
"Ini tidak bisa, Opa. Aku nggak mungkin menikahi gadis kecil ini. Memakai bedak saja dia belum benar, apalagi mengurus aku dan Nania," tolak Arion dengan nada tinggi.
Mata Eiza pun terbelalak lebar mendengar perkataan tersebut. Beraninya pria tua ini menolaknya, padahal dia yang seharusnya melakukan hal itu.
"Aku juga tidak mau menikah denganmu pria tua sepertimu, Om. Kamu pikir aku mau," balas Eiza.
"Sembarangan! Usiaku belum genap 32 tahun, aku belum tua."
"Ck, usia seperti itu bagiku sangat tua. Aku baru 24 tahun. Kamu lebih pantas jadi Omku daripada suami. Nanti aku masih imut dan cantik, kamu sudah berubah loyo dan ubanan," ejek Ezia. Entah kenapa dia sedang ingin melampiaskan amarahnya kepada Arion. Lagi pula dia memang tidak tertarik sedikitpun kepada pria ini, meski harus diakui wajahnya lumayan tampan.
"Cih, kamu meremehkan aku, Gadia Kecil? Mau aku buktikan bagaimana kehebatanku di malam hari? Jangan sampai kamu nanti merengek dan menangis-nangis minta pulang ke rumah orang tuamu," tantang Arion. Dia merasa tersinggung karena harga dirinya sebagai laki-laki telah terusik. Diremehkan oleh gadis ingusan adalah hal yang sangat memalukan untuknya.
Opa Yogi pun memijat pelipis mendengar perdebatan antara dua insan yang berbeda gender ini. Bila terus mendengar mereka mengoceh bisa jadi gula darahnya akan naik drastis, dan umurnya akan semakin pendek.
__ADS_1
Namun, Opa Yogi percaya akan satu hal bahwa pasangan yang suka cekcok dan adu mulut di awal, justru akan menjadi pasangan yang bucin di masa yang akan datang. Setidaknya itulah yang sering dia lihat di sinetron, serial drakor, dan serial drama picisan lainnya.
"Cukup! Tidak ada yang boleh bicara di antara kalian."
"Yah, tapi aku kan punya mulut, Opa," protes Arion.
"Tutup mulutmu itu untuk sementara sampai Opa selesai bicara. Dengar baik-baik omongan Opa, kalian tetap harus menikah, cepat atau lambat. Tetapi Opa putuskan untuk cepat saja mengingat Dewa membutuhkan orang tua yang akan menjaga mereka. Opa putuskan untuk kalian menikah Sabtu depan. Kalian tinggal duduk manis di depan penghulu, Opa yang akan mengatur segalanya," tandas lelaki tua itu dengan mata berapi-api. Ya, jika mungkin dia seekor naga, maka api itu akan keluar dan membuat gosong Eiza maupun Arion.
"Iya, betul. Apa kalian mau tanggalnya dimajukan menjadi lusa?" tanya Opa Yogi.
"Jangan, Opa, aku harus ikut wawancara kerja sebagai guru, dan mungkin aku akan mengajar. Jangan sampai konsentrasiku terganggu oleh Om-om ini," cegah Eiza ketakutan.
Arion mencebikkan bibirnya mendengar perkataan Eiza.
__ADS_1
"Ish, gadis kecil yang galak dan cerewet mau menjadi guru. Bagaimana nasib murid-muridnya nanti? Mau jadi apa mereka di masa depan," cibir Arion.
Mata Eiza pun melotot seperti bola pingpong saat mendengar ejekan dari kakak iparnya yang menjadi duda lapuk itu.
"Sembarangan kalau bicara! Aku juga memikirkan bagaimana nasib para pasien yang kamu tangani. Untung saja mereka masih hidup setelah diperiksa oleh dokter sepertimu. Tetapi aku ikut bersyukur karena setelah ini, kamu akan kerja di perusahaan, sehingga keberadaanmu tidak akan mengancam keselamatan orang," sinis Eiza dengan kalimat panjang lebar. Dia perlu menunjukkan kepada Arion bahwa dia adalah ahli debat paling mahir sejagad raya.
"Apa kamu bilang? Kamu meragukan kemampuanku? Justru aku kasihan pada anak-anak yang akan menjadi muridmu," geram Arion.
"DIAMMM KALIAN!" seru Opa Yogi mulai darah tinggi.
Pria tua itu sampai berkacak pinggang dan melupakan sakit encoknya yang sering kambuh.
"Kalian akan tetap menikah sesuai keputusan Opa. Jangan ada yang berniat kabur, karena Opa pasti akan menangkap kalian hidup-hidup. Ingat, Opa ini mantan ketua mafia yang disegani!" tekan Opa Yogi memicingkan mata.
__ADS_1