
"Hey, mau ke mana?"
Arion terkejut melihat Eiza yang berjalan cepat melewatinya dan menuju ke pintu keluar. Ia sungguh tidak menyangka bahwa gadis itu pergi secepat kilat meninggalkan dirinya. Padahal baru saja tadi Eiza melakukan fitting baju pengantin dan seharusnya hal itu membutuhkan waktu yang lama. Dia sendiri juga baru saja selesai mencoba jas pengantin.
Karena gadis itu tidak menyahuti, Arion langsung berpamitan kepada pegawai butik.
"Mbak, saya harus pergi untuk mengejar calon istri saya," kata Arion bergegas pergi.
Para pegawai yang melihat mereka hanya tersenyum simpul karena mengira bahwa pasangan itu sekadar bertengkar manja. Maklumlah pasangan yang akan menikah biasanya sering mengalami perselisihan kecil terkait dengan persiapan pesta.
Sementara itu, Eiza sudah sampai ke mobilnya. Wanita itu hendak masuk ke mobil tetapi tidak bisa karena tangannya sudah ditahan oleh Arion. Pria itu berhasil menyusulnya karena langkah Arion sangat lebar.
"Kau mau apa? Kenapa menahanku? Urusan kita di butik ini sudah selesai," sinis Eiza berusaha melepaskan tangan Arion.
"Jangan pergi dulu, kita perlu bicara," ucap Arion.
"Bicara apa lagi? Kalau soal pernikahan, kau tau aku juga tidak menginginkannya. Sekarang lepaskan tanganku, aku mau pulang," ucap Eiza malas.
Arion menghembuskan napas kasar sembari menatap gadis muda yang ada di depannya ini. Ternyata jika dilihat dari dekat, wajahnya lumayan cantik juga bahkan mirip dengan boneka barbie. Hanya saja terdapat satu jerawat di dagu gadis itu.
__ADS_1
"Bukankah kamu ini seorang calon guru? Kenapa tidak bisa sabar sedikit dan selalu mengedepankan emosi?" tanya Arion kesal.
"Biasanya aku selalu sabar menghadapi orang lain, tetapi untuk kamu adalah pengecualian," ucap Eiza memicingkan mata.
"Kali ini kamu harus berlatih sabar kepadaku karena aku akan menawarkan kesepakatan yang sangat penting. Kesepakatan ini akan menguntungkan kita berdua," tukas Arion.
Mendengar kata 'kesepakatan' mata Eiza langsung berbinar. Dia yakin bahwa kali ini duda gila itu akan mengusulkan pernikahan di atas perjanjian seperti yang ada dalam cerita novel dan serial drama. Bedanya jika sebagian kontrak pernikahan itu akan berakhir dengan jatuh cinta, tetapi di kisahnya sangat berbeda. Tidak mungkin ia akan mencintai lelaki tua yang gila seperti Arion.
"Oke, di mana kita akan bicara?" tanya Eiza.
"Yang jelas bukan di sini. Ikuti saja mobilku, kita akan bicara di salah satu kafe yang sepi supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan kita," ucap Arion.
Arion mengangguk lantas berjalan menuju mobilnya sendiri. Pria itu menyalakan mesin mobil lalu melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Sementara itu, Eiza mengekor di belakangnya. Wanita muda itu selalu memantau pergerakan mobil Arion agar tidak ketinggalan jejak.
Setelah mengemudikan mobil kurang lebih sepuluh menit, Arion berhenti di sebuah kafe kecil yang tampak lengang. Pria itu turun lebih dulu ke dalam kafe, kemudian memilih meja. Eiza menyusul di belakang dan segera duduk berhadapan dengan Arion.
"Mau pesan apa, Pak, Bu?" tanya pelayan kafe menyodorkan menu makanan.
"Pesan makanan dulu, Eiza. Kita sekalian makan sambil bicara," ucap Arion.
__ADS_1
Dengan malas, Eiza membalik menu makanan dan langsung memilih spaghetti yang pertama kali dilihatnya.
"Spaghetti carbonara satu dan minumnya orang juice tanpa es," kata Eiza.
"Bapak pesan apa?" tanya si pelayan kepada Arion.
"Mocha Latte dan spaghetti tuna."
"Baik, Pak, silakan ditunggu."
Setelah pelayan itu pergi, Eiza yang lebih dulu membuka obrolan. Dia sudah tidak sabar untuk mengetahui apa maunya Arion.
"Katakan kesepakatan apa yang akan kamu buat?"
"Sebenarnya tanpa aku mengatakan kamu pasti sudah tahu. Aku ingin kita membuat perjanjian pra nikah untuk melindungi diri masing-masing."
"Oh, aku kira kamu akan mengajukan pernikahan kontrak," jawab Eiza menyilangkan kedua tangannya.
"Kamu pikir hidup kita seperti drakor? Kamu tahu setelah membuat janji suci, kita tidak bisa bercerai sesuai dengan kepercayaan yang kita anut. Anggap saja ini pengorbanan untuk Dewa, Nania, dan Opa Yogi."
__ADS_1
"Jadi maksudmu aku harus menjadi istrimu seumur hidup?" tanya Eiza terbelalak.