau memang memiliki tujuan tertentu.
"Maaf, Eiza, Arion, ada klien penting yang memintaku datang ke rumahnya. Jika kalian butuh sesuatu nanti minta tolong saja kepada asistenku," ucap sang pemilik butik.
"Baik, Nyonya, tidak masalah," sahut Arion.
Sesudah mereka ditinggal berdua, Eiza segera melabrak Arion yang berjalan ke arah deretan gaun.
"Kenapa kamu memanggilku dengan sebutan seperti itu?" tanya Eiza tidak terima.
"Sebutan seperti apa memangnya? Coba ulangi," ucap Arion memasang wajah tengilnya.
"Ah, sudahlah percuma bicara denganmu. Sekarang urusi bajumu sendiri dan jangan ganggu aku," tegas Eiza.
"Tidak bisa, justru aku di sini karena tidak ingin membuang waktu di butik ini."
"Eits, tunggu kamu mau apa?" tanya Eiza berusaha menghalangi langkah Arion.
"Makan pizza. Tentu saja aku akan memilih gaun yang pantas untuk menutupi tubuhmu yang kurus mirip papan setrika," kata Arion dengan santai.
__ADS_1
Kedua mata Eiza pun melotot seketika hingga hampir keluar dari kelopaknya.
"Apa kamu bilang? Belum pernah ada laki-laki yang berani mengejekku begitu. Asal kamu tahu, aku dulu menjadi idola di sekolah dan kampus. Seharusnya pria tua sepertimu yang malu menikahi gadis muda. Jangan-jangan kulit dan otot-otot tubuhmu sudah mengendur semua. Kamu bahkan mungkin sudah tidak punya stamina, makanya kamu takut untuk menikah," sembur Eiza.
Arion yang tengah menyibak gaun langsung menghentikan aktivitasnya. Dia tidak menyangka bahwa gadis ingusan ini sampai berani menghina dirinya secara terang-terangan. Belum tahu saja dia bagaimana keahlian seorang Arion Handana.
"Akan kubuktikan padamu nanti kalau kita sudah menikah. Sekarang diamlah supaya aku bisa berkonsentrasi," ujar Arion.
"Diam?! Bukannya kamu duluan yang mengajak bertengkar?"
Arion tidak mengindahkan perkataan calon istri kecilnya itu. Matanya justru fokus menatap gaun-gaun yang semuanya berwarna putih. Bahkan modelnya pun hampir mirip satu sama lain.
Merasa tak tertarik, Arion berpindah ke deretan gaun yang lain. Sontak matanya tertuju pada sebuah gaun berwarna broken white dengan model sabrina di bagian atas. Tanpa pikir panjang, Arion segera memanggil asisten butik untuk menarik keluar gaun tersebut.
Sungguh Eiza ingin muntah saja rasanya. Dia tahu benar bahwa pria ini hanya bersandiwara di depan asisten Nyonya Vivian. Namun daripada ia geram sendiri, Eiza memilih untuk meladeni Arion hari ini. Toh, tidak ada salahnya ia mencoba gaun pilihan pria gila itu karena ia sendiri tidak berminat untuk memilih.
"Baiklah, Sayang, akan kucoba. Tetapi kamu harus segera pergi dari sini. Pilihlah sendiri jas yang harus kamu pakai. Kata orang tua, pamali jika seorang calon pengantin pria melihat tunangannya memakai gaun pengantin sebelum hari H. Nanti pernikahannya bisa batal. Kamu nggak mau kan kalau kita berdua gagal menikah, Sayang?" tanya Eiza menekankan nada suaranya seraya tersenyum miring.
Mendengar perkataan Eiza, asisten butik langsung memanggil temannya yang satu lagi untuk mengantar Arion ke bagian jas.
__ADS_1
"Mari, Tuan, saya antar," kata pegawai butik.
Arion hanya bisa menatap kesal sementara Eiza mengedipkan mata untuk mengejek pria itu. Mau tak mau ia pun pergi dari sana. Meski demikian, Arion bertekad untuk membuat Eiza kesal lagi dengan rencana selanjutnya.
"Semoga kamu berhasil, Sayang," ucap Eiza melambaikan tangan. Gadis itu merasa sangat puas karena berhasil mengerjai Arion.
"Mbak, kita coba gaun ini sekarang. Saya harus pulang sebelum jam tujuh, ada acara," bohong Eiza.
Asisten itu segera mengajak Eiza ke ruang fitting. Tanpa membuang waktu lama, Eiza segera mencoba gaun itu dibantu oleh pegawai butik. Di luar dugaan, gaun itu sangat pas di tubuhnya bahkan membuat dia terlihat lebih cantik.
"Wah, cocok sekali yang ini, Nona. Calon suami Anda sangat pintar memilihkan gaun. Ukurannya juga pas," puji sang asisten.
Eiza mencibir di dalam hati, tetapi dia tetap memasang wajah ceria di depan para pegawai butik itu.
"Kalau begitu saya pilih gaun ini saja. Nanti aksesorisnya tiara kecil dan kalung seperti contoh katalog ini," putus Eiza.
"Baik, Mbak."
"Kalau begitu, saya pamit pulang, Mbak, urusan saya sudah selesai."
__ADS_1
"Eh, Nona, tunggu dulu. Apa Anda tidak mau memilih veil dan aksesoris lain?"
"Tidak usah, Mbak, semua saya percayakan kepada Mbak. Sampai jumpa," ucap Eiza buru-buru pergi.